Cold Love

Cold Love
Bab 85. Fakta Lama Yang Baru Terungkap


__ADS_3

"Gak boleh."


Freya menghela napas untuk yang kesekian kalinya. Hari ini dia ingin pergi berbelanja karena Bi Surni tidak datang. Jika dia tidak membeli bahan makanan, tidak ada yang bisa dia masak dengan sedikit bahan di kulkas.


Freya sudah menjelaskannya pada Lucas, tapi pria itu tidak mengizinkannya jika dia pergi sendirian.


"Lucas, aku cuma mau belanja."


"Gak."


"Lucas!" teriak Freya. Dia merasa frustasi dengan sikap Lucas yang terus menahan langkahnya.


"Biarin dia pergi. Kamu juga gak bisa nahan Freya di rumah terus. Lagian kamu harus ikut Papa ke kantor hari ini. Ada masalah yang harus kamu tangani sendiri."


Bryan baru keluar dari kamarnya. Meskipun umurnya sudah hampir menginjak 50 tahun, tubuhnya masih terlihat bugar dalam balutan jas biru dongker.


Lucas hendak membantah, tapi Bryan tidak mengizinkannya. "Anak kamu nanti kelaparan kalo Freya gak belanja."


Lelah berdebat lagi, akhirnya Lucas mengalah. Dia meminta ponsel Freya untuk memasukkan nomornya. Setelah beberapa minggu bertemu lagi, Lucas tidak ingat jika dia tidak memiliki nomor Freya. Kebiasaannya yang menempel pada istrinya itu membuat dirinya lupa tentang hal penting tersebut.


"Hp kamu model lama. Nanti aku beli baru," kata Lucas sambil mengembalikan ponsel Freya.


"Gak usah. Aku jarang pakek."


"Harus."


Lucas berkata dengan nada mutlak. Freya melirik pria itu acuh tak acuh. Dia mengiyakan perkataan Lucas agar semua berjalan cepat.


"Pesan taksi. Abis belanja langsung pulang." Lucas mengingatkannya lagi. Mereka tidak mempekerjakan supir lagi sehingga Freya harus pergi sendiri.


"Iya."


Setelahnya, pria itu pergi bersama dengan Bryan. Freya dan Syakia juga sudah selesai bersiap. Taksi pesanan mereka datang dan keduanya pun pergi ke supermarket yang paling dekat dengan rumah.


Baru saja dia masuk untuk berbelanja, ponsel di saku celananya berdering. Freya mengernyitkan dahinya saat melihat nama Lucas di sana.


"Apa?" tanya Freya setelah dia menerima panggilan.


"Di mana?"

__ADS_1


"Supermarket. Baru aja—"


"Masih lama?"


Freya memejamkan kedua matanya kesal. Dia baru saja tiba, bahkan keranjang pun belum diambil olehnya. Namun, pria di seberang sana sudah bertanya apakah dia masih lama atau tidak.


"Aku baru sampe."


"Cepat pulang."


Setelah mengatakan dua kata tersebut, Lucas mematikan sambungan telepon.


Freya melihat layar ponselnya. Benar-benar menjengkelkan. Dia menaruh kembali benda tersebut di saku celananya. Kemudian, mengambil keranjang dan menggandeng tangan Syakia. Berkeliling di tempat tersebut untuk mencari beberapa bahan yang dibutuhkan.


"Freya?"


Suara asing memanggil dirinya. Freya memutarkan tubuhnya dan mendapati seorang wanita berpakaian modis berdiri di belakangnya dengan wajah terkejut.


"Ya?" Freya merasa tidak asing dengan wajahnya, tapi dia tidak ingat sama sekali tentang wanita ini.


"Kamu Freya? Aku Chika. Dulu kita punya masalah sedikit. Kamu ingat gak? Lebih baik kalo gak ingat, sih. Hehe."


Wanita itu terlihat cantik. Rambutnya panjang sebahu, tampak halus. Freya memiringkan kepalanya. Dia hampir mengingat siapa wanita di depannya ini.


Begitu dia mengingatnya, Freya spontan menunjuk Chika dengan telunjuknya.


"Kamu yang pernah minta maaf karena udah tampar aku pas SMA 'kan?"


Chika mengangguk malu-malu. "Jangan diperjelas juga. Aku minta maaf untuk waktu itu. Anggap aja kebodohan di masa muda."


Freya tertawa kecil. "Aku minta maaf juga karena udah balas nampar."


Chika mengipas tangannya di depan muka. "Ah, gak papa. Ngomong-ngomong, ini anak kamu?" Wanita itu sedikit membungkuk untuk menyapa Syakia.


Bocah itu tidak menggunakan alat bantu dengar hari ini. Jadi, dia hanya diam dan tidak merespons. Melihat itu, Freya merasa tidak enak.


"Maaf, Chika. Dia emang kayak gini kalo ketemu orang baru. Maaf, ya."


Chika berdiri lagi. Menyelipkan rambutnya yang jatuh ke belakang telinga. "Gak masalah. Anak-anak selalu gini. Mirip banget sama Lucas, ya."

__ADS_1


Raut muka Freya tiba-tiba berubah begitu Chika menyebut nama Lucas. "Maksudnya?"


"Eum?" Kedua alis Chika terangkat. Dia melihat Syakia, lalu kembali melihat Freya. "Bukannya dia anak kamu sama Lucas? Kalian udah nikah 'kan?"


Kening Freya berkerut dalam. Seingatnya, saat menikah dengan Lucas tidak banyak teman mereka yang tahu. Chika sepertinya juga bukan teman dekat Lucas.


Dari mana orang ini tahu?


"Kenapa kamu mikir gitu?" tanya Freya.


Chika tertawa lagi. "Lucas bilang kalian udah tunangan. Asal kamu tahu aja, dulu jari aku hampir dipotong sama dia kalo gak minta maaf sama kamu. Eh, tapi aku tulus minta maaf, ya. Bukan cuma karena diancam Lucas."


Kebingungan itu semakin mengerutkan kulit Freya. "Diancam? Kenapa Lucas ngancam kamu?"


"Karena aku udah tampar kamu. Dia marah dan balas tampar muka aku. Makanya aku langsung lari ke kamu. Liat, nih." Wanita itu mengangkat kelingkingnya yang terdapat bekas luka, "dia hampir potong jari aku."


Mata Freya membesar. Dia tidak menyangka jika Lucas melakukan hal seperti itu. Mengancam seseorang? Kenapa dia melakukan itu?


"Menurut aku, dia kayak gitu untuk lindungi kamu. Biar gak ada yang buli kamu lagi. Bukan cuma aku, tapi beberapa anak yang ngatain kamu di belakang juga diancam sama dia."


Freya baru mengetahui fakta ini setelah bertahun-tahun terlewati?


Lucas ... benar-benar tidak bisa dia tebak.


"Aku pergi dulu, ya. Suami aku udah nunggu di depan."


Chika menunjukkan layar ponselnya yang berdering. Sambil membawa keranjang belanjaan dia berpamitan pada Freya.


Freya diam di tempat. Memikirkan fakta yang baru dia dengar. Karena pikirannya yang penuh, Freya asal mengambil bahan-bahan dan kemudian pergi membayar di kasir.


Setibanya di rumah, Freya tidak langsung memasak. Melainkan dia duduk termenung di dapur.


Mengancam seseorang untuk melindunginya? Mengapa Freya tidak pernah tahu?


Itu sebabnya kah kehidupan sekolahnya damai? Orang-orang yang memandang sebelah mata pada dirinya itu telah diatasi oleh Lucas?


"Kalo gitu ... apa Jeremy juga?"


Dia ingat di masa lalu, seorang pria bernama Jeremy mendekatinya dan setelah melihat tangan kirinya ... pria itu langsung menghina dirinya. Lalu, tak lama pria itu kembali untuk meminta maaf padanya.

__ADS_1


Freya bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Apakah selama ini ... sikap dingin Lucas hanya berlaku di depannya saja? Di belakangnya, pria itu diam-diam melindunginya dengan caranya sendiri.


Freya tidak tahu harus bagaimana setelah mengetahui fakta itu. Yang pasti, saat ini hatinya merasa ... hangat.


__ADS_2