
Masa orientasi sudah berakhir dan semester baru telah dimulai. Freya memiliki jadwal kelas yang berbeda dengan Lucas. Kebanyakan kelas Freya adalah jam pagi, sementara Lucas siang atau sore. Oleh sebab itu, Freya pergi ke kampus menggunakan bus seperti ketika dia sekolah dulu.
Awalnya, Bryan menyuruh Lucas untuk mengantar dirinya, tapi Freya menolak karena dia tahu bahwa Lucas mengambil jam siang agar dia bisa tidur lebih lama. Sejak lulus SMA, Lucas mulai bekerja di perusahaan Bryan. Maka itu, tidur Lucas berkurang karena terkadang dia harus pulang malam.
"Hai, Freya!"
Di belakangnya, Aya berteriak memanggil namanya sambil melambaikan tangan. Freya berbalik dan mendapati teman barunya itu memiliki bentuk rambut yang berbeda setiap harinya.
Kemarin gadis itu tidak mengikat rambutnya. Membiarkannya terurai di antara bahunya. Hari ini, Aya membagi rambutnya menjadi dua bagian, kemudian mengepangnya seperti gadis desa.
Aya menghampiri Freya. Gadis itu ceria seperti biasa. "Mau ke kantin?" ajaknya.
Freya menggeleng dan menjawab Aya sambil tersenyum tipis.
"Enggak, Aya. Sebentar lagi kelas aku dimulai."
Aya melihat jam tangannya. "Oh, iya juga. Hehe, kita sekelas 'kan?"
"Sekarang?"
Aya mengangguk cepat. "Iya."
"Oh, ayo ke kelas."
Keduanya berjalan bersama menuju ruang kelas yang terletak di lantai atas. Sepuluh menit mereka menunggu, akhirnya dosen mata kuliah pun datang dan memulai pelajaran.
Ini masih minggu pertama semester baru dimulai. Jadi, tidak banyak materi yang mereka pelajari. Setelah satu jam mereka mendengarkan kisah hidup pengajar di depan mereka, kelas pun berakhir lebih awal dari jam seharusnya.
Aya buru-buru menarik Freya menuju kantin. Di sana ramai dengan mahasiswa baru ataupun lama. Aya tidak ingin jika mereka tidak mendapatkan kursi.
Kantin fakultas mereka lebih luas dari yang Freya pikirkan. Berada di dalam ruangan berkaca transparan. Orang-orang di dalam bisa melihat ke luar, begitu pun sebaliknya.
Aya memanjangkan lehernya. Celingak-celinguk mencari meja kosong. Tangan kanannya memegang erat pergelangan tangan Freya. Takut jika Freya hilang ditelan kerumunan mahasiswa lain.
"Ah! Di ujung sana ada yang kosong. Ayo, Freya."
Tanpa menunggu jawaban Freya, gadis itu langsung menariknya ke arah meja yang dia dapati. Melewati banyak mahasiswa dan akhirnya mereka tiba di tempat tujuan.
"Sini, sini. Duduk."
Aya menarik kursi terlebih dahulu, lalu meminta Freya untuk duduk di depannya.
"Kamu mau apa?" tanya Aya, "biar aku beli."
Freya segera menolak dengan tidak enak. "Aku bisa beli sendiri."
"Gak papa. Kalo kita berdua beli, nanti yang jaga meja siapa? Lagi rame, nih. Cepet banget diambil orang tau."
__ADS_1
Freya melihat ke sekitar. Kantin benar-benar ramai, bahkan banyak dari mereka yang pergi karena tidak mendapatkan tempat duduk yang kosong.
Meninggalkan barang di atas meja sebagai penanda ada orang pun bukan solusi yang tepat. Tempat ramai seperti ini lebih mudah kehilangan barang dibandingkan dengan keadaan sunyi.
Pada akhirnya, Freya pun menyerah dan mengatakan pesanannya. "Tolong, ya."
Aya mengacungkan jempolnya sambil berdiri. Kemudian gadis itu pergi untuk mengantri.
"Eh, kalian kenal maba ini gak?"
"Enggak. Eh, tapi ganteng."
Samar-samar, Freya mendengar percakapan beberapa orang di belakangnya. Jarak antara meja mereka tidak terlalu jauh sehingga mau tak mau, Freya mendengar percakapan mereka.
"Iya 'kan? Gue sama admin yang lain lagi nyari cowok ini. Dia di jurusan manajemen."
"Kenapa gak tanya ke panitia?"
"Udah. Namanya Lucas Vermilion."
Selama mereka berbicara, Freya tidak tertarik untuk melihat ke belakang. Baginya pembahasan mereka tidak terlalu penting. Namun, saat nama Lucas disebut, bahkan lengkap dengan nama belakangnya ... secara otomatis kepalanya berputar ke belakang.
Orang yang berbicara sejak tadi adalah seorang lelaki bertubuh gempal dengan gaya bicara yang centil, sementara lawan bicaranya adalah dua orang laki-laki dan tiga orang perempuan.
"Dari namanya aja udah keren. Masih mahasiswa baru, tapi udah jadi incaran aja." Freya melihat salah satu wanita berambut panjang berbicara.
"Bukan incaran! Orang bisa salah paham dengernya! Lo tau sendiri kami ngumpulin orang-orang cantik dan ganteng dari seluruh jurusan yang ada di kampus ini. Gue gampar juga lo."
"Nah, ini. Lo salah, nih."
"Salah apa?"
Wanita itu menunjuk wajahnya sendiri. "Muka gue gak ada di instagram lo. Jadi, lo belom ngumpulin cewek cantik di seluruh jurusan."
Lelaki itu tampak seolah-olah akan meludahi wajah wanita itu. "Rusak instagram gue kalo ada muka lo."
Keduanya lanjut bertengkar untuk hal yang tidak penting. Freya kembali membenarkan duduknya saat Aya datang dengan banyak makanan.
...***...
Freya memiliki kelas pagi dan siang. Jadi, dia tidak pulang dan menunggu di kantin bersama dengan Aya. Banyak hal yang mereka bicarakan, terutama Aya. Gadis itu memiliki banyak hal untuk diceritakan.
Tepat saat mereka keluar dari kelas siang, Freya mendapatkan pesan dari Lucas yang mengatakan jika dia telah menunggu Freya di luar. Lelaki itu tidak memiliki kelas lain karena dosen di kelas sore tidak dapat berhadir.
Setelah berpamitan pada Aya, Freya berlari ke luar dari gedung dan mencari keberadaan Lucas. Tak jauh dari gedung fakultasnya, Freya melihat mobil Lucas berhenti di pinggir jalan. Dia bergegas menghampiri mobil Lucas dan mengetuk jendela.
Mendapati jika yang mengetuk adalah Freya, Lucas menurunkan kaca jendela dan memberi isyarat pada wanita itu untuk masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Kamu gak ada kelas? Bukannya habis ini lanjut lagi, ya?" tanya Freya begitu dia duduk di dalam.
Lucas menjawab sambil menginjak pedal gas. "Dosennya gak bisa masuk."
Freya mengeluarkan suara "Oh" yang panjang, tapi dengan intonasi yang kecil.
Jarak rumah dan kampus mereka sekitar 15 menit. Selama perjalanan, tak ada percakapan yang terjadi di antara mereka.
Freya melihat ke luar jendela, sedangkan Lucas fokus mengemudi.
Ingin Freya memulai pembicaraan, tetapi dia takut kalau Lucas tidak akan fokus menyetir dan akan berakibat fatal bagi keduanya. Freya tidak ingin hal-hal mengerikan terjadi pada Lucas.
Saat mereka tiba di wilayah tempat tinggal mereka, Freya melihat taman yang sering dia dan Lucas datangi. Tanpa sadar, Freya berkata dengan semangat.
"Lucas! Ke taman itu, yuk! Udah lama kita gak ke sana."
Freya, bahkan sudah menempel di kaca jendela. Matanya berbinar melihat bentuk taman yang sudah berubah. Banyak ayunan baru di sana dan juga bunga-bunga bermekaran dengan indah. Berbeda ketika dia masih kecil dulu.
Beberapa detik kemudian, dia baru menyadari jika dirinya mendadak bersemangat dan langsung meminta Lucas untuk pergi ke taman. Freya menarik diri dari kaca jendela, secara perlahan melirik Lucas.
Lelaki itu tidak mengatakan apapun. Raut wajahnya pun masih datar, tapi Freya dapat melihat tangan Lucas memutarkan stir mobil dan membawanya menuju taman.
Freya kegirangan. Ini adalah hal sederhana yang membuatnya bahagia setelah beberapa tahun terakhir.
Pergi ke taman bersama dengan Lucas, seperti masa lalu. Bedanya ialah, Lucas yang sekarang bukanlah teman kecilnya, melainkan teman hidupnya.
Di belakang Freya, Lucas berjalan dengan kedua tangan di dalam saku celana. Sesekali melihat ke sekitar. Dia menyadari jika banyak hal telah berubah. Terakhir kali dia ke sini, bunga mawar itu belum ada di pinggir sana.
"Lucas! Sini, sini. Lihat!" Freya berdiri di sebuah pohon dengan batang yang besar dan lebar. Itu adalah satu-satunya pohon yang tidak ingin didekati siapa pun karena bentuknya yang menyeramkan.
Lucas berjalan dengan santai menghampiri Freya. Wanita itu menunjuk ke sisi batang pohon. Senyumannya cerah seperti bunga matahari. Sejenak, Lucas terpaku melihatnya.
Namun, kesadarannya kembali saat Freya membaca sebuah tulisan di batang pohon tua tersebut.
"Lucas dan Freya akan bersama ... selamanya." Freya tertawa kecil membaca tulisan tersebut. Dia menoleh untuk melihat Lucas. Lelaki itu membaca tulisan tersebut sebentar, lalu melihat Freya.
Freya tertawa tipis. "Tulisan kamu masih bisa dibaca. Aku kira bakal ilang karena waktu."
Keduanya saling menatap satu sama lain. Senyuman Freya hampir turun karena tatapan dalam Lucas.
Lama mereka saling menatap sampai Lucas yang memutuskan kontak itu terlebih dahulu. Lelaki itu berdiri tegak dan berbalik. Dia berkata pada Freya.
"Ayo, pulang. Udah mau gelap."
Freya melihat ke atas, menatap langit. Awan yang ditiup angin mulai menutupi cahaya mentari. Sebentar lagi, bulan akan menjalankan tugasnya.
Freya buru-buru berlari, mengejar Lucas yang telah berjalan beberapa langkah di depannya.
__ADS_1