Cold Love

Cold Love
Bab 76. Pulang Yang dimaksudkan


__ADS_3

Makan siang berlalu dengan celotehan Bi Surni, wanita tua itu sangat merindukan Freya sampai dia tidak bisa berhenti bertanya tentang kehidupan nona-nya selama ini.


Freya berdiri di luar sambil melihat tanaman-tanaman yang dulu dia tanam, tapi dia tidak yakin apakah itu tanaman yang sama atau sudah diganti.


Sebelumnya, dia berpikir akan menghabiskan banyak waktu untuk pergi ke Jakarta sehingga dirinya harus menginap. Oleh karena itu, dia membawa pakaian ganti. Namun, dirinya baru mengetahui bahwa mereka pergi menggunakan pesawat saat sudah tiba di bandara.


Di sebelahnya, Syakia menarik baju Freya. Wanita itu mengalihkan perhatiannya, menunduk melihat Syakia.


"Kenapa, sayang?"


Syakia membuat gerakan isyarat yang sederhana. "Kapan pulang?"


"Bentar, ya."


Lalu, Freya masuk ke dalam dan mencari Lucas. Dia melihat pria itu tengah berbicara di telepon. Freya menunggu hingga Lucas selesai dengan urusannya.


Setelah selesai, Lucas berbalik. Dia mengangkat sebelah alisnya saat melihat Freya.


"Kenapa?"


"Tas aku mana?"


Lucas memiringkan kepalanya. "Kenapa? mau ganti baju?"


Freya mengerutkan keningnya. "Gak. Aku sama Syakia mau pulang."


Lucas tertawa kecil. Dia berjalan dengan santai mendekati Freya. "Ini kan udah pulang."


Freya mendecakkan lidahnya. Malas bermain-main dengan pria di depannya ini. "Lucas, aku serius. Aku harus pulang. Besok aku kerja. Hari ini aku udah izin. Syakia juga besok sekolah, gak lama lagi dia ujian."


Lucas membalas, "Aku juga serius. Ini kan rumah kamu. Untuk pekerjaan, itu mal punya kamu. Ngapain kamu kerja lagi? Syakia juga udah aku pindahin ke sini." 


Mulut Freya terbuka. "Tunggu, maksudnya? Gedung itu kan punya kamu. Kok malah jadi punya aku?"


"Karena aset punya Papa kamu aku olah. Salah satunya gedung itu. Kamu gak perlu lagi kerja, uang kamu udah banyak."


Awalnya, Lucas tidak ingin mengatakannya pada Freya karena dulu, dia masih berusaha mengembangkannya. Namun, karena sekarang dia sudah berhasil, menurutnya tidak perlu ditutupi lagi dan sudah waktunya Freya tahu.


Pikiran Freya mendadak kacau. Tiba-tiba dia tidak bisa mengolah kalimat Lucas.


Aset milik ayahnya dikelola Lucas? Lalu, apa yang dikatakan oleh Mia itu benar atau salah?

__ADS_1


Larut dalam pikirannya, Freya tersentak karena Syakia menarik ujung bajunya. Dia menunduk, bertanya pada Syakia. Bocah itu menatapnya bingung dan tersirat kekhawatiran dalam pandangannya.


Anak itu menggerakkan tangannya. Bertanya, "Bunda kenapa?"


Karena pikirannya tengah kacau, dia tidak tahu apa yang ditanyakan Syakia. Lalu, anak itu menunjuk Lucas dan membuat isyarat lagi.


"Dia bikin Bunda nangis lagi?"


Lucas tidak tahu mengapa dia ditunjuk seperti itu, tetapi dilihat dari muka Syakia, Lucas merasa anaknya itu tengah menuduhnya yang tidak-tidak.


Saat Lucas hendak memegang lengan Freya, bocah itu langsung berdiri di depan Freya untuk menghalangi Lucas.


Benar dugaan Lucas bahwa Syakia berpikiran buruk padanya.


Lucas berjongkok. Mensejajarkan dirinya dengan Syakia. Bibirnya sengaja dia pelankan di setiap katanya agar Syakia bisa membaca gerakan bibirnya. "Apa pun yang kamu pikirin sekarang, Ayah gak kayak gitu." Dia melirik Freya yang masih kebingungan. Kemudian melihat Syakia lagi. "Kamu tenang aja, ya." Lalu, dia mengusap rambut Syakia dengan lembut.


Lucas berdiri. "Udah. Kalian istirahat aja."


"Tapi—" Freya ingin membantah, tapi Lucas memotongnya.


"Frey. Kamu gak kasian liat Papa yang merasa bersalah kayak gitu?"


"Oke, tapi aku satu kamar dengan Syakia."


Lucas mengangguk. Dia sudah menduganya. "Iya. Kamarnya di atas. Di samping kamar . . . kamu tau yang mana 'kan?"


Lucas bertanya dengan sudut bibir yang terangkat. Freya tahu jika pria itu berusaha memancingnya.


Freya mendengus. "Jelas tau. Kenangan pahit susah dilupain."


Lucas terdiam mendengar perkataan Freya. Dia tidak menyangka wanita itu akan membalasnya seperti itu.


"Ayo, sayang."


Mengabaikan raut terkejut Lucas, Freya mengajak Syakia pergi ke kamar mereka untuk beristirahat.


Sementara itu, Lucas baru tersadar dari keterkejutannya. Dia menunduk, sebelah tangannya memegang dahi. Menutupi sebagian wajahnya.


Perlahan, bibirnya menarik sebuah senyuman. Perasaan geli muncul di dalam dirinya.


Melihat istrinya yang telah berubah itu, entah mengapa membuat Lucas tertarik. Di satu sisi dia merasa bangga karena Freya menjadi lebih kuat, tapi di sisi lain dia merasa aneh. Tidak terbiasa dengan sifat barunya.

__ADS_1


Ah, tapi tidak masalah. Selama dia bisa mendapatkan cinta Freya kembali.


...****************...


Freya membuka pintu kamar.


Di dalamnya terlihat rapi dan seperti baru dibersihkan. Mungkin Bi Surni selalu melakukannya agar kamar ini bisa dipakai kapan saja.


Di belakangnya, Syakia menarik baju Freya lagi. Anak itu bertanya dengan gerakan tangannya tentang mengapa mereka belum pulang juga.


Freya menutup pintu. Membawa Syakia duduk di pinggiran kasur. Dia melihat putrinya dengan lembut sambil menyisir rambut depan Syakia dengan jari telunjuknya.


Freya melihat tasnya diletakkan di atas meja. Dia bangkit untuk mengambilnya. Kemudian, memeriksa apakah alat bantu dengar milik Syakia ada di dalamnya.


Setelah menemukan benda tersebut, Freya berjalan kembali menuju Syakia. Memberikan benda itu untuk dipakai oleh anaknya.


"Udah?"


Syakia mengangguk. Freya membetulkan kembali posisi tubuhnya. Dia bersimpuh di depan Syakia sambil memegang kedua tangan anak itu.


"Syakia. Dengerin Bunda, ya. Yang selama ini datang itu adalah ayah kamu. Terus, yang tadi di dalam kamar itu adalah kakek kamu. Kita belum bisa pulang karena Kakek lagi sakit. Jadi, kita di sini untuk sementara, ya?"


Kening Syakia berkerut. Kepalanya miring tanda bahwa dia tidak terlalu mengerti.


"Ayah?" tanyanya dengan gerakan isyarat.


Freya mengangguk. Syakia bertanya lagi. "Kalo dia ayah Syakia, kenapa bikin Bunda nangis?"


Freya diam. Anak ini masih kecil, tapi dia peka terhadap sekitarnya. Walaupun Syakia terlihat pendiam, tapi dia mengerti tentang apa yang dirasakan oleh orang lain.


"Ada masalah sedikit. Gak papa, kok."


"Kalo Bunda nangis lagi, jangan dekat-dekat dia."


Syakia memasang muka garang, tapi di mata Freya itu terlihat imut. Dia tertawa kecil.


"Iya. Bunda gak dekat-dekat."


Syakia ikut tersenyum dan melompat ke pelukan ibunya. Menepuk-nepuk punggung Freya seperti yang dilakukan oleh ibunya ketika menenangkan dirinya.


Di dalam hati kecilnya, Freya benar-benar bersyukur memiliki anak seperti Syakia. Apa pun yang terjadi, dia akan melindungi anaknya dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2