Cold Love

Cold Love
Bab 40. Lupakan Orang Yang Memberi Rasa Sakit


__ADS_3

Ujian tengah semester telah tiba, tapi itu tidak membuat Lucas dan Aurora berhenti bekerja. Proyek yang mereka tangani akan segera selesai dan mereka tidak bisa menundanya lagi.


"Lucas, masih ada waktu dua jam kurang sebelum kelas mulai. Makan dulu, yuk!"


Aurora dan Lucas baru selesai melakukan rapat bersama tim mereka. Kali ini, Pak Oga tidak ikut dalam rapat karena pria tua itu memiliki agenda lain. Padahal jika pria itu mengatakannya lebih awal, mereka tidak perlu repot-repot datang ke perusahaannya dan melakukan rapat di sana.


Lucas mengangguk sambil membereskan barang-barang miliknya. Satu per satu, anggota tim mereka pamit dan kembali ke kantor.


Aurora sudah menunggu Lucas di muka pintu. Dia menatap lelaki itu yang sibuk merapikan berkas-berkas di dalam tasnya. Setelah selesai, tanpa mengatakan "Ayo" Lucas langsung berjalan melewati Aurora.


Wanita itu sudah terbiasa dengan Lucas yang lebih banyak bertindak daripada mengeluarkan kata-kata. Dia langsung mengikuti Lucas dan berjalan di sebelahnya.


Aurora tersenyum tipis sambil melihat ke luar gedung dari dinding kaca. Tampak perumahan dan gedung-gedung lainnya yang bisa dia lihat dari ketinggiannya sekarang. Cuaca di luar pun terlihat cerah.


Lalu dia memutar kepalanya, menoleh ke samping untuk melihat Lucas yang berjalan lurus tanpa suara.


Dia menatapnya untuk waktu yang lama, tapi Lucas sama sekali tidak melihatnya. Seakan-akan dia tidak peduli jika orang lain menatapnya.


"Lucas," panggil Aurora tiba-tiba.


Lucas tidak menjawab, melainkan menoleh pada Aurora. Tidak perlu menunggu balasan Lucas, Aurora melanjutkan apa yang ingin dia katakan.


"Gue pergi bareng lo, ya?"


Alis Lucas sekilas tampak bergerak. Dia bertanya pada dirinya sendiri. Lagi?


"Mobil gue rusak. Tadi diantar supirnya Papa."

__ADS_1


Kalau sudah begini, Lucas juga tidak bisa menolak. Tidak mungkin dia menyuruhnya pergi sendiri, sedangkan tujuan mereka sama. Jika Pak Oga mengetahui ini, jelas dia akan terkena imbasnya.


Lucas mengedikkan dagunya. Lalu melihat kembali ke depan.


Aurora mengajak Lucas makan siang di rumah makan yang tidak jauh dari jalan menuju gedung fakultas mereka. Banyak mahasiswa yang juga duduk di sana untuk makan siang sebelum kembali ke rumah atau ke kampus. Makanan di sini terkenal enak dan ramah di kantong mahasiswa. Jadi, tempat ini selalu ramai pengunjung.


"Duduk di sana aja, yuk!"


Aurora berjalan terlebih dahulu, melewati beberapa meja untuk sampai di sudut. Aurora tahu bahwa Lucas tidak suka duduk di tengah-tengah ruangan. Dia sering memperhatikan Lucas saat mereka berada di kelas yang sama. Lelaki itu selalu mengambil meja di paling sudut kelas. Menjauhkan diri dari orang lain. Terkadang Daniel akan duduk di sampingnya, atau memaksa Lucas duduk di tengah bersamanya.


Lucas tidak banyak membantah. Pilihan Aurora sudah tepat untuknya. Dia mengikuti jalan wanita itu dan duduk di seberangnya.


Seorang pelayan datang dan memberikan mereka menu. Banyak pilihan makanan tertulis di sana. Aurora menunjuk beberapa makanan dan juga minuman. Lucas pun melakukan hal yang sama. Setelah selesai memesan, pelayan tersebut meminta mereka untuk menunggu.


Selagi pesanan mereka disiapkan, Aurora mengajak Lucas dalam sebuah obrolan ringan. Wanita itu membahas tentang hasil rapat tadi, melipat kedua tangannya di atas meja dan sesekali mengetuk jari-jarinya di atas lengan.


"Gue udah putus," kata Aurora. Lucas melihat raut muka wanita itu. Tampak sedih, tapi di saat yang bersamaan juga tidak.


"Awalnya, dia gak mau karena gue mutusinnya lewat pesan. Gue gak mau ketemu dia lagi. Jadi, semua kontak dia gue blok. Sosial media . . . semuanya."


Lucas diam, membiarkan wanita ini mengatakan apa yang dia inginkan. Cukup dengan mendengarkannya saja sudah membuat Lucas ingin pergi saat itu juga. Akan tetapi, dia ingat lagi jika orang di depannya ini adalah anak dari klien pentingnya. Dia harus menjaga orang ini dengan baik.


"Gue takut dia bakal kasar lagi. Gue gak paham kenapa dia bisa segitunya curiga sama gue. Padahal udah gue jelasin kalo kita gak ada hubungan apa-apa. Tetap aja dia marah dan mukul gue."


Aurora mulai tampak frustasi sekarang. Lucas melihat pesanan mereka sedang diantar oleh pelayan. Dia pun berkata pada Aurora agar kesedihannya sedikit menghilang dan mereka bisa menikmati makanan dengan baik.


"Lupain dia. Hal yang buat lo sakit, buang aja."

__ADS_1


Lucas asal berbicara. Dia sendiri juga tidak tahu apa yang telah dia katakan. Masa bodoh dengan itu, yang penting Aurora tidak lagi bercerita tentang kehidupan cintanya pada Lucas.


Makanan diletakkan satu per satu. Namun, sepertinya Aurora tidak menyadari kedatangan pesanannya. Dia termenung melihat Lucas. Lalu tiba-tiba dia berseru membuat pelayan yang membawa makanan mereka terperanjat dan untung saja tidak menjatuhkan pesanan mereka.


"Ya. Lo bener, Lucas. Buat apa juga gue mikirin dia."


Lucas juga terkejut dengan seruan Aurora yang mendadak itu, tapi dia tidak menunjukkannya dengan jelas. Lelaki itu hanya mengangguk dan menyuruh Aurora memakan makanannya.


...***...


Setibanya di kampus, orang-orang menatap mereka dengan pandangan kagum, iri, penasaran, dan tatapan lainnya.


Lucas sendiri tidak peduli dengan orang di sekitarnya. Aurora juga tidak terlalu memikirkan reaksi mereka saat melihat kedatangannya bersama Lucas. Dia hanya menyapa orang-orang yang dia kenal dan tersenyum tipis pada orang-orang yang melihat ke arahnya.


Mereka yang memasang lirikan iri langsung mengubah itu menjadi tatapan terpesona. Senyuman yang diberikan oleh Aurora membuat mereka tertegun. Seperti yang dikatakan oleh orang-orang bahwa Aurora ramah terhadap siapa pun. Mereka menjadi malu karena telah membenci orang seperti itu hanya karena hal sepele.


"Lucas! Nah, kan! Datang bareng lagi."


Jika Lucas bisa mengabaikan tatapan dan reaksi orang lain, maka untuk manusia satu ini . . . Lucas tidak bisa mengabaikannya, bahkan jika dia ingin.


Di depan sana, Daniel menghampiri mereka dengan kemeja polos berwarna coklat muda. Celana jeans yang dia kenakan terlihat pas di kakinya. Orang ini terlihat seperti senior sekarang, padahal mereka baru saja masuk kurang lebih empat bulan.


Daniel menghampiri mereka dengan wajah masam. Mengeluh pada Lucas yang berani-beraninya datang bersama primadona fakultas mereka.


Di sampingnya, Aurora hanya tertawa kecil dan sesekali menyahut Daniel. Mereka terlibat dalam canda tawa, kecuali Lucas. Dia tidak banyak memberikan respon dan hanya melihat dua orang itu membahas hal yang tidak penting menurutnya.


Sementara itu, tak jauh dari mereka berdiri. Freya bersama dengan Aya telah melihat Lucas dan Aurora jalan bersama sejak awal kedatangan mereka.

__ADS_1


__ADS_2