Cold Love

Cold Love
Bab 56. "Untuk Bertahan Hidup, Kamu Harus Lebih Kuat dari Orang Lain!"


__ADS_3

Freya duduk termenung di ruang penyimpanan barang. Dua hari telah berlalu dan dia masih memikirkan fakta yang baru dia ketahui.


Setelah dia mengetahui tentang kehamilannya, Freya langsung meminta izin di keesokan harinya. Dia tidak mengatakan ke mana akan pergi karena Kakek Pati juga tidak bertanya.


Freya pergi ke rumah sakit sendirian dan bertemu dengan dokter kandungan. Selesai diperiksa, dokter tersebut mengatakan jika usia kandungannya sudah memasuki minggu keempat dan memintanya menjaga kesehatan dengan baik.


Freya bingung dan gundah. Walaupun bisa mandiri, tapi Freya tidak pernah benar-benar tinggal sendirian. Dia tidak tahu apakah dirinya bisa mengurus anaknya nanti. Terutama situasinya saat ini tidak menguntungkan. Freya, bahkan tidak tahu apakah Lucas mau memiliki anak dengannya atau tidak.


Dengan wajah kuyu, Freya melihat ke bawah. Memandang perutnya yang masih rata.


"Kamu beneran ada di dalam?"


Tidak ada jawaban. Freya mendengus sambil tertawa. Tiba-tiba dia menjadi konyol dengan bertanya pada bayi yang masih berupa segumpal daging.


Pandangannya bergeser ke arah pergelangan tangannya. Dia melihat gelang putih melingkar indah di sana. Tangan Freya tergerak untuk menyentuh gelang tersebut. Dia menarik benda itu dari tangannya dan mengintip ke bagian dalam.


Seperti kata Lucas di malam dia mabuk untuk pertama kalinya. Di dalam sana . . . terukir huruf L yang cantik.


"Itu artinya . . . kamu milik aku."


Suara serak itu kembali terngiang di telinga Freya. Layaknya bibir Lucas berada di dekat pendengarannya. Freya mendengus. Jika dirinya memang milik Lucas, lalu mengapa dia bersikap dingin dan tidak peduli? Dia, bahkan tidak repot-repot menjelaskan lebih lanjut mengenai hubungannya dengan Aurora. Membiarkan Freya dengan pikiran buruknya sendiri.


Dia menghela napas pelan dan menyandarkan dirinya di samping tumpukan karung beras. Pandangannya lurus ke depan seolah sedang menerawang masa depan. Memikirkan pria itu membuat dadanya sesak. Lebih baik melupakan semuanya dan fokus dengan kehidupan barunya.


"Kayak gak tau harga barang udah naik. Kita pula yang disalahkan. Manusia gak tau apa-apa gitulah. Nyalahin orang lain aja. Asu."


Lamunan Freya pecah begitu saja saat mendengar salah satu karyawan toko berteriak kesal. Dia buru-buru memasukkan gelang itu ke dalam saku celananya. Tidak ingin memakainya lagi.


Kain yang menutup pintu ruang penyimpanan pun dibuka olehnya. Wanita bertubuh gemuk dengan bibir setipis silet yang dia warnai dengan gincu merah itu terlihat berang. Mulutnya tidak bisa berhenti diam. Berkata ini dan itu, tetapi tidak jelas kepada siapa dia menujukan semua kata makian itu.


Freya menegakkan duduknya. Dia mendongak untuk melihat wanita yang memiliki usia jauh di atasnya itu.


"Kenapa, Mbak Leli?"


Wanita yang dipanggil Leli itu melihat ke arah Freya. Kedua tangannya menopang di pinggang. "Kowe tau? Tadi ada yang beli beras. Nah, bulan ini harga beras lagi naik. Ya, kita kan yang jualan otomatis menaikkan harga. Masa kita gak dapat untung. Itu orang malah marah-marah. Yo, aku gas lah. Marahi balik. Enak aja salahin toko kita."


Leli kembali mengamuk ketika bercerita tentang kejadian beberapa waktu sebelumnya. Dagunya terangkat ke atas, tangannya bergerak bebas, tidak bisa diam di tempat. Leli menggebu-gebu saat dia menjelaskan.


Freya tersenyum tipis. Selama lebih dari seminggu dia bekerja di sini, Leli adalah orang yang paling tidak sabaran dan penuh emosi. Terkadang, Freya harus menyiapkan jantungnya agar tidak terkejut dengan ledakan suara dari Leli. Saat dia bertanya pada Paijo—salah satu karyawan di toko— apakah memang karakter Leli seperti itu sejak awal . . . Paijo menjawab bahwa Leli adalah orang yang baik dan lembut, tetapi setelah dia ditipu oleh sahabat dekatnya hingga dia kehilangan pekerjaan dan juga calon suaminya, Leli berubah menjadi pribadi yang keras dan tidak pernah percaya pada orang lain. Leli tidak akan membiarkan dirinya diinjak-injak oleh orang lain lagi. Dia, bahkan tidak ingin menikah sampai kapan pun.


Freya tidak membalas ataupun menenangkan Leli dengan berkata "Gak papa. Sabar aja, namanya juga pelanggan". Wanita itu akan semakin murka dan mengoceh panjang lebar. Tidak tahu kapan dia akan berhenti. Di sini, Paijo yang paling sering menjadi korban dari kemurkaan Leli.


Namun, Freya yakin Leli adalah orang yang baik. Dia dapat melihat dari sikap Leli yang peduli dan mengajarinya dengan baik, padahal dirinya baru saja bekerja di sana.


"Hah. Capek juga teriak-teriak."


Freya menahan tawanya. Gak ada yang suruh teriak, Mbak.

__ADS_1


Leli mendecakkan lidahnya. Setelah membuang kuat napasnya, dia berbalik melihat Freya yang duduk di bawah.


"Kowe udah selesai?"


Awalnya, Freya tidak tahu apa arti Kowe yang selalu disebut oleh Leli. Namun, setelah memperhatikan dengan baik maksudnya, Freya baru paham bahwa kata kowe itu ditujukan untuknya alias kamu dalam bahasa Jawa.


Freya melihat ke sekitarnya. Kemudian, dia berkata pada Leli. "Udah, Mbak."


"Jaga kasir, ya. Aku mau itung pemasukan bulan ini."


Freya mengangguk, kemudian dia pergi keluar untuk menjaga kasir.


Sebelum Freya datang bekerja ke toko ini, ada sekitar empat karyawan. Dua laki-laki dan dua perempuan. Seseorang yang bernama Putri telah mengundurkan diri karena dia telah selesai kuliah di Yogyakarta dan mendapatkan tawaran kerja di kota lain. Oleh karena itu, toko ini kekurangan pekerja.


"Mau beli apa, Bu?"


Seorang wanita paruh baya dengan gelang emas berserakan di kedua tangannya, masuk ke dalam toko sambil melihat-lihat ke sekitar. Di belakangnya, ada dua pemuda yang sepertinya adalah bawahan wanita tersebut.


Setelah selesai melihat-lihat, wanita itu pun menunjuk semua yang ingin dia beli. Tiga karung beras, dua kotak sirup, dan bahan makanan lainnya.


"Oh, sama satu kilo kacang ijo."


"Baik, Bu. Sebentar, ya."


Freya pergi untuk mengambil kacang hijau, kemudian dia kembali ke meja kasir untuk menimbang beratnya. Setelah dirasa cukup, dia pun mengikatnya dengan karet gelang.


"Eh? Tunggu, tunggu."


Orang tua itu mendekat. Matanya menyipit saat melihat ke tangan kiri Freya. Kemudian, matanya melebar. Dia berteriak sambil menunjuk-nunjuk tangan Freya.


"Heh! Kenapa jari kamu? Aduh! Geli saya liatnya. Lepas-lepas! Eh, Jono. Pergi ambil yang lain. Ora sudi aku makan bubur bekas tangan dia. Cepat ambil."


Freya terdiam begitu mendengar hinaan yang sangat jelas ditujukan untuknya. Terakhir kali yang menghinanya adalah Mia. Apa semua orang tua suka mengatai fisik orang lain seperti ini?


Freya, bahkan tidak mengaduk kacang hijau tersebut. Jari-jarinya sama sekali tidak menyentuh sebutir pun. Dia hanya menaruhnya menggunakan gelas plastik, lalu mengikatnya dengan karet. Apa yang salah dengan itu?


Sekali saja dia ingin memukul orang-orang yang menghina fisiknya, tapi ketika dia memikirkan itu, wajah orangtuanya muncul. Membuat Freya menarik napas dan memikirkan ulang keinginannya itu.


Dia harus bersabar, sampai batas kesabarannya habis sendiri. Ketika saat itu tiba, dia akan menghajar siapa pun yang berani menghina fisiknya.


"Lho? Kenapa balik lagi? Tadi kowe bilang di sini mahal. Udah marah-marah, tetap juga beli di sini."


Freya melihat Leli keluar dari ruangan khusus karyawan. Wanita itu mendengar suara teriakan seseorang di depan. Karena penasaran, dia pun keluar untuk melihat dan ternyata itu adalah pembeli sebelumnya yang membuat Leli kesal.


"Kenapa emang kalo aku beli di sini? Gak suka kowe?"


"Sakarepmu lah. Jadi, siapa tadi yang teriak, Freya?"

__ADS_1


Freya tidak menjawab, melainkan menunjuk wanita tua itu dengan matanya.


Leli berjalan lebih dekat. Dia menaruh lengannya di atas meja kasir. Bersandar sambil melihat sinis pada wanita tersebut.


"Apa kowe katai dia? Kenapa emang kalo jarinya gak lengkap? Urusanmu?" Leli bertanya dengan raut santai, tapi intonasinya tidak sama seperti ekspresi wajahnya.


Wanita itu membalas dengan dagu terangkat. "Iyalah. Aku belanja di sini. Liatnya aja udah geli, apalagi dipegang makananku."


"Mukamu lebih geli orang liat. Tangan penuh sama emas. Belom aja dibegal. Abis kowe."


"Bilang aja kowe iri."


"Matamu iri. Gak butuh aku gelang kayak kowe."


"Dih, dih. Orang miskin emang gak pernah ngaku."


"Dah dih dah dih. Ku sumpahi kowe nasibnya jadi kayak aku."


"Huh! Mustahil. Keluargaku kaya. Harta gak habis tujuh turunan."


"Kowe keturunan ke delapan. Bentar lagi bakal abis. Apalagi kowe yang suka buang-buang duit."


"Cangkemmu!"


"Kenapa mulutku? Tajam kayak silet?"


Dada wanita itu naik turun setelah mengeluarkan amarahnya. Dia melihat pada dua bawahannya. "Letakkan semua ke mobil. Tio, ambil ini uang. Bayarkan!"


Sesudah itu, dia pun keluar dengan kaki yang terhentak di tanah. Seseorang yang bernama Tio datang ke kasir dan membayar semua belanjaan wanita itu.


Freya masih bingung dengan pertengkaran yang terjadi antara Leli dan wanita tadi. Awalnya, mereka berdebat tentang dirinya. Akan tetapi, lama-kelamaan masalah tersebut berubah menjadi hinaan satu sama lain.


"Gak masalah bicara kayak gitu sama pembeli?" tanya Freya.


"Halah! Nanti dia juga balik lagi. Di toko ini yang paling murah. Mau pergi ke mana lagi dia kalo bukan ke sini."


Freya mengangguk paham sambil melihat ke luar.


"Freya!" Leli tiba-tiba berteriak sambil menggebrak meja.


Freya tersentak. Dia spontan menjawab dengan suara yang keras. "Iya, Mbak!"


"Kowe, ya. Dengerin aku. Besok-besok kalo ada pelanggan yang kasar kayak gitu, jangan diam. Untuk bertahan hidup, kita harus lebih kuat dari orang lain. Jangan mau diinjak, apalagi dihina kayak tadi. Gak perlu takut dengan mereka. Kalo mereka bisa semena-mena, kita juga bisa."


Freya termenung sejenak. Masih memproses nasehat Leli yang begitu cepat dan kuat.


"Paham, Freya?" tanya Leli lagi.

__ADS_1


Freya mengangguk pelan. Setidaknya, apa yang Leli katakan benar.


Untuk hidup di dunia yang kejam ini, seseorang harus menjadi lebih kuat dibanding yang lainnya.


__ADS_2