Cold Love

Cold Love
Bab 66. Kehilangan Jejaknya Ketika Baru Bertemu Kembali


__ADS_3

Setiap detiknya, awan yang berada di langit akan berubah. Didorong oleh angin yang bertiup.


Hal kecil seperti itu menandakan bahwa waktu terus berjalan. Akan tetapi, jika diperhatikan dengan saksama . . . awan bergerak cukup lamban.


Sama seperti yang dirasakan oleh Lucas. Baginya, untuk mencapai satu menit saja cukup lama. Hari-harinya menjadi lamban seperti perubahan yang terjadi pada awan.


Enam tahun telah berlalu.


Tak ada yang berubah di dalam kamar mereka. Semua masih pada tempatnya sendiri.


Lemari di sisi sana, dibiarkan kosong begitu saja. Menunggu pemiliknya datang untuk mengisi kekosongan itu.


Lucas menatap ke bawah, di mana bunga-bunga yang dulunya sering disiram oleh seseorang yang dia rindukan berada.


Setelan jas merah yang dia kenakan terlihat bercahaya terkena sinar matahari. Di bawah sana pun, bunga berwarna merah adalah hal yang paling menonjol di antara bunga-bunga yang lain.


Lucas memandanginya lagi. Dia yakin bahwa salah satu di antara mereka ada yang menjadi favorit orang itu. Namun, dia sendiri tidak tahu yang mana. Yang dia percayai adalah orang itu menyukai semua tumbuhan yang ditanamnya sendiri.


Di masa lalu, orang yang setiap detik ada di pikirannya itu akan menyiram semua bunga tersebut. Lucas tahu, dia selalu merawat semua itu di jam yang sama. Hanya berbeda di menitnya saja.


Lucas juga tahu, jika orang itu suka mendengar petikan dari senar gitarnya. Setiap kali orang itu keluar dan hendak memberi air untuk bunga-bunga itu, Lucas akan segera mengambil gitarnya dan duduk di balkon kamar. Menyetel senar, lalu bermain secara alami.


Lucas suka bermain musik dan dia pernah menjadi gitaris di band sekolahnya dulu. Dia tidak yakin dengan suara nyanyiannya, tapi Lucas percaya diri jika orang itu menyukai senandung yang dia lantunkan.


Tentu, hal itu terbukti ketika mereka menikah, orang itu memberanikan diri untuk mendatanginya. Duduk di dekatnya dan mendengarkan permainannya dengan jelas. Walaupun seingat Lucas, ada hal yang tidak mengenakan terjadi saat itu.


Hanya karena sebuah foto tidak penting itu membuat hubungan mereka renggang. Lucas . . . benar-benar murka.


Pria itu melirik jam di tangannya. Satu jam lagi dia akan pergi untuk melihat perkembangan propertinya di salah satu kota yang jauh dari tempat tinggalnya.


Lucas berharap, apa yang ingin dia cari akan segera dia temukan.


Selesai bernostalgia, pria itu masuk ke kamarnya. Dia menelusuri ruangan itu dengan pandangannya. Sampai dia berhenti di satu benda yang terduduk rapi di sudut kamarnya.


Lucas berjalan ke arah benda tersebut. Langkah kakinya pelan, tapi pasti. Tiba di sana, pria itu menghentikan langkahnya.


Kedua tangan yang berada di dalam saku celana pun dia keluarkan. Jari-jarinya yang ramping meraih benda tersebut. Mengangkatnya ke udara, kemudian menaruhnya di lengan yang lain.


Mata Lucas mengelus lembut garis-garis yang membentuk benda tersebut. Itu adalah gitar lama miliknya yang selalu dia mainkan jika istrinya sedang menyiram tanaman.


Ah, perasaan ini benar-benar membuatnya muak. Rasa sesak yang tidak bisa dikeluarkan. Rasa pahit yang memenuhi hatinya, tidak bisa dia ubah. Bisa saja belum. Lucas tidak tahu.


Gitar tua ini ingin dia ganti dengan yang baru, tetapi ketika dia mengingat bahwa istrinya menyukai gitar ini, Lucas tidak jadi membuangnya. Jika senarnya putus atau suaranya menjadi sumbang, dia akan memperbaikinya. Apa pun akan dia lakukan agar benda ini bisa terus digunakan.


Hanya saja, beberapa tahun belakangan dia belum pernah memainkannya lagi. Lucas masih tetap merawatnya dengan baik, berharap suatu hari nanti, istrinya akan datang dan memintanya bermain lagi.


"Lucas, kamu di dalam?"


Suara ketukan pintu terdengar bersahutan dengan kalimat pertanyaan. Lucas meletakkan kembali gitar tersebut ke tempatnya sebelum membuka pintu.


"Oh, Mama kira kamu udah pergi. Daniel gak datang ke sini? Dia langsung ke bandara?"


Mia adalah orang yang mengetuk pintu kamarnya. Mengganggu dirinya dan ketenangan pikirannya. Namun, di depan Mia, Lucas menghilangkan raut datarnya. Mengubahnya menjadi sebuah senyuman tipis.


"Iya, Ma."


"Eum." Mia mengangguk, lalu dia mengintip ke dalam kamar Lucas, "koper kamu mana?"


"Gak perlu. Cuma sebentar di sana."


"Loh? Bukannya kamu seminggu nginap?"


Lucas mengerutkan keningnya. "Siapa bilang?"


"Aurora yang bilang sama Mama. Kamu pergi ke Jogja selama seminggu makanya pertunangan kalian diundur."

__ADS_1


Lucas baru mengingatnya sekarang. Dia telah mengatakan kebohongan pada Aurora agar keluarga wanita itu menunda acara pertunangan mereka.


Selama ini dia beralasan jika dirinya belum pantas menjadi pasangan Aurora. Kedua orangtua mereka tahu mengenai Freya yang pergi meninggalkan Lucas begitu saja. Jadi, mereka menganggap bahwa Lucas belum bisa melupakan Freya dan terus memaksanya menikahi Aurora.


Namun, setelah lima tahun, Lucas berhasil berdiri di puncak. Bisa disandingkan dengan Pak Oga yang terkenal kaya dan memiliki kuasa. Karena hal itu, Pak Oga dan Mia mendesaknya lagi dengan mengatakan bahwa dirinya sudah pantas menjadi pasangan Aurora.


"Kamu bohong, ya? Biar acaranya diundur?" Mia mulai menerka-nerka karena keterdiaman Lucas.


Lucas menggeleng pelan. "Gak, Ma. Awalnya memang seminggu, tapi tadi Daniel bilang gak perlu selama itu."


Lucas menyipitkan matanya, masih menaruh curiga pada anak tunggalnya. Namun, karena alasan Lucas masuk akal, dia pun tidak memperpanjangnya lagi.


"Ya udah. Jadi, acaranya gak perlu ditun—?"


Lucas lantas menyela dengan cepat. "Tapi kayaknya aku harus seminggu di sana. Bisa lebih, sih. Nanti kita bicarain itu. Aku harus pergi sekarang. Dah, Ma."


Lucas melewati ibunya dan menuruni tangga dengan cepat. Di ambang pintu, Mia berteriak pada Lucas.


"Kalo seminggu, kamu ganti bajunya gimana?"


"Beli!"


...****************...


Lucas tiba di Yogyakarta setelah dia berhasil melarikan diri dari Mia.


Daniel tertawa sampai kepalanya terjungkal ke belakang karena mendengar kebodohan Lucas yang lupa dengan rencananya sendiri.


"Bisa-bisanya lo gak ingat tujuan lain lo pergi ke sini, tuh, apa. Gue tau lo banyak pikiran, tapi gak sebodoh ini juga."


Di dalam kamar hotel, Daniel kembali mengungkit cerita Lucas di bandara tadi. Dia, bahkan tidak repot-repot membawa barang-barangnya ke kamar sebelah. Semua itu telah diurus oleh sekretaris yang dia bawa. Orang ini memperlakukan sekretarisnya sama seperti asisten rumah tangga. Untung saja dia masih memiliki pikiran untuk membayar lebih pada orang tersebut.


"Gue bilang itu ke Aurora dua minggu yang lalu. Itu pun ngasal. Kalo bisa gue bilangnya sebulan atau setahun."


Lucas baru selesai membersihkan dirinya. Handuk putih masih menutupi pinggang hingga lututnya. Dia mengambil handuk lain yang lebih kecil dan mengusap rambutnya yang basah.


"Yah, gue bisa maklumi, sih. Lagian nyokap lo maksa banget."


Lucas tidak menanggapi. Dia menaruh handuk kecil itu di lehernya, kemudian dia pergi mengambil air dari atas meja makan.


"Lucas. Lo masih yakin dengan cara ini bisa nemuin dia?"


Air mengalir keluar dari dalam teko kaca. Lancar tanpa hambatan, tetapi tangan Lucas berhenti begitu mendapat pertanyaan itu.


Pria itu diam sejenak sebelum menyelesaikan kegiatannya. Dia membawa gelas berisi air tersebut dan duduk di sofa.


"Dua tahun lalu gue mulai usaha di bidang properti dan sekarang mungkin udah masuk tahun ketiga?" Dia menenggak air dengan cepat, "yakin atau enggak, gue cuma ngikutin apa yang hati gue bilang. Semua rencana ini, harus berhasil."


"Sama sekali gak ada petunjuk tentang keberadaan dia. Lo bikin mal yang isinya ada es krim juga bakalan susah nemunya. Rencana lo gak masuk akal. Siapa orang yang punya rencana kayak gitu? Buang-buang uang."


"Es krim itu kesukaan dia. Udah mulai langka dan gak banyak yang jual. Gue yakin, dia pasti datang setidaknya sekali. Orang yang lo tanya itu ada di sini. Gue yang punya rencana dan juga hal itu gak buang-buang uang karena gue buka usaha di situ."


"Lo kira dia ikan? Bisa dipancing gitu. Lagian lo tau dari mana kalo dia datang?"


"Cctv." Lucas menjawab dengan wajah datar seolah Daniel adalah orang dungu yang tidak tahu tentang teknologi.


Daniel mendecakkan lidahnya. "Mal yang lo bikin itu lebih dari tiga di tiap kota. Mungkin aja dia tinggal di pelosok desa yang gak bisa lo jangkau."


Lucas menggeleng dengan jarinya. "Gak. Freya pasti tinggal di kota. Dia butuh kerjaan untuk biaya hidup. Di kota lebih baik pekerjaannya."


Dibantah oleh logika yang tak masuk akal bagi Daniel, pria itu pun akhirnya menyerah. Dia merebahkan dirinya di atas kasur milik Lucas, mengistirahatkan tubuhnya yang penat.


"Terserah lo, deh. Lagian gue juga ikut bantu rencana konyol lo. Ya, semoga tahun ini dia ketemu."


Lucas bergumam sebagai jawaban. Kemudian, dia berdiri setelah menghabiskan minumannya. Sebelum tiba di hotel, Lucas membeli beberapa pakaian untuk dia gunakan selama menetap di Yogyakarta.

__ADS_1


Karena dia harus pergi ke mal miliknya yang baru resmi dibuka, Lucas harus memakai jas agar terlihat sopan. Saat peresmian, Lucas tidak sempat datang karena kesibukannya. Oleh karena itu, dia menggantinya dengan hari ini. Sekalian melihat perkembangan mal tersebut.


"Daniel, bangun. Kita harus pergi. Lo gak mandi?" tanya Lucas sambil memakai pakaiannya.


Wajah Daniel terbenam di dalam kasur, dia menjawab dengan suara teredam.


"Gak. Malas."


Lucas meliriknya sekilas dan mengabaikan jawabannya.


Setelah selesai, Daniel dan Lucas pergi menggunakan mobil yang telah disiapkan oleh pihak hotel. Lucas adalah pemilik hotel ini. Hotel FA Vermillion memiliki beberapa cabang yang berdiri di kota-kota besar. Oleh sebab itu, Lucas tidak perlu merepotkan diri dengan hal-hal seperti menyewa mobil untuk membawa dirinya ke mana pun.


Setibanya di mal, mereka langsung dibawa ke ruangan khusus atasan. Berbicara ini dan itu dengan pemilik supermarket sebelumnya. Merencanakan kelanjutan renovasi dan hal-hal yang berhubungan dengan pembangunan.


"Terima kasih atas kerja keras Anda." Lucas menjulurkan tangannya, bermaksud untuk bersalaman dengan pria tua di depannya.


"Sama-sama. Saya senang bekerja sama dengan Anda. Anak muda seperti Anda ini sangat hebat dalam mengembangkan bangunan tua seperti ini." Pria itu tertawa senang sambil menyambut uluran tangan Lucas.


Hari sudah sore ketika tawa itu berakhir. Lucas dan Daniel berencana pergi ke restoran untuk makan malam. Daniel sudah pergi terlebih dahulu untuk menelpon seseorang. Sementara itu, Lucas turun untuk melihat-lihat di lantai bawah.


Di bagian tempat penjualan makanan, Lucas melihat papan besar yang tertulis merk es krim kesukaan Freya. Pria tua itu benar-benar memenuhi permintaannya. Setelah ini, dia akan menambahkan uang untuk biaya sekolah anak bungsu pria itu.


Dia memutar tubuhnya, melihat-lihat ke tempat yang lain. Lalu, tanpa sengaja matanya menangkap sosok yang telah lama dia cari sedang berjalan keluar dari mal tersebut.


Lucas percaya dengan ketajaman matanya. Dia tidak mungkin salah mengenali. Walaupun orang yang baru saja keluar itu terlihat lebih kurus dan penampilannya sangat berbeda dengan Freya, tapi dia yakin bahwa orang itu adalah istrinya.


Dengan segera dia mengikuti orang tersebut. Sedikit berlari karena Lucas takut akan kehilangan jejaknya.


Setibanya di luar, Lucas melihat orang itu berdiri menyamping sambil berbicara dengan seorang wanita. Mereka tampak melambaikan tangan dengan bahagia.


Lucas berjalan perlahan, mendekati orang tersebut.


Dilihat dari belakang, orang itu berpakaian sangat sederhana. Celana jeans dengan kemeja kotak-kotak berwarna merah hitam. Rambutnya diikat seperti ekor kuda dengan topi hitam yang terpasang di kepalanya.


Setelah orang lain pergi, Lucas baru memanggil namanya.


"Freya?"


Lucas dapat melihat orang itu membeku. Secara perlahan, dia berbalik ke belakang.


Kini, Lucas sangat yakin akan arahan hatinya. Dia benar-benar menemukan istrinya di sini! Di depan gedung miliknya!


"Freya ... ."


Lucas tidak tahu harus berkata apa. Dia sudah mempersiapkan banyak kalimat jika suatu saat nanti dia bertemu lagi dengan Freya.


Akan tetapi, rencana memang sering tidak berjalan lancar. Ketika hari yang dia tunggu tiba, Lucas kehilangan kata-katanya. Dia tidak tahu harus mengucapkan apa selain memanggil namanya lagi.


"Anda salah orang."


Deg!


Seperti terkena serangan jantung mendadak, Lucas merasakan dentuman keras di dadanya.


Salah orang? Gak mungkin.


"Freya. Jangan pura-pura. Aku tau kamu gak lupa sama aku." Kalimat lembut yang ingin dia sampaikan pada Freya menguap begitu saja saat dia melihat reaksi orang di depannya. Wanita itu tampak menghindarinya dengan jelas.


"Maaf, tapi saya gak kenal Anda. Permisi."


Tanpa menunggu tanggapan dari Lucas, wanita itu langsung berjalan menuju jalan raya. Melarikan diri dari Lucas dengan menyebrang ke sisi yang lain.


"Freya!" Lucas berteriak memanggilnya. Dia hendak menyusul Freya, tetapi banyaknya kendaraan yang lewat menghalanginya untuk mengejar wanita tersebut.


Dengan penuh kekesalan, Lucas membuang kasar napasnya.

__ADS_1


"Sial!"


__ADS_2