Cold Love

Cold Love
Bab 54. Jika ditakdirkan Maka Akan bertemu Jua


__ADS_3

Semester baru telah dimulai.


Lucas dan Daniel masih berusaha mencari Freya, tetapi mereka tidak dapat menemukannya. Mereka sama sekali tidak memiliki petunjuk ke mana Freya akan menetap. Pencarian mereka abu-abu, sulit mencari Freya dengan keadaan seperti itu.


Seminggu penuh mereka mencari, bahkan Lucas tidak sempat mengisi kartu rencana studi-nya. Daniel yang tidak tahan melihat raut lelah di muka Lucas pun akhirnya mengisi KRS milik pria itu. Menyamakan semua jadwal Lucas dengan dirinya.


"Mata lo udah item kayak panda."


Daniel sudah berada di kelas sejak lima menit yang lalu. Dia mengira Lucas tidak akan datang di hari pertama masuknya semester baru. Namun, ternyata pria itu tiba tak lama setelah dia datang.


Lucas melirik Daniel. Dia berjalan menuju lelaki itu dan duduk di sampingnya.


Daniel memperhatikan wajah Lucas. Pria itu terlihat semakin dingin dengan ekspresi yang semakin datar. Dia seperti tidak memiliki gairah lagi. Walaupun Lucas biasanya tidak bersemangat dalam menjalani harinya, tapi kali ini lebih dari sekadar itu. Seakan-akan setengah jiwanya telah pergi dari tubuhnya.


Daniel menghela napas pelan. Kemudian, dia berujar, "Gue tau lo stres karena Freya pergi tiba-tiba, tapi lo jangan terlalu tenggelam dalam keterpurukan. Bangkit, Bro. Lo harus istirahat yang cukup supaya energi lo ada buat lanjut nyari Freya."


Lucas menundukkan pandangannya, melihat ke arah jari-jarinya yang saling terpaut di atas meja. Daniel tidak dapat memberi banyak kata penenang untuk Lucas. Dia hanya mampu menepuk pelan pundak Lucas. Mengisyaratkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


...****************...


Kelas selesai lebih lama dari waktu yang seharusnya padahal ini adalah hari pertama semester baru. Namun, sepertinya dosen mereka tidak peduli dengan fakta itu dan tetap membahas materi perkuliahan sampai lewat waktu.


"Pegel banget badan gue. Mana hari ini ada latihan lagi."


Daniel meregangkan tubuhnya di depan pintu kelas. Dia hampir memukul seseorang di belakangnya dengan siku jika orang tersebut tidak menghindar. Pria itu cengengesan dan meminta maaf sebelum menggeser dirinya dari sana.


"Lucas, lo masih ikut basket atau gak? Kak Vilan udah nyerah ama lo. Semester kemarin lo cuma pernah gabung latihan beberapa kali. Kalo lo gak mau lagi biar dicoret aja nama lo. Biar gak menuhin buku absen."


Daniel berbicara menghadap Lucas yang berdiri menyamping. Pria itu tidak menjawabnya, bahkan terlihat seperti tidak mendengarnya sama sekali. Pandangan lelaki itu lurus ke depan. Daniel menyadari perubahan kecil di wajah Lucas. Dia tampak kesal saat membuang napasnya.


Daniel memutar kepalanya, mengikuti arah pandang Lucas. Dia mendapati Aurora berdiri tak jauh dari mereka. Wanita itu juga tengah memandang Lucas. Kedua orang ini melakukan kontak mata. Yang satu merasa kesal, sementara yang satunya lagi merasa sedih.


Daniel tidak tahu apa yang terjadi pada mereka. Yang dia dengar dari Lucas adalah pertengkaran dirinya dan Freya disebabkan oleh keberadaan Aurora di antara mereka. Daniel menebak jika Lucas menyalahkan Aurora atas kepergian Freya.


Mereka sama-sama berdiam diri di posisi masing-masing sampai Aurora yang mulai mendekat terlebih dahulu.


Tidak ingin terlibat dalam suasana canggung, Daniel melambaikan tangannya pada Aurora. Bermaksud untuk menyapanya.


"Hai, Aurora. Lama gak jumpa. Lo makin cantik aja, hehe."


Wanita itu tersenyum tipis sebagai bentuk respons terhadap pujian Daniel. Kemudian, dia melihat ke arah Lucas. Sama sekali tidak berniat meneruskan percakapan dengan Daniel.


Merasa dirinya tidak boleh berada di antara mereka, Daniel pun pamit untuk pergi terlebih dahulu. Membiarkan dua orang itu menyelesaikan masalah mereka.


Sepeninggal Daniel, mereka terlibat dalam kesunyian lagi. Aurora menelan ludahnya susah payah sebelum sepenggal kalimat penyesalan keluar dari mulutnya.


"Maaf, Lucas. Malam itu gue agak mabuk. Jadi, gue gak bisa kontrol diri dan malah melakukan hal yang lo benci."


Dia menatap Lucas tepat di matanya. "Maafin gue, Lucas. Gue sadar kalo gue salah, tapi perasaan gue gak bisa ditahan lagi. Jujur aja, gue lega setelah ngungkapin ke elo. Walaupun caranya salah. Gue minta maaf sama lo karena udah buat lo gak nyaman."


Lucas membuang pandangannya ke samping. Dia menghembuskan napasnya perlahan, lalu kembali melihat Aurora.


"Di luar pekerjaan, jangan pernah ajak gue bicara lagi."


Suaranya dingin dan tidak bersahabat. Seolah dia menunjukkan pada Aurora jika dirinya tidak memaafkan perbuatan yang telah wanita itu lakukan padanya.


Seperti melewati angin, Lucas berjalan tanpa memedulikan keberadaan Aurora lagi.


...****************...

__ADS_1


Pulang dari kampus, Lucas melanjutkan pencariannya. Dia pergi ke rumah lama Freya yang sudah tidak dihuni sejak orangtua Freya meninggal.


Lucas masih berharap jika Freya akan kembali. Ke rumahnya ataupun ke rumah Freya sendiri. Namun, dia lupa jika Freya tidak memegang kunci rumah. Jadi, jelas wanita itu tidak bisa masuk, bahkan jika dia benar-benar datang.


Lucas merasa tertekan. Kepalanya seolah ditimpa oleh benda berat. Sudah seminggu dia mencari Freya, dan selama itu pula dia tidak pergi ke kantor. Lucas tidak peduli dengan proyek barunya. Oleh karena itu, Bryan harus menggantikan posisi Lucas padahal dia sendiri juga sibuk mengurus perusahaannya.


Di bawah langit malam, Lucas duduk di depan pintu rumah lama Freya. Dia menengadah ke atas, menatap bintang yang bersinar sendirian.


Perasaan sepi menghampiri Lucas, mengganggu kesendiriannya. Tiba-tiba dia mengingat Daniel. Orang itu bisa membantunya keluar dari keheningan ini walaupun hanya sebentar.


Lucas mengambil ponselnya dari dalam saku celana. Mencari kontak Daniel di daftar telepon. Setelah menemukannya, dia segera memencet tombol untuk menghubungi Daniel.


Terdengar bunyi sambungan untuk beberapa detik sebelum Daniel menjawab panggilannya.


"Tumben lo nelpon duluan. Kenapa? Freya udah ketemu?"


"Belom."


"Lo lagi nyari dia sekarang?"


"Ya."


"Eum. Jadi, kenapa? Lo mau gue temenin nyari?"


Lucas menatap kosong tanah di bawah kakinya. Kemudian, dia mendongak sambil berujar, "Ayo, ke bar."


"Ha? Saking stresnya lo mau minum?"


Lucas tidak merespons pertanyaan Daniel, melainkan dia berkata lagi. "Gue ke bar sekarang. Gue tunggu lo di sana."


"Gue udah di sini dari jam sembilan."


"Oke."


Panggilan diputus begitu saja oleh Lucas. Dia mengambil kunci mobilnya dan langsung menuju bar yang pernah dia datangi sebelumnya.


Setibanya di sana, Lucas cukup menyebut nama Daniel dan dia diperbolehkan untuk masuk. Suasana di dalam tidak jauh beda saat dia pertama kali datang. Hanya ada tambahan interior dan lagu-lagu yang diputar lebih riuh.


"Yo! Lucas!"


Lucas melihat Daniel yang melambai di sudut sana. Sepertinya mereka selalu duduk di meja yang sama.


"Musiknya bising," kata Lucas ketika dia sudah bergabung dengan mereka. Lucas melihat ke depan dan hanya mendapati pria bermata belok yang dia lupakan namanya. Seingat Lucas, Daniel mengatakan jika pria itu sering melamun. Dilihat dari wajahnya, apa yang dikatakan oleh Daniel adalah sebuah kebenaran. Pria itu memandang lurus ke bawah tanpa berkedip. Seolah kepalanya dipenuhi oleh banyak pikiran.


Daniel mendekatkan telinganya pada Lucas. "Permintaan pelanggan. Kalo bar cuma musik lembek, mereka gak suka."


Lucas mengangguk acuh tak acuh. Dia mengambil gelas kosong di meja, kemudian menuangkan air dari botol kaca yang asal dia ambil.


"Eh, eh. Enak aja lo main minum. Gue gak mau ngurus lo." Daniel buru-buru menarik gelas tersebut dan menjauhkannya dari Lucas.


"Gue mau minum."


"Gak. Lo sama sekali gak sadar kalo udah minum. Lama-lama gue gampar juga lo."


Lucas berdecak kesal. Dia memutar bola matanya dan menghempaskan punggung di sandaran sofa. Kakinya bergoyang-goyang membuat pria di depannya menaruh perhatian pada Lucas.


"Lo lagi ada masalah?" tanya pria itu.


Lucas mengangkat matanya untuk melihat orang yang bertanya. Dia mengedikkan dagunya, mengiyakan tebakan pria tersebut.

__ADS_1


Di sebelahnya, Daniel menyeletuk, "Iya, Dri. Istrinya kabur dari rumah karena ngira dia selingkuh."


Lucas melirik Daniel tajam, tapi dia juga tidak terlalu peduli tentang itu. Jadi, dia mengabaikan Daniel yang heboh mewakili dirinya untuk menjelaskan pada pria yang Lucas tebak sepertinya adalah Adri.


"Gitu . . . ya, istri lo gak salah, sih. Cewek gak suka diselingkuhi."


"Gue udah jelasin ke dia kalo kami cuma rekan kerja," bantah Lucas membela dirinya sendiri.


"Mungkin lo kurang perhatian dan waktu. Jadinya, dia mikir yang enggak-enggak."


Diam-diam, Lucas menyetujui perkataan Adri.


"Lo juga ngapain nikah cepet-cepet. Nikmati masa muda dulu, kali." Di sampingnya, Daniel mencoba memberi nasehat. Akan tetapi, Lucas tidak menggubrisnya sama sekali.


Adri berkata pada Lucas. "Cewek memang harus disayang, tapi kalo kita terlalu nunjukin mereka bakal nginjak-nginjak kita. Kalo gak ditunjukin, mereka juga kesal. Gimana? Capek 'kan ngurus cewek?"


Daniel tertawa kencang. "Hahaha. Makanya jadi playboy kayak gue. Gak usah komitmen, ribet. Tuh, Adri itu udah berpengalaman diinjak-injak cewek karena terlalu sayang."


Adri menggelengkan kepalanya. "Kenapa malah gue yang kena? Kita lagi bahas tentang Lucas sama bininya."


"Ya, kan jadi pengalaman juga buat Lucas."


"Jadi, intinya apa?" tanya Lucas menengahi perdebatan mereka.


"Lucas. Ini saran gue. Terserah lo mau terima atau gak."


Lucas membenarkan duduknya, tubuhnya sedikit maju ke depan. Serius mendengarkan Adri. Daniel pun ikut melakukan hal yang sama. Mungkin saran dari Adri juga berguna untuknya di masa depan.


"Lo tetep cari istri lo, tapi lo harus raih apa yang mau lo capai. Hidup gak di sekitar wanita aja. Lo cowok yang diharapkan punya masa depan yang baik. Kalo emang dia ditakdirkan buat lo, kalian bakal ketemu lagi."


Lucas diam. Merenungkan semua kalimat Adri. Tak lama, dia tersenyum tipis pada Adri.


"Ya, sebagian saran lo gue terima."


Karena takdir atau gak, gue bakal cari dia sampai ketemu.


...****************...


Keesokan harinya, Lucas pergi ke kantor di pagi hari sebelum kelasnya dimulai. Dia harus meminta maaf pada Bryan karena telah menyusahkannya dengan tugas yang seharusnya Lucas kerjakan.


Saat dia membuka ruangan Bryan, Lucas mendapati Pak Oga dan Mia sedang berbicara. Ini salah satu kebiasaan buruknya yang selalu lupa mengetuk pintu.


"Oh, Lucas. Datang juga kamu, akhirnya."


Pak Oga berdiri dan langsung menghampiri Lucas. Sepertinya mereka tengah membicarakan proyek yang ditelantarkan oleh Lucas.


"Saya kurang sehat, Pak." Lucas menjawab seadanya.


Bryan melihat Lucas seolah memberi kode melalui tatapan matanya. Mia memperhatikan gerak-gerik Bryan yang mencurigakan. Jadi, sebelum sesuatu terjadi, dia langsung berkata pada Lucas.


"Mama udah ajukan kontrak kerja sama dengan Bryan. Biar kalo proyek ini selesai, kerja sama kita masih berlanjut."


Lucas mengerutkan keningnya. Melihat ke arah Mia, lalu berganti pada Bryan.


Dia ingin membantah, tapi Pak Oga terlebih dahulu menyelanya. "Lucas. Kerja sama dengan perusahaan Bu Mia gak membawa kerugian untuk kamu. Malah bisa membantu menyelesaikan masalah internal perusahaan ini."


Bryan menatap Lucas dengan khawatir. Dia menyadari rahang Lucas yang mengeras. Anaknya itu tengah berusaha menahan emosinya.


Semua orang menunggu persetujuan Lucas. Lelaki itu masih diam. Dia memejamkan matanya sambil menarik napas. Lalu, tiba-tiba seutas senyuman terbentuk di bibirnya.

__ADS_1


Dia melihat semua orang secara bergantian. Lalu, berkata dengan ramah. "Ya. Kita lakukan kerja sama itu."


__ADS_2