Cold Love

Cold Love
Bab 10. Rencana Pentas Seni


__ADS_3

Dentingan bel pergantian jam pelajaran berbunyi di seluruh gedung sekolah.


Di luar, angin bertiup lembut. Dedaunan bergoyang, burung-burung terbang cepat dan kembali dengan lamban. Suara criip criip criip terdengar riuh, karena burung-burung kecil saling bersahutan.


"Duduk semuanya."


Pak Heri, guru wali kelas IPS/A masuk ke ruang kelas. Membawa buku bahan ajar untuk guru.


"Loh, Pak? Bukannya sekarang Bu Aini, ya?" tanya salah satu siswi yang duduk di barisan depan.


Menurut jadwal yang tertempel di dinding kelas, sekarang waktunya untuk pelajaran sejarah.


"Ya, saya minta waktu sebentar. Mau bicarakan masalah pensi yang diadakan bulan depan."


Ruang kelas menjadi riuh. Sebagian dari mereka mengeluh karena harus membersihkan dan menghias kelas untuk acara pentas seni, sementara sebagiannya lagi merasa bahagia karena tidak ada pelajaran di hari itu.


Tap tap tap!


Pak Heri memukul meja dengan buku tebalnya. Mengisyaratkan pada muridnya untuk diam.


Semua murid menutup mulut mereka dan mendengarkan Pak Heri berbicara.


"Sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Setiap kelas minimal mengirimkan satu orang untuk menunjukkan bakatnya. Terkhusus kelas tiga, harus tampil setidaknya setengah dari kalian. Kalau semuanya gak muat panggung. Hahaha."


Pria yang masih berusia 40 tahun itu tertawa. Para murid saling melihat satu sama lain dan ikut tertawa untuk menghormati.


"Hahaha. Cukup!"


Semuanya kembali diam. Pak Heri menjadi serius.


"Saya tidak mau mendengar penolakan. Tahun lalu hampir semua kelas tiga menolak untuk tampil. Jadi, jika kalian juga seperti itu, saya pastikan tidak ada acara perpisahan untuk kalian."


"Pak!"


Pak Heri tertawa. Sudut bibirnya terangkat dan mendengus. Mendengar murid-muridnya mengeluh saat mendapatkan ancaman darinya.


"Makanya, tampil di pensi. Jangan mempermalukan sekolah. Tahun ini tamu undangan diperluas. Orangtua kalian harus datang. Tampilkan yang terbaik. Diskusikan sendiri. Kalau udah ada keputusan, beritahu saya. Ingat! Setengah dari kalian harus menampilkan satu atau dua pertunjukan."


Suara keluhan tertangkap oleh gendang telinga. Namun, Pak Heri tidak peduli. Setelah memberi ancaman dan menyampaikan beberapa kata tidak penting, dia pun keluar dari kelas. Tersenyum kecil saat berpapasan dengan Bu Aini.


...***...


"Jadi, kita mau nampilin apa?"


"Emang siapa aja yang mau tampil?"


"Gue ogah. Kalian aja."


"Dih, partisipasi dong!"

__ADS_1


Debat dimulai setelah bel istirahat berbunyi. Ketua kelas tidak membiarkan mereka pergi ke kantin sebelum mendapatkan keputusan, bahkan dia mengunci pintu kelas dan menyimpannya di dalam saku celananya.


"Woi! Gue lapar!" teriak Chiko. Di sampingnya, Lucas hanya duduk dan melihat ke luar jendela.


Kelas IPS/A terletak di tempat strategis. Kelasnya berada di lantai dua dan pemandangan di sebelah kiri adalah halaman depan sekolah. Dari posisi Lucas duduk, dia bisa melihat orang-orang berjalan keluar masuk dari gerbang.


"Gue tunjuk aja, ya. Biar cepet."


Abian maju ke depan. Berdiri di samping ketua kelas. Sebagai sekretaris, dia memiliki kewajiban untuk membantu mengurus kelas jika ketua sedang dalam kesulitan.


"Ya, tunjuk aja. Gue laper banget ini." Darel menyahut dari belakang.


Abian tersenyum sambil mengangguk. "Yap. Darel, lo ikut. Terus—"


"Ha?" Darel yang sedang menjungkat kursi pun terjatuh, "Kenapa gue, woi?"


Abian tidak peduli dengan protes yang diberikan Darel. Dia mulai menyebut nama-nama yang akan tampil di pentas seni.


"Menurut gue udah cukup 12 orang. Kita ada 30. Dam, lo bilang ke Pak Heri kita bakal bikin dua pertunjukan."


Adam mengangguk dan berterima kasih pada Abian yang telah membantunya.


"Mau nampilin apa?" tanya Sisca. Salah satu perempuan yang disebut namanya oleh Abian.


"Band sama nari. Yang gue tunjuk tadi adalah orang-orang yang punya skill. Yang tampil band itu Wahyu, Leo, Ocha, terus ... Alana, lo nyanyi, oke?"


Alana yang duduk fokus bersama teman-temannya pun tersentak.


"Iya. Lo ikut klub musik 'kan? Tiap kali gue lewat dari klub musik, gue denger kalian latihan dan lo yang nyanyi."


Seluruh orang di dalam kelas menaruh perhatian pada gadis itu. Alana memiliki wajah tirus dengan kulit putih bersih. Bibirnya merah muda dan kecil. Rambutnya bergelombang alami, di bawah matanya pun terdapat tahi lalat kecil yang mempercantik matanya.


"Eum, oke."


"Bagus. Lucas, lo bisa gitar 'kan?"


Lucas mengangguk. Dia tidak masuk ke dalam klub musik, tapi beberapa kali dia bermain gitar saat sedang berkumpul dengan teman-temannya.


Kemudian, Abian membagi kembali siapa saja yang akan menampilkan pertunjukan menari.


Mereka menghabiskan waktu selama 40 menit untuk mencapai keputusan. Berkat Abian, mereka bisa menyelesaikannya lebih cepat. Jika tidak ditunjuk seperti itu maka dua jam pun belum tentu selesai.


"Lucas!"


Alana memanggil dari belakang Lucas dan Chiko. Kedua lelaki itu tengah berjalan menuju kantin.


"Eh, Alana. Kenapa?" Bukan Lucas yang menjawab panggilan Alana, melainkan Chiko.


Alana hanya tersenyum ke arah Chiko, tapi bisa membuat remaja itu terpesona.

__ADS_1


"Lucas, lo ada waktu gak sepulang sekolah?" tanya Alana, sementara Chiko menyembunyikan wajahnya di belakang punggung Lucas.


"Kenapa?" Lucas balik bertanya.


Gadis itu menunduk sedikit. Terlihat malu. "Kalo ada waktu, lo mau gak latihan bareng? Kebetulan kakak gue ada studio. Jadi, kita bisa latihan di sana."


Alana menatap Lucas dengan mata berbinar. Berharap tinggi jika Lucas akan mengiyakan.


Lucas terlihat berpikir. Di belakangnya Chiko berbisik. "Pergi aja. Lo harus latihan bareng mereka. Kalo gak, entar lo yang malu karena gagal."


Diam-diam Lucas menyetujui ucapan Chiko. Jika dia tidak pergi latihan bersama mereka, dia akan kesulitan menyesuaikan nada dan hal lainnya.


Setelah berpikir lama, Lucas pun menjawab.


"Ya."


Alana berseru senang. Tanpa sadar dia bertepuk tangan. "Bener? Eum, gue pergi bareng lo, ya?"


Mendengar itu, Chiko keluar dari persembunyiannya.


"Loh? Kenapa sama Lucas?"


Senyum Alana hampir menghilang dari wajahnya karena pertanyaan Chiko. Gadis itu melihat Chiko sekilas, kemudian kembali melihat Lucas.


"Sekalian aja. Lagian lo gak tau lokasinya di mana 'kan?"


"Sama yang lain kan bisa? Ocha ada tuh."


Air muka Alana mulai tidak enak. Chiko terus mencampuri pembicaraan antara dirinya dan Lucas.


Padahal dia tidak diajak.


Alana tidak memedulikan pertanyaan Chiko. Berbicara kembali pada Lucas.


"Nanti pulang sekolah bareng, ya?"


Lucas mengangguk sekilas. Lalu, berbalik pergi ke kantin. Sementara itu, Chiko mendapat tatapan tajam dari Alana sebelum dia pergi.


...***...


Seperti yang telah dijanjikan, Lucas dan Alana pulang bersama. Mereka tengah berjalan di koridor menuju parkiran.


Brak!


Suara benda jatuh terdengar keras. Alana dan Lucas menoleh untuk melihat apa yang terjadi. Tak jauh dari mereka, Freya yang baru keluar dari gedung sekolah basah kuyup karena ember yang dijatuhkan oleh dua orang siswi di lantai atas.


"Ups! Gue gak sengaja, Frey," ucap salah satu dari mereka. Tanpa rasa bersalah, keduanya tertawa dan pergi dari sana.


"Kasihan banget," bisik Alana.

__ADS_1


Sementara itu, Lucas melihat Freya dengan pandangan datar.


__ADS_2