Cold Love

Cold Love
Bab 75. Membawanya Pulang


__ADS_3

Setibanya di Jakarta, mereka dijemput oleh dua mobil. Daniel masuk ke mobil yang kedua datang. Sebelum menutup pintu, Daniel membuat isyarat "sampai jumpa" pada Syakia.


Syakia dan Freya hanya melihat Daniel tanpa mengatakan apa pun. Lalu, Lucas muncul sambil mengajak Freya masuk ke dalam mobil.


Sekitar jam 10 pagi, mereka tiba di rumah. Ketika mobil memasuki pekarangan rumah, Freya kembali bernostalgia. Sudah enam tahun, tapi rasanya tidak ada yang berubah di halaman depan.


Bi Surni yang tengah menyiram tanaman segera berhenti ketika melihat mobil tuannya masuk. Wanita paruh baya tersebut meletakkan selang air dan pergi untuk membantu mengangkat barang.


"Sini, biar saya bantu."


Freya baru saja turun dan hendak mengambil tasnya, dia menjawab tanpa menoleh ke belakang. "Gak usah, Bu. Biar—eh? Bi Surni?"


"Loh? Nona Freya?"


Keduanya saling terkejut saat melihat satu sama lain. Dengan perasaan rindu yang membuncah, Bi Surni melompat ke arah Freya. Memeluk wanita itu seperti anaknya sendiri.


Bi Surni berkata dengan air mata yang mengalir. "Nona ke mana aja? Pergi gak bilang-bilang. Orang rumah semua khawatir."


Freya hanya diam, menepuk-nepuk pelan punggung Bi Surni sembari mendengarkan berbagai macam kalimat keluhan dan kekhawatiran yang tengah diutarakannya.


"Maaf." Dia berkata sambil melepaskan pelukan mereka. Bi Surni mengusap air matanya. "Tapi, Nona baik-baik aja 'kan?"


"Iya, baik. Bi Surni sehat 'kan?"


Wanita itu mengangguk meski dirinya masih sesenggukan.


Saat tengah menghapus air matanya, Bi Surni baru menangkap sosok anak kecil di samping Freya. Keningnya berkerut.


"Loh? Anak siapa ini?" Lalu, dia melihat Freya. "Nona nikah lagi?"


Freya ragu. Dia tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya. Terlebih lagi di depan Lucas.


"Dia anak kami." Lucas muncul dan berkata. Bi Surni terlihat bingung. Sebelum wanita itu bertanya lagi, Freya buru-buru mengalihkan pembicaraan.


"Papa mana, Bi? Udah baikan?" Belum hilang kebingungan sebelumnya, pertanyaan Freya menambah kebingungan Bi Surni.

__ADS_1


"Tuan baik-baik—" 


"Papa di kamar."


Freya dan Bi Surni sama-sama melihat Lucas. Pria itu berkata lagi. "Bi Surni, tolong siapin makanan untuk Freya dan Syakia."


Bi Surni ingin berbicara, tetapi tatapan Lucas mengisyaratkan dengan tegas bahwa dirinya tidak boleh mengatakan apa pun dan harus segera melaksanakan tugasnya.


Pada akhirnya, wanita tua tersebut mengangguk dan meminta izin untuk pergi ke dapur.


Setelah Bi Surni pergi, Lucas mengambil tas dari tangan Freya. Membuat wanita itu menatapnya tajam.


"Ngapain?"


Lucas tidak menghiraukannya. Melainkan menaruh tas tersebut di pundaknya. "Ayo, masuk."


"Itu tas aku. Balikin!" Namun, Lucas tidak peduli dan dia masuk terlebih dahulu.


Diabaikan seperti itu membuat Freya lelah. Dia terlalu malas untuk berteriak-teriak. Jadi, dia memilih untuk menyusul Lucas yang sudah berjalan ke dalam.


...****************...


"Ya." Dia menyahut dengan malas.


"Pa. Ini aku."


Mendengar suara Lucas. Secara refleks, Bryan melempar ponselnya ke sembarang arah hingga benda tersebut hampir terjatuh dari kasur. Dia bergegas menarik selimut sambil menyuruh Lucas masuk.


Lucas membuka pintu. Dia mengintip sebentar, lalu memasukkan seluruh tubuhnya ke dalam kamar. Kemudian, dia meminta Freya dan Syakia untuk mengikutinya.


Bryan berpura-pura batuk sambil bangkit dari tidurnya. "Kamu udah balik?"


"Iya, Pa."


Bryan mencoba untuk duduk dengan benar, matanya berkedip-kedip melihat ke arah Lucas.

__ADS_1


Freya jalan pelan-pelan mendekati Bryan. Dia agak ragu karena dirinya merasa bersalah. Bryan hanya melihat tanpa berkata apa pun. Sementara itu, Lucas pergi menutup pintu dan kembali mendekati mereka.


Lucas berkata, " Pa, aku udah bawa pulang mereka."


Freya melihat Lucas sekilas. Lalu dia melihat Bryan lagi. Keraguan itu masih ada. Awalnya, Freya berniat menyapa saja dan langsung keluar. Namun, ternyata Bryan menarik tangannya dan memeluk dirinya dengan erat.


Bryan berbicara dengan sendu. "Akhirnya kamu pulang. Papa merasa bersalah sama Zehan karena Papa gak bisa jagain kamu. Papa minta maaf kalo Papa kurang perhatian sama kamu. Papa minta maaf juga karena enggak bisa didik Lucas dengan benar."


Pada kalimat pertama, Bryan berkata dengan tulus dari hatinya. Namun, di kalimat terakhir dia menujukan hal itu untuk Lucas sambil melotot ke arah putranya.


Freya membalas sambil berusaha keras menahan air matanya. "Aku gak pernah salahin Papa. Ini emang kemauan aku. Udah, ya. Ini bukan salah Papa."


Bryan mengangguk pelan. Kemudian melepaskan pelukan mereka. Lalu, dia melihat ke samping Freya dimana terdapat seorang bocah perempuan menatapnya dengan mata bingung.


"Ini cucu Papa? Mirip banget sama Lucas waktu kecil."


Freya melirik Syakia, kemudian menatap Lucas. Mereka memang mirip dan Bryan sudah mengatakannya dengan jelas. Dia tidak bisa berbohong lagi.


"Iya, Pa," jawabnya pelan.


Bryan tersenyum lebar dan langsung memeluk Syakia. Mengatakan kata-kata rindu dan juga permintaan maaf karena tidak bisa menjaganya dengan baik.


Setelah berbicara ini dan itu bersama Bryan, mereka pun keluar. Membiarkan Bryan beristirahat di kamar.


"Aku mau balik. Papa udah mendingan." Freya berkata begitu mereka berada di luar.


"Kenapa buru-buru? Makan dulu."


"Belum lapar."


"Tunggu lapar."


"Gak bi—"


"Nona Freya! Ayo, makan dulu. Udah mau jam 12. Saya udah masak banyak. Kesukaan Nona Freya semua itu. Ayo, ayo!"

__ADS_1


Freya hendak menolak, tapi saat mengetahui Bi Surni banyak memasak untuknya membuat dia tersentuh.


Oleh sebab itu, Freya menunda kepulangannya dan pergi makan bersama dengan Bi Surni sebagai rasa terima kasihnya.


__ADS_2