
Perut Freya tampak semakin besar.
Jika dilihat dari belakang, tubuh Freya terlihat kurus dan tidak seperti kebanyakan wanita yang tengah mengandung. Akan tetapi, jika dilihat dari depan, perut Freya tampak bulat dan menonjol.
Freya memperhatikan bentuk tubuhnya di cermin. Dia memakai pakaian yang lebih longgar dari biasanya untuk menutupi perutnya.
Hari kamis adalah jatah liburnya. Jadi, Freya berencana pergi ke pasar swalayan untuk membeli kebutuhan sehari-harinya. Terutama untuk perkembangan bayi dalam kandungannya.
Freya hendak pergi ke kota menggunakan becak. Dia berjalan kaki dari rumah menuju jalan raya. Menunggu beberapa saat sampai salah satu becak berhenti di depannya.
"Pak, ke swalayan yang dekat sini, ya."
Pria tua yang menarik becak menggunakan sepeda itu pun mengangguk. Tanpa banyak berkata lagi, dia mengayuh sepedanya setelah memastikan tidak ada kendaraan lain di belakangnya.
Sekitar lima menit kemudian, mereka sampai di sebuah swalayan yang cukup besar. Banyak orang yang berlalu-lalang di dalam sana sambil menenteng keranjang belanjaan.
"Ini uangnya, Pak. Makasih, ya."
Pria tua itu mengambil uang tersebut dan membalas Freya dengan anggukan. Kemudian, dia melihat ke belakang sebentar sebelum mengayuhkan sepedanya.
Selama tiga bulan lebih dia tinggal di Yogyakarta, setiap kali Freya menaiki becak pasti mereka tidak bisa diam. Terus mengajak dirinya berbicara sepanjang perjalanan. Namun, kali ini kakek yang mengantarkannya ke sini tidak berbicara sepatah kata pun. Hanya mengangguk sebanyak dua kali.
Tidak ingin memikirkan hal yang tidak penting, Freya pun memasuki swalayan tersebut. Di dekat pintu masuk, terdapat tumpukan keranjang plastik berukuran kecil dan sedang. Freya mengambil keranjang berukuran sedang karena dia memiliki banyak barang yang harus dibeli.
Freya berjalan menuju rak yang menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari. Dia mengambil satu dari tiap jenis benda-benda tersebut. Gajinya tidak terlalu besar untuk membeli banyak sebagai stok di rumah. Dirinya harus berhemat demi kebutuhan di masa depan.
"Susu yang mana, ya, enaknya?"
Freya melihat satu persatu merk susu yang berjejer di rak. Dia membaca bagian depan dari tiap kotak susu tersebut. Memilih mana yang sesuai dengan dirinya.
"Gak ada rasa stroberi, ya? Kebanyakan rasa co—"
Freya tiba-tiba terdiam. Jarinya yang hendak mengambil kotak susu rasa cokelat pun berhenti begitu saja, mengambang di udara. Hanya karena rasa kesukaan Lucas terpampang di sana, Freya mengingat masa lalunya. Dulu, Lucas sangat menyukai rasa cokelat. Apa pun makanan yang dia beli, jika memiliki rasa cokelat dia akan langsung mengambilnya.
"Hah! Adek, kita ambil rasa vanila aja, ya. Lain kali aja beli yang rasa stroberi. Kayaknya udah abis atau emang gak ada. Untuk sekarang, ini dulu, oke?"
Freya melihat ke arah perutnya sambil mengelusnya lembut. Dia tersenyum tipis sebelum mengambil susu rasa vanila. Setelah selesai memilih semua barang yang dia butuhkan, Freya pun pergi ke kasir untuk membayar belanjaannya.
...****************...
Keesokan harinya adalah jatah libur Ari.
Pemuda itu tidak ingin waktu cutinya diganggu hanya karena harus membeli barang-barang untuk stok di toko. Oleh karena itu, Kakek Pati tidak menarik becak hari ini dan pergi membeli barang menggantikan Ari.
__ADS_1
Di kasir, Freya berdiri bersama dengan Leli sementara Paijo tengah mendata jumlah barang yang masuk maupun yang sudah habis.
Di saat suasana hening karena mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing, Leli tiba-tiba menyeletuk.
"Freya. Kowe banyak makan, ya? Perutmu itu, lo. Buncit kayak orang meteng."
Freya yang tengah menghitung pemasukan kemarin pun mengernyitkan dahinya. Dia melihat Leli dengan tanda tanya di wajahnya. "Meteng apa, Mbak?"
Leli membentuk lingkaran setengah di perutnya. "Hamil, lo. Hamil."
Sekilas Freya membeku, tetapi dia mengendalikan ekspresinya secepat mungkin. Dia tertawa kecil, tidak mengelak ataupun mengiyakan.
Di depan mereka, Paijo membalas ucapan Leli. "Kowe bilang kayak gitu, nanti orang bisa salah paham."
Leli mendecakkan lidahnya dan kemudian kembali menghitung uang bersama dengan Freya.
Tak lama setelah itu, seorang pembeli datang bersama dengan dua pemuda. Leli melirik sekilas, tetapi kemudian tatapannya menjadi sinis begitu dia tahu siapa yang datang.
Leli memanggil Freya dengan sikunya. Orang yang terkena siku Leli pun menoleh. "Kenapa?"
Leli berbisik sambil terus memperhatikan orang yang baru saja masuk tersebut. "Itu, pembeli yang sebelumnya marah-marah gak jelas. Udah aku bilang kan dia bakal balik lagi ke sini."
Freya mengikuti arah pandang Leli. Matanya memicing saat melihat wanita tersebut. Kemudian dia kembali pada kegiatannya menghitung uang tanpa peduli dengan keberadaan wanita yang telah menghinanya itu.
Saat kakek Pati sedang mengangkat barang dia berpapasan dengan wanita tua tersebut.
"Eh, Mbah Pati. Banyak barang hari ini, yo."
Kakek Pati menjawab sambil meletakkan barang-barang tersebut di depan kasir sebelum Paijo datang dan memindahkannya ke ruang penyimpanan barang.
"Sudah mau habis. Jadi, beli lagi."
Keduanya terlibat obrolan sederhana sementara dua bawahan wanita tersebut mengambil barang-barang yang ingin dibeli.
"Eh, Mbah. Itu karyawanmu lagi meteng, yo?"
Kakek Pati menoleh ke belakang di mana Freya dan Leli berada. Kemudian, dia berbalik pada wanita tersebut. "Yang mana?"
"Itu, di samping yang gendut."
Merasa dikatai gendut, Leli pun berteriak sambil menunjuk wanita itu. "Heh! Cangkemmu itu. Kowe datang ke sini untuk berantem atau belanja?"
Wanita itu mencibir tanpa suara. Lalu, dia melihat ke arah Freya yang tengah menatapnya.
__ADS_1
"Kowe umurnya berapa?"
Freya melirik Leli sekilas, kemudian berpindah ke Kakek Pati sebelum menjawab pertanyaan orang itu.
"19 tahun."
"Ha? 19?" Wanita itu memasang wajah terkejut. Dia melihat Kakek Pati sambil berkata, "Karyawanmu meteng di luar nikah? Aduh, Mbah! Bisa-bisanya terima perempuan seperti ini."
"Tunggu sebentar. Maksud sampeyan opo?" Kakek Pati masih belum memahami apa yang dimaksud oleh wanita tersebut. Pria tua itu melihat Freya, lalu menatap Leli, dan kemudian kembali melihat orang di depannya.
"Kemarin, aku belanja di swalayan deket sini, lah. Ketemu sama karyawanmu itu. Lagi liat susu Ibu Hamil. Yo, aku kan penasaran. Jadi, tak dekati lah. Rupanya dia lagi bicara sama perutnya. Kalo bukan meteng, apa lagi?"
Kakek Pati menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin berpikir yang tidak-tidak. Jadi, pria tua itu pun bertanya pada Freya.
"Ndhuk. Benar kamu lagi hamil?"
Freya terdiam. Dia berpikir untuk menutupi kehamilan dan juga pernikahannya. Namun, jika dia tetap melanjutkannya maka akan ada fitnah lain yang muncul ke depannya.
Pada akhirnya, dia mengangguk. "Iya, Mbah."
"Nah. Apa kubilang. Eh, kowe masih muda udah buang-buang diri. Malu sama keluargamu."
Mendengar keluarganya disebut-sebut, Freya tidak bisa menahannya lagi. Batas kesabarannya sudah melewati garis. Dengan suara dingin dan raut wajah yang datar, dia pun bertanya pada wanita tersebut.
"Ibu kalo pergi selalu bawa rautan, ya?"
"Ha? Rautan yang untuk pensil itu? Buat apa kubawa-bawa?"
"Mulut Anda tajam. Saya kira karena selalu diraut."
Mendapat ejekan seperti itu, wanita tersebut membelalakkan matanya.
"Eh, kowe kasar sama orang tua, ya. Kalo dasarnya busuk, yang lain pun ikutan busuk."
Freya tidak tinggal diam dengan hinaan tak berdasar orang di depannya itu. Dia membalas, "Anda lagi bicarain diri sendiri, ya?"
Wanita tersebut semakin melebarkan matanya. Mulutnya bergerak-gerak ingin melawan, tetapi tidak ada kata yang bisa dia keluarkan. Dengan penuh amarah, wanita itu mendengus dan langsung keluar dari toko. Dua pemuda yang sedang mengangkut barang pun menjadi kebingungan. Barang belum dibayar, tapi majikannya sudah pergi. Alhasil, salah satu dari mereka mengejar untuk meminta uang bayaran. Kemudian kembali ke toko dan melunasi semua barang yang mereka beli.
Setelah kepergian orang-orang tersebut, Leli tertawa lebar. "Apik tenan, Freya. Ajaranku berguna 'kan?"
Freya menghela napasnya. Dia mengangguk sambil ikut tertawa dengan suara kecil.
"Jadi, kowe beneran meteng?"
__ADS_1
Dari belakangnya, Paijo datang dan memukul keras punggung Leli.