
Lucas baru saja membuka pintu ruang pertemuan dan perdebatan antara Aurora dengan ayahnya sudah berada di pertengahan.
"Pa, aku udah nolak berkali-kali, ya. Papa juga tau alasannya apa. Kenapa masih maksa aku?"
Aurora bertanya dengan kesal, tapi dia berusaha mengendalikan intonasi yang dia gunakan agar tetap sopan dan tidak terdengar kurang ajar.
"Papa gak setuju kamu masih sama laki-laki itu. Udah gak lanjut kuliah, kerja pun gak menghasilkan banyak uang. Kamu mau hidup melarat, ha?"
"Aku bukan cewek matre, Pa. Penghasilan dia cukup, kok."
"Cukup apa? Satu bulan lima juta kamu bilang cukup?"
Lucas merasa tidak enak karena mendengar percakapan antara keduanya. Meskipun itu tanpa disengaja. Dia memutuskan untuk keluar lagi daripada mendengar perdebatan yang seharusnya tidak didengar oleh orang luar.
Namun, ketika dia akan menutup pintu, Pak Oga telah melihatnya terlebih dahulu dan segera menyuruhnya untuk masuk. Perdebatan antara Aurora dan Pak Oga berhenti di sana tanpa adanya penyelesaian.
"Lucas. Kenapa malah mau keluar lagi? Sini masuk. Duduk dulu sambil nunggu yang lain datang."
Pak Oga datang dan menarik Lucas. Menyuruhnya untuk duduk di samping Aurora. Selesai berdebat, Aurora memilih untuk duduk dan menenangkan diri.
Suasana di dalam ruangan menjadi canggung untuk beberapa saat sebelum Pak Oga mulai bertanya hal-hal dari yang penting sampai yang tidak penting. Apapun itu, selama di dalam ruangan tidak sunyi dan senyap.
Kurang lebih 10 menit mereka menunggu, akhirnya semua orang telah tiba. Rapat kali ini membahas tentang evaluasi dan perkembangan proyek yang sedang mereka lakukan. Lucas mempresentasikan hasilnya dengan baik, membuat Pak Oga terus menganggukkan kepalanya atas semua kalimat-kalimat yang Lucas jelaskan. Tersenyum bangga seperti melihat anaknya yang memenangkan suatu perlombaan.
"Kerja bagus, Lucas. Kamu udah berusaha keras kali ini."
Pak Oga berujar ketika semua orang telah meninggalkan ruangan. Aurora juga telah meminta izin untuk pergi ke kampus. Sebenarnya, menurut Lucas, wanita itu hanya ingin menghindar dari ayahnya. Namun, karena itu bukan urusannya, Lucas tidak mengatakan apapun.
Lucas tersenyum tipis sembari menjawab Pak Oga. "Semua yang terlibat juga berusaha keras, Pak."
Pak Oga tertawa. Menepuk-nepuk punggung Lucas. "Ya. Kamu benar. Semua orang sudah berusaha."
Lucas mengangguk kecil. Lalu, dia membereskan berkas-berkas yang dia bawa, menutup laptop, dan memasukkannya ke dalam tas.
Pak Oga memperhatikan gerak-gerik Lucas. Pria tua itu termenung memikirkan sesuatu. Kemudian, dia tiba-tiba bersuara.
"Kalo kamu belum nikah, udah saya jodohin kamu sama anak saya."
Pergerakan Lucas terhenti saat mendengar Pak Oga berbicara. Orang tua ini selalu berbicara sesuka hatinya, mengatakan apa yang ada di dalam kepalanya tanpa peduli dengan reaksi orang lain.
Lucas tidak bisa memberikan sembarang respon. Pak Oga adalah orang yang terbiasa berdiri di atas. Mengatakan hal itu padanya tanpa bertanya apakah dia bersedia atau tidak, sudah cukup membuktikan jika seandainya hal itu terjadi, Lucas tidak boleh menolak.
Senyuman dan anggukan kecil. Hanya itu yang bisa dia berikan sebagai respon.
Pria tua itu berkata lagi. "Anak saya itu masih aja mempertahankan pacarnya itu. Entah apa bagusnya dia. Saya besarkan anak dengan baik, tidak kekurangan apapun. Bisa-bisanya suka sama lelaki yang gak bisa memberikan dia seperti apa yang saya berikan."
Pak Oga memulai curhatnya. Mengatakan ini dan itu tentang pacar Aurora. Jujur saja, diam-diam Lucas juga bertanya-tanya mengapa Aurora masih bersama lelaki itu, padahal sebelumnya Aurora mengatakan pada dirinya dan juga Daniel bahwa dia sudah bosan dan merasa risih.
__ADS_1
Lucas sama sekali tidak paham dengan wanita. Keinginan mereka bertimpa-timpa. Tidak tahu mana yang sebenarnya yang mereka inginkan dari pasangannya.
Mungkin ada kelebihan dari lelaki itu yang membuat Aurora masih bertahan. Yah, Lucas juga tidak peduli. Mendengarkan keluhan orang tua di depannya sudah cukup untuk menunjukkan kepeduliannya.
"Saya minta tolong sama kamu, ya. Jaga Aurora di kampus. Kalo dia kenapa-kenapa di kampus beritahu saya. Walaupun kalian gagal sebelum saya jodohkan, setidaknya kamu anggap dia sebagai adik kamu, ya."
Apa Lucas memiliki pilihan untuk menolak? Jelas tidak. Lelaki tua ini akan tetap memaksanya sampai dia mengatakan iya.
"Aurora itu lembut. Mudah disakiti orang lain. Saya takut dia diapa-apakan sama orang."
Pria ini masih saja berbicara. Lucas mengangguk cepat agar semua selesai dan dia bisa kembali ke rumahnya sekarang.
"Makasih, Lucas. Saya percaya sama kamu."
Lucas mengangguk lagi dan segera pamit pergi sebelum orang di depannya ini berbicara lebih banyak lagi.
...***...
Freya baru saja keluar untuk menyiram tanaman ketika Lucas baru tiba di rumah. Dia menunda rencananya itu dan segera menghampiri Lucas. Membantu suaminya membawa tas dan bertanya apakah dia ingin mandi dengan air hangat atau tidak.
Lucas memberikan tasnya pada Freya sambil menarik dasinya. Dia merasa benda itu mencekik lehernya.
"Gak usah. Aku mandi pake air biasa aja."
Freya mengangguk. Setiap kali dia menawarkan diri memanaskan air untuk Lucas mandi, pria itu selalu menolaknya. Freya merasa sedih, tetapi dia berpikir kembali. Itu hanya penolakan kecil. Bukan masalah besar sampai dia harus merasa sedih tentang itu.
Setelah meletakkan tas Lucas di kamar, Freya kembali turun untuk melakukan kegiatannya. Menyiram tanaman di sore hari adalah kebiasaannya sejak dulu. Berbagai macam bunga yang dia tanam di depan rumah mulai mekar dengan indah.
Freya mengambil selang air dan mulai menyemburkan air dengan kecepatan sedang. Selain bunga, dia juga menanam beberapa jenis tumbuhan seperti sansevieria.
Selagi menyiram tanaman, Freya melihat rumput-rumput tumbuh di sekitar tanamannya. Setelah selesai menyiram, Freya berjongkok untuk mencabut rumput-rumput tersebut.
Beberapa menit sejak dia mencabut rumput, terdengar suara petikan gitar. Freya mendongakkan kepalanya. Memutar untuk melihat ke atas. Di balkon kamar, Freya melihat Lucas tengah memainkan gitarnya. Sepertinya dia baru selesai mandi, dilihat dari handuk kecil yang masih bergantung di lehernya.
Sesaat, Freya terpesona. Lucas memainkan gitar dengan kaos putih serta rambutnya yang setengah basah itu menambah ketampanan Lucas. Menyadari pikirannya sudah berjalan ke tempat lain, Freya segera membawanya kembali dan fokus pada kegiatan mencabut rumput.
Petikan gitar itu terdengar sedih. Freya tidak tahu mengapa Lucas selalu memainkan nada-nada seperti itu. Siapa pun yang mendengarnya pasti akan mengira jika dia tengah patah hati.
Memikirkan ini, Freya teringat dengan foto yang ditunjukkan oleh Aya. Freya tahu jika Lucas bukanlah orang yang suka mengambil gambar dirinya sendiri. Dia juga sudah menolak kakak senior yang selalu meminta fotonya untuk diunggah di media sosial mereka. Mengapa sekarang dia malah menerimanya? Terlebih foto itu bukanlah dia seorang, melainkan bersama dengan seorang wanita yang juga sama populernya dengan Lucas.
Kegundahan melanda hatinya. Memaksanya untuk berpikir yang tidak-tidak.
Apakah Lucas menyukai wanita itu hingga dia mau memberikan izinnya asalkan mereka berada dalam satu foto?
Freya segera menggelengkan kepalanya. Mengusir pertanyaan buruk itu.
Jarinya yang sedang mencubit rumput pun berhenti begitu saja. Freya termenung sejenak.
__ADS_1
Kemudian, dia melihat kembali ke atas di mana Lucas berada. Setelah itu, dia cepat-cepat mencuci tangannya menggunakan air dari selang. Lalu, bergegas menghampiri Lucas.
Freya membuka pintu dengan hati-hati agar tidak mengganggu Lucas. Setelah pintu ditutup, dia mengambil ponselnya yang berada di atas nakas.
Pelan-pelan dia berjalan mendekati Lucas. Tersenyum tipis ketika lelaki itu melirik ke arahnya sebelum kembali bermain gitar.
Merasa Lucas tidak terganggu dengan kehadirannya, Freya pun duduk di depan Lucas. Memperhatikan jemarinya yang panjang dan ramping itu memetik tiap-tiap senar. Memindahkan jari-jarinya dengan lincah saat mengubah kunci nada.
Lucas sibuk dengan permainannya, sementara Freya menggila dengan jantungnya yang berdegup kencang.
Antara terpukau dengan penampilan Lucas dan permainan gitarnya atau karena dia ingin meminta sesuatu.
Freya menarik napasnya pelan dan menghembuskan nya secara bertahap. Kemudian, dia menatap Lucas dengan keberanian yang telah dia kumpulkan.
"Lucas," panggilnya.
"Hm?" Lucas bergumam sebagai jawaban tanpa mengangkat matanya dari senar gitar.
"Foto bareng, yuk?" tanya Freya.
Mendapat ajakan itu, barulah Lucas melihat Freya dengan benar.
"Tiba-tiba?"
Freya tersenyum canggung. "Yah, kita gak pernah foto bareng. Boleh, ya? Sekali aja."
Lucas menggeleng. Dia kembali melihat gitarnya. "Kamu tau aku gak suka difoto."
Freya masih tetap bersikeras. "Berdua, kok. Bukan sendirian."
"Gak."
"Lucas. Please! Sekali aja. Ya?"
"Gak."
"Lucas!"
Suara senar yang terputus terdengar bersamaan dengan panggilan keras Freya.
Lucas menatap datar gitarnya yang perlu diperbaiki. Dia melihat ke arah Freya.
"Aku gak suka difoto. Kenapa masih maksa?"
Freya menelan ludahnya. Tatapan Lucas begitu tajam dan suaranya dingin. Diberi penampilan seperti itu sama seperti mendapatkan tusukan tepat di hatinya dari kristal es yang tajam dan dingin.
Lucas menghela napasnya dan bangkit berdiri untuk mengganti senar.
__ADS_1
Sementara itu, Freya menundukkan kepalanya. Kecewa dalam diam atas penolakan Lucas terhadap permintaan kecilnya.