Cold Love

Cold Love
Bab 25. Ingin Melihat Lebih Dekat


__ADS_3

Note:


Mohon maaf semuanya. Viko mendapatkan sedikit musibah dua hari belakangan. Jadi, tidak bisa update. Agar lebih mudah mengetahui info tentang "Cold Love" silakan follow instagram Viko @liavinloko_


Selamat membaca. Jangan lupa vote, like, komen, favorit, dan rate ^^.


 -----------------


Freya terbangun dengan wajah kebingungan. Dia terduduk di pinggiran tempat tidur. Seingatnya, tadi malam dia menunggu Lucas di ruang tengah dan sepertinya tanpa disadari, dia tertidur di sofa.


Freya melihat ke samping di mana Lucas berada. Lelaki itu masih tertidur pulas di sampingnya.


Dia menatap suaminya, lalu berpikir ... apakah mungkin Lucas yang membawanya ke kamar?


Freya melihat Lucas sebentar sebelum memutuskan untuk pergi ke kamar mandi.


Hari ini adalah hari Sabtu. Freya tidak memiliki kelas apapun di hari itu. Begitupun dengan Lucas. Sabtu dan Minggu adalah waktunya untuk istirahat di rumah.


Di ruang tengah, terlihat Bryan duduk dengan menyilangkan kedua kakinya. Dia tengah fokus membaca sesuatu di tablet nya; tangan kanannya sesekali mengambil cangkir kopi di atas meja.


Freya turun dari tangga setelah selesai membersihkan diri. Bryan melihatnya sekilas dan menyapa Freya sebentar sebelum kembali pada tabletnya.


Melihat Bryan begitu serius dengan kegiatannya, Freya tidak ingin mengganggu dan membiarkan Bryan dengan urusannya sendiri. Wanita itu pergi ke dapur untuk memasak sarapan. Di sana, Bi Surni sedang mencuci piring. Air memercik sedikit, keluar dari wastafel. Bi Surni menggerakkan tangannya untuk mengecilkan kecepatan air yang keluar.


"Bi, Papa udah sarapan?" tanya Freya.


Bi Surni menolehkan kepalanya, tapi bola matanya fokus membasuh piring. "Udah, Nona Freya."


Freya mengangguk. Kemudian dia berjalan ke kulkas untuk mengambil telur, roti, dan sosis. Setelah semua yang dia butuhkan tersedia, Freya mengambil penggorengan. Meletakkannya di atas kompor. Jari-jarinya memutar tombol kompor dengan ringan. Api biru muncul dari lubang-lubang, meluas seperti bunga mekar.


Dia menuangkan sedikit minyak di atas penggorengan. Lalu mengambil satu telur dan memecahkannya di atas penggorengan setelah benda itu memanas.


Selesai menggoreng telur dan menaruhnya di atas piring. Freya menyayat sisi sosis menggunakan pisau, lalu melemparkannya ke atas penggorengan. Mengaduk-aduk menggunakan spatula, lalu mengangkatnya setelah matang.


Setelah semua siap, Freya menaiki tangga dan masuk ke kamarnya. Membangunkan Lucas seperti biasa. Lelaki itu mengerjapkan matanya. Menunggu rohnya kembali semua. Freya tertawa kecil melihat wajah Lucas ketika bangun. Mengingatkannya pada masa saat mereka kecil dulu. Ekspresi yang dibuat oleh Lucas masih sama lucunya seperti dulu.


Freya membiarkan Lucas mengumpulkan kesadarannya dan kembali ke dapur untuk menata makanan.

__ADS_1


...***...


Matahari belum berdiri di tengah-tengah bumi. Selesai sarapan bersama Lucas dan mencuci piring bekas makan mereka, Freya pergi ke halaman belakang untuk melihat keadaan tanamannya.


Sejak dia mulai kuliah, Freya belum sempat merawat semua tanamannya. Dia bersyukur karena Bi Surni mau membantu dirinya menyiram tanaman dan sesekali memberikan pupuk.


"Sebentar lagi mau mekar."


Freya menyentuh kelopak bunga mawar yang masih menguncup. Berbicara pada bunga adalah kebiasaan lainnya. Selesai dengan halaman belakang, Freya pergi ke depan untuk melihat tanaman yang lain. Saat dia melewati ruang tengah, Freya melihat Bryan sudah mengubah fokusnya dari tablet ke laptop.


Di luar, kupu-kupu hinggap di salah satu bunga yang ditanam oleh Freya. Ketika dia datang sambil memegang selang, binatang itu segera melarikan diri dan terbang ke tempat lain.


Freya menyiram semua tanaman tersebut. Senyum tipis muncul di wajahnya. Suara di sekitar Freya hanya terdengar bunyi semprotan air sampai tiba-tiba dia mendengar suara petikan gitar dari atas.


Wanita itu mendongak dan mendapati Lucas tengah duduk di balkon kamar dengan gitar di tangannya. Lelaki itu menatap sedikit ke langit. Jemarinya menari di antara senar, sementara pandangannya lurus, terasa kosong.


Sudah lama Freya tidak mendengar lelaki itu memainkan gitar. Sepertinya kesibukan mereka sebagai mahasiswa membuat dia dan Lucas mulai meninggalkan keseharian mereka.


Freya kembali menyiram tanaman sambil mencuri dengar senandung Lucas yang lebih seperti gumaman nada.


Dengan pemikiran seperti itu, Freya mendapatkan keberaniannya. Dia menarik selang dan menggulungnya. Lalu meletakkan benda tersebut di tempatnya.


Freya berlari kecil memasuki rumah dan berhati-hati saat melewati ruang tengah agar Bryan tidak terganggu dengan suara langkah kakinya.


Freya membuka pintu kamar dan menutupnya perlahan. Lucas tidak melihat siapa yang datang karena selain dirinya dan Freya, tidak ada yang langsung masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu.


"Lucas. Boleh aku duduk di sini?"


Lucas mendongakkan kepalanya. Dia mengangguk kecil tanpa memberikan banyak kata.


Sebuah kemajuan yang bagus. Freya berbahagia dalam hatinya karena setidaknya, Lucas tidak mengusir Freya di waktu senggangnya. Selama ini dia takut mengganggu Lucas, tapi melihat Lucas yang sepertinya tidak masalah dengan keberadaannya ... Freya pun memberanikan diri untuk melangkah sedikit lebih dekat.


"Lucas, lagu apa yang sering kamu nyanyi kalo main gitar?"


Lelaki di depannya menunduk ketika memainkan gitar. Dia mengangkat kepalanya dan bertemu pandang dengan Freya. Wanita itu malu ditatap oleh Lucas. Dia membuang pandangannya dan menunjuk gitar Lucas kikuk.


"Di bawah, aku sering denger kamu main gitar."

__ADS_1


Freya tertawa kecil untuk menghilangkan kecanggungan di antara mereka. Lucas masih melihatnya dengan kelopak mata yang turun, tapi menambah kesan tampan di wajahnya.


Lucas menunduk kembali. Ibu jari dan telunjuknya menarik senar yang berbeda.


"Cuma ngasal."


Freya hampir pundung karena Lucas seolah mengabaikannya. Akan tetapi, begitu dia menjawab dengan dua kata, air muka Freya langsung cerah.


"Iya? Pantes asing. Walaupun ngasal, tapi bagus!"


Lucas mengangkat matanya sedikit. Tetap lanjut memetik gitar. "Bagus apa? Cuma hem, hem, hem."


"Bagus juga, kok. Kadang kamu juga nyanyi, bukan hem, hem, hem, doang."


Lucas mendengus. Tidak lagi menjawab Freya. Dia kembali melihat ke arah gitarnya.


Freya menutup mulutnya segera. Sepertinya dia terlalu bersemangat. Freya menelan ludahnya. Tiba-tiba menjadi gugup karena keadaan kembali canggung.


Lama mereka terdiam dan hanya mendengar suara gitar. Pada akhirnya, Freya tidak tahan dengan kekakuan ini dan dia pun bertanya secara acak.


"Lucas. Kamu suka seni 'kan? Kenapa ambil bisnis?"


Jari Lucas terpeleset dari nada. Buru-buru dia memperbaikinya sebelum Freya menyadari kesalahannya.


"Seni cuma hobi. Bukan untuk masa depan."


"Tapi kamu punya bakat di seni. Seingat aku, dulu kamu pernah bilang pengen jadi musisi atau pelukis."


Lucas masih memainkan gitarnya dan membalas Freya tanpa melihatnya.


"Cita-cita anak kecil. Semua bisa berubah."


Freya terdiam. Perkataan Lucas benar adanya. Bukan hanya cita-citanya yang berubah, tapi sifat Lucas juga berubah seperti cita-citanya.


Keadaan kembali pada kebisuan dua orang itu. Freya tidak lagi memiliki pembahasan yang bisa dia tanyakan. Sejak sifatnya berbeda, Lucas tidak pernah lagi memulai topik. Freya yang akan memulainya terlebih dahulu, tapi tetap saja tidak berlangsung lama karena Lucas mematikan pembicaraan mereka sampai Freya tidak tahu harus melakukan apa.


Sama seperti sekarang. Yang bisa dia lakukan hanyalah duduk diam dan mendengarkan nada dari petikan senar gitar.

__ADS_1


__ADS_2