
Lucas terdiam.
Di depannya berdiri sosok yang paling dia hindari. Bersama dengan laki-laki yang Lucas benci, ibunya tersenyum ke arahnya sambil menautkan lengannya pada celah lengan lelaki di sampingnya.
Freya mendongak untuk melihat Lucas yang lebih tinggi darinya. Dia mendapati rahang Lucas mengeras, tatapannya tajam dan penuh kebencian. Tak ada keramahan sedikit pun di wajahnya ketika melihat dua sejoli di depannya.
"Lucas, kamu datang juga?"
Mia mulai membuka pembicaraan. Melihat Lucas tidak menanggapi pertanyaannya, dia pun beralih pada Freya.
"Ah, kamu Freya 'kan?" Mia bertanya dengan ramah.
Freya melirik Lucas sekilas sebelum dia tersenyum dan membungkukkan kepalanya. "Iya, eum, Tante."
Wanita itu tersenyum. Memperhatikan gaun biru muda dengan campuran biru tua di bagian dada yang dikenakan Freya.
"Udah besar, ya. Makin cantik aja. Terakhir kali kita ketemu pas kamu umur 15 tahun."
Freya tertawa canggung. Diam-diam melirik ekspresi Lucas yang sama sekali belum berubah.
"Ayo."
Lucas menarik tangan Freya tanpa peduli dengan ibunya yang berusaha mengajak mereka berbicara.
Freya yang ditarik oleh Lucas tidak bisa melakukan apapun untuk Mia. Dia melihat ke belakang dan tersenyum tipis sebagai tanda pamit.
Lucas membawa Freya ke salah satu meja yang belum diduduki oleh orang. Dia menyuruh Freya untuk duduk di sana, sementara dia menyapa istri dari Pak Oga.
Freya mengangguk dan melakukan apa yang Lucas perintahkan. Dia menarik kursi dan mendudukkan dirinya. Wanita itu melihat ke sekitar. Sejauh matanya memandang, semua orang yang datang ke pesta ini berasal dari kalangan atas. Pakaian mereka serba mewah dan terlihat mahal. Para wanita baik itu tua maupun muda, saling berlomba memakai pakaian terbaik untuk dipamerkan dan secara diam-diam membandingkan diri satu sama lain. Di depan muka saling memuji, tapi ketika orang yang dia puji itu berbalik maka kata pujian itu berubah menjadi kata kritikan.
Di sisi lain, Lucas hampir tiba di tempat istri Pak Oga berdiri. Akan tetapi, ibunya kembali datang dan menghadang jalannya. Kali ini dia sendirian. Entah di mana suaminya itu, Lucas tidak peduli.
Dengan segelas minuman berwarna di tangannya, Mia bertanya sinis. "Kenapa kamu datang sama Freya?"
Lucas mengerutkan keningnya. "Bukan urusan Mama." Dia hendak berjalan melewatinya, tapi Mia menahan lengan Lucas.
Lucas berbalik dengan acuh tak acuh. Dia tidak mengatakan apapun melainkan menunggu Mia berbicara. Dia akan membiarkan ibunya ini mengatakan apa yang dia inginkan, setelah itu dia tidak akan membiarkan ibunya menganggu hidupnya lagi.
"Lucas. Ada yang mau Mama bicarakan sama kamu."
"Cepat. Setelah ini, jangan ganggu aku lagi."
Mia menghela napas. Dia tidak menjawab karena mustahil dirinya tidak muncul dalam kehidupan Lucas. Dia adalah ibu kandungnya. Lucas tidak boleh menghapusnya begitu saja.
"Mama tahu selama ini Mama bersalah. Mama jahat dan gak bersyukur dengan apa yang Mama dapatkan selama ini, tapi Lucas ...."
Dia meraih tangan kanan Lucas. Berkata dengan mata sendu. "Kebosanan itu pasti datang dalam sebuah hubungan yang udah lama dijalani. Mama bukan gak bersyukur, cuma—"
"Cuma apa?" Lucas memotong kalimat Mia. Matanya memerah karena marah. Urat di pelipis mulai terlihat.
Dia berkata lagi dengan berang. Menarik paksa tangannya yang digenggam oleh Mia. "Papa gak pernah bosan sama Mama. Semua Papa lakuin buat Mama. Jelas-jelas Papa nunjukin kepeduliannya, cintanya, sayangnya ... semua, Ma."
Lucas membuang mukanya. Dia mendengus. Berbicara dengan intonasi sekecil mungkin agar orang lain tidak mendengar pertengkaran mereka dan merasa terganggu.
"Huh! Bosan? Mama cuma muak karena Papa kayak gitu. Bosan dengan sikap Papa yang perhatian dan selalu peduli. Bosan karena Papa selalu ngalah tiap kali ada masalah. Bosan karena Papa selalu ditipu orang lain."
Mia segera membantah. "Bukan gitu, Lucas. Papa kamu gak bisa menuhin keinginan Mama. Dia memang perhatian dan selalu peduli, tapi itu gak cukup! Kamu bakal paham nanti. Yang dibutuhkan dalam sebuah hubungan itu bukan cuma cinta, Lucas."
"Apalagi? Uang maksud Mama? Atau jabatan? Emang Papa harus sekaya apa biar Mama puas?"
Mia terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaan dari putranya.
Lucas mendengus sambil tertawa mengejek. "Sekarang Mama udah dapatin apa yang gak bisa Papa kasih ke Mama. Jadi, jangan muncul lagi. Aku muak."
__ADS_1
Selesai mengatakan kalimat terakhirnya, Lucas segera pergi meninggalkan Mia dengan kesedihan di wajahnya.
...***...
Setelah pertemuannya dengan Mia dan perdebatan tidak penting yang mereka lakukan, membuat Lucas kehilangan minat untuk menyapa istri Pak Oga.
Dia pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka, tapi dia tidak menyangka jika akan bertemu dengan orang lain yang berusaha dia hindari juga.
"Oh? Lucas? Haha! Gak nyangka gue ketemu lo di sini."
Daniel baru selesai menjawab panggilan alam. Dia menarik ritsleting celananya dan saat membalikkan badan untuk pergi ke wastafel, dia bertemu Lucas yang baru saja membuka pintu.
Lucas membuang napas pelan. Hari ini dia terus-menerus bertemu dengan orang yang dia hindari.
Mengabaikan keberadaan Daniel, pria itu pergi ke wastafel. Mengangkat kepala keran ke atas, menadahkan telapak tangannya untuk menampung air. Kemudian, mencuci mukanya setelah air di telapak tangannya penuh.
Daniel sudah biasa diabaikan. Jadi, dia kembali membentuk berbagai macam percakapan dengan Lucas. Seperti apa yang dia lakukan di tempat ini, mengapa dia bisa di sini, bersama siapa dia datang, dan hal lainnya. Tak satu pun dari pertanyaan itu dijawab oleh Lucas. Maka itu, Daniel menjawab pertanyaannya sendiri dengan menerka-nerka.
Lucas selesai dengan urusannya di sana. Dia pergi keluar dan seperti yang Lucas duga. Daniel mengikutinya.
"Lucas. Gue beneran pengen temenan, lo. Gak kasian lo sama gue yang gak ada temen ini?"
Lucas masih mengabaikannya sampai dia tiba di meja tempat Freya berada.
Wanita itu tengah mengunyah satu kue sambil melihat-lihat ke sekitarnya. Lucas duduk di dekatnya. Daniel yang masih mengikutinya pun melakukan hal yang sama. Duduk di samping Freya.
Dengan pipi mengembung, Freya melihat pria asing di sampingnya.
Daniel melirik Lucas sekilas. Kemudian dia melihat Freya. Lelaki itu tersenyum lebar.
"Hai! Gue Daniel. Temen dekat Lucas."
Lucas ingin menyuarakan protesnya, tapi Freya telah mengangguk dan memercayai omong kosong Daniel.
Freya membalas setelah menelan makanan di mulutnya.
Daniel tersenyum sambil memandang Freya. Tiba-tiba dia memuji Freya setelah terdiam lama.
"Lo cantik juga kalo lama-lama diliat. Kayak ada pesona tersendiri." Dia menoleh pada Lucas dan mendapati wajah keras dari pria itu.
"Kenapa lo? Eh, ngomong-ngomong, lo adeknya Lucas?"
Daniel bertanya pada Lucas sejenak, tapi dia tahu jika akan diabaikan lagi. Jadi, dia kembali bertanya pada Freya.
"Aku ...." Freya melirik Lucas di sampingnya. Ini pertama kalinya dia berbicara dengan teman Lucas. Freya tidak ingin salah menjawab dan membuat Lucas tidak nyaman.
Lucas diam. Tatapannya datar dan itu tertuju pada Daniel.
Freya menunggu tanggapan Lucas, tapi laki-laki itu malah memerintahkan Daniel dengan nada dingin.
"Lo, ikut gue."
Daniel terperangah. Baru saja dia ingin berkenalan dengan seorang wanita, tapi teman tidak tahu diri itu mengacaukannya.
Lucas telah beranjak pergi. Daniel mengangkat bahunya dan setelah melemparkan senyum ramah pada Freya, dia pun mengikuti Lucas.
"Mau ke mana?" tanya Daniel ketika mereka sudah agak menjauh dari keramaian.
Lucas berhenti dan berbalik. Melihat Daniel dengan mata rendahnya.
"Tadi lo mau ngapain?"
"Tadi?" Daniel melihat ke belakang, "maksud lo barusan? Gue mau kenalan sama cewek itu. Soalnya dia cantik, lembut juga keliatannya. Kenapa? Dia pacar lo?"
__ADS_1
"Istri gue."
Daniel tergemap. Dia dapat mendengar nada kepemilikan yang pekat dalam dua kata itu.
"Sekarang lo udah tau. Jangan berani deketin dia."
Daniel menggeleng cepat. "Gue bukan orang yang suka ngambil punya temen, tapi cepet juga lo nikahnya. Kapan lo nikah?"
"Lulus SMA."
"Wow! Kalo penggemar lo tau, mereka bakal patah hati banget, sih."
Lucas berdecak. "Bodo."
Lucas bersiap untuk pergi, tapi seorang wanita cantik bertubuh semampai datang menghampiri keduanya.
"Lo Aurora 'kan?" tunjuk Daniel.
Wanita itu tersenyum, memunculkan dua kecacatan indah di pipinya. Mata berbentuk almond itu memiliki bulu mata lentik yang menjuntai cantik. Gaun hitam dengan punggung terbuka itu menampakkan kulit putihnya yang bercahaya di tengah gelapnya warna gaun.
Lucas menatap wanita itu sebentar. Sebelum melihat lagi pada Daniel.
"Lo kenal?"
Daniel mengangguk. "Kenal. Dia cewek populer di kampus. Kayak lo."
Aurora tersenyum lagi. "Gue Aurora Putri Darmawangsa. Kita sering satu kelas. Lo Lucas 'kan?"
Lucas mengangguk acuh tak acuh.
"Eh? Lo anak Pak Oga?" tanya Daniel. Aurora mengangguk. Gayanya begitu elegan dan rapi.
"Iya. Kakak gue yang nikah hari ini."
"Oh, lo adeknya."
Aurora mengangguk lagi. Lalu, dia melihat Lucas yang diam tidak ikut dalam pembicaraan mereka.
"Gue sering liat lo diikutin sama kakak senior untuk minta izin upload foto lo di sosial media mereka."
"Terus?" tanya Lucas.
Aurora tertawa kecil. "Gue juga. Males banget 'kan? Kita sama-sama gak mau populer, tapi mereka maksa banget."
Lucas bergumam sebagai tanggapan. Sementara itu, Daniel yang tidak pernah didatangi para kakak senior mendadak kesal.
"Rugi kalian berdua. Kalo gue yang diminta, dengan senang hati gue kasih."
Aurora tertawa sambil menggeleng. "Lo juga ganteng dan populer, kok."
"Masa? Emang lo tau nama gue?"
"Daniel 'kan?"
"Kok tau?"
"Lo populer di kalangan cewek-cewek. Temen gue banyak yang naksir lo."
Mendengar itu, telinga Daniel terasa naik ke atas.
Aurora tertawa kecil melihat reaksi Daniel, bahkan suara tawanya pun terdengar elegan.
Lalu, dia melihat Lucas dan berkata, "Lo juga banyak yang naksir."
__ADS_1
Lucas memandang tepat di mata Aurora. Tak lama, dia memutuskan kontak mata itu.
"Gak peduli." Lalu pergi meninggalkan Aurora dan Daniel. Kembali pada Freya yang duduk sendirian di meja sana.