
Hari ketiga Lucas berada di Yogyakarta, dia masih berusaha membawa pulang Freya. Namun, hari itu adalah hari Minggu. Di mana Freya tidak memiliki jatah shift.
Di hari keempat, Lucas tidak bisa mendatangi Freya karena dia memiliki sesuatu yang harus dilakukan. Meskipun dia pemilik perusahaan FA Ventures, Lucas harus tetap mengawasi bawahannya secara langsung.
Biasanya, dia akan datang ke kantor di pagi hari sebelum seluruh karyawan tiba. Lucas tidak akan meninggalkan kantor jika bukan karena hal yang penting. Saat dia diharuskan ke luar kota, Lucas akan mengawasi bawahannya melalui tangan kanannya yang bertindak sebagai salah satu karyawan biasa di kantor. Dengan melakukan hal itu, dia akan mengetahui kinerja sebenarnya dari seluruh pekerja.
"Lucas. Hp lo bunyi dari tadi. Angkat napa? Ribut banget. Gue gak fokus ngerjain ini. Bokap gue udah ngamuk karena gue belom ngirim perbaikan berkasnya."
Banyak map berserakan di atas kasur tempat Lucas tidur. Daniel tidak peduli ranjang temannya itu kotor ataupun berantakan karena ulahnya. Lucas membawa dirinya ke Yogyakarta di saat perusahaannya tengah berada dalam situasi kacau akibat ulah salah satu karyawan yang membawa kabur uang perusahaan.
Daniel mencoba membereskan masalah tersebut dari jarak jauh. Memperbaiki semua proposal yang harus diserahkan pada perusahaan investor guna memperbaiki keuangan mereka. Akan tetapi, ponsel Lucas berdering sejak 10 menit yang lalu. Mati sejenak dan lima detik kemudian berbunyi lagi.
Lebih baik ponsel itu dibuang ke tong sampah jika pria yang tengah duduk di kursi sambil melihat ke laptopnya itu tidak berniat mengangkat atau mematikan ponselnya.
Lagi. Benda persegi panjang itu berdering kembali.
Daniel bangkit dari tumpukan map tersebut untuk membanting ponsel milik Lucas. Namun, ketika dia melihat nama yang muncul di layar, Daniel meletakkan kembali ponsel Lucas.
"Nyokap lo nelpon."
Lucas menjawab acuh tak acuh sambil mengetik di atas keyboard. "Biarin aja."
"Lo matiin, kek."
"Malas."
"Anj—" Kedua tangan Daniel jatuh di pinggang, "sini gue angkat."
Lucas mengedikkan dagunya. Menunjuk ke arah ponsel yang kembali berdering. "Jangan bilang ada gue."
"Ck. Lo yang punya rencana, gue yang repot."
Walaupun Daniel mengeluh dan berbicara dengan bersungut-sungut, tetapi dia tetap ikut membantu apa pun yang Lucas lakukan.
Mengesalkan, tapi juga menyenangkan.
"Halo, Tan—"
"Kamu, ya! Tiap Mama telepon gak pernah diangkat. Baru ini pertama kali. Kenapa, sih? Mama kan ada keperluan sama kamu. Kapan kamu pulang? Pertunangan kamu sama Aurora gak bisa ditunda lebih lama lagi. Pak Oga udah tanya mulu. Dia udah tua, butuh penerus. Setidaknya, kamu nanti dapat sedikit sahamnya. Lumayan gede itu. Kalo kamu punya anak, bakal lebih banyak lagi."
Daniel menggeser tombol hijau dan menyapa orang yang lebih tua terlebih dahulu. Akan tetapi, belum selesai dia memberi salam, pihak lain telah menyerangnya dengan rentetan kalimat panjang yang jelas bukan ditujukan untuknya.
Malas mendengarnya sendirian, Daniel menjauhkan ponsel Lucas dari telinganya. Kemudian, dia menyalakan pengeras suara agar Lucas juga mendengar omelan Mia.
"Ini untuk kebaikan kamu. Mama tau kamu yang sekarang udah sukses dan mapan, tapi hidup itu keras. Bisa aja kamu jatuh suatu hari nanti. Kalo ada Pak Oga, kamu punya pegangan. Mama gak bisa bantu banyak, perusahaan suami Mama di bawah Pak Oga. Halo? Lucas? Denger Mama gak?"
Daniel dan Lucas saling bertatapan sejenak. Lucas memberi kode untuk menjawab Mia sebelum dia kembali pada laptopnya.
Daniel memasang wajah kesal, tetapi dia mendekatkan ponsel Lucas ke telinganya. Menjawab pertanyaan Mia di seberang sana.
__ADS_1
"Maaf, Tante. Ini Daniel."
Pihak lain terdengar kaget. "Eh? Lucas mana?"
"Dia ... ." Daniel melirik ke arah Lucas yang tampak tidak peduli, "dia lagi rapat dengan pemilik tanah, Tante. Dia nitip hp ke Daniel."
"Oh, gitu. Maaf, ya, Daniel. Tante gak tau. Nanti bilang sama Lucas telpon Tante balik, ya."
Daniel mengangguk kecil. Dahinya tidak gatal, tapi dia menggaruknya dengan jari telunjuknya. "Iya, Tante. Nanti Daniel bilang."
"Makasih, ya."
"Sama-sama, Tan."
Panggilan telah berakhir. Daniel memutar matanya, melihat sosok Lucas yang tiba-tiba menarik sudut bibirnya sambil mengetik.
"Kenapa lo?"
Lucas mendengus. "Gak ada."
"Kayak gue percaya aja." Dia meletakkan kembali ponsel Lucas di atas meja. Lalu, berjalan menuju ranjang. Duduk di pinggiran dengan kedua tangan lurus di belakang tubuhnya.
Daniel menatap ke langit kamar untuk beberapa detik. Kemudian, dia menoleh. Bibirnya membentuk sebuah seringai.
"Nyokap lo belom tau?" tanyanya pada pria di sebelah sana.
Lucas berhenti mengetik. Dia mengalihkan perhatiannya dari layar laptop. Memalingkan wajahnya ke samping. Dia tertawa mengejek. "Kalo dia tau. Mungkin udah pingsan. Lagian, orang kayak nyokap gue itu gak tau kelicikan di dunia bisnis."
Daniel bertanya lagi. "Jadi, kapan lo balik?"
Lucas menyipitkan matanya. Berpikir.
"Kapan?" Daniel mengulangi pertanyaannya lagi.
Kelopak mata Lucas berkedip lembut. Dia membalas pertanyaan berulang Daniel.
"Sampai gue berhasil bawa Freya pulang."
...****************...
Freya mengira dia akan bertemu dengan Lucas lagi hari ini. Mengingat bahwa pria itu adalah pemilik gedung ini.
Waktunya terbuang karena mengkhawatirkan hal yang tak terjadi.
"Hari ini aku balik ke Jakarta."
Aya menjatuhkan kepalanya di atas meja. Wanita itu datang saat waktu kerja Freya telah berakhir. Saat ini, mereka berdua duduk di sudut kafe. Menikmati minuman segar sembari mendengarkan keluhan Aya.
"Kalo kamu gak balik, nanti kamu gak dapat uang." Freya berkata dengan nada bercanda.
__ADS_1
"Iya juga, sih. Malas banget balik. Aku belum mampir ke rumah kamu."
Freya mengaduk minumannya yang tinggal setengah. "Gak papa. Lain kali aja."
Lagi pula dia belum siap memberitahu Aya tentang Syakia. Terutama fakta bahwa sekarang Lucas dan Aya terlibat dalam urusan bisnis.
Aya menyeret dirinya, menegakkan tubuhnya dengan benar. Wajahnya masih kuyu, dia benar-benar malas untuk pulang ke Jakarta.
Setelah berbicara hal-hal yang tidak terlalu penting, keduanya pun keluar dari kafe. Aya berjalan menuju parkiran, sementara Freya berbelok ke kiri di mana supermarket berada.
Mal ini tetap membiarkan supermarket bekerja di dalamnya. Freya berpikir bahwa Lucas sama sekali tidak menghilangkan peluang, bahkan tempat itu menjadi lebih ramai.
"Oh, ada es krim asa? Udah lama gak makan. Syakia mungkin suka juga."
Awalnya, Freya berencana membeli kebutuhannya di sini. Namun, ketika dia masuk, stan es krim ini menarik perhatiannya. Itu adalah es krim kesukaannya, tetapi dia jarang melihat merk tersebut. Mungkin karena tidak banyak peminat. Es krim ini memang memiliki tekstur yang berbeda dengan es krim lain. Tidak lembut, tapi juga tidak kasar. Rasanya benar-benar seperti yang disebutkan di atas bungkusnya.
Jadi, setelah mengambil semua yang dia butuhkan, Freya berjalan menuju stan es krim tersebut.
Freya menggeser pintu kulkas. Melihat-lihat rasa yang ingin dia beli. Ada beberapa pilihan di sana. Freya tidak tahu mana yang disukai oleh Syakia. Anak itu terlihat tidak menyukai apa pun.
"Ada rasa stroberi. Kenapa masih mikir?"
Suara seseorang di dekat telinganya membuat Freya tersentak. Dia menoleh ke samping dan mendapati wajah Lucas berada di dekatnya.
Dia segera menjauh sebanyak dua langkah. "Kenapa kamu di sini?"
Lucas menjawab dengan tenang. "Kenapa? Aku yang punya gedung."
Freya mengeraskan bibirnya. Di samping pahanya, tangan Freya terkepal kuat. Dia tahu Lucas pemilik gedung ini, tapi bukan itu maksud dari pertanyaannya.
Pria ini . . . apa dia sedang pamer? Freya membuang mukanya ke arah lain.
"Gak jadi beli?" tanya Lucas.
Freya tidak menjawab. Melainkan dia berdiri kembali di depan kulkas. Melihat rasa yang ingin dia beli untuk Syakia.
"Kalo bingung. Ambil aja semua rasa."
Tanpa sadar, Freya memutar kepalanya untuk melihat Lucas. Dia ingin mengatakan bahwa saran Lucas ada benarnya, tetapi dia segera menyadari itu dan membalikkan kembali kepalanya.
Freya mengambil satu dari setiap rasa yang ada. Kemudian, tanpa melihat atau mengatakan sesuatu pada Lucas, dia berjalan melewatinya seolah-olah pria itu tidak ada di sana.
"Tolong dihitung, Mbak."
Freya menyerahkan belanjaannya. Setelah dihitung, wanita yang berjaga di kasir berkata padanya bahwa dia tidak perlu membayar dan dirinya bisa langsung keluar karena barang sudah di scan.
"Kenapa saya gak perlu bayar?" tanya Freya. Jelas dia kebingungan sekarang.
"Kata Bos Besar, Anda gak perlu bayar karena Bos yang tanggung." Wanita itu menjawab dengan senyuman lebar di wajahnya.
__ADS_1
Muka Freya semakin berkerut. Dia menoleh ke belakang dan melihat Lucas menyeringai di sana.
Dia menggertakkan giginya karena kesal. Kemudian, Freya memutar badannya dengan cepat. Melihat harga yang tertera di customer display. Setelah mengetahui total belanjaannya, Freya mengambil sejumlah uang di dompetnya. Karena tidak perlu uang kembali, Freya meletakkan uangnya begitu saja di meja kasir. Lalu mengambil belanjaannya dan keluar dari sana tanpa peduli dengan panggilan dari wanita di kasir tersebut.