Cold Love

Cold Love
Bab 71. "Saya Ayahnya!"


__ADS_3

Ini adalah hari kedua Lucas tidak muncul di depan wajah Freya. Mungkin dia benar-benar kembali ke Jakarta setelah Freya mengusirnya. Akan tetapi, Freya tidak terlalu yakin. Bisa saja pria itu tiba-tiba muncul di tempat kerjanya, seperti sebelumnya.


Lucas tidak bisa ditebak.


Apa yang pria itu pikirkan . . . Freya tidak pernah tahu dengan pasti. Dia bilang, semua yang dilakukan oleh Lucas adalah untuknya. Namun, Freya sendiri tidak mengetahui hal apa yang dimaksud Lucas.


Perhatiannya? Freya merasakan itu dari Lucas terakhir kali ketika mereka berusia 15 tahun.


Memberi kasih sayang? Freya tidak yakin.


Lucas jarang mengatakan isi hati dan pikirannya. Selama ini, Freya berusaha memahami tindakannya. Namun, setelah berusaha pun . . . pada akhirnya, dia menyerah.


Siang itu, kafe memiliki banyak pengunjung. Kebetulan hari ini, Viola datang untuk memeriksa keadaan kafe. Karena tengah ramai, Viola yang menjaga kasir, sementara Freya melayani pelanggan.


Selagi dia mencatat pesanan dan membawanya ke dapur, pikiran Freya masih dipenuhi dengan ingatan sore itu.


Saat itu, setelah Lucas pergi, dia bertanya pada Syakia mengenai Kakek Pati. Karena ketika dia pulang, Freya tidak melihat Kakek Pati sama sekali. Apalagi, Syakia malah bersama dengan Lucas.


Bocah itu menjelaskan dengan suara yang besar dan kurang jelas kosa-katanya, tetapi Freya mampu memahami apa yang Syakia katakan. Ditambah anak itu juga menggunakan sedikit gerakan isyarat tangan.


Ternyata, sehabis mengantar Syakia ke sekolah, Kakek Pati mengalami sakit di pinggangnya sehingga dia harus beristirahat di rumah. Lalu, anak Kakek Pati datang menjemput Syakia karena suruhan Kakek Pati. Kemudian, dia dibawa ke rumah anak Kakek Pati untuk bermain bersama cucu


Kakek Pati sambil menunggu sore tiba.


Ketika Syakia di antar pulang, seorang pria berdiri di depan rumah Syakia. Itu adalah Lucas yang sedang menunggu Freya pulang. Wanita tersebut mengira Lucas adalah ayah dari Syakia karena wajah mereka yang mirip. Oleh karena itu, Syakia ditinggal begitu saja bersama Lucas.


Mendengar penjelasan dari Syakia, darah di tubuh Freya memanas. Dia ingin meluapkan amarahnya pada anak Kakek Pati yang membiarkan Syakia bersama dengan orang lain tanpa mencari tahu terlebih dahulu. Memang benar bahwa Lucas adalah ayah Syakia, tapi bagaimana jika itu bukanlah Lucas? Melainkan orang asing yang tidak dikenal Freya.


Namun, dia tidak bisa melakukan apa pun. Keluarga Kakek Pati sudah banyak membantu dirinya. Marah pun rasanya dia tidak punya hak. Lucas harusnya berterima kasih karena anak Kakek Pati masih mau mengantar Syakia pulang dengan selamat.


Tadi pagi, saat Freya ingin mengantarkan Syakia ke sekolah, Kakek Pati tiba-tiba muncul di depan rumah mereka. Freya, bahkan sempat berpikir apakah Kakek Pati memiliki obat mujarab yang bisa menyembuhkan pinggangnya dengan cepat? Becak butut itu sepertinya tidak ingin pemiliknya berhenti mengendarainya.


"Mbak, jangan banyak esnya, ya."


"Iya, mohon tunggu sebentar, ya."


Freya selesai menulis pesanan pelanggan, dia segera pergi ke dapur untuk menyerahkan kertas. Kemudian, mengambil pesanan yang sudah selesai dihidangkan dan mengantarnya ke meja yang memesan.


Untuk sekarang, Freya akan fokus pada kerjaannya. Jika Lucas benar-benar datang lagi, dia akan mengurusnya nanti.


...****************...


Tidak ada gunanya.


Ketika Lucas kembali untuk menemui Daniel dengan maksud meminta saran dan nasehat, pria itu malah semakin memperparah dirinya.


Daniel sama sekali tidak bisa diandalkan. Lucas ingin mengusirnya dari hotel, tapi dia ingat jika pria itu datang ke sini bersama dengan dirinya.


Gagal mendapatkan saran dari Daniel, Lucas memilih duduk sendirian di balkon kamar. Mengunci pintu rapat-rapat agar Daniel tidak mengganggu waktu berpikirnya.


Dia larut dalam kenangan masa lalu. Angin malam berhembus, mengelus wajah kakunya. Suara ribut daun-daun dia nikmati. Saat itu, pikirannya berkecamuk.


Lucas ingin menenangkan pikirannya. Dia ingin mabuk, tapi dia tidak bisa. Ingin merokok, tapi dia tidak suka baunya.


Apa yang harus dia lakukan untuk menenangkan diri?


Lama dia berpikir, akhirnya Lucas mendapatkan sebuah kesimpulan.


Mempertahankan dia. Bagaimanapun caranya.


Lucas menghubungi seseorang, menyuruhnya menyelidiki kehidupan Freya beserta anaknya. Dia menunggu hingga esok hari.


Dokumen berisi data yang dia inginkan telah dikirimkan padanya. Lucas membuka lembaran kertas itu, membaca setiap kata-katanya. Ada satu hal yang membuat dia terkejut. Pantas saja saat itu, dia tidak ditanggapi.

__ADS_1


Kemudian, dia menutup dokumen tersebut. Dengan sebuah senyuman tipis, dia menyusun rencana.


Keesokan harinya, Lucas tidak menemui Freya. Melainkan dia pergi ke sekolah Syakia.


Jika Freya tidak ingin memberitahu kebenarannya, maka dia akan menemui Syakia. Memperkenalkan dirinya pada bocah itu bahwa dia adalah ayah kandungnya.


Lucas sangat yakin. Mereka memiliki wajah yang sama. Mata mereka begitu mirip, bahkan mereka memiliki tatapan yang sama. Lagi pula, Lucas tahu jika Freya bukanlah wanita yang suka disentuh orang lain. Dia masih sendiri selama ini, tidak mungkin Syakia adalah anak dari pria lain.


Jam 12 siang. Anak-anak mulai keluar dari ruang kelas. Para orangtua juga sudah menunggu di depan pagar sekolah. Lucas bersandar di pintu mobil, memantau keberadaan Syakia.


Dia melihat sosok Syakia berjalan sendirian di belakang kelompok anak-anak lain. Bocah itu terlihat menunduk, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Lucas segera pergi menghampirinya.


"Syakia," panggil Lucas ketika dia tiba di depan Syakia.


Syakia tidak mendengar panggilan Lucas, tapi dia berhenti karena melihat dua sepatu hitam licin menghalangi jalannya. Secara perlahan, bocah itu mendongak. Mukanya mengerut saat dia mengenali orang di depannya itu.


Syakia hendak pergi, tapi Lucas menghalanginya. Dia merendahkan tubuhnya, menyejajarkan dirinya dengan tinggi bocah itu.


Lucas menatapnya dengan lembut. Intonasi suaranya sama seperti tatapannya pada Syakia.


"Kamu Syakia 'kan?"


Syakia melihat gerakan bibir Lucas. Dia mengangguk pelan.


"Aku—" Kalimat Lucas menggantung di udara. Dia tidak tahu harus memanggil dirinya sendiri dengan sebutan apa. Bagaimana caranya dia mengatakan bahwa dia adalah ayah kandungnya agar anak ini tidak bingung?


"Mungkin ini agak aneh, tapi saya ayah kandung kamu. Ada sedikit masalah di masa lalu, tapi sekarang saya sedang coba perbaiki."


Lucas berdeham. Dia berkata lagi, kali ini suaranya lebih kecil dan gerakan bibirnya juga cepat. Syakia tidak bisa mengikutinya sehingga dia tidak tahu apa yang Lucas katakan.


"Syakia?"


Lucas memanggilnya lagi. Syakia diam terlalu lama. Dia tahu jika Syakia mengalami gangguan pendengaran sehingga dia mengulangi kalimatnya lebih pelan dan suaranya dia besarkan. Namun, Syakia masih tidak merespons.


Lucas menoleh ke belakang dengan sedikit mendongak. Yang berbicara padanya adalah seorang pria tua berbaju batik coklat. Lucas berdiri, menghadap pria yang sudah menjadi kakek-kakek tersebut.


"Anda siapa?" tanya Lucas. Dia menebak jika pria tua ini adalah Kakek Pati. Karena di dokumen yang dia baca, pria bernama Kakek Pati selalu mengantar-jemput Syakia.


Pria tua itu menjawab sambil mendekati Syakia. Mengelus kepala bocah itu. "Saya Pati. Panggil aja Mbah Pati. Anda sendiri siapa? Kenal dengan Syakia?"


"Saya ayahnya." Lucas berkata tanpa ragu.


Elusan di kepala Syakia berhenti. Kakek Pati mengernyitkan keningnya, melihat ke arah Lucas dengan tanda tanya.


"Ayah?"


"Ya."


"Anda? Tapi, setau saya suami Freya—"


"Apa pun yang dia bilang, itu gak benar. Saya suaminya. Kami punya sedikit kesalahpahaman di masa lalu. Jadi, saya di sini untuk bawa pulang mereka."


Kakek Pati masih ragu dengan pernyataan Lucas. Dia menunduk, melihat wajah Syakia, kemudian berganti melihat Lucas. Dari segi penampilan, mereka terlihat mirip.


Lucas berusaha mengendalikan dirinya untuk bersikap sopan pada orang yang telah membantu Freya. Jadi, dia segera mengajak Syakia pulang sebelum terjadi perdebatan lain.


"Ayo, Syakia. Kita pulang."


Syakia menyipitkan matanya. Dia tidak tahu apa yang Lucas katakan.


Mengingat keadaan Syakia, Lucas menunduk kembali. Mendekatkan dirinya pada Syakia. Berbicara di dekat telinganya, mengajak bocah itu pulang.


Syakia menggeleng kuat. Dia menarik lengan Kakek Pati dan bersembunyi di belakangnya.

__ADS_1


"Jangan paksa anak kecil," kata Kakek Pati, "biar saya yang antarkan pulang."


Lucas menjawab dengan dingin. "Gak perlu. Biar saya saja. Terima kasih bantuan Anda selama ini, tapi biarkan saya yang melakukannya mulai sekarang."


Setelah mengatakan itu, Lucas menggendong paksa Syakia. Tidak peduli dengan rengekan bocah itu. Kakek Pati mencoba menahannya, tetapi sakit pinggangnya kambuh sehingga dia terpaksa membiarkan Syakia dibawa oleh Lucas.


...****************...


"Jangan nangis lagi. Ayah udah beliin banyak cemilan buat kamu."


Lucas membawa Syakia berkeliling, walaupun dia sendiri tidak mengetahui jalan di Yogyakarta. Dia hanya berhenti di tempat-tempat yang disarankan oleh google.


Membeli banyak makanan dan mainan untuk Syakia. Berusaha menghentikan tangisan bocah itu karena dia membawanya pulang dengan paksa.


"Mata kamu bengkak kalo nangis terus. Udah berapa jam kamu nangis?"


Di teras rumah, banyak kantung plastik bertumpuk. Sementara itu, Syakia masih sesenggukan karena lelah menangis. Lucas berusaha menghapus air mata bocah itu, tapi tangannya selalu didorong menjauh.


"Lucas? Kamu apain anak aku?"


Freya baru saja pulang dan untuk kedua kalinya dia terkejut dengan keberadaan Lucas di rumahnya. Ditambah dia melihat Syakia menangis di samping Lucas.


Lucas buru-buru menjelaskan sebelum Freya salah paham lebih jauh. "Aku cuma ajak pulang."


Melihat kedatangan ibunya, Syakia langsung berlari dan memeluk Freya erat.


"Gak papa, ya. Ada Bunda." Freya mengelus rambut Syakia dan berbisik lembut di telinga anak itu untuk menenangkannya.


Kemudian, dia menatap tajam Lucas. "Dia gak mau pulang sama kamu. Kenapa dipaksa?"


Lucas berdiri dari duduknya, menghampiri Freya dan Syakia.


"Terus aku harus biarin dia pulang sama orang lain? Ada aku di sini. Udah cukup ngerepotin orang lain."


Freya terdiam. Kata-kata Lucas seolah menyadarkan dirinya bahwa dia sudah cukup banyak merepotkan Kakek Pati.


"Aku udah tau tentang kondisi Syakia. Mulai besok, abis pulang sekolah, aku bawa dia ke rumah sakit untuk perawatan."


Freya melepaskan pelukan Syakia. Dia membuka pintu, menyuruh anak itu untuk masuk ke dalam terlebih dahulu.


Kemudian, dia berbalik menghadap Lucas. "Makasih, tapi aku gak mau ngerepotin orang lain lagi."


Lucas menatap Freya dengan datar. "Aku ayahnya."


"Bukan. Syakia gak punya ayah."


"Emang kamu bisa membelah diri? Tes DNA boleh juga. Mau?"


"Gak."


"Ya udah. Berarti dia emang anak kita."


"Gak. Jadi, mana surat cerainya?" Freya menjulurkan tangannya ke depan.


Lucas membuang kuat napasnya. Lalu, dia mengalihkan pembicaraan. "Besok pagi aku datang lagi."


Freya menarik tangannya. Kulit dahinya berkerut. "Ngapain? Kamu gak punya kerjaan? Balik ke Jakarta sana!"


"Selama kamu masih di sini, aku bakal tetap di sini."


"Ha?"


Lucas melirik jam tangannya. "Udah mau malam. Aku balik. Sampai ketemu besok." Kemudian, dia pergi menuju mobilnya.

__ADS_1


Freya melayangkan ketidaksukaannya, tetapi pria itu telah menghilang dari pandangannya.


__ADS_2