
Freya terbangun karena merasakan tangan kecil menggoyang lengannya. Dengan mata yang masih mengantuk, ditambah nyawa belum terkumpul, Freya mengerjapkan matanya. Ketika dia berhasil membuka sebelah matanya, Freya melihat ke samping.
Itu adalah Syakia yang membangunkannya. Bocah itu terduduk dengan muka masam. Masih menggoyangkan lengan ibunya, seolah menyuruh Freya untuk segera bangkit.
Freya hendak membangunkan tubuhnya, tetapi sebuah beban berada di atas perutnya. Saat dia melihat ke bawah untuk mengintip, ternyata itu adalah tangan seorang pria yang semalam pulang dalam keadaan mabuk.
Tanpa rasa kasihan, Freya mendorong kuat tubuh Lucas hingga pria itu terjatuh dan menimbulkan suara yang cukup keras.
"Akh!"
Mungkin dia terlalu kuat menendangnya.
"Kenapa? Kenapa?"
Bryan buru-buru membuka pintu kamar untuk melihat apa yang terjadi setelah mendengar bunyi seperti benda jatuh ketika dia baru saja keluar kamar. Suara itu, bahkan terdengar sampai ke bawah. Tentu saja Bryan menjadi panik.
Namun, dia malah mendapati Lucas tengah meringis kesakitan sambil memegang pundaknya.
"Ngapain kamu?" tanya Bryan. Pria itu sudah rapi dengan jas kantornya.
"Gak ada," jawab Lucas pelan.
Sementara itu, Freya tidak mengatakan apa pun. Ingin menolong, tapi ini adalah salah Lucas yang tidak melepaskan pelukannya sejak semalam. Diam-diam dia menyuruh Syakia untuk segera mandi sebelum melihat Lucas memarahi dirinya.
Bryan berkata lagi, "Kamu kok di sini? Bukannya di kamar sendiri."
Lucas memegang kepalanya dan berdiri sambil mengelus pundaknya yang terbentur lantai. "Gak tau."
"Ha? Kamu gak papa itu?"
"Gak, Pa."
"Udah sadar?"
"Udah."
"Bagus. Jangan repotin Freya lagi. Pergi urus diri sendiri." Setelah mengatakannya, pria tua itu kembali turun ke bawah.
Ditinggal begitu saja oleh Bryan, Freya berpura-pura merapikan kasur dan tidak menganggap Lucas di belakangnya.
"Kenapa dorong aku?" tanya Lucas. Pemuda itu baru saja bangun, suaranya yang serak terdengar aneh di telinga Freya.
"Aku mau bangun, tapi tangan kamu ganggu."
"Kenapa tangan aku?"
Freya tidak menjawab. Dia tahu pria itu mencoba memancingnya.
"Frey," panggilnya. Freya sejenak berhenti bergerak karena panggilan itu, tapi tak lama dia kembali melanjutkan kegiatannya.
Dia berkata acuh tak acuh. "Kalo udah sadar, balik ke kamar sendiri."
__ADS_1
Lucas menatapnya dari belakang, tapi tidak mengatakan apa-apa. Kemudian, pria itu keluar seperti yang dikatakan oleh Freya.
Mendengar pintu ditutup, Freya spontan menoleh ke belakang dan mendapati ruangan telah kosong. Hanya tinggal dirinya dan Syakia yang berada di kamar mandi. Freya berpikir jika Lucas akan memarahinya atau membantah, tapi ternyata pria itu melakukan apa yang dia katakan dengan patuh.
Selesai membersihkan diri, Freya turun bersama dengan Syakia. Hari ini, dia terlambat bangun. Padahal Freya ingin membantu Bi Surni membuat sarapan.
Di meja makan, Freya melihat Bryan dan Lucas. Para pria itu memiliki wajah yang hampir sama, tetapi di beberapa bagian juga terdapat banyak perbedaan. Bryan membaca sesuatu di i-pad sementara Lucas bermain dengan ponselnya.
"Freya, Syakia. Duduk sini. Kita sarapan," ajak Bryan begitu melihat keduanya berjalan menuju mereka.
Freya mengangguk dan menyuruh Syakia duduk di sampingnya. Mereka berdua berseberangan dengan Lucas. Pria itu tidak mengatakan apa pun. Hanya diam sambil menatap mereka.
Freya mengabaikan pandangan Lucas yang sangat jelas tertuju padanya. Dia berusaha mengalihkan dengan mengajak bicara Bryan.
Sarapan pun dimulai dengan tenang. Sesekali Bryan akan bertanya pada Freya tentang hal-hal kecil. Kemudian, bertanya mengenai perkembangan Syakia setelah menjalani pengobatan beberapa waktu terakhir.
"Minggu depan ke sana lagi untuk lihat perkembangannya," kata Freya.
"Bagus itu. Jadi, Syakia bisa belajar di sekolah kayak temen-temen, ya?" Bryan memberikan senyuman lebar pada Syakia. Hari ini bocah itu memakai alat bantu dengar sehingga dia mengangguk malu-malu ketika mendengar pertanyaan Bryan.
Bryan tertawa kecil melihat respons Syakia. Lalu, dia kembali pada makanan di piringnya.
Freya, tiba-tiba menyeletuk, "Pa. Hari ini, aku mau coba cari kerja."
"Gak."
Bukan Bryan yang menjawab, tetapi itu Lucas dengan wajah tak suka menentang keinginan Freya.
Lucas tidak peduli. "Aku suami kamu. Tanpa izin aku, kamu gak boleh kerja."
Freya semakin kuat mengerutkan keningnya. Dia hendak membantah, tetapi Bryan menyela dengan cepat.
"Freya. Kamu gak usah kerja. Di rumah aja sama Syakia."
Freya melihat Bryan dengan muka memelas. "Gak, Pa. Aku gak mau di rumah aja. Aku mau kerja. Yang ada aku jadi beban kalo gak ngapa-ngapain."
Bryan bertanya lagi, "Kenapa? Kamu kan masih istri Lucas. Lagian Lucas selama ini kerja keras untuk kamu, lho. Biar kamu gak capek ker—"
"Pa."
Kalimat Bryan putus seketika karena panggilan Lucas. Pria tua itu melirik anaknya yang tengah menatapnya. Seolah memberi kode, menyuruhnya untuk berhenti berbicara.
Bryan berdeham. "Ya, pokoknya kamu di rumah aja."
Freya melihat keduanya bergantian. Matanya sedikit menyipit karena merasa curiga pada keduanya yang seakan-akan menyembunyikan sesuatu. Namun, dia tidak ingin banyak bertanya tentang itu.
"Aku kerja aja, ya."
"Tapi, Freya—"
"Oke."
__ADS_1
Bryan dan Freya otomatis melihat Lucas setelah pemuda itu tiba-tiba menyetujui permintaan Freya. Wanita itu hampir tersenyum senang sebelum mendengar kalimat lanjutan dari Lucas.
"Tapi kamu harus kerja bareng aku."
...***...
Di sini mereka sekarang. Di sebuah perusahaan dengan tulisan besar di halaman depan. FA Ventures.
"Apa ini?" tanya Freya. Wanita itu menyipitkan matanya karena silau saat melihat ke atas.
"Tempat kerja kamu."
"Ha? Di sini?"
"Ya. Ayo, masuk."
Lucas menaruh tangannya di punggung Freya, bermaksud berjalan bersama dengan Syakia yang digandeng oleh wanita itu. Namun, Freya melepaskan lengan Lucas dan berjalan dengan memberi sedikit jarak.
Lucas hampir mendecakkan lidahnya di depan Freya. Pria itu tidak peduli dengan penolakan Freya. Dia menarik pelan wanita itu dan menaruh kembali tangannya di punggung Freya.
Ketiganya berjalan masuk ke gedung tersebut. Udaranya sangat bersih, bahkan debu pun seolah menghilang. Orang-orang di dalam sana semua memberikan senyuman terbaik ketika mereka lewat. Akan tetapi, Freya tahu bahwa diam-diam mereka bergosip di belakangnya.
"Mulai sekarang, kamu kerja di sini," kata Lucas begitu mereka masuk ke dalam sebuah ruangan yang terlihat seperti kamar pribadi. Terdapat meja kerja, komputer, televisi, dapur, kasur, dan sofa.
"Ini ruang kerja?" tanya Freya. Dia melirik ke meja kerja dimana terdapat nama Lucas di sana.
"Ruang kerjamu?" tanyanya lagi.
Lucas melihat arah pandang Freya. Dia mengangguk lagi. "Ya."
"Jadi, kenapa aku di sini kalo ini ruangan kamu?"
"Kamu sekretaris pribadi aku sekarang."
Freya semakin tidak mengerti. "Gimana? Bukannya di luar itu sekretaris kamu?"
"Kamu lebih pribadi."
Freya menggelengkan kepalanya. "Gak. Aku gak paham. Yang jelas kasih kerja."
Lucas menghela napasnya. Kemudian, dia mengajak Syakia untuk duduk di sofa bersamanya. Gadis kecil itu ragu-ragu, tetapi entah mengapa setelah bermain bersama, dia mulai lunak pada Lucas. Jadi, untuk pertama kalinya dia menerima tawaran Lucas. Hal itu membuat pria itu merasa senang, tapi tetap mengendalikan ekspresi wajahnya.
"Kamu gak duduk?" tanya Lucas. "Masih ada sofa satu lagi." Dengan kesal, Freya duduk di hadapan Lucas.
"Ini perusahaan kamu. Dari aset ayah kamu. Kamu bebas mau ngapain aja selama itu gak merugikan perusahaan."
Freya ingat tentang aset yang dikatakan oleh Lucas. Dia melihat ruangan itu lagi. Jadi, inikah yang dia kelola selama ini?
"Ada tiga perusahaan yang aku pegang. Salah satunya ini. Walaupun aku yang kelola, tapi ini tetap atas nama kamu. Kalo kamu mau belajar untuk kelola perusahaan ini, jadi sekretaris pribadi aku. Beda dengan yang di luar."
Freya tampak berpikir. Jika ini memang miliknya, mengapa harus Lucas yang memegangnya? Pria itu sudah mengelola dua perusahaan lagi. Meskipun itu menguntungkan, bukankah melelahkan? Lagi pula, ini adalah milik ayahnya. Dia harus berusaha mempertahankannya sendiri.
__ADS_1
Oleh karena itu, dia mengambil keputusan dengan menerima tawaran Lucas.