
Akhir-akhir ini, Lucas sering bangun pagi untuk pergi ke perusahaan. Penurunan yang terjadi membuatnya harus sering berada di sana. Mengurus ini dan itu. Melakukan pertemuan dengan para klien, menandatangani kontrak, dan lain sebagainya.
Perusahaan masih atas nama Bryan, tetapi dia disiapkan untuk menjadi penerus Bryan di masa depan. Ditambah dengan aset milik Freya yang harus dia urus mulai tahun depan.
Pintu ruangan Lucas terbuka. Menampakkan sosok Bryan di ambang pintu. Pria itu membawa beberapa dokumen ditangannya.
"Gimana hari ini? Pusing?" tanya Bryan. Sedikit bercanda saat melihat ketegangan dan kekakuan di wajah Lucas.
Lucas mendongak untuk melihat Bryan. Pena di jarinya sibuk mencoret-coret isi dokumen. Dia menjawab singkat. "Pusing. Sedikit."
Bryan tertawa kecil. Menggeleng-geleng kan kepalanya mendengar jawaban putranya. Dia mendekati Lucas, meletakkan dokumen-dokumen yang dia bawa di atas meja Lucas.
"Ini rencana dari proyek yang bakal kita kerjakan."
Lucas melirik dokumen yang diberikan oleh Bryan. Kemudian, dia meletakkan penanya dan mengambil dokumen paling atas. Membuka map itu dan membaca isinya. Muka Lucas yang sudah serius sejak tadi, menjadi lebih serius saat membaca dokumen tersebut.
Bryan melipat kedua tangannya. Menunjuk ke dokumen yang sedang dibaca Lucas.
"Dananya udah ada. Tinggal dieksekusi aja."
Lucas menutup dokumen tersebut. Meletakkannya di sisi lain, kemudian mengambil dokumen lagi dan membacanya.
"Dana untuk proyek ini paling banyak didanai sama Pak Oga. Kamu harus bener-bener menjaga hubungan baik dengan beliau. Susah dapat klien baik kayak Pak Oga ini, lo."
Bryan mengenal Pak Oga dari Zehan. Dulu, semasa Zehan masih hidup, dia sering memberitahu Bryan mengenai orang-orang yang mau bekerja sama dengan perusahaannya. Dari semua orang yang dikenalkan oleh Zehan, Pak Oga termasuk orang yang mau melanjutkan kontrak kerja sama dalam jangka panjang dengannya.
Oleh sebab itu, Bryan memberitahu Lucas untuk menjaga komunikasi yang baik dengan Pak Oga. Karena saat di masa kritisnya kini, yang banyak membantu mereka adalah Pak Oga.
Lucas mengangguk kecil, menggumam sebagai jawaban.
"Papa ada urusan lain. Habis ini sebelum ke kampus, kamu rapat tentang pematangan rencana ini dulu dengan Pak Oga di kantornya, ya. Bawa dokumen-dokumen yang Papa kasih tadi."
"Biasanya kita rapat di sini. Kenapa malah di sana sekarang?"
"Pak Oga ada rapat lain juga di sana. Gak sempat ke sini. Toh, kalo gak malah kamu yang gak bisa ke kampus karena nunggu Pak Oga datang."
Lucas berpikir sejenak. Kemudian mengangguk setuju.
Pak Oga adalah orang yang sibuk. Dia juga merupakan pejabat penting di ibukota. Jika menunggu dia datang, otomatis Lucas harus mengambil libur lagi. Mata kuliah hari ini juga penting. Dia sudah tidak masuk sebanyak dua kali. Jatah liburnya hanya tersisa dua kali lagi. Jika dia tanpa sengaja harus tidak masuk di minggu yang lain dan jatah liburnya habis, jelas dia tidak akan lulus mata kuliah ini.
Dengan begitu, setelah selesai memperbaiki beberapa dokumen di mejanya; Lucas pergi menuju kantor Pak Oga dengan membawa semua dokumen yang diberikan oleh Bryan.
...***...
Lucas mengira dengan datangnya dia di pagi itu dapat menyelesaikan rapat sesegera mungkin. Namun, ternyata Pak Oga masih melakukan rapat dengan orang yang berbeda sehingga mau tak mau dia harus izin untuk mata kuliah di jam siang.
Lucas beruntung karena mata kuliah di siang itu, dia belum pernah libur. Jadi, tidak masalah jika tidak masuk sehari. Yang menjadi masalah jika dia tidak masuk kelas sore.
Setelah dua jam menunggu di lobi, akhirnya Pak Oga menampakkan dirinya. Akan tetapi, mereka tidak langsung melakukan rapat. Ini sudah waktunya makan siang. Jadi, mereka makan terlebih dahulu sebelum melakukan rapat.
Lucas tidak bisa banyak menolak karena tidak berguna juga. Dia tetap tidak bisa melakukan rapat tanpa Pak Oga. Jadi, satu-satunya hal yang bisa dia lakukan adalah menerima ajakan Pak Oga untuk makan siang.
Pada akhirnya, mereka berhasil melakukan rapat.
__ADS_1
Pak Oga puas dengan rencana yang dibuat oleh tim Lucas. Pria tua itu bertepuk tangan dengan gembira. Dia mengajak Lucas untuk makan bersamanya di lain hari.
Lucas tersenyum puas dengan hasil hari ini. Satu langkah lagi dan keuangan di perusahannya akan membaik.
"Saya senang dengan kematangan rencana kalian. Untung saya perpanjang kontrak dengan Bryan. Hahaha."
Di luar ruangan, Pak Oga memberikan tangannya bermaksud untuk berjabat tangan. Melihat tangan tersebut, Lucas langsung menyambutnya dengan baik.
"Terima kasih, Pak. Kami akan berusaha lebih baik lagi."
Pak Oga tertawa besar. "Ya, bagus, bagus. Saya tunggu hasilnya."
Lucas menunduk sedikit, tersenyum menerima tepukan pujian di bahunya.
"Papa."
Pak Oga menoleh ke belakang, begitu juga dengan Lucas. Dia mengangkat kepalanya dan mendapati Aurora berjalan ke arah mereka.
Rambut bergelombang nya melayang-layang saat dia berjalan. Pipi berlubang itu tidak pernah hilang dari senyumannya. Wanita itu berdiri di samping Pak Oga begitu dia menghampiri mereka.
"Maaf, Pa. Aku tadi sibuk banget sama tugas kelompok. Baru bisa datang sekarang."
Aurora berkata dengan lesu dan manja. Berharap dengan begitu, ayahnya akan luluh dan tidak memarahinya.
Pak Oga menggeleng. Kumis tebal di atas bibirnya bergoyang saat dia berbicara. "Kamu ini. Udah selesai rapatnya."
"Ha? Rapat? Bukan—"
Ada jejak keterkejutan di wajahnya. Telunjuknya terangkat ke arah ruangan, lalu memutar dan berhenti di Lucas. Seketika dia semakin terkejut.
Lucas sedari tadi diam, melihat anak dan ayah di depannya ini. Aurora tidak menyadari jika orang yang berbicara dengan ayahnya tadi adalah Lucas. Dia tersenyum senang begitu melihat Lucas.
"Kok kamu bisa di sini?" tanya Aurora.
Pak Oga segera menjawab sebelum Lucas melakukannya. "Ya, iya. Orang dia yang Papa bilang. Papa mau kamu ikut dalam proyek ini untuk belajar. Eh, kamu nya malah gak datang pas rapat tadi."
Aurora menggembungkan pipinya. Dia tersenyum malu.
"Maaf, Pa. Rapat sekali lagi, aku datang tepat waktu. Janji!"
Aurora mengangkat kelingkingnya seperti anak kecil yang sedang membuat janji. Di keluarganya, hanya dia yang bisa diharapkan untuk menerus perusahaan ayahnya. Kakak tertuanya mengambil bidang kedokteran. Aurora tidak memiliki adik. Jadi, otomatis dia menjadi harapan satu-satunya.
Pak Oga mengedikkan dagunya. Mengiyakan perkataan Aurora. Kemudian, dia beralih pada Lucas.
"Ngomong-ngomong, kalian berdua saling kenal?" tanya Pak Oga.
Lucas dan Aurora mengangguk secara bersamaan.
"Kami satu jurusan, Pa. Sering satu kelas juga."
Pak Oga berkata dengan senang. "Loh? Bagus, dong. Kalian bisa kerja sama kalo udah saling kenal."
Aurora mengangguk sambil tersenyum. Mencuri pandang ke arah Lucas untuk melihat reaksinya yang datar.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Saya harus ke kampus sekarang karena ada kelas." Lucas, akhirnya berhasil mengatakan keinginannya. Dia tidak ingin terlambat di mata kuliah ini.
Pak Oga melihat jam tangannya dan mengangguk. "Oke. Hati-hati di jalan." Kemudian dia beralih pada Aurora di sampingnya, "kamu ada kelas juga?"
"Ada, Pa. Sekelas sama Lucas."
Lucas mengangkat sebelah alisnya. Dia tidak tahu jika dirinya sekelas dengan Aurora. Yang dia ingat hanyalah wajah Daniel yang selalu muncul di mana-mana.
"Sama siapa kamu ke sini tadi?" tanya Pak Oga.
Entah mengapa Lucas merasakan perasaan tidak enak dari pertanyaan yang Pak Oga berikan pada Aurora.
"Dianter temen, Pa."
"Oh, Lucas. Saya boleh minta tolong sama kamu? Kalian kan sekelas, pergi sama Aurora, ya? Biar barengan aja. Sekalian bicarain tentang hasil rapat tadi."
Tepat. Inilah hal yang dipikirkan oleh Lucas. Pak Oga akan memintanya pergi dengan Aurora. Sejujurnya, bukan masalah besar. Dia hanya malas saja datang bersama orang lain.
Tidak nyaman.
Aurora sendiri tidak masalah. Setelah berpamitan dengan Pak Oga. Keduanya berjalan menuju parkiran.
Aurora melihat tak ada ekspresi ramah di wajah Lucas. Ya, walaupun dia memang belum pernah melihat mimik lain dari lelaki itu. Setidaknya, tersenyum sedikit demi keramahan.
Mobil mulai dijalankan begitu mereka selesai memakai sabuk pengaman.
Selama perjalanan, keduanya sama-sama diam. Lucas memang orang yang tidak suka memulai pembicaraan dengan orang yang tidak dekat dengannya. Namun, Aurora adalah orang yang mudah bergaul, tapi saat ditinggal berdua dengan Lucas. Mendadak dia menjadi kaku dan pendiam seperti Lucas.
Untuk beberapa saat, Aurora membutuhkan waktu untuk mengumpulkan keberaniannya.
Dia mulai bertanya, "Tadi hasil rapatnya gimana?"
Lucas menjawab sambil tetap fokus menyetir. Mengatakan semua hal yang menjadi inti dari rapat. Aurora mengangguk paham. Lalu, keadaan menjadi hening kembali.
Aurora melipat mulutnya ke dalam. Dia menggaruk kancing di jas coklatnya.
"Tadi, aku pikir Papa bakal jodohin aku lagi. Makanya aku gak datang. Rupanya malah rapat."
Dia tertawa karena kesalahpahaman nya sendiri. Aurora melirik Lucas. Matanya membentuk seperti busur panah ketika tertawa.
"Bego banget 'kan? Papa sering ngenalin banyak cowok ke aku. Padahal jelas-jelas aku udah bilang kalo aku punya pacar."
Lucas tidak menanggapi apapun dan membiarkan Aurora bercerita.
"Aku datang karena ngira orang itu udah pulang. Jadi, aku gak harus ketemu sama cowok itu. Lagian, aku juga lagi kabur dari pacar aku."
Mendengar itu, Lucas melirik Aurora di sampingnya. Wanita itu menunduk. Pandangannya jatuh ke bawah. Dia tertawa getir.
Mungkin saja karena kasihan atau memang penasaran, Lucas bertanya, "Kenapa kabur? Kalo ada masalah selesaikan."
Aurora mengangkat kepalanya. Melihat Lucas. Lelaki itu telah kembali berkonsentrasi dengan jalanan di depannya.
"Gak papa. Cuma masalah biasa. Dia salah paham sama aku. Kemarin aku pergi sama temen gak ngabarin dia. Jadi, dia marah dan nyari aku. Males aja jelasin itu-itu terus. Mending kabur aja."
__ADS_1
Aurora tertawa di akhir kalimatnya. Namun, Lucas mengetahui jika ada hal lain yang tidak dia katakan.
Karena itu bukanlah urusannya, Lucas tidak bertanya lagi. Akhirnya, setelah lama melakukan perjalanan, mereka tiba di lingkungan kampus.