
Tidak terhitung sudah berapa kali dia termenung hari ini. Semalam, setelah perdebatan mereka . . . Lucas tidak kunjung kembali ke kamar. Pagi tiba pun, Freya tidak menemukan Lucas di sampingnya. Saat Freya turun ke dapur, dia bertemu dengan Bi Surni. Anaknya sudah sembuh dan bisa ditinggal. Jadi, Bi Surni mulai bekerja kembali seperti biasa.
Dia bertanya pada Bi Surni mengenai keberadaan Lucas. Wanita tua itu mengatakan jika Lucas sudah pergi ke kantor satu jam yang lalu. Tentu saja hal itu membuat Freya terkejut. Dia bangun jam tujuh pagi, sementara Lucas yang jarang bangun di bawah jam 10 itu sudah pergi pada pukul enam pagi?
Lucas memiliki urusan yang sangat penting di perusahaan atau dia sedang menghindari Freya?
Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan Freya. Kini, dia duduk di sudut kelas. Termangu memikirkan sikap Lucas yang terkesan sedang menjaga jarak darinya.
Apa aku kelewatan, ya?
"Freya!"
"Ha?"
Freya tersentak oleh kemunculan Aya yang tiba-tiba di depan wajahnya. Wanita itu berteriak memanggil namanya tepat di depan mukanya. Dia terkekeh melihat raut muka Freya yang seperti orang linglung.
"Kamu kenapa?" tanyanya. Dia membiarkan rambut lurusnya jatuh melewati bahu. Freya melihat penampilan Aya hari ini cukup normal dibanding hari lainnya. Kemeja putih dengan dua kancing yang terbuka di atas serta celana kain berwarna hitam membungkus kaki jenjangnya. Dia menarik kursi yang ada di samping Freya. Duduk di sana sambil meletakkan tas selempang abu-abu di atas meja.
Freya terlihat ragu-ragu saat akan menjawab Aya. Dia ingin mengatakan kegundahannya, tapi dia juga tidak ingin memberitahu hubungannya dengan Lucas. Di sampingnya, Aya masih menunggu jawaban Freya dengan setia. Di tangannya terdapat botol air mineral. Sembari menanti respons orang di sebelahnya, Aya membuka tutup botol tersebut dan meminumnya sambil melihat Freya.
"Aku ... ." Freya masih ragu-ragu. Dia butuh seseorang untuk ditanyai solusi tanpa harus mengatakan masalahnya dengan jelas.
Entah karena kehausan, Aya menghabiskan hampir setengah air di dalam botol. Dia menutupnya kembali dengan rapat dan menatap Freya dengan serius.
"Freya, kalo kamu ada masalah bilang aja. Nih, telinga sama otak aku siap menampung." Aya berkata, menunjuk daun telinga dan juga pelipisnya secara bergantian.
Freya tertawa kecil melihat usaha Aya meyakinkan dirinya untuk bercerita. Dia melirik sekilas ke jam yang ada di ponselnya. Sudah lewat 10 menit, tapi dosennya belum masuk. Tidak ada kabar apa pun di grup kelas mereka. Jadi, semua orang akan menunggu selama 20 menit lagi. Jika masih tidak ada kabar, mereka akan pulang.
Berbicara tentang kabar, sampai saat ini Lucas tidak mengirimkan pesan sama sekali untuknya. Freya tidak berani menghubunginya terlebih dahulu karena dia takut jika Lucas memang marah padanya dan terang-terangan mengabaikannya.
"Aku bingung mulai dari mana." Setelah lama menunggu, akhirnya Freya membuka suara. Wanita itu menundukkan kepalanya, menatap ke permukaan meja putih di antara lengannya. Kedua tangannya saling menggenggam di depan sana.
Aya masih menunggunya dengan setia. Tubuhnya dia tarik lebih dekat ke arah Freya.
"Aku . . . eum, Aya. Cara yang bagus untuk baikkan gimana?"
"Kamu berantem sama pacarmu?"
"Ha? Enggak."
Freya masih bingung bagaimana dia harus memulai cerita tanpa menyebut nama Lucas sama sekali. Oleh sebab itu, satu pertanyaan muncul begitu saja dan Aya malah bertanya balik padanya. Sedikit lagi hampir tepat sasaran.
Tanpa sadar Aya terlalu mencondongkan badannya ke arah Freya sehingga ketika Freya menoleh ke samping, wajah temannya ini sangat dekat dengannya. Membuat Freya terkejut dan hampir mendorong kuat muka Aya.
"Kamu jangan gitu, dong. Udah dua kali kamu kagetin aku hari ini," keluh Freya. Terkadang, Aya ini tak jauh beda dengan hantu. Muncul sesuka hatinya dan mengejutkan siapa pun yang dia teriakkan namanya.
"Hehe. Maaf, maaf. Lagian kamu lama banget."
__ADS_1
Freya mengelus dadanya sendiri. Mungkin berbicara pada Aya bukanlah hal yang tepat.
Aya telah menarik kembali tubuhnya sedikit menjauh dari Freya. Dia sepenuhnya memutar tubuhnya dan duduk menghadap Freya. Membuka sedikit lebih lebar kakinya dan menjatuhkan kedua tangannya di antara mereka. Cara dia duduk sekarang terlihat seperti gadis tomboy.
"Jujur aja kali. Gak masalah, kok. Kamu lagi marahan sama pacarmu 'kan? Makanya kamu gundah kayak gini."
Untuk kali ini, Aya tepat sasaran. Kecuali pada bagian "Pacar".
"Ya, gitulah. Jadi, kamu tau cara yang bagus untuk minta maaf? Bukan cuma sekadar kata aja."
Pada akhirnya, Freya mengiyakan apa yang Aya yakini. Selama dia tidak bertanya siapa orang yang dimaksud oleh Freya maka semua akan baik-baik saja.
Aya memutar bola matanya ke atas, terlihat berpikir. Lalu dia menurunkan matanya kembali, melihat Freya. "Maksud kamu kayak ngasih hadiah, gitu?"
Freya memiringkan kepalanya. "Mungkin?"
Kenapa orang ini malah bertanya balik? Freya di sini untuk meminta solusi atas permasalahannya, bukan membantu Aya untuk berpikir.
"Ah!" Aya tiba-tiba menjentikkan jarinya membuat Freya bertanya kebingungan. "Kenapa?"
Dia mendekatkan tubuhnya pada Freya lagi. Iris matanya berbinar dan terlihat agak mencurigakan.
"Kamu kenapa, sih?" Freya mendorong bahu Aya agar sedikit menjauh darinya. Sementara wanita itu tersenyum lebar.
...***...
Larut dalam pikirannya tentang Lucas, tiba-tiba pintu terbuka dan menampakkan sosok Lucas yang berjalan dengan wajah lelah. Jas biru dongker dia letakkan di atas lengan kanannya. Dasi yang mencekik perpotongan lehernya telah dia longgarkan. Lucas berjalan lurus menuju kamarnya tanpa melirik Freya yang telah menunggunya di ruang tengah.
"Lucas." Freya mengikuti Lucas dari belakang, mencoba memanggilnya. Namun, pihak lain tidak memberi respons sama sekali. Biasanya, Lucas akan menjawab dengan gumaman atau melihat ke arahnya.
Freya tidak menyerah, dia mengikuti Lucas sampai mereka berdua masuk ke dalam kamar. Lucas membuka pintu dan tidak menutupnya, membiarkan Freya ikut masuk ke dalam.
"Kamu udah makan malam? Mau mandi dulu?"
"Udah."
Lucas menjawab singkat. Dia mulai membuka kancing kemejanya satu per satu tanpa peduli dengan Freya di belakangnya.
Sebenarnya tidak masalah, hanya saja Freya masih malu melihat Lucas yang tidak memakai pakaian di depannya. Jadi, dia memilih keluar dulu. Menunggu Lucas selesai mandi dan berpakaian.
Setelah dirasa waktunya sudah lewat, Freya membuka pintu secara perlahan dan mengintip ke dalam. Mendapati Lucas tengah duduk di sofa sambil membaca berkas, dia pun memberanikan diri untuk masuk.
Freya berjalan perlahan menghampiri Lucas. Kedua tangannya tergenggam erat di belakang punggungnya. "Lucas," panggilnya lembut.
Lucas tidak menjawab, dia sibuk membaca dan mencoret-coret kertas di dalam map tersebut.
"Minta maaf dengan suara selembut mungkin dan buat muka kamu semenyedihkan mungkin. Biar dia iba liat kamu."
__ADS_1
Suara Aya berputar di kepalanya. Saran pertama yang Aya berikan telah dia lakukan. Namun, Lucas mengabaikannya.
"Lucas." Freya berusaha memanggilnya lagi. Mungkin Lucas merasa terganggu sehingga dia mengalihkan perhatiannya dari berkas-berkas ke Freya sepenuhnya.
Lucas masih tidak mengeluarkan suaranya. Dia bertanya dengan alis yang terangkat satu.
Freya menundukkan kepalanya. Jantungnya tiba-tiba berdetak cepat. Kegugupan mulai menyelimutinya.
"Aku minta maaf, Lucas." Freya sedikit mengintip untuk melihat reaksi Lucas. Namun, dia tidak menemukan perubahan apa pun di wajahnya.
Freya menegakkan kepalanya. Dia melihat Lucas menghela napas ringan.
"Aku kerjain ini dulu."
Lucas menyusun semua map dan menumpuknya menjadi satu. Dia berdiri sambil memegang tumpukan map tersebut.
Lucas hendak berjalan keluar, tapi Freya segera memeluknya dari belakang. Menahan langkah Lucas.
"Kalo gak berhasil dan dia malah pergi. Kamu peluk dia. Kalo masih kurang, cium aja sekalian."
Saran Aya masih menyala di kepalanya. Tidak bisa dia hentikan begitu saja. Akan tetapi, dia berterima kasih atas saran Aya walaupun Freya tidak yakin apakah akan berhasil atau tidak.
Lucas bergeming ketika Freya tiba-tiba memeluknya dari belakang. Dia menunggu tindakan selanjutnya dari Freya.
Wanita itu berkata, "Maaf, Lucas. Aku salah karena gak paham dengan kondisi kamu. Aku minta maaf karena buat kamu makin capek. Jangan marah lagi, ya?"
Lucas melihat ke atas sejenak. Kemudian, dia melempar map-map tersebut ke atas meja. Tidak peduli dengan posisinya yang berantakan.
Dia berbalik dengan cepat dan balas memeluk Freya. Seolah tenaganya yang terkuras habis seharian ini, mulai terisi secara perlahan.
Freya tersentak karena tindakan mendadak Lucas, tapi dia segera menjadi santai dan senang karena Lucas mau membalas pelukannya. Dia mengelus pelan rambut Lucas, tak ada kata lagi yang terucap. Hanya belaian lembut yang dapat dia berikan.
"Kamu wangi." Di sela pelukan mereka, Lucas berkata sambil mengendus raksi yang keluar dari celah leher Freya, "baunya beda. Kamu ganti parfum?"
Lucas melonggarkan sedikit pelukan mereka. Dia melirik Freya yang berada dekat dengan matanya.
Freya mengangguk malu-malu ketika sadar bahwa Lucas tanda dengan bau parfum yang biasa dia pakai. Freya mengganti parfum atas saran Aya. Mereka membelinya saat jadwal mata kuliah pagi itu dibatalkan.
"Kenapa?" Dia berbisik saat bertanya membuat sekujur tubuh Freya merinding.
Freya tidak menjawab, melainkan membuang pandangannya ke arah lain.
Melihat Freya yang diam dan menghindari tatapannya, membuat Lucas tidak sabar dan menarik dagu Freya untuk melihat ke arahnya.
"Kamu tau, Frey? Hari ini aku capek banget." Tangannya yang lain, membelai halus rambut Freya . . . secara perlahan turun ke punggungnya.
Freya menelan liurnya. Seketika dia paham arti dari tatapan sayu Lucas.
__ADS_1