Cold Love

Cold Love
Bab 38. "Cocok Atau Tidak, Itu Urusanku!"


__ADS_3

Rasanya seperti mimpi.


Semalam, mereka benar-benar melakukannya.


Tangan hangat yang menyusuri setiap detail tubuhnya masih terasa hingga sekarang. Kecupan-kecupan lembut jatuh dan melekat di pikiran Freya. Lucas memperlakukannya dengan baik. Tidak terburu-buru dan penuh kehati-hatian.


Mereka selesai dengan Freya yang tertidur di atas lengan Lucas.


Ini adalah yang pertama untuk Freya. Rasanya sakit, tapi dia harus pergi kuliah hari ini. Dia tidak ingin libur sama sekali. Uang semesternya tidak murah, Freya tidak mau menyia-nyiakan kebaikan Bryan.


Cahaya matahari mulai menerobos ke celah-celah gorden. Freya membuka matanya pelan dan mendapati wajah Lucas berada dalam jarak dekat dengan dahinya.


Freya terkesiap. Hampir mendorong tubuh Lucas agar menjauh darinya.


Dia belum terbiasa dengan situasi ini. Mengingat kejadian semalam membuatnya malu sampai ke dasar.


Freya bangun dengan hati-hati. Berusaha untuk tidak mengganggu tidur Lucas. Setelah berhasil melepaskan diri dari lengan Lucas, Freya mengambil bajunya yang jatuh ke lantai. Memakainya cepat, lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Freya turun ke dapur setelah berpakaian rapi. Di sana dia melihat Bi Surni tengah membuat sarapan.


"Pagi, Bi."


Freya menyapa wanita paruh baya itu. Bi Surni memutar sebagian tubuhnya untuk membalas sapaan Freya. Kemudian, kembali melanjutkan kegiatannya.


Freya berjalan menuju kulkas. Menarik pintu agak kuat, lalu mengambil beberapa bahan makanan setelah terbuka. Sesudah mengambil apa yang dia butuhkan, dia menutupnya kembali.


Selama dia memasak sarapan untuk Lucas di pagi itu, Freya tidak bisa menghentikan ingatan yang sibuk memutar-mutar memori semalam. Menyebalkan karena dia tanpa sadar senyum-senyum sendiri, membuat Bi Surni menatapnya dengan curiga.


"Nona Freya kayaknya lagi senang," katanya.


Alis wanita tua itu terangkat-angkat, menggoda Freya dengan permainan matanya.


Freya memutar tubuhnya, menghindar dari Bi Surni. Dia menjawab malu-malu. "Gak, kok."


"Ah, yang bener?" Bi Surni semakin menggodanya. Mendorong Freya untuk mengakui apa yang dia rasakan.


"Bener, Bi."


Wanita tua itu mengangkat tinggi alisnya, bibir bawahnya maju ke depan, menunjukkan ekspresi jika dia tidak percaya sama sekali.


Tidak lagi mengganggu nona mudanya, Bi Surni memilih untuk membuang sampah ke luar.


Freya baru selesai membuat bekal untuk Lucas. Dia mengambil kotak makanan dan menyusunnya dengan rapi. Setelah itu, dia menutupnya rapat dan memasukkannya ke dalam tas dari kotak tersebut.


Saat Bi Surni kembali ke dapur dia memintanya untuk membangunkan Lucas jam 10. Lelaki itu harus pergi ke perusahaan pada jam 12, sementara Freya memiliki kelas jam delapan pagi. Oleh karena itu, dia meminta bantuan Bi Surni.


Setelah mendapat anggukan dari Bi Surni, Freya pun pergi menggunakan taksi. Dia tidak sanggup berjalan ke halte bus hari ini. Beruntung, beberapa taksi sering lewat di sekitaran rumahnya.


Setibanya di kelas, Freya langsung disuguhi dengan pemandangan yang mengesalkan.


Freya tidak pernah tahu jika teman-teman sekelasnya mengikuti berita antara Lucas dan Aurora. Di tengah-tengah kelas, mereka membentuk kerumunan dan bergosip di sana. Bersuara dengan besar karena mereka tahu, baik Lucas maupun Aurora tidak berada di kelas yang sama.


Freya duduk di kursi paling depan pojok kanan. Dari tempat duduknya, Freya masih mendengar dengan jelas apa saja yang mereka bahas.


Sebagian dari mereka setuju jika Lucas dan Aurora memiliki hubungan. Keduanya sama-sama menawan, walaupun dari segi sifat sangatlah berbeda. Namun, hal itulah yang akan melengkapi diri mereka. Sementara sebagiannya lagi tidak setuju karena mereka tidak ingin Lucas bersama orang lain.

__ADS_1


Mendengarnya saja membuat kuping Freya sakit. Akan tetapi, dia teringat dengan apa yang Lucas katakan semalam.


'Lain kali, jangan percaya orang lain.'


Jangan percaya orang lain.


Ya, Freya hanya cukup percaya pada Lucas. Jika suaminya mengatakan mereka tidak memiliki hubungan apa pun, maka itu benar dan dia harus memercayainya.


...***...


Proyek yang dipegang oleh Lucas akan selesai sebentar lagi. Hari ini mereka akan melakukan rapat lagi di perusahaan Pak Oga.


Akhir-akhir ini, Pak Oga sering menyuruh dia dan timnya mengadakan rapat di sana. Sejak hari di mana mereka pertama kali membuat rapat di perusahaan Pak Oga, pria paruh baya itu mungkin merasa keenakan dan menyuruh mereka untuk melakukan pertemuan di sana.


Yah, Lucas juga tidak bisa membantah. Orang ini tidak ada bedanya dengan atasan Lucas. Uang dan kuasa memang sulit dilawan.


Dia tiba di sana 15 menit lebih awal. Belum ada satu pun anggotanya yang datang, bahkan Pak Oga pun belum tiba di kantor.


Jadi, Lucas memutuskan untuk pergi ke kantin yang ada di sebelah gedung perusahaan. Dia membawa bekal yang dibuat oleh Freya. Waktu untuk makan siang sudah berlangsung sejak satu jam yang lalu. Sambil menunggu yang lain, Lucas bermaksud untuk makan dahulu sebelum memulai rapat.


Mata Lucas bergerak-gerak, mencari kursi yang kosong dan pas untuk dia duduki. Selagi mencari, terdengar suara yang memanggilnya dari belakang.


"Lucas!"


Lucas memutarkan tubuhnya. Seketika suasana hatinya berubah menjadi buruk. Dia menyesal karena berbalik, seharusnya dia pura-pura tidak mendengar panggilan itu tadi.


Orang yang memanggilnya itu berjalan menghampirinya bersama dengan seseorang di belakangnya. Orang itu bertanya pada Lucas dengan riang.


"Lucas, ngapain kamu di sini?"


Lucas sama sekali tidak ingin menjawab, tapi karena ada orang lain di dekat mereka, dia pun terpaksa memberi respon.


Orang itu tersenyum canggung mendapat jawaban singkat dari Lucas. Namun, dia masih tetap mengajaknya berbicara.


"Kebetulan banget ketemu di sini, Mama mau kenalin kamu sama dia."


Mia melihat ke belakang dan menarik tangan orang lain di belakangnya untuk berdiri di sebelahnya. Mia memperkenalkan wanita itu penuh semangat.


"Dia Aurora. Anak bungsu Pak Oga. Seumuran kamu, lo."


Mia tertawa senang. Dia melihat Aurora, lalu berganti melihat Lucas.


Lucas memandang keduanya dengan kelopak mata setengah terbuka. Dia berujar datar. "Aku udah kenal."


Senyuman Mia mendadak membeku. Dia melebarkan matanya dan menatap Aurora di sampingnya.


"Eh? Kamu udah kenal Lucas?"


Aurora mengangguk malu-malu. Lucas memperhatikan wajahnya yang sudah mulus kembali. Sepertinya dia menggunakan banyak bedak untuk menutupi lebam-lebam itu.


"Kenapa gak bilang?" Senyuman Mia kembali terbentuk, bahkan lebih lebar dari sebelumnya. Aurora hanya tersenyum kikuk di sebelahnya.


Dia melihat Lucas dengan kedua telapak tangan menyatu di pertengahan leher dan dada.


"Bagus kalo kalian udah saling kenal. Ngomong-ngomong, gimana kalian bisa kenal?"

__ADS_1


Melihat air muka Lucas yang terlihat jelas bahwa dia tidak berminat untuk menjawab, Aurora pun mengambil langkah. Dia berkata, "Kami satu fakultas, Tante. Sering sekelas juga."


Mia tampak semakin senang. Melihat ibunya ingin bertanya lebih banyak, Lucas segera mengajak Aurora untuk pergi ke ruang pertemuan karena waktu sudah lewat.


Aurora melihat keduanya dengan canggung. Lalu mengangguk dan meminta izin pada Mia untuk pergi.


Wanita itu mengangguk senang dan membiarkan keduanya pergi.


Selesai rapat, Mia buru-buru mencari Lucas dan menariknya ke tempat sepi untuk berbicara.


"Apa lagi?" tanya Lucas dingin. Sejak Mia dan Bryan bercerai, nada bicara Lucas tidak pernah ramah sama sekali ketika berbicara dengan Mia.


Wanita itu ingin memarahinya, tetapi mengingat tujuannya saat ini, Mia menelan kembali kata-katanya.


Dia memilih untuk mengatakan tujuannya menarik Lucas ke koridor yang sepi.


"Kamu dekat dengan Aurora?" tanya Mia.


Alis Lucas bergerak sekilas. Dia merasakan sesuatu yang tidak baik dari pertanyaan itu.


"Gak." Lucas menjawab tanpa berpikir panjang.


Mia diam sejenak, seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu, dia berkata dengan buru-buru.


"Gak masalah, nanti kalian bakal dekat sendiri. Selama sering bersama."


Lucas memicingkan matanya. Dia merasa tebakannya itu benar. Dia bertanya langsung ke intinya pada Mia.


"Mama mau jodohin aku sama dia?"


Mia mengangguk cepat. "Lucas. Ini kesempatan yang bagus, loh. Jadi menantu Pak Oga bisa naikin derajat kamu. Posisi kamu bakal lebih tinggi dari Bryan. Hidup kamu gak akan jatuh dalam krisis lagi."


"Oh, ya? Bukan untuk Mama? Punya besan yang kaya dan hebat kayak Pak Oga . . . itu yang Mama mau."


Mia menggeleng. Berujar dengan intonasi sedikit tinggi. "Mama mau kasih yang terbaik untuk kamu. Kenapa malah hina Mama kayak gitu?"


"Hina? Siapa? Aku? Mama sendiri yang mikir gitu."


"Lucas! Dengar. Aurora itu cantik, anggun, pinter. Dia cocok untuk kamu. Kalo kamu menikah dengan Aurora, bisa sekaligus kembangin bisnis kamu. Bisa juga bantu Bryan. Kamu mau papa kamu gak jatuh lagi 'kan?"


Lucas mendengus. Lalu dia mengambil dompet dari saku celananya. Membuka lebar benda tersebut dan mengambil sebuah cincin yang selalu dia selipkan di sana.


"Ini." Lucas mengangkat benda kecil itu di depan mata Mia, "aku udah nikah. Jadi, simpan keinginan Mama itu untuk anak Mama yang lain."


Mia membesarkan matanya, menatap benda itu dengan tidak percaya. Lucas menarik cincin itu dan menyimpannya kembali di dalam dompet.


Mia menggelengkan kepalanya, masih tidak menerima kenyataan yang baru dia ketahui.


"Sejak kapan? Gak . . . sama siapa?"


"Freya. Lulus SMA aku nikahin dia."


Mia mengerutkan keningnya. "Ha? Freya? Jadi, kamu beneran tepatin janji kamu sama orangtua Freya? Lucas, itu cuma perjodohan asal-asalan. Bukan serius. Kamu gak mesti nikah sama Freya. Dia gak cocok untuk kamu."


Semakin banyak Mia memuntahkan kata-kata, semakin Lucas memandangnya dingin.

__ADS_1


"Cocok atau gak, itu urusan aku." Dia berkata lagi. Suaranya datar, tapi penuh dengan keyakinan.


"Tanpa harus jadi menantu Pak Oga pun, aku bakal bisa berdiri dengan kaki aku sendiri di atas semua orang nanti."


__ADS_2