Cold Love

Cold Love
Bab 84. Tertangkap Basah


__ADS_3

Pintu ruangan diketuk oleh sekretaris Lucas. Terdengar suara wanita yang mengatakan bahwa ada seseorang yang ingin bertemu dengannya.


"Masuk."


Setelah mendapat izin, orang tersebut masuk ke dalam ruangan. Baru saja menginjakkan kakinya, orang itu hampir berteriak begitu melihat sosok Freya di sana.


"Fre, Fre, Freya?" tanyanya terbata-bata. Yang dipanggil menoleh ke belakang dan juga terkejut melihat teman lamanya ada di sini.


"Aya? Ngapain?" Freya bertanya balik.


"Kamu yang ngapain di sini?" Aya menunjuk Freya dengan jari telunjuknya. Berkas yang dia pegang hampir jatuh tatkala melihat tatapan datar Lucas padanya.


Wanita itu buru-buru memperbaiki tindakannya dan meminta maaf pada Lucas. Pria itu juga tidak mempermasalahkan keributan yang dibuat oleh Aya. Dia berjalan menuju meja kerja dan meminta Aya untuk duduk di depannya.


Aya melihat sekilas pada Freya yang membuang muka, merasa seperti dia sudah tertangkap basah oleh teman lamanya.


"Jadi, ada apa?" tanya Lucas. Mengalihkan perhatian Aya.


Aya segera duduk di kursi dan memberikan map yang dia pegang. Mengabaikan Freya dan seorang anak perempuan di belakang, mereka berdua mulai fokus pada pekerjaan.


"Untuk renovasi mal di Jogja, ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan."


Aya membuka map tersebut dan menunjukkan sketsa bangunan mal dimana Lucas bertemu dengan Freya.


Pria itu melupakan bangunan tersebut setelah menemukan istrinya. Dia, bahkan tidak ingat bahwa ini merupakan pekerjaannya. Bukan sekadar mencari istrinya yang melarikan diri.


Karena dia sudah memulainya, dia tidak bisa berhenti begitu saja karena tujuannya sudah tercapai. Proyek ini juga menguntungkan untuknya. Jadi, dia memberi komentar dan beberapa revisi terhadap sketsa yang Aya tunjukkan. Setelah mencapai kesepakatan, Aya pun pamit pergi.


Namun, sebelum keluar dia sempat meminta Freya untuk menemuinya di kantin kantor.


"Aku pergi sebentar," kata Freya. "Ayo, Syakia."


Wanita itu hendak berdiri, tapi Lucas menghentikannya. "Jangan sendirian. Aku ikut."


Freya segera membantah. "Gak. Nanti yang ada malah canggung."


"Kalau gitu, jangan bawa Syakia."


"Kenapa? Nanti dia nangis karena gak ada aku."

__ADS_1


Lucas menunjuk Syakia dengan matanya. "Dia ngantuk."


Freya melihat Syakia yang ternyata sudah berada di antara batas kesadaran. Sofa empuk itu sepertinya membawa kenyamanan untuk bocah itu.


"Biarin dia tidur," kata Lucas lagi.


Freya tidak mengatakan apa-apa dan membantu Syakia untuk tidur lebih nyaman di sana.


"Jaga anak aku."


"Anak kita," koreksi Lucas.


Freya terdiam sejenak. Lalu keluar dari ruangan setelah berkata, "Iya. Jaga baik-baik."


...***...


Seolah dia baru baru selesai melakukan kejahatan, dia harus duduk dengan patuh sambil merasakan aura mengintimidasi dari seorang wanita di depannya.


Dia menutupi dua hal itu agar tidak terjebak di situasi seperti ini. Namun, sebuah rahasia tidak akan pernah benar-benar tertutup rapat.


"Jadi, kenapa kamu ada di sini?" Aya bertanya dengan nada serius. Selama mereka berteman, baru kali ini Freya mendengar suara datar teman kampus ini.


Wanita itu melipat kedua tangannya di depan dada. Menunggu Freya menjawab pertanyaannya.


"Jangan bohong. Bilang yang jujur."


Freya menelan ludahnya. Sejak kapan Aya menjadi orang yang sangat serius seperti ini?


"Aku, itu, aku ada urusan di sini."


"Urusan apa?"


Ah, Freya tidak tahu harus mulai dari mana. Tidak mungkin dia mengatakan pada Aya bahwa sebenarnya perusahaan ini miliknya yang dikelola oleh Lucas.


"Ada hubungan apa kamu sama Lucas? Terus anak kecil di samping Lucas siapa? Anaknya?" Aya mengubah pertanyaannya karena Freya tidak memberikan jawaban yang memuaskan.


"Itu ...."


Aya masih menunggu jawaban Freya dengan sabar meski giginya sudah bergemeletuk sejak tadi.

__ADS_1


Pada akhirnya, Freya memilih untuk mengatakan semuanya pada Aya. Tentang hubungannya dengan Lucas serta apa yang dia lalui setelah berhenti kuliah.


Aya sudah baik padanya selama ini dan selalu terbuka dengannya. Freya merasa ini sudah waktunya untuk bercerita pada temannya itu.


"Freya? Kamu baik-baik aja sekarang? Apa gak masalah balik ke sini? Tunggu, kalo gak balik, kasihan juga kamu di sana cuma berdua. Apa Lucas masih jahat sama kamu? Dasar laki! Bisa-bisanya dia kayak gitu sama kamu!"


Setelah Freya selesai bercerita, Aya menjadi bersemangat dan juga sedih dengan apa yang dilalui oleh Freya. Dia tidak bisa berhenti merespons dan hampir menitikkan air mata ketika membayangkan susahnya Freya sendirian di kota lain.


Freya menepuk pelan punggung tangan Aya. "Gak papa. Aku baik-baik aja sekarang."


"Terus Lucas gimana?"


Freya tersenyum tipis. "Gak tau."


"Kok gak tau? Freya, jangan kalah sama dia. Kalo dia bikin kamu sakit hati, pergi aja. Oh, pukul aja mukanya baru pergi."


Aya berkata sambil mempraktekkan cara memukul wajah seseorang. Freya tertawa melihat tingkah temannya. Dia tahu jika Aya tidak serius. Wanita itu hanya mencoba menghiburnya.


"Gak papa. Untuk sekarang, aku cuma mau sembuhin Syakia dulu. Kedepannya gimana nanti aku pikir lagi."


Mendengar itu, Aya merasa tersentuh. Dia memegang kuat tangan Freya. Matanya mulai berkaca-kaca. "Kalo kamu butuh bantuan aku, bilang aja."


Freya mengangguk. Tidak salah jika dia mengatakan semuanya pada Aya. Setidaknya, sekarang dia memiliki teman untuk berbagi keluh kesahnya.


"Oh, ya. Kapan-kapan kenalin aku sama anak kamu. Nanti Aunty bawa jalan-jalan ke mal. Hehe."


Aya menyengir lebar. Freya hanya mengangguk dan mereka kembali berbincang biasa.


Sementara itu, di perusahaan Bryan, berita tentang Lucas yang membawa wanita beserta anak kecil ke kantor sudah tersebar. Hal itu juga menjadi bahan perbincangan di kantin.


Mereka menebak-nebak bahwa orang yang dibawa oleh Lucas adalah istrinya yang lama menghilang. Anak kecil itu juga disebut-sebut sebagai anak mereka. Lucas membawa kedua orang itu ke sana secara tak langsung mengumumkan bahwa pemilik perusahaan FA Ventures yang sebenarnya sudah kembali.


"Anak itu berani bawa Freya ke kantor? Bahkan anak kecil itu juga dibawa?" Mia menggeram kesal. Saat ini, dia bersama Aurora tengah berada di perusahaan Bryan untuk menyelesaikan beberapa urusan dan tengah beristirahat di kantin.


Mereka tidak menyangka jika akan mendengar berita tidak mengenakkan ini.


"Ma. Kita harus gimana?" tanya Aurora.


Mia mendengus. "Kita harus bikin rencana sebelum ayah kamu tahu tentang Freya dan pembatalan pertunangan kalian."

__ADS_1


"Gimana, Ma?"


Mia melihat ke depan dan tersenyum licik memikirkan rencana untuk memisahkan Freya dan Lucas.


__ADS_2