Cold Love

Cold Love
Bab 19. Memastikan Semua Tidak Ada Yang Akan Berubah


__ADS_3

Suara pukulan dan tendangan terdengar di belakang gedung sekolah. Tak ada siapa pun yang ingin pergi ke tempat kotor dan basah itu. Jadi, sekeras apapun Jeremy berteriak kesakitan ... tidak ada yang datang untuk menolongnya.


"Akh!"


Jeremy memegang perutnya yang terkena tendangan. Keadaannya sudah babak belur. Habis diserbu dengan banyak pukulan tanpa henti, bahkan dia tidak bisa melawan sama sekali.


"Minta maaf ke Freya."


Jeremy menyentuh sudut bibirnya yang berdarah. Tubuhnya dibanting ke dinding dan sekarang dia tergeletak di tanah tanpa bisa membangunkan dirinya sendiri.


Jeremy menatap laki-laki yang memukulnya.


"Lo siapa ngatur-ngatur gue?"


Satu tendangan kembali mendarat di perut Jeremy.


"Minta maaf."


Jeremy terbatuk sebelum bertanya lagi. "Untuk apa? Karena gue ngatain dia cacat? Itu kenyataan."


"Minta maaf."


Jeremy terkekeh. "Kalo gue gak mau? Lo mau bunuh gue?"


Kalimat Jeremy membuat lelaki itu terprovokasi. Dia berjongkok, menyamakan lututnya dengan wajah Jeremy.


Nadanya dingin dan agak serak. Jari telunjuk dan jari tengahnya menepuk-nepuk pipi Jeremy.


"Gak."


Jeremy yang sebelumnya masih bisa tertawa, kini mulai menelan ludahnya. Mimik wajah lelaki di atas matanya itu sama sekali tidak bersahabat.


"Gue bakal hilangin satu jari lo."


"Lo mau apa!" teriak Jeremy ketakutan.


Lelaki itu menjawab, "Tadi, lo bilang ke semua temen lo ... walau cuma satu jari, tetap aja jijik. Nah, kalo lo yang gitu ..." Dia mengangkat sudut bibirnya, "gimana?"


Mata Jeremy melebar saat melihat lelaki itu mengeluarkan silet kecil dari saku celananya.


"Lo, lo mau apa!"


"Pilih. Itu jari hilang ... atau minta maaf?"


Jeremy mendorong tubuhnya menjauh dari lelaki itu. Kakinya sibuk menggesek-gesek tanah agar dia bisa melarikan diri. Akan tetapi, tembok di belakangnya tidak mendukungnya untuk pergi.


"Pilih." Lelaki itu memaksanya lagi.


Jeremy tidak memiliki pilihan lain selain mengangguk cepat sebelum salah satu jarinya menghilang.

__ADS_1


...***...


Freya duduk termenung di kelasnya. Sudah lama dia tidak mendapatkan hinaan secara langsung. Akhir-akhir ini, semua terasa aman dan damai untuk Freya.


Oleh karena itu, ketika Jeremy yang sudah termasuk dekat dengannya malah mengatai dirinya. Jujur saja, apa yang salah dengan fisik yang tidak lengkap? Freya sudah menutupinya menggunakan kardigan agar orang-orang tidak perlu melihat tangannya.


Apa dia harus memakai sarung tangan di cuaca yang panas ini? Hah! Orang-orang akan semakin menganggapnya aneh.


Brak!


Seseorang menyelonong ke kelas Freya. Dia berlari seperti orang mabuk. Sempoyongan ketika masuk dan menabrak meja guru.


Saat itu, jam istirahat kedua masih berlangsung sekitar 15 menit lagi. Beberapa orang sudah mulai memasuki kelas dan bercanda ria bersama teman-temannya sambil menunggu bel masuk.


"Kenapa lo, Jeremy?" Salah satu laki-laki yang berdiri di samping pintu bertanya.


Jeremy melirik lelaki itu sekilas. Dia tidak menjawab melainkan mencari keberadaan seseorang.


Tidak butuh waktu lama untuk menemukan orang yang dia cari. Lelaki itu langsung berlari ke arahnya dan menarik lengan orang itu.


"Freya! Gue minta maaf. Gue ngaku salah karena udah hina lo. Maafin gue. Please! Gu, gue bakal lakuin apa yang lo minta. Selama gue bisa aman. Tolong, Freya. Maafin gue."


Jeremy berbicara cepat dan terburu-buru. Seolah-olah dia sedang dikejar sesuatu.


Freya melihat Jeremy dengan kebingungan. Beberapa saat yang lalu, Jeremy mengata-ngatainya. Satu jam kemudian dia kembali dengan wajah lecet dan bengkak. Berlutut di bawahnya dan meminta maaf.


"Tolong jangan tanya, Freya. Maafin gue, ya? Ya? Tolong, waktu gue terbatas. Lo mau gue ngapain biar lo maafin gue?"


Freya melihat orang-orang yang berada di dalam kelasnya, bahkan siswa dari kelas lain yang kebetulan lewat pun berhenti untuk melihat apa yang terjadi di dalam.


Di antara para kerumunan di luar kelasnya, Freya melihat tubuh tinggi Lucas di sana. Tanpa sadar dia melepaskan tangan Jeremy yang memegang tangannya.


"Freya?"


"Ah, maaf." Freya baru menyadari tindakannya. Kemudian, dia menunduk sedikit. Berkata pada Jeremy. "Aku maafin kamu. Jadi, jangan ulangi lagi, ya?"


Wajah Jeremy tersenyum cerah. Seakan hutangnya sudah terbayarkan. Dia menarik tangan Freya dan menaruhnya di dahinya sendiri.


"Makasih banget, Freya. Gue janji gak akan ulangi lagi."


Freya tersenyum kaku. Mendadak dia menjadi canggung. Freya menarik tangannya pelan.


"Iya. Kamu balik aja ke kelas. Gak enak diliat orang."


Jeremy baru menyadari jika sudah banyak orang yang melihat mereka. Dengan wajah malu, Jeremy berpamitan pada Freya dan segera berlari ke luar.


...***...


Berita mengenai Jeremy yang datang mencari Freya untuk meminta maaf dengan wajah babak belur, tersebar begitu cepat. Hari belum berakhir, tapi orang-orang sudah membicarakannya di setiap sudut sekolah.

__ADS_1


"Mampus kan si Jeremy. Gue rasa dia kena karma karena mainin cewek." Chiko ikut bergabung dengan para gadis yang tengah duduk bergosip karena saat itu sedang jam kosong.


"Bisa jadi. Gue denger dia deketin Freya, tapi pas tau kalo Freya itu ... kalian tau kan maksud gue?"


Semua orang yang mendengarnya pun mengangguk. Gadis itu melanjutkan, "Dia langsung jauhin Freya detik itu juga. Terus gak lama, dia balik dan minta maaf ke Freya karena udah ngatain fisiknya."


Chiko menyahut, "Lo tau ginian dari mana?"


Gadis berkacamata itu menjawab, "Berita udah kesebar. Ya kali gue gak tahu."


"Wow. Tukang gosip."


"Ya, lo juga dengerin 'kan?"


Chiko tertawa tanpa tahu malu dan kemudian kembali kepada teman-temannya yang lain.


Dia duduk di samping Lucas, sementara di depannya ada Alana dan Dani.


"Jujur aja, gue puas liat muka Jeremy bonyok gitu. Hehe."


Chiko mulai mengatakan isi hatinya. Mereka memang berteman, tapi tidak sedekat itu untuk bisa membela satu sama lain.


Alana menimpali, "Em. Pelajaran buat dia. Biar gak mainin perasaan cewek lagi."


Obrolan mereka berlanjut hingga bel pulang berbunyi. Nada indah yang paling disukai oleh seluruh siswa dan siswi.


Chiko telah kembali ke tempat duduknya. Membereskan semua barang-barangnya dan segera berlari ke luar setelah berpamitan pada teman-temannya.


Sementara itu, Lucas juga telah bersiap-siap untuk pulang. Namun, lengannya ditahan oleh Alana di depan pintu. Lelaki itu berbalik dan melihat Alana.


Dia bertanya dengan alis yang sedikit terangkat. Dengan kaku, Alana berkata, "Gue ... boleh pulang bareng lo?"


"Kenapa?"


"Em ... gak ada yang bisa jemput gue. Semua orang di rumah lagi sibuk. Boleh, Lucas?" tanya Alana.


Lucas langsung menolak tanpa mengasihani Alana.


"Gak. Lo tanya orang lain."


"Tapi—"


Lucas melepas paksa tangan Alana dari lengannya. Kemudian, dia pergi tanpa menoleh ke belakang.


Mulai hari ini, Lucas akan pulang bersama dengan Freya. Gadis itu bangun terlalu pagi dan Lucas tidak bisa menyusulnya. Jadi, mereka tetap berangkat sendiri-sendiri dan akan pulang bersama.


Freya adalah orang yang penurut. Lucas yakin, Freya tidak akan menolak idenya sama sekali dan mengiyakan semua perkataannya.


Karena sejak dulu, Freya tidak pernah menolak Lucas. Sekarang pun sama dan sampai kapan pun ... Lucas akan memastikan hal itu tidak akan pernah berubah.

__ADS_1


__ADS_2