
Hari ini adalah momen yang sangat dinantikan oleh Lucas.
Setelah kemarin membuat ulah, Aurora mengirimkan pesan padanya hari ini. Meminta dia untuk menemuinya di bar malam ini. Bar mewah dimana tidak semua orang bisa masuk.
Tentu saja Lucas tahu bahwa ini adalah jebakan. Namun, kesempatan ini tidak akan dia sia-siakan begitu saja. Waktu yang sangat tepat untuk menghancurkan semuanya.
"Aku pergi. Ingat untuk angkat telpon aku." Lucas sudah bersiap pergi ke kantor siang itu. Dia harus meninggalkan Freya sendirian lagi untuk mematangkan rencana.
"Iya," jawab Freya seadanya sambil melihat ponsel yang baru dibelikan oleh Lucas. Wanita itu tidak sempat mengotak-atik benda tersebut. Jadi, dia menaruhnya lagi di dalam kotak dan meletakkannya di atas meja nakas.
Waktu berlalu dengan cepat. Jam yang dijanjikan pun tiba.
Lucas berjalan dengan santai memasuki bar tersebut. Baru kali ini dia datang ke bar ini karena dia memang jarang pergi ke tempat-tempat seperti ini.
"Maaf, Pak. Boleh tahu nama Anda?" seorang pelayang mendatanginya dan bertanya dengan sopan.
"Lucas Vermilion."
Pelayan itu mengangguk. "Baik. Silakan ikuti saya."
Lucas mengikuti orang tersebut ke sebuah ruangan VIP. Pelayan itu membuka pintu dan meminta Lucas untuk masuk.
"Lucas."
Di dalamnya, terdapat Mia dan Aurora. Dia tidak tahu untuk apa ibunya ada di ruangan ini, tapi yang jelas sekarang ibunya sangat ingin merusak harga diri putranya sendiri.
"Lucas. Duduk," Mia berkata dengan serius. Seolah-olah Lucas telah melakukan kesalahan besar sehingga dia harus disidang di sini.
"Apa?" tanya Lucas begitu dia duduk.
Lucas melihat dua orang itu dengan malas. Dia ingin pulang dan menemani Syakia belajar daripada duduk di sini memandang mereka.
"Lucas. Kamu harus tanggung jawab."
Mia tiba-tiba mengatakan hal yang tidak masuk akal. Lucas bertanya dengan dingin. "Dari apa?"
"Ini!" Mia menunjuk perut wanita yang memasang wajah sedih sambil memeluk Mia. "Aurora hamil! Kamu harus nikahin dia!"
"Berapa?"
"Ha?"
Lucas mengulanginya dengan santai. "Berapa usia kandungannya?"
Mia dan Aurora saling bertatapan. Tidak menyangka dengan respons Lucas yang tampak biasa saja.
"Dua bulan," jawab Mia
"Dua? Aku kira empat. Seingat aku beberapa bulan ini aku sibuk. Gak sempat ketemu dia. Jadi, kapan bikinnya?"
Lucas menyilangkan kakinya sambil meletakkan kedua tangannya di atas sofa.
__ADS_1
"Lucas! Ini anak kamu. Sekitar dua bulan lalu kamu minum-minum sama kolega kamu! Waktu itu kamu mabuk ... dan, dan, kamu ...."
Aurora tidak mampu menyelesaikan kebohongannya karena tatapan tajam yang dia dapatkan dari Lucas.
"Dan?" Lucas memiringkan kepalanya, menunggu Aurora menyelesaikan kalimatnya.
Melihat Aurora tidak bisa berbohong lagi, Mia pun mengambil alih.
"Kamu mabuk dan datang ke Aurora. Menurut kamu apa yang terjadi? Ini jelas-jelas anak kamu!" Mia mengambil map dari tasnya dan melemparkan benda tersebut ke arah Lucas.
Pria itu hanya melihat tanpa minat. "Hal kayak gini mudah dipalsukan. Kalian mau jebak saya dengan cara kayak gini?"
Lucas mulai berbicara formal pada kedua orang tersebut. Dia menatap tajam pada ibunya. "Saya sudah peringatkan pada Anda. Jangan terlalu jauh bermain selama saya masih menghormati Anda, tapi sekarang Anda yang memilih jalan ini."
Mulut Mia terbuka. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Lucas.
"Maksud kamu?"
Tiba-tiba pintu terbuka, menampakkan sosok Pak Oga bersama dengan dua orang pengawalnya.
"Papa?" panggil Aurora.
Pak Oga hendak menjawab panggilan putrinya, tetapi perhatiannya teralihkan dengan keberadaan Lucas yang duduk santai di sana.
"Lucas? Kenapa kamu di sini?"
Lucas menoleh pada Pak Oga. Berkata dengan tenang. "Anak Anda manggil saya."
Pak Oga tidak terlalu memahami situasi yang terjadi. Dia masuk ke dalam dengan was-was.
"Ha? Bicara apa?" tanya Mia.
Melihat Mia yang kebingungan, Pak Oga pun juga ikut merasa bingung. "Anda mengirim pesan ke saya untuk bertemu di sini."
"Saya gak ngirim apa-apa ke Bapak."
Tiba-tiba suara kikikan terdengar. Mereka semua menoleh pada Lucas yang menutup wajahnya dengan bahu bergetar.
"Lucu banget," bisiknya. Dia mengangkat wajahnya, melihat orang-orang yang berada di dekatnya.
"Kayaknya udah cukup pertemuannya. Malas juga lama-lama."
Lalu, dia mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang. Tak lama setelah dia mematikan ponselnya, pintu didobrak. Terdengar suara teriakan dari luar, seolah-olah mereka berlari dari sesuatu.
"Angkat tangan!"
Tiba-tiba pihak berwajib datang meringkus ketiganya. Pengawal Pak Oga berusaha melawan para polisi, tapi mereka kalah jumlah. Pada akhirnya, kelima orang tersebut berhasil di borgol.
"Lucas! Apa-apaan ini! Kamu mau masukin Mama ke penjara?"
Tanpa rasa simpati, Lucas menjawab, "Ya. Kalian berdua sudah melakukan pemalsuan dokumen. Silakan dibawa."
__ADS_1
Mia memberontak. Dia berteriak kencang pada Lucas. "Kamu! Lihat aja, suami Mama pasti bisa keluarin Mama!"
Lucas mendengus. Tertawa mengejek. "Informasi penting untuk Anda. Perusahaan suami Anda sudah menjadi milik saya. Jadi, dia tidak bisa mengeluarkan Anda. Silakan, Pak."
"Ha? Lucas! Lucas! Sejak kapan kamu— Lucas!"
Seolah menulikan pendengarannya, Lucas tidak peduli sama sekali dengan teriakan ibunya yang diseret paksa menuju mobil petugas.
"Lucas! Kamu benar-benar! Apa salah saya sehingga kamu melakukan hal seperti ini!"
Pak Oga tidak jauh beda dengan Mia. Dia masih memberontak dan meminta anaknya dilepaskan, tapi Lucas tidak membiarkannya dan menyuruh polisi membawa Aurora sekalian dengan Mia.
"Kesalahan Anda? Sangat banyak. Mau saya sebutkan?"
Pak Oga menggeram marah. Giginya bergemeletuk, tangannya memerah karena terlalu kuat mengepal.
Lucas membuka ponselnya dan membacakan semua kejahatan yang dilakukan oleh pria tua tersebut.
"Selama bertahun-tahun Anda melakukan penipuan terhadap konsumen dan juga para pegawai. Lalu, membeli bahan baku impor di pasar gelap untuk menghindari pajak. Kemudian, Anda terlilit hutang pada perusahaan saya dan tidak berniat membayar."
"Ha? Sejak kapan saya punya—"
"Anda terlalu meremehkan pesaing. Jangan Anda pikir saya tidak tahu bahwa selama ini Anda bekerja sama dengan ayah saya agar Anda bisa menghancurkan perusahaan ayah saya dengan mudah. Kepintaran ayah saya membuat Anda takut tersaingi." Lucas mendecih. "Tidak selamanya Anda bisa berdiri di atas. Bawa dia!"
"Lucas! Kamu kurang ajar! Lucas!"
Akhirnya, ketiga orang yang mengacaukan hidup Lucas selama bertahun-tahun berhasil dia singkirkan.
Kini, satu hal lagi yang harus dia selesaikan adalah permasalahannya dengan Freya yaitu mendapatkan kembali hati wanitanya.
...***...
"Freya!" teriak Lucas. Dia baru saja tiba di rumah dan tidak mendapati siapa pun di rumah itu.
Ini sudah malam, tapi mengapa tidak ada orang di rumah?
Lucas berusaha menenangkan dirinya dengan menghubungi Bryan. Bermaksud untuk menanyakan keberadaan istri dan anaknya.
Namun, jawaban sang ayah membuat jantung Lucas serasa jatuh.
Lucas buru-buru memeriksa lemari pakaian Freya. Masih ada di sana, tapi itu adalah baju yang dia belikan. Di Yogyakarta, wanita itu masih memiliki semua barang lainnya.
Jangan lagi!
Kepala Lucas tiba-tiba berputar. Dia merasa pusing karena masalah hari ini. Lucas sama sekali tidak sempat menghubungi Freya untuk menanyakan kabar wanita tersebut.
Lalu, sekarang dia berulang kali menghubunginya, yang terdengar hanyalah suara operator.
Apa dia membuang lagi nomornya?
Pikiran buruk mulai menghantui Lucas. Tidak. Dia tidak bisa seperti ini.
__ADS_1
Jika terulang kembali, dia tidak yakin bisa menemukan Freya lagi.
Dengan begitu, Lucas segera pergi keluar untuk mencari. Menembus hujan di tengah kota untuk menemukan keluarga kecilnya.