Cold Love

Cold Love
Bab 73. Kehangatan Yang Tak diinginkan Merasuk Hati


__ADS_3

"Tadi ... ." Lucas mulai membuka percakapan di antara mereka, "aku liat Syakia gak makai alat bantu dengar." Dia melirik Freya sekilas, "kenapa?"


Tanpa melihat Lucas, Freya menjawab pertanyaan pria itu. "Dia gak mau."


"Kenapa?"


"Gak nyaman katanya."


"Eum." Percakapan mereka berhenti di sana. Tiba-tiba ponsel Lucas berdering. Dia melirik ponselnya. Sebuah nomor tak dikenal tertera di layar. Lucas menggeser tombol hijau setelah dia memasang earbud di telinganya.


"Ya?"


Seseorang di seberang sana menjawab. Di sampingnya, Freya sedikit melirik. Namun, tak lama dia kembali melihat ke luar jendela.


"Berapa banyak bulan ini?" Lucas diam sejenak. Kemudian berkata lagi. "Saya ada urusan. Belum bisa balik. Kamu awasi mereka dan terus kumpulkan bukti. Gak lama lagi bakal selesai."


Freya diam-diam mengintip dari kaca mobil, tapi dia pura-pura tidak peduli.


Telepon mati bersamaan dengan mereka tiba di tempat kerja Freya.


Sekadar kata terima kasih pun tidak Freya ucapkan. Wanita itu langsung keluar dari mobil dan berjalan dengan cepat menuju gedung mal.


Lucas tidak berniat mengejar atau menahannya untuk menagih ucapan terima kasih dari Freya. Dia tertawa melihat tingkah istrinya. Setelah memastikan Freya masuk, barulah dia memutar mobilnya kembali ke hotel.


...****************...


Jam menunjukkan pukul 11.30 siang.


Matahari hampir berada di tengah langit saat Lucas tiba di sekolah Syakia. Banyak anak-anak sudah keluar dari gerbang, dijemput orangtuanya. Lucas menggerakkan kepalanya. Mencari keberadaan Syakia, tapi dia tidak menemukan keberadaan bocah itu.


Dia berjalan memasuki area sekolah. Mencari posisi Syakia. Setelah melewati beberapa kelas, akhirnya dia melihat sosok yang dicarinya.


Anak perempuan itu masih berada di dalam kelas, merapikan barang-barangnya. Sepertinya kelas Syakia baru saja selesai. Sebagian dari mereka sudah keluar dari kelas, sementara yang lain menunggu temannya selesai membereskan buku dan peralatan menulis mereka.


Bibir Lucas terangkat, membentuk sebuah senyuman.


Di bangku paling depan dekat dinding, Lucas melihat Syakia menyusun rapi peralatan miliknya. Menyatukan buku-bukunya, lalu menyesuaikan ukurannya agar lebih teratur saat dimasukkan ke dalam tas.


Ketika dia tengah menunggu Syakia, Lucas mendengar teman sekelas Syakia bercerita dengan semangat. Topik yang mereka bahas adalah berlibur bersama orangtua. Pergi ke banyak tempat di akhir pekan. Makan bersama, berfoto, dan melakukan hal menyenangkan lainnya.


Lucas memiringkan kepalanya. Anak-anak itu belum tahu artinya dunia. Saat ini, mereka bisa membanggakan hal itu. Akan tetapi . . . masa depan bisa berubah.


Salah satu dari anak-anak itu tiba-tiba berkata pada temannya. "Eh, aku belum pernah liat orangtua Syakia."


Temannya yang lain menyeletuk. "Yang antar-jemput Syakia itu bukan ayahnya?"


"Ah, gak mungkin. Ayahnya kok udah tua? Kayak kakek-kakek."


Lucas mengerutkan keningnya. Dia tahu siapa yang dimaksud oleh anak-anak itu. Namun, karena mereka menyebutkan kata "Ayah", Lucas merasa jika dirinya sedang dikatai oleh seorang anak kecil.


"Tanya dia aja." Lucas dapat melihat dari depan pintu, seorang bocah perempuan menunjuk ke arah Syakia.


"Gak, ah. Dia kan gak bisa denger."


"Iya juga, ya."


Awalnya, mereka ingin mencoba bertanya. Akan tetapi, saat mengingat bahwa Syakia kesulitan berbicara dengan orang lain, anak-anak itu pun tidak jadi bertanya dan melanjutkan cerita-cerita yang menurut mereka seru untuk dipamerkan.


Air muka Lucas menjadi semakin datar saat dia melihat Syakia diam-diam menyentuh telinganya. Bocah itu tampak mencabut sesuatu di sana. Ketika benda itu ditarik dari sela-sela rambutnya, Lucas dapat melihat bahwa itu adalah alat bantu dengar.


Bukankah tadi pagi dia tidak memakainya? Lucas bertanya pada dirinya sendiri. Namun, ketika dipikirkan lagi, mungkin Syakia menggunakan alat itu saat belajar.


Hanya saja, Lucas merasa janggal.

__ADS_1


Syakia melepaskan benda tersebut tepat di saat teman-temannya bercerita dengan gembira. Ekspresinya pun muram. Seolah-olah dia tidak ingin mendengar kisah seru teman sekelasnya.


Lucas mulai menebak-nebak. Tanpa menunggu Syakia keluar dari kelasnya, Lucas menghampiri anak itu. Membuat semua orang yang tersisa di kelas bertanya-tanya dengan kehadirannya.


Sementara orang lain menatap Lucas dengan mata dan mulut yang terbuka, Syakia sibuk mengancing tasnya. Dia sama sekali tidak tahu bahwa Lucas tengah berjalan ke arahnya.


"Syakia." Lucas menepuk pelan pundak bocah itu agar dia tidak terkejut. Badannya dia rendahkan, menyejajarkan dirinya dengan Syakia.


Syakia menoleh, dia sedikit tersentak. Keningnya berkerut, bertanya dalam hati sejak kapan pria ini ada di kelasnya.


Lucas membesarkan suaranya agar anak-anak di belakangnya itu mendengar dengan jelas apa yang dia katakan.


"Lama banget. Ayah udah nunggu dari tadi. Kita kan mau pergi."


Samar-samar, Lucas mendengar anak-anak di belakangnya berbisik-bisik. Pria itu mengusap pelan rambut Syakia. Tatapannya lembut dan teduh membuat Syakia termangu.


Syakia tidak paham apa yang terjadi, tapi dia merasakan kehangatan di dalam hatinya. Sesuatu yang tidak dia ketahui seolah menjalar di dalam dirinya. Memenuhi rongga kosong yang lama sepi.


Syakia tidak mengerti. Dia merasa ingin menangis.


"Eh, jangan nangis."


Mata Syakia mulai berair. Lucas segera mengusap setetes air mata yang jatuh di pipi putrinya.


Syakia berusaha keras agar air matanya tidak terjatuh lagi. Dia menunduk, menghindari tatapan Lucas yang membuat hatinya terenyuh. Dia kembali teringat dengan wajah ibunya yang basah karena air mata setelah bertemu dengan pria di depannya ini. Oleh karena itu, dia tidak mau membiarkan perasaan hangat ini semakin masuk ke dalam hatinya.


"Jangan nangis. Nanti Ayah beliin es krim. Ayo, pulang."


Lucas merangkul pundak Syakia. Menarik anak itu berdiri di sampingnya, kemudian mereka berdua berjalan keluar kelas. Di belakang mereka, suara bisikan dari anak-anak mulai menghilang.


...****************...


"Beberapa tes yang dilakukan menunjukkan bahwa pendengaran anak Anda cukup buruk."


Awalnya, anak itu tidak berhenti menangis. Dia jatuh dalam kebingungan. Anak ini selalu menumpahkan air matanya jika sedang bersama Lucas.


Pada akhirnya, dia mengatakan pada Syakia bahwa mereka akan menemui Freya selama anak itu bersikap baik. Hal itu membawa hasil yang tepat. Syakia tidak lagi menangis dan diam dengan patuh.


Lucas mengira akan sedikit sulit mengatakannya karena Syakia tidak menggunakan alat bantu dengar. Namun, Syakia mengerti apa yang dia katakan. Saat Lucas memperhatikannya, dia mulai paham bahwa Syakia bisa membaca gerakan bibir orang lain.


Apa semua anak memang pintar seperti ini?


Yah, Lucas tidak tahu, tapi dia merasa bangga dengan kemampuan Syakia.


"Apa perlu dioperasi?" tanya Lucas. Saat ini, mereka berada di dalam ruangan bercat putih dengan aroma khas obat-obatan.


Di sini terasa dingin membuat Syakia terus-menerus menggosok telapak tangannya. Lucas melihatnya dan menyadari jika anak perempuan itu kedinginan. Dia tidak memiliki sesuatu untuk menghangatkannya, tapi dia mempunyai kulit agak panas. Kemudian, pria itu mengambil tangan Syakia. Membungkus tangan anak itu di dalam telapak kedua tangannya sambil mendengar penjelasan pria berjubah putih di hadapannya.


"Tidak harus. Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan. Seperti implan koklea untuk merangsang saraf koklea-nya. Juga rutin terapi wicara. Saya akan memberikan jadwalnya pada Anda."


"Apa pun itu. Selama anak saya sembuh."


Dokter tersebut mengangguk. Kemudian, dia mengambil secarik kertas. Mencoret-coret lembaran putih itu dengan tinta hitam. Lalu, kertas tersebut diserahkan pada Lucas agar dia bisa mengambil obat.


Setelah menunggu beberapa menit, obat yang dia butuhkan selesai. Sebelum menemui Freya, Lucas membawa Syakia berkeliling di mal. Namun, anak itu terlihat tidak menyukainya. Dengan terpaksa, Lucas membawa Syakia ke kafe tempat Freya bekerja.


...****************...


Kacau.


Telepon baru saja dimatikan. Nomor asing itu memberikan tekanan di kepala Lucas.


Dia harus segera kembali ke Jakarta. Urusan darurat itu mesti dia urus secara langsung. Akan tetapi, dia tidak ingin kembali sebelum berhasil membawa Freya dan Syakia.

__ADS_1


Rencana lembut untuk meluluhkan kedua perempuan berbeda usia itu selalu gagal. Saran yang diberikan Daniel terlintas di benaknya, tetapi dua detik kemudian dia langsung menghempaskannya.


Itu terlalu kasar. Lucas tidak bisa melakukannya.


Di dalam kamar hotel, Lucas berjalan bolak-balik dengan tangan berada di dagu. Daniel tidak tahan melihat temannya itu memasang muka suram dan penuh beban. Matanya sakit. Gatal, ingin digaruk. Menganggu fokusnya saja.


"Kalo lo bingung, mending lo telpon bokap lo, deh. Tanya solusi."


Mendengar perkataan Daniel, seketika Lucas berhenti berbalik. Dia diam sejenak sembari berpikir.


Benar juga. Dia belum mengabari ayahnya bahwa dirinya sudah menemukan Freya.


Dengan begitu, Lucas membuka ponselnya lagi. Mencari kontak ayahnya, lalu menekan tombol telepon. Menaruhnya di telinga, menunggu orang di seberang sana menjawab teleponnya.


"Halo?"


"Pa. Aku udah ketemu sama Freya."


Pihak sana terdengar kaget. "Ha? Yang bener kamu? Kapan?"


"Sekitar seminggu lalu."


"Ha?" Lucas menjauhkan ponselnya. Bryan berteriak terlalu kencang.


"Kenapa baru bilang sekarang? Terus gimana? Kenapa kalian belum balik? Di mana kamu ketemunya?"


"Pa. Tenang."


"Tenang apa? Setelah enam tahun baru ketemu. Mana baru bilang sekarang! Bukannya dari kemarin!"


"Iya, Pa. Ini mau aku jelasin."


"Cepat."


Lucas menghela napasnya. Dia melirik ke arah Daniel yang diam-diam menahan tawa karena dirinya dimarahi Bryan. Mengabaikan pria tersebut, Lucas mulai menjelaskan semuanya pada Bryan. Dari awal pertemuannya hingga hari ini.


"Bener 'kan! Dia hamil waktu pergi dari rumah. Papa gak mau tau pokoknya kamu harus bawa menantu sama cucu Papa balik ke Jakarta."


"Mereka gak mau, Pa."


"Makanya jangan dingin jadi orang." Dia menurunkan suaranya, "gini aja. Bilang sama Freya kalo Papa mau ketemu. Udah kangen. Gak mungkin dia nolak kalo udah berhubungan sama Papa."


Lucas diam. Tiba-tiba pikirannya dipenuhi dengan muslihat.


"Pa."


"Ya?"


"Maaf untuk nanti."


"Maksudnya?"


"Pokoknya aku gunain nama Papa untuk bujuk Freya."


"Iya, selama dia mau balik."


"Eum. Dah, Pa."


Telepon terputus.


Di atas tempat tidur Lucas, Daniel mendengus. Dia tahu apa yang dipikirkan oleh Lucas.


Kali ini, Lucas pasti akan berhasil membawa keluarga kecilnya pulang.

__ADS_1


__ADS_2