Cold Love

Cold Love
Bab 74. Mengiyakan Dahulu, Baru Bertindak


__ADS_3

Seperti hari sebelumnya. Lucas datang ke rumah Freya untuk menjemput keduanya. Ketika dia tiba, Freya kebetulan baru saja keluar bersama dengan Syakia. Bocah perempuan itu sudah rapi dengan seragam sekolahnya.


Freya melihat kedatangan Lucas dengan wajah malas, tapi dia tidak bisa melakukan apa pun karena Lucas akan tetap memaksakan kemauannya.


Saat ketiganya berada di dalam mobil pun, tidak ada yang berbicara satu patah kata pun. Di samping Lucas, Freya duduk tenang sambil memangku Syakia. Anak perempuan itu sama sekali tidak membiarkan Lucas berdekatan dengan ibunya.


Akhirnya, setelah lima menit mereka diam, Lucas memulai percakapan yang membuat Freya terkejut.


"Besok aku balik ke Jakarta. Kalian ikut aku."


"Hah? Gimana?" Mulut Freya terbuka, menanyakan kembali maksud dari kalimat Lucas.


Lucas berkata lagi dengan raut datar. "Papa sakit, aku harus cepet balik."


Mendengar kabar itu, seketika wajah Bryan muncul di benaknya. Sudah lama dia tidak bertemu dengan pria itu. Ditambah dirinya pergi tanpa berpamitan. Kemudian, dia bertanya lagi, tapi tetap mempertahankan wajah tenangnya.


Freya bertanya, "Papa sakit apa?"


Diam-diam, Lucas tersenyum tipis. Dia menjawab, "Belum tahu. Cuma . . . kemarin Papa suruh pulang. Kalo kenapa-napa, gak ada orang di rumah."


"Bi Surni mana?" tanya Freya. Dia berpikir, apa mungkin wanita paruh baya itu sudah tidak bekerja lagi?


"Ada, tapi gak nyampe malam."


Freya mengangguk kecil. "Yaudah pulang aja. Ngapain ngajak aku? Gak ada yang suruh kamu lama-lama disini."


"Papa maunya kamu ikut."

__ADS_1


"Kenapa harus?"


"Mungkin kalo ada kamu, Papa bisa lebih mendingan."


Freya diam. Tiba-tiba kenangan dirinya di masa lalu bersama dengan Bryan terlintas. Pria yang entah masih bisa dia anggap sebagai mertuanya itu sangat tulus pada dirinya. Selama ini, ada perasaan bersalah di dalam diri Freya karena pergi tanpa berpamitan.


Mengetahui bahwa orang yang dia hormati dan sayangi itu jatuh sakit, Freya akhirnya menyetujui ajakan Lucas.


"Boleh, tapi jangan tahan kalo aku mau pulang."


Tanpa membantah, Lucas mengiyakan perkataan Freya.


...****************...


Keesokan harinya, Freya dan Syakia telah selesai berbenah. Mereka tengah sarapan sambil menunggu Lucas menjemput mereka.


Freya dan Syakia masing-masing membawa tiga pasang baju. Karena Freya berpikir mereka hanya akan berada di sana selama satu atau dua hari saja.


Dengan begitu, dia membawa tas berukuran sedang dan kemudian membuka pintu. Seperti dugaannya, itu adalah Lucas yang mengetuk.


Lucas berdiri di depan pintu tanpa mengubah ekspresi wajahnya. Namun, keningnya berkerut saat melihat bawaan Freya yang terlalu sedikit.


Akan tetapi, dia tidak banyak bertanya karena Freya akan mencurigainya.


Tanpa banyak berkata lagi, ketiganya masuk ke dalam mobil dan segera pergi ke bandara.


Ketika mereka tiba, Freya sedikit kebingungan. Saat turun dari mobil, Freya melihat seorang pria tua menggunakan jas hitam mendatangi Lucas. Entah apa yang mereka bicarakan, Freya tidak terlalu mendengar karena suara mereka tidak terlalu besar. Lalu, dia melihat Lucas memberikan kunci mobil pada pria tersebut. Kemudian mobil yang membawa mereka telah diambil alih oleh pria tersebut.

__ADS_1


Selain itu, Freya juga penasaran. Mengapa Lucas hanya membawa dirinya saja. Dia tidak melihat tas ataupun koper di tangan Lucas. Apa lelaki ini tidak membawa satu pun pakaian?


Mengabaikan hal tersebut, Freya tidak ingin terlihat peduli dengan Lucas. Dia, lalu menggenggam tangan Syakia dan berjalan di belakang Lucas.


Dari kejauhan, Freya melihat seseorang melambaikan tangannya. Dia tidak yakin itu mengarah pada dirinya, tapi saat jarak semakin dekat, wajah itu tidak asing baginya.


"Freya, masih ingat aku gak?"


Ketika jarak mereka sudah dekat, Freya baru mengenali orang tersebut.


"Daniel?"


Daniel mengangguk sambil tersenyum lebar. Lalu, dia melihat ke samping di mana Syakia berada. Dengan santai, dia berkata, "Anaknya Lucas, ya?"


Ditanya seperti itu, raut wajah Freya mulai tidak enak. Namun, Daniel tidak terlalu memperhatikan. Dia bergerak selangkah lebih dekat, kemudian mensejajarkan dirinya dengan Syakia.


"Hai. Salam kenal. Aku Paman kamu, Daniel." Pria itu memperkenalkan dirinya sambil menjulurkan tangan ke arah Syakia.


Syakia hanya melihat Daniel dengan ekspresi aneh. Ditatap seperti itu, Daniel sedikit tersentak saat mengingat sesuatu. Setelah itu, dia menggerakkan tangannya. Membentuk beberapa isyarat.


Syakia melihat Freya, lalu kembali memandang Daniel. Kemudian, dia membalas isyarat pria di depannya tersebut dengan gerakan ringan.


"Syakia."


Daniel tersenyum senang karena mendapatkan respon. Dia berkata pada Lucas. "Anak lo pinter, ya."


Lucas ingin menjawab, tapi Freya menyelanya dengan ketus. "Dia anak aku." Lalu melirik Lucas, "kapan berangkat?"

__ADS_1


Lucas melihat jam tangannya. "Sekarang kita check-in."


Daniel ingin mengejek Lucas, tetapi karena Freya tidak terlihat ramah, dia pun menutup mulutnya dan ikut bersama mereka untuk melakukan check-in.


__ADS_2