Cold Love

Cold Love
Bab 39. Kecil, Tapi Mengapa Sangat dipermasalahkan?


__ADS_3

Hari ini adalah hari Minggu.


Semua orang berada di rumah karena tidak memiliki kegiatan di luar.


Kecuali Bryan. Lelaki itu harus pergi ke luar kota untuk melakukan perjalanan bisnis. Awalnya, dia ingin menyuruh Lucas untuk ikut. Akan tetapi, karena kampus mereka mulai memasuki masa ujian tengah semester, Lucas tidak bisa ikut pergi bersamanya.


Berbeda dengan hari biasanya, Freya tidak menemukan Bi Surni di dapur. Padahal sebelum Freya bangun pagi, Bi Surni sudah membuat keributan di sana. Baik itu mencuci piring ataupun memasak.


"Anak Bi Surni sakit. Jadi, gak bisa datang selama beberapa hari. Uang belanja Papa taruh di meja ruang tengah, ya. Dalam amplop coklat." Bryan muncul dari pintu dapur. Dua jarinya sibuk mengancingkan lengan kemejanya. Di atas bahunya terdapat jas berwarna hitam yang kemudian dia tarik untuk dipakai.


Freya baru saja akan membuka pintu kulkas untuk mengambil bahan makanan. Tangannya menyentuh gagang pintu kulkas, lalu memutar setengah tubuhnya untuk melihat Bryan.


Lelaki itu sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Wajahnya yang awet muda terlihat segar meski dia harus bangun lebih pagi dari biasanya.


"Lucas masih tidur?" tanyanya sambil mengambil gelas. Kemudian mengisinya dengan air yang berada di dalam teko kaca di atas meja.


"Iya, Pa."


Bryan meneguk segelas air dengan cepat. Jakunnya tampak naik turun saat menelannya. Kemudian, dia meletakkan gelas tersebut dengan sedikit kuat. Menimbulkan suara duk yang ringan.


"Yasudah, Papa pergi dulu. Bilang sama Lucas kalo Papa udah berangkat, ya."


Freya mengangguk. "Iya, Pa. Hati-hati."


Bryan melontarkan senyum tipis pada Freya sebelum dia pergi ke luar dengan membawa satu koper kecil.


Freya kembali membuka kulkas dan mengambil beberapa bahan yang dia butuhkan. Tak banyak lagi bahan-bahan makanan yang tersisa di dalam. Dia harus pergi belanja untuk siang nanti.


Di pagi hari, Freya selalu memasak makanan yang ringan. Oleh karena itu, bahan yang tersisa di kulkas cukup untuk membuat sarapan.


Setelah selesai memasak, Freya pergi ke atas untuk membangunkan Lucas. Menepuk-nepuk pelan pipinya agar lelaki itu segera bangun. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan dan waktu sarapan sudah terlewat sejak tadi.


Lucas berdeham pelan sebelum membangunkan tubuhnya sendiri. Matanya menyipit dan sesekali menggoyangkan kepalanya agar kesadarannya cepat kembali.


Sementara itu, Freya kembali ke bawah dan menunggu Lucas di meja makan.


...***...


Freya melihat jam di dinding yang menunjuk ke angka 11. Sedikit lagi matahari akan berdiri di tengah-tengah langit.


Freya mengganti pakaiannya dengan baju yang memiliki lengan panjang serta rok lipit putih dengan tepi bawah bergaris hitam. Hari ini cuaca berada dalam suhu yang lumayan tinggi. Freya mengikat rambutnya menjadi satu di belakang kepala.


Sebelum masuk ke kamar, Freya sempat mengambil amplop coklat yang dikatakan oleh Bryan. Isinya cukup banyak padahal dia hanya pergi selama tiga hari. Freya mengambil uang secukupnya dan menyimpan yang lain di dalam lemari bajunya.


Saat dia keluar, Freya mendapati Lucas tengah memegang selang. Lelaki itu tampak memutar-mutar kepala selang, seolah sedang mencari sesuatu di dalamnya.


"Kamu ngapain?" tanya Freya.


Lucas menjawab tanpa melihat ke arah Freya. Dia masih sibuk mengintip ke dalam isi selang. "Bunga. Kamu belum siram."


Lalu dia meletakkan selang itu kembali ke tanah setelah tidak mendapatkan apa pun. "Kayaknya air lagi mati."


Freya mendadak bodoh. Matanya bergerak-gerak. Antara Lucas, selang, dan bunga-bunga yang dia tanaman di halaman depan.


"Ah, iya . . . aku lupa." Efek kesibukannya menjadi seorang mahasiswi membuat Freya lupa dengan kebiasaannya dulu. Dia harus memulai lagi nanti. Tidak bisa terus-menerus berharap pada Bi Surni untuk merawat tanamannya.


Lucas memandang benda tak bertulang itu sejenak sebelum mengangkat matanya dan melihat Freya.


Netranya jatuh pada leher putih Freya yang bersih. Karena dia mengikat rambutnya, cahaya matahari yang tajam itu terpantul di lehernya yang mulus. Jika leher Freya terbuat dari kaca, mungkin mata Lucas akan terasa pedih karena mendapat terangnya cahaya matahari.

__ADS_1


"Mau ke mana?" tanya Lucas. Tiba-tiba suaranya menjadi agak aneh. Terdapat nada mendominasi yang pekat di sana.


Ditanya dengan intonasi seperti itu, Freya menjawab kikuk. "Ke supermarket."


"Tunggu."


Lucas hendak masuk ke dalam rumah, tapi Freya segera menahan lengannya.


"Aku bisa pergi sendiri."


Lucas meliriknya tajam. Dia berkata mutlak, seperti tidak ingin dibantah. "Tunggu."


Freya melepaskan tangan Lucas dan membiarkan lelaki itu mengganti pakaiannya. Dari tatapannya saja Freya sudah tahu jika Lucas tidak ingin mengulangi perkataannya lagi. Jadi, dia memilih untuk diam dan menuruti apa yang dikatakan oleh Lucas. Setelah itu, mereka pergi bersama dengan menggunakan mobil.


Supermarket yang mereka datangi memakan waktu lima menit. Selesai memarkirkan mobil, Freya masuk terlebih dahulu setelah mengambil troli, diikuti oleh Lucas yang berjalan ringan di belakangnya.


Mereka berjalan ke berbagai macam rak yang menyediakan bahan makanan. Seperti sosis, daging ayam, sayur-sayuran, dan lainnya. Freya berdiri sebentar untuk memilih yang terbaik. Sesekali dia akan bertanya pada Lucas apakah dia menginginkan ini atau tidak.


"Eh?"


Freya mendorong kembali troli sampai dia tiba di depan freezer es krim. Dia mengintip ke dalamnya, melihat-lihat berbagai macam merk es krim di sana. Namun, ketika dia menemukan es krim yang dia sukai di masa kecilnya, Freya tersenyum senang.


Dia segera menggeser pintu freezer ke kiri, kemudian mengambil satu es krim rasa stroberi. Freya mengangkatnya ke atas sambil berujar sendiri.


"Merk es krim ini udah gak banyak dijual. Aku baru tahu di sini ada."


Freya jarang pergi berbelanja. Bi Surni adalah orang yang selalu mengisi kembali kulkas dengan berbelanja beberapa hari sekali. Jadi, dia tidak mengetahui jika es krim dengan merk yang sudah tertinggal jaman itu masih ada di supermarket ini. Freya mengira es krim itu hanya dijual di market dekat sekolahnya dulu.


Freya melihat kembali ke dalam freezer. Selain rasa stroberi, ada juga rasa coklat yang dijual. Freya langsung mengambilnya, lalu dia berikan pada Lucas.


"Ini, dulu kamu suka banget sama rasa ini 'kan?" tanya Freya penuh antusias.


Freya menarik kembali tangannya. Senyuman antusias itu jatuh seketika. Bibirnya maju sedikit, air mukanya menjadi kuyu. Dia menaruh kembali es krim rasa coklat tersebut dan hanya mengambil yang rasa stroberi, lalu mengajak Lucas untuk membayar barang-barang yang mereka beli.


...***...


Untuk yang kesekian kalinya, Lucas harus menahan amarahnya.


Baru saja dia dan Freya kembali ke rumah, mereka telah ditunggu oleh Mia di depan pintu. Wanita itu tidak bisa masuk karena Lucas membawa kuncinya.


Mia melihat kantung plastik yang berada di tangan Lucas. Dia bertanya, "Kalian abis belanja?"


Lucas menatapnya sebentar, lalu berjalan begitu saja melewati Mia. Mengabaikan pertanyaan yang dia ajukan.


Freya melihat kepergian Lucas dengan terkejut. Dia menggeser matanya untuk memeriksa reaksi Mia.


Akan tetapi, wanita itu tidak melihat Lucas untuk waktu yang lama. Dia melemparkan senyuman tipis pada Freya.


"Tante mau masuk dulu?" tawar Freya. Mendadak dia merasa gugup setelah lama tidak berkomunikasi dengan Mia. Sejujurnya, itu hanyalah sekadar basa-basi. Freya juga tidak ingin Lucas merasa tidak nyaman dengan kehadiran Mia di dalam rumah.


Gelengan kepala Mia membuat Freya diam-diam menghela napas lega.


"Tante mau ketemu sama kamu. Di sini aja gak papa."


Freya sedikit terperanjat. Kalimat itu terasa aneh di telinga Freya. Sudah lama dia tidak bertatap muka dan berbicara berdua dengan Mia. Jika diingat-ingat lagi, mereka juga jarang berbicara hanya berdua.


Pada intinya adalah, Freya dan Mia tidak memiliki hubungan yang dekat. Situasi ini begitu canggung bagi Freya.


"Tante dengar kamu sama Lucas udah nikah. Bener?" Sama seperti Lucas, Mia tidak suka berbasa-basi dan lebih suka bertanya langsung ke hal yang ingin dia ketahui.

__ADS_1


Freya mengangguk kaku. Kedua tangannya saling mengait di depan perut. Mendadak kulit tangannya terasa dingin.


Mia bergumam. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi datar. Tidak ada senyuman sama sekali seperti beberapa detik yang lalu.


"Kenapa kalian menikah? Karena perjodohan dulu itu?"


Freya ragu-ragu menjawab. Dia juga bingung dengan alasan pernikahan mereka. Jika dia yang ditanya, tentu saja jawabannya karena dia mencintai Lucas.


Namun, jika Lucas yang ditanya . . . kira-kira apa yang akan dia katakan?


Mia mendengus sambil tertawa mengejek. "Lucas adalah orang yang bertanggung jawab. Dia nikahin kamu karena Zehan yang minta. Tante penasaran, kenapa kamu gak keluar dari sini setelah lulus sekolah? Toh, kamu punya rumah sendiri 'kan?"


Rumah yang dikatakan oleh Mia merujuk pada rumah orangtuanya dulu.


Memang benar Freya masih memiliki rumah itu. Akan tetapi, dia berada di bawah asuhan Bryan. Ditambah statusnya saat ini membuat dia harus tetap berada di dekat Lucas.


"Rencananya aku mau balik ke rumah sendiri, tapi karena kami nikah abis lulus SMA, Om Bryan minta aku untuk tinggal di sini."


Freya menjelaskannya dengan hati-hati agar wanita itu mengerti maksudnya.


Mia membuang pandangannya ke samping. Dia mendecih tak suka. Lalu, tak lama melihat Freya. Dari rambut hingga ke tangannya.


Lama dia melihat jari-jari Freya yang saling terkait di sana. Kemudian, dia berkata, "Tante gak mau cucu Tante nanti ada yang gak lengkap."


Freya membesarkan matanya. Hinaan semacam ini sudah lama tidak dia dengar. Terutama hal itu datang dari mulut mertuanya.


Freya mengakui jika dia memiliki kekurangan dari segi fisik, tapi mengapa harus dipermasalahkan seperti itu?


Mengatakannya dengan jelas jika Mia tidak ingin cucunya memiliki anggota tubuh yang tidak lengkap sama dengan dia mengatai Freya jika keturunannya akan menjadi seperti dirinya.


"Tante pulang dulu. Kamu jaga baik-baik diri kamu. Jangan sampai itu beneran kejadian."


Setelah mengatakan hal-hal yang menyakitkan, Mia pergi dari sana.


Sepeninggal Mia, Freya termangu di depan pintu. Kalimat-kalimat Mia terputar lagi di kepalanya, seakan-akan memberitahu Freya jika dia tidak layak menjadi pendamping Lucas dan melahirkan keturunannya.


"Kenapa lama?"


Freya tersentak dari lamunannya. Lucas berdiri di depannya dengan wajah tanpa ekspresi.


Freya memaksakan dirinya untuk membentuk sebuah senyuman. "Tante ajak ngobrol sebentar tadi."


Lucas menatapnya sebentar. Lalu bersiap untuk kembali ke dalam. Akan tetapi, suara Freya menghentikan langkahnya. Membuat dia berbalik lagi.


"Maaf, Lucas."


"Untuk?"


Freya terdiam. Tidak mungkin dia mengatakan "Maaf kalo nanti anak kamu kayak aku". Reaksi apa yang akan Lucas berikan padanya nanti?


Melihat istrinya yang diam, Lucas pun bertanya, "Mama bilang apa ke kamu?"


Seolah bisa menebak pikirannya, Lucas menebak tepat di permasalahannya. Namun, Freya menggeleng, menutupi pembicaraannya dengan Mia.


"Gak ada. Cuma nanya kabar aja."


Lucas memicingkan matanya. Freya membuang muka tidak ingin melihat Lucas. Takut jika dia akan ditanyai lagi.


"Eum."

__ADS_1


Bergumam sejenak, Lucas berbalik dan masuk ke dalam rumah tanpa bertanya lebih jauh.


__ADS_2