Cold Love

Cold Love
Bab 61. Morning Sickness Lucas


__ADS_3

Beberapa bulan sejak Freya pergi, Lucas tidak pernah berhenti mencarinya. Dia, bahkan pergi ke tempat yang sama berharap Freya datang ke salah satu tempat tersebut.


Akan tetapi, karena semester baru telah dimulai, ditambah dengan pekerjaannya membuat waktu Lucas untuk mencari Freya berkurang. Dia tidak bisa terus-menerus mencari istrinya. Jadwal tidurnya pun ikut terganggu dan akhir-akhir ini, dia sering merasa mual ketika pagi telah tiba.


"Kamu mual lagi?" tanya Bryan ketika melihat Lucas berjalan ke dapur dengan wajah lesu.


"Eum."


"Bi Surni, tolong buatkan teh hangat untuk Lucas."


Bi Surni yang tengah mencuci piring pun mengangguk. Setelah mematikan keran air, dia pergi mengambil gelas dan membuatkan teh untuk Lucas.


Bryan menutup koran yang baru setengah dia baca. Pria itu menatap anaknya yang terlihat mengalami penurunan berat badan.


"Kamu istirahat aja di rumah. Gak usah masuk kerja sama kuliah. Libur sesekali gak papa. Muka kamu udah pucat gitu. Diajak ke rumah sakit gak mau."


Lucas mengangkat kepalanya yang tertunduk. Sambil menahan rasa mual yang bergejolak di perutnya, dia berkata, "Gak. Aku masih bi—"


Belum selesai dia berbicara, dorongan kuat dari dalam perutnya tidak mampu dia tahan lagi.


Lucas berlari menuju kamar mandi yang terletak di lantai bawah. Di belakangnya, Bryan mengikuti Lucas. Membantu pria itu dengan mengelus punggungnya.


"Udah Papa bilang kamu istirahat aja. Ngeyel banget. Kamu bukan anak kecil lagi. Jangan membantah terus."


Lucas tidak terlalu mendengar dengan jelas apa yang Bryan katakan. Ususnya terasa bergetar dan seakan-akan bersiap keluar dari mulutnya.


Bryan mengusap punggung Lucas sambil berujar, "Papa tau kamu stres karena Freya pergi, tapi bukan berarti kamu mengabaikan kesehatan kamu. Jarang makan, kurang tidur . . . hah! Lucas. Kalo kamu kayak gini, yang ada malah kamu gak bisa nemuin Freya."


Lucas selesai mengeluarkan rasa mualnya. Meskipun masih ada beberapa yang tersisa di ulu hatinya, tapi dia merasa sudah lebih baik.


Lucas membalas sambil mencuci mulut dan tangannya di wastafel. "Aku gak selera makan aja."


"Selera atau enggak, tetap makan. Udah, pokoknya kamu istirahat di rumah. Jangan ke mana-mana."


Lucas tidak menjawab, melainkan membasuh wajahnya. Bryan menghela napas melihat anaknya yang tidak memberi tanggapan.


"Awas, ya. Kalo Papa liat kamu di kantor, Papa usir kamu."


Setelah mengatakannya, Bryan pun keluar dari sana dan mengambil tasnya. Kemudian pergi ke kantor dengan menggunakan mobil Lucas.


...****************...


Lucas tidak bisa tidur.


Tiba-tiba dia menginginkan sesuatu yang aneh untuk dimakan agar dia bisa tidur dengan nyenyak.


Sudah dua jam dia menatap kosong langit-langit kamar, berharap makanan yang dia inginkan jatuh dari sana.


"Hah. Ck! Kenapa gue pengen banget itu makanan, ya? Perasaan dua-duanya gue kurang suka." Lucas bergumam pada dirinya sendiri. Setelah lama berpikir, dia pun bangkit dari tidurnya. Mengambil ponsel dari atas nakas dan menghubungi seseorang.


"Ha—"


"Di mana?"


Begitu terhubung, Lucas langsung bertanya tanpa menunggu orang diseberang sana selesai berucap.


"Kayak biasa, ya. Belom juga gue abis ngomong. Gue lagi di bar. Kenapa? Mau gabung?"


"Gak. Beliin gue mangga susu."


"Ha? Mangga susu?"


"Ya. Anterin ke rumah gue sekarang."


"Woi, tunggu—"


Sambungan telepon diputuskan oleh Lucas. Dia tidak akan membiarkan Daniel memberikan alasan apa pun untuk menolak. Jika malam ini dia tidak mendapatkan pesanannya, Lucas tidak akan pernah membiarkan Daniel berteman dengannya lagi.


Lucas meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Dia duduk merenung sejenak sebelum memilih keluar untuk menunggu Daniel.

__ADS_1


Rumah terasa sepi. Tentu saja karena dia sendirian di rumah itu. Bryan akan pulang sekitar satu atau dua jam lagi, sementara Bi Surni memang tidak tidur di sana. Setiap sore, wanita tua itu akan kembali ke rumahnya sendiri.


Lucas duduk di sofa sambil membuang napas lelah. Dia menyandarkan lehernya di pinggiran sofa. Menerawang ke atas, memikirkan apa yang sedang dilakukan Freya saat ini.


Sibuk dengan pikirannya sendiri, Lucas tidak sadar jika waktu sudah berlalu cukup lama. Penerawangannya buyar ketika pintu diketuk oleh seseorang. Lucas mengangkat kepalanya, mengintip ke arah jalan menuju pintu. Kemudian, dia bangun sepenuhnya untuk melihat siapa yang datang di malam hari.


"Cepet juga lo nyampe."


"Cepet apaan? Lo liat jam berapa sekarang."


Itu adalah Daniel yang mengetuk pintu. Dia datang dengan membawa satu kantung plastik berisi es mangga susu.


"Awas, awas. Dingin di luar." Daniel masuk melewati tubuh Lucas. Pria itu sudah menganggap rumah Lucas sebagai rumahnya sendiri sehingga dia dengan santainya masuk ke dalam tanpa menunggu pemilik rumah menyuruhnya masuk.


"Nih, makan. Gue muter-muter nyari ni es mangga susu demi sahabat gue. Lama-lama lo kayak orang ngidam aja. Kemarin lo minta es serut rasa stroberi, dua hari lalu lo juga pengen makan ikan mentah. Untung kagak jadi."


Daniel mengoceh sambil mengeluarkan dua gelas plastik berisi es mangga susu. "Seger juga. Enaknya diminum siang-siang, tapi gak papa lah. Enak juga."


Pria itu membuka tutupnya dan mengambil sendok yang telah disediakan. Lalu, dia menyendok mangga beserta susu, kemudian menyeruputnya dengan nikmat.


Lucas menyusul setelah menutup pintu. Dia melihat minuman yang dibeli oleh Daniel dengan wajah masam.


Mendapati reaksi tidak mengenakan dari Lucas, Daniel pun menaruh kembali minumannya. "Kenapa lo?"


"Gue mintanya mangga susu."


"Ya, ini kan mangga susu. Ada mangga ada susunya juga."


"Bukan itu."


"Jadi?"


"Mangga sama susu."


"Ya, ini anj. Ya kali lo makan mangga sambil cocol susu. Udah kayak sayur sama sambal aja."


"Ha?"


Mulut Daniel terbuka. Dia menganga dengan keinginan Lucas yang terdengar aneh.


Daniel mengulangi permintaan Lucas. "Lo mau mangga?"


"Ya."


"Dipotong?"


"Ya."


"Terus di piring ada susu kental? Atau cair?"


"Kental."


"Terus lo cocol ama mangga?"


"Ya. Salah?"


Daniel membulatkan bibirnya, kemudian dia menggeleng. "Gak, gak. Gak salah, gak salah."


Dia memutarkan kepalanya ke samping, berbisik pada dirinya sendiri. "Ni orang lama-lama jadi aneh."


"Lo pergi beli lagi."


Daniel melihat Lucas dengan cepat. "Ha? Jam segini mana ada lagi yang jual mangga."


"Gak peduli. Keluar, cari lagi."


"Eh, ngelunjak lo, ya, lama-lama."


"Karma buat lo yang selalu ganggu ketenangan gue."

__ADS_1


"Kenapa ini ribut-ribut?"


Lucas dan Daniel sama-sama melihat ke arah Bryan yang baru saja pulang.


"Malam, Om."


"Ada Daniel, ya. Malam."


Lucas melirik sebentar sebelum dia duduk di samping Daniel.


"Kalian berantem?" tanya Bryan. Pria itu duduk di kursi lain yang terletak di sebelah Daniel.


"Gak berantem juga, sih, Om. Debat sedikit aja."


"Debat kenapa?"


"Ini dia minta mangga dicocol ama susu. Mana ada yang jualan malam-malam gini."


Di sampingnya, Lucas menyela, "Ada. Lo aja yang malas nyari."


Mereka hampir berdebat kembali jika Bryan tidak segera menengahi keduanya. Dia bertanya pada Lucas.


"Kamu kenapa? Tumben mau mangga. Biasanya juga gak suka."


"Loh? Gak suka mangga?" tanya Daniel merasa heran.


Orang yang menjadi pusat pertanyaan pun menarik tubuhnya, merapatkan punggung ke dinding sofa. "Aku juga gak tau. Tiba-tiba pengen aja sampek gak bisa tidur."


Bryan menyeletuk, "Kamu kayak Papa dulu pas mamamu lagi hamil. Mama kamu cuma mual, tapi gak ada ngidam. Kalo Papa kayaknya semua rasain. Pengen makan yang Papa gak suka."


Mendadak mereka semua terdiam. Saling melihat satu sama lain.


"Eh? Apa Lucas lagi ngidam?" tanya Daniel sambil menunjuk Lucas.


"Jadi, Freya lagi hamil?" Lucas balik bertanya.


"Emang kalian udah ... ." Bryan mengangkat alisnya penuh tanda tanya. Lucas mengangguk pelan.


"Loh? Bukannya kamu janji sama Papa gak akan melangkah lebih jauh sebelum Freya berumur 20 tahun?"


"Gak sengaja, Pa."


"Gak sengaja apa? Kamu yang gak bisa nahan diri."


"Ya, Papa bayangin aja kalo misalkan istri Papa di samping. Tidur. Aku udah berusaha nahan diri."


Sementara ayah dan anak itu berbicara hal yang tidak dimengerti oleh Daniel, pria itu hanya dapat melihat Lucas dan Bryan secara bergantian.


"Permisi . . . saya pamit, ya, Om."


Bryan berhenti memarahi Lucas dan melihat Daniel. "Oh, iya. Hati-hati di jalan."


"Iya, Om."


Daniel langsung melarikan diri sebelum Lucas berhasil menarik bajunya.


Bryan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Lucas. Kemudian, dia berkata pada pada anaknya itu. "Kalo ini beneran karena Freya hamil, kamu harus bener-bener cari dia sampek ketemu. Awas aja kalo dia kenapa-napa, kamu abis di tangan Papa."


"Gak karena itu pun aku bakal cari sampek ketemu."


"Bagus. Emang harus kayak gitu."


Keduanya kembali diam setelah bertukar banyak kata. Di atas meja, Bryan melihat satu gelas es mangga susu yang belum tersentuh sama sekali. Tanpa perlu meminta pada Lucas, pria itu langsung mengambilnya.


"Oh, ya. Kamu beneran gak masalah mamamu kerja sama dengan kita lagi? Kemarin itu, kamu sampek marah-marah ke Papa buat batalin kerja sama dengan perusahaan suami Mia."


Lucas mengedipkan matanya perlahan. Lalu, sudut bibirnya tertarik ke atas. Sorot matanya menjadi tajam saat Bryan bertanya padanya.


Dia melihat ke arah ayahnya yang tengah menikmati es mangga susu. Sambil tersenyum, dia berkata, "Gak masalah. Karena keberuntungan . . . ada di pihak kita."

__ADS_1


__ADS_2