Cold Love

Cold Love
Bab 57. Cukup Satu Saja


__ADS_3

Sudah kesekian kalinya Freya muntah di pagi hari. Perutnya sakit, kepalanya pusing dan mual pun tidak kunjung hilang. Padahal sudah dua bulan berlalu sejak Freya tahu mengenai kehamilannya.


Obat yang diberikan dokter sepertinya tidak terlalu berpengaruh. Oleh karena itu, dia pergi ke apotek untuk membeli obat anti mual, sakit kepala, dan juga penurun demam.


Setelah sedikit sarapan, Freya meminum semua obat yang dibelinya, kecuali penurun demam karena tubuhnya tidak lagi panas setelah tidur selama beberapa jam.


Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi dan waktunya untuk membuka toko sudah berlalu satu jam yang lalu. Karena demam yang dia alami semalam, Freya bangun terlambat sehingga dia harus meminta maaf pada semua orang di toko nanti.


"Pagi, semua." Freya masuk ke ruangan khusus karyawan. Di sana sudah ada Leli, Paijo, dan juga Ari.


Ketika dia masuk, toko masih sepi dan baru setengah terbuka. Barang-barang di dalam pun masih berantakan, belum tersusun dengan rapi.


"Oh, Freya. Tumben kowe baru datang. Biasanya cepat." Leli adalah orang yang pertama membalas sapaannya. Setelah Leli, Paijo dan Ari mengikuti dengan menganggukkan kepala mereka.


Freya masuk lebih dalam setelah menutup kembali tirai pintu. Dia berjalan menuju lokernya sambil menjawab pertanyaan Leli.


"Iya, Mbak. Aku gak enak badan semalam."


"Sakit kowe? Udah enakan sekarang?"


"Udah, Mbak."


"Kecapean kowe itu. Makanya, Ari. Kowe, tuh, sengaja lama-lama ngantar barang biar gak banyak disuruh-suruh 'kan? Ngaku gak kowe?"


Ari yang tengah berdiri di pinggiran meja sambil menopang dirinya menggunakan kedua tangan untuk melihat daftar barang yang harus dia beli pun menoleh ke samping.


"Opo? Aku lagi kena. Emang tugasku itu, kok."


Pemuda yang memiliki umur lima tahun di atas Freya itu merengut. Dia kembali melihat Paijo yang tengah menuliskan apa saja yang harus dibeli.


Leli mendengus. "Macam aku gak tau aja kelakuan kowe, ya. Kemaren aku liat sendiri kowe makan di warung Ningrum. Kowe lagi deketin dia 'kan?"


"Opo, Mbak e? Jangan kepo-kepo."


Setelah Paijo menyelesaikan tulisannya, Ari langsung menarik kertas tersebut dan berlari keluar sebelum Leli meneriakinya lagi.


"Emang anak satu itu selalu ngehindar."


Leli menggelengkan kepalanya, lalu kembali menghitung uang.


Freya melihat keduanya masih terlihat santai dan tidak terburu-buru, padahal toko masih dalam keadaan berantakan. Karena penasaran, dia pun bertanya pada Leli.


"Mbak Leli, toko belum dibuka, ya? Soalnya di depan masih setengah kebuka. Barang juga belum dirapiin."


Leli mengintip keluar pintu. "Eum. Mbah Pati bilang hari ini bukanya jam 10 aja. Stok barang udah berkurang, nanti ada pelanggan yang marah-marah kalo yang mau dia beli gak ada. Bikin pusing aja. Kesel lagi aku."

__ADS_1


"Kowe selalu kesel. Kapan yang gak kesel? Kutunggu bertahun-tahun sama aja." Paijo menyeletuk dari mejanya.


Leli yang tengah menghitung uang mendadak naik pitam. Dia menggebrak meja beserta uang di tangannya.


"Kowe ngomong aja udah bikin kesel. Kayak mana aku gak kesel? Setiap hari dadaku sesak rasanya gara-gara pembeli gak ada otak. Ditambah cangkemmu itu gak bisa diam."


"Cangkemmu yang gak bisa diam."


Keduanya terlibat perdebatan dalam bahasa Jawa setelah Paijo membalas perkataan Leli. Freya sama sekali tidak paham dengan apa yang mereka katakan. Hanya satu atau dua kata dalam satu kalimat yang Freya ketahui artinya.


"Oh, kalo gitu . . . aku rapikan barang-barang dulu, ya?"


Leli dan Paijo memberhentikan perdebatan mereka. Keduanya sama-sama melihat Freya.


"Ah, iya. Susun kotak-kotak sirup itu, ya. Berserakan gara-gara si Ari. Tiap beli barang gak pernah disusun rapi. Harus aku juga yang turun tangan."


"Halah, emang tugasmu itu. Kalo gak, apa kerjamu?" Paijo kembali memancing pertengkaran. Seperti ikan yang memakan umpan, Leli pun terpancing.


Freya terkekeh-kekeh melihat perdebatan dua orang dewasa di depannya. Dia pun memilih keluar untuk melakukan tugasnya daripada mendengar dua orang itu berdebat.


Banyak hal yang harus dirapikan selain kotak-kotak sirup. Sepertinya kemarin sore setelah dia pulang, Ari membeli semua barang-barang yang sudah habis dan menumpuknya begitu saja di dalam toko tanpa membawanya ke ruang penyimpanan barang.


Freya memindahkan kotak-kotak sirup terlebih dahulu ke ruang penyimpanan sebelum memindahkan yang lain. Lama dia bolak-balik untuk merapikan barang-barang tersebut. Tubuhnya yang belum pulih total pun mulai melemah.


Freya merasakan pusing di kepalanya. Langkah kakinya menjadi gontai dan tidak seimbang. Karung beras di tangannya pun jatuh seiring dengan kakinya yang melemah.


"Freya!"


Begitu keluar dari ruangan, Leli mendapati Freya terjatuh di antara banyak barang. Paijo langsung berlari ke arah Freya dan membantunya berdiri, tetapi kaki Freya terlalu lemah untuk sekadar bergerak.


"Jangan kowe tarik. Gendong dia, bawa ke dalam."


Usia Paijo sama seperti Leli. Dia tidak yakin dengan tubuh kurusnya sendiri. Pria itu takut menjatuhkan tubuh Freya ketika dia menggendongnya.


"Kowe liat badanku ceking gini. Kayak mana mau angkat dia?"


"Badan dia gak sebesar aku. Banyaklah omongmu. Cepat gendong. Anak orang udah mau pingsan itu."


Leli mendorong Paijo untuk bergegas menggendong Freya sebelum wanita itu sepenuhnya hilang kesadaran.


"Gak papa. Aku . . . baik-baik aja."


Freya menopang tangannya di atas lantai. Matanya terasa berputar, tapi dia berusaha untuk tetap tersadar.


Paijo berjongkok di depan Freya. Menyentuh dahinya yang terasa hangat. "Kamu beneran baik-baik aja? Kita ke rumah sakit, ya?"

__ADS_1


Freya mengangguk, mengisyaratkan jika dia baik-baik saja. "Gak usah, Kang."


Dari arah luar toko, terdengar suara Ari yang berteriak menyuruh Paijo mengambil barang dari gerobak sepedanya.


"Kebetulan Ari udah balik." Dia keluar dari toko dan berteriak memanggil Ari, "Ri, masuk dulu!"


Mendengar panggilan Leli, dia pun meletakkan kembali barang-barang tersebut dan masuk ke dalam bersama dengan Leli.


"Kenapa ini?" tanya Ari.


"Kowe antari Freya pulang."


"Lho? Kenapa, Mbak e?"


"Udah, jangan banyak tanya." Leli beralih pada Freya yang terduduk di bawah sana. "Pulang aja, yo? Nanti biar aku yang bilang ke Mbah Pati. Besok juga gak usah masuk, pergi ke rumah sakit."


Freya tidak bisa menolak karena tubuhnya benar-benar lemah. Dia butuh istirahat yang banyak sekarang.


Setelah mendapat anggukan dari Freya, Paijo dan Ari membawa Freya menuju becak milik Kakek Pati yang sengaja ditinggalkan di toko karena pria tua itu harus pergi menjenguk anaknya yang sakit. Sementara itu, Leli masuk ke ruangan khusus karyawan untuk membereskan tas Freya.


...****************...


Setibanya di rumah, Freya sudah tidak terlalu pusing lagi. Hanya saja tubuhnya masih terasa lemas. Tanpa mengganti baju, Freya merebahkan dirinya di atas kasur.


Dia menatap langit-langit kamar, kembali merenungi masa depannya.


Freya yakin sebentar lagi dia akan dikeluarkan dari kampus. Lagi pula dia tidak berniat melanjutkan kuliahnya. Itu adalah hal yang bagus sehingga Bryan tidak perlu repot membuang uang untuk membiayai kuliahnya.


Dalam kesunyian dan kehampaan, tangan Freya bergerak menyentuh perutnya yang mulai terasa buncit. Dia mengelus lembut perutnya dari luar baju.


Tidak ada ekspresi di wajahnya. Freya tidak tahu lagi harus merasakan apa. Dia memejamkan matanya sembari menarik napas dalam-dalam.


"Dek, kalo kamu cuma punya Bunda . . . gak papa, ya?"


Dia membuka matanya. Mata bersihnya telah berubah merah karena menahan air mata. Suaranya mendadak serak setelah diam beberapa saat.


"Kamu punya Bunda. Cukup satu aja orangtua kamu, ya? Gak perlu satu lagi. Bunda aja, oke?"


"Yang satu lagi . . . mungkin udah bahagia sama orang lain. Eh, tapi Bunda sedikit berharap . . . dia bisa ngerasain kalo kamu ada."


Freya tertawa sendiri setelah membual.


"Hah. Dek, kamu ikutan capek, ya?" Dia melirik ke bawah, mengintip tangannya yang tengah mengelus perutnya.


"Besok kita ke dokter, ya? Sekarang tidur dulu."

__ADS_1


Tidak ada tanggapan yang diinginkan, Freya pun menyeret dirinya untuk tidur dalam posisi yang nyaman.


__ADS_2