
Kelas Freya selesai lebih lama dari waktunya. Para mahasiswa mengeluh ketika keluar dari kelas. Mengatakan jika dosen mereka telah melakukan korupsi. Mengambil waktu berharga mereka di jam makan siang. Kantin telah penuh sejak satu jam yang lalu. Seharusnya, mereka selesai satu setengah jam dari waktu sebenarnya. Pria tua itu benar-benar memonopoli mereka. Jika ada yang menegur maka saat pertemuan selanjutnya, orang itu tidak diizinkan untuk masuk.
"Lagi? Kita gak dapat meja lagi?" Di pintu masuk kantin, Aya mengeluh frustasi dengan keadaan di depannya. Sementara Aya sibuk mengomel, Freya hanya berdiri diam di belakangnya. Dia merasa lapar, tapi kantin terlalu penuh. Untuk mengantri pun mereka kesulitan.
"Kenapa gak bikin satu lagi aja, sih? Udah tau rame gini, masih aja gak ada perubahan."
Dia berkacak pinggang. Membuang kasar karbon dioksida dari dua lubang hidungnya. Bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan. Memantau orang-orang yang bersiap pergi dari meja mereka. Ketika dia menemukan sekelompok orang berdiri dari kursi mereka, Aya segera menarik tangan Freya. Dia berjalan perlahan saat hampir mendekati meja itu dan bergerak cepat saat mereka telah benar-benar meninggalkan meja.
"Untung kita cepet," kata Aya sambil membawa dirinya duduk di kursi yang terasa hangat sehabis diduduki.
Di hadapannya, Freya juga melakukan hal yang sama. Dia meletakkan tas sampingnya di atas meja. Melihat ke sekitar sebentar sebelum membuang pandangannya pada Aya.
Freya bertanya, sedikit memajukan tubuhnya. "Kenapa kita gak ke kafe aja? Deket sini kayaknya ada kafe."
Saat Freya turun dari bus dan berjalan selama lima menit dengan berjalan kaki ke fakultasnya, dia melihat sebuah kafe berdiri di seberang gedung. Dia melihat banyak mahasiswa yang datang ke sana. Dari sudut pandang Freya, kafe itu terlihat besar dan luas.
Aya menghempaskan tangannya di atas meja. Menjawab dengan bibir berkerut. "Malas banget. Kafe pasti lebih penuh dari kantin. Mana harus jalan ke depan lagi."
Jarak antara kelas mereka dengan kafe yang dilihat oleh Freya menghabiskan waktu lima sampai tujuh menit dengan berjalan kaki. Ditambah ini adalah jam makan siang, keadaan kafe pasti tidaklah jauh berbeda dengan apa yang terjadi di kantin.
"Oke, sekarang kita makan apa?" tanya Aya pada Freya dan juga dirinya sendiri. Wanita itu bersiap bangun dari duduknya, tapi tangan Freya menahan Aya untuk berdiri.
"Biar aku aja. Kamu selalu pesen makanan aku. Hari ini gantian."
Aya tersenyum cerah pada Freya. Dia menarik dirinya dan duduk kembali. Menggeliat seperti ulat di sisi meja. Matanya seketika berbinar dan cahaya penuh harap muncul saat dia melihat Freya.
"Kayak biasa. Tolong, ya."
Freya mendengus sambil tertawa kecil. "Iya."
Teman barunya itu sangat aneh menurut Freya. Selalu mengeluh, tapi tetap melakukan apa yang dia keluhkan. Mengatakan jika dirinya malas dan ingin menyerah, tapi di saat itu juga dia akan bergerak untuk menyelesaikannya. Dari luar, Aya terlihat seperti orang yang tidak enakan terhadap orang lain, padahal itu hanya bentuk perhatiannya pada seseorang yang dia pedulikan. Selama dia berteman dengan Aya, dia telah melihat banyak hal dari wanita itu. Aya adalah orang yang memilih-milih teman. Jika dirasa tidak cocok dengannya, Aya tidak akan melangkah lebih jauh dengan orang itu. Tidak membiarkan mereka menjadi teman dekatnya. Freya sendiri merasa bingung mengapa Aya mau berteman dengannya, bahkan selalu mengikutinya kemana pun meski kelas mereka tidak seluruhnya sama.
Freya tersadar dari pikirannya saat orang di depannya telah pergi. Wanita itu segera memesan karena di belakangnya, antrian semakin bertambah.
Setelah mendapatkan pesanannya, dia membawa makanan tersebut dengan kedua tangan. Berhati-hati agar tidak menabrak orang lain. Dia berjalan dengan mulus sampai ke meja mereka.
Aya meletakkan ponselnya di atas meja dan membantu Freya mengambil pesanan mereka.
"Wuu, makasih." Aya mengambil minumannya dari tangan Freya, tapi tanpa sengaja netranya menangkap keanehan di jemari kiri Freya. Tanpa bisa menahan mulutnya, Aya bertanya secara terang-terangan.
"Freya? Jari tangan kiri kamu cuma empat?"
Freya segera menarik tangannya secepat mungkin. Dengan takut melihat ke sekitar dan sepertinya suara Aya tidak terdengar oleh orang lain. Suara riuh kantin meredam kalimat lugas Aya.
Seakan menyadari kesalahannya, wajah Aya berubah menjadi merah. Tanpa sengaja dia hampir mempermalukan temannya.
Aya melihat wajah Freya yang terlihat was-was dengan sekitarnya. Wanita itu menarik lengan kardigan abu-abu sampai menutupi seluruh jemarinya. Freya, bahkan tidak melihat ke arahnya. Matanya bergerak-gerak tidak tenang.
"Maaf, Freya." Aya mencoba menarik tangan Freya, tapi wanita itu menahannya. Tidak membiarkan Aya memegang tangannya. Dia tampak semakin ketakutan sekarang.
"Aku gak bermaksud apapun, kok. Cuma kaget aja tadi, kirain mata aku salah. Maaf, Freya. Mulut aku ini emang susah dikontrol." Aya memukul mulutnya sendiri, "lain kali hati-hati. Jangan asal ngomong!"
Melihat Aya memukul bibirnya sendiri, Freya tidak bisa membiarkannya. Dia memegang tangan Aya dan menahannya dari memukul bibirnya sendiri.
"Aku gak papa. Tadi, aku juga kaget karena kamu tiba-tiba nanya gitu."
__ADS_1
Freya duduk di tempatnya. Masih ada rasa canggung setelah Aya bertanya tentang jarinya.
Aya mengambil minuman yang dibeli oleh Freya dan menyedotnya sedikit. Memiringkan tubuhnya dan melirik Freya dengan ujung matanya. Wanita itu menundukkan kepalanya. Terdiam dengan tangan di bawah meja.
Aya meletakkan kembali airnya. Mendadak air yang dia minum menjadi susah ditelan. Selama hidupnya, sifat yang paling dia tidak suka dari dirinya sendiri adalah kejujurannya yang terlalu kurang ajar. Sering sekali membuat orang yang mendengar pernyataannya menjadi sakit hati. Dia melirik ke kakinya sejenak, lalu berinisiatif untuk menarik tangan Freya.
Dia berdiri sedikit dan mencondongkan tubuhnya. Meraih tangan Freya di bawah sana dan membawanya ke atas meja.
"Tangan kamu lucu tau! Jangan pundung gitu, ih. Maaf, Freya. Mulut aku emang kurang ajar. Aku gak bermaksud hina kamu. Beneran!"
Freya tertawa kecil. "Kenapa ketawa? Aku serius minta maaf," kata Aya. Bibirnya berkerut kembali.
Kepala Freya menggeleng. Dilihatnya teman anehnya ini menjadi sedih karena mengira Freya marah padanya.
"Iya. Aku maafin. Gak papa."
"Bener? Tapi kenapa kamu nunduk gitu? Masa tiba-tiba kita canggung? Gak lucu, ih!"
"Oh ...." Freya melihat ke tangannya yang memiliki jari tidak lengkap, "aku takut kamu yang gak nyaman sama aku."
"Lho? Kenapa malah aku?"
"Karena aku cacat?"
Aya mengerutkan keningnya. "Cacat? Ini bukan cacat. Kamu itu istimewa. Beda dari yang lain. Gak salah aku milih kamu jadi temen aku. Freya the best!"
Freya tertawa lagi. "Jangan berlebihan. Nanti kamu sendiri yang geli."
"Dih? Geli kenapa?" Aya menarik lagi tangan kiri Freya dan mengusap jemarinya, "nih, makan ni geli. Aku gak geli, kok malah dikatain geli!"
Freya merampas tangannya dan menyembunyikannya ke dalam lengan kardigan sebelum Aya menggosokkan wajahnya ke tangan Freya.
Aya tersenyum lebar. Menunjukkan gigi berantakannya. "Kamu tau yang aneh lagi? Aku, tuh, bisa baca karakter orang," kata Aya sambil menunjuk kedua matanya.
Dia melanjutkan, "Makanya aku gak punya banyak temen. Kamu beruntung jadi temen aku."
Freya terkekeh. "Emang karakter aku gimana?"
Aya menjawab tanpa beban. "Karena kamu ngomongnya 'aku-kamu' bukan 'lo-gue'. Orang lain ngomongnya 'lo-gue' kan jadi males."
Freya tidak paham dengan maksud temannya itu. Jadi, dia mengatakan kesimpulan yang dia pahami.
"Kamu temenan sama orang yang bicara 'aku-kamu'?"
Aya mengangguk. "Yap! Ah, kamu mau tau lagi gak?"
Freya mengangkat kedua alisnya. Penasaran dengan keanehan Aya yang lainnya.
"Aku punya tujuh kepribadian."
"Ha?"
"Lihat." Aya menunjuk ke arah rambutnya, "karena aku punya tujuh kepribadian. Jadi, setiap hari bentuk rambut aku beda-beda."
Wanita itu cengengesan, sementara Freya menghela napas ringan. Dia ditipu dua kali oleh teman anehnya ini.
__ADS_1
...***...
Lucas baru pulang dari kantor sekitar pukul tujuh malam. Dia, bahkan melewatkan kelasnya hari ini. Padahal itu adalah kelas mata kuliah manajemen dasar yang penting untuk menentukan kelulusannya.
Lucas membuka pintu kamar dengan kasar. Menarik dasinya setelah melempar asal jasnya. Lalu, membuka dua kancing kemeja paling atas. Dia terduduk di sofa yang ada di kamarnya. Lelaki itu mengingat kembali pertemuannya dengan suami baru ibunya. Lucas tidak tahu jika ayahnya berniat untuk bekerja sama dengan perusahan milik ayah tirinya itu.
Ayah tiri? Lucas tidak sudi untuk mengakuinya.
Dia sempat melakukan debat panjang dengan ayahnya karena hal ini. Namun, bagaimanapun ... dia kalah berargumen dengan ayahnya. Saat ini, perusahaan ayahnya sedang menurun dikarenakan penjualan tidak sampai target dan saham tengah dalam masa kritisnya. Bryan harus mencari banyak klien untuk memperbaiki keuangan perusahaan, bahkan jika itu adalah suami dari mantan istrinya.
"Bangsat."
Kata makian akhirnya keluar dari mulut Lucas. Dia jarang mengeluarkan kata kasar karena tidak banyak hal yang mengharuskannya memuntahkan bahasa kotor itu. Akan tetapi, jika itu menyangkut tentang keluarga baru ibunya, jelas bahasa paling sampah sekalipun pantas untuk dikeluarkan.
"Lucas?" Freya membuka pintu dan mengintip ke dalam kamar.
Lucas meliriknya sekilas dan kembali menunduk dan memejamkan mata. Kedua tangannya mengepal di atas lutut. Dia duduk dengan kaki yang terbuka.
Freya masuk ke dalam kamar setelah menutup pintu. Pelan-pelan dia berjalan ke arah Lucas dan duduk di sampingnya.
Dari sisi ini, Freya dapat melihat dengan jelas wajah tertekan Lucas. Dia ingin bertanya, tapi terlalu takut mengganggunya. Jadi, dia hanya bisa mengelus punggung lelaki itu. Tangannya membelai dengan lembut, seolah elusan halus itu dapat menyampaikan perasaan khawatirnya pada Lucas dan juga mengisyaratkan pada lelaki itu jika Freya ada di sini untuknya.
Apa yang ingin disampaikan oleh Freya melalui elusan itu sepertinya berhasil. Lucas membuka matanya dan melihat Freya. Suaranya begitu lirih ketika dia berbicara.
"Kenapa aku harus lihat dia lagi?" Freya tidak tahu siapa yang dimaksud oleh Lucas, tapi dia tetap mengelus punggung Lucas dan mendengarnya dengan sabar.
Mata Lucas tampak memerah. "Bagus mereka gak pernah muncul sejak sidang perceraian. Kenapa malah ikut campur dengan urusan aku? Kenapa dia harus jadi klien Papa? Kenapa Papa malah nerima bantuan dia?"
Freya bisa menebak orang yang dimaksud oleh Lucas saat lelaki itu menyebut tentang sidang perceraian. Jika itu bukan ibunya maka pastilah ayah tirinya.
"Freya," panggil Lucas.
"Iya?"
"Aku benci dia." Sorot mata Lucas yang merah begitu tajam dan menusuk. Freya merasa gugup dan takut, padahal tatapan itu bukan ditujukan untuknya.
Freya tidak bisa mengatakan apapun. Karena jika itu sudah menyangkut kebencian terhadap seseorang ... Freya tidak bisa berkata "Jangan simpan dendam. Membenci itu gak baik" dia tidak boleh mengatakan itu sama sekali. Terutama pada Lucas yang terlihat akan menjungkirbalik dirinya jika sampai dia mengatakan itu.
Yang bisa dia lakukan adalah menatap mata Lucas. Berusaha memahami kesakitannya melalui binar mata yang telah redup itu.
Angin bertiup lembut di luar, sementara di dalam suhu dingin berasal dari AC. Namun, entah mengapa Lucas merasa panas saat melihat mata indah di depannya. Seolah mata itu menarik Lucas untuk mendekat, menariknya dengan sesuatu yang tidak bisa dia lihat.
Lucas terpesona.
Kapan terakhir kali dia memandang mata menawan di depannya ini?
Perlahan, kepalanya bergerak mendekat. Netranya yang diawal melihat mata Freya, kini berubah haluan. Lucas tidak bisa menahan indra penglihatannya untuk tidak memandang bibir kecil nan penuh milik Freya.
Freya sendiri tidak menarik diri ataupun menjauh. Semakin Lucas mendekatkan wajahnya, bulu mata Freya semakin bergetar. Kepalan tangannya mengerat di belakang punggung Lucas.
Mata keduanya terpejam. Hidung mereka saling bersentuhan.
Freya pernah bermimpi sekali pada malam hari setelah pernikahan mereka. Saat dia hampir menyentuh wajah suaminya, dia buru-buru membalikkan badan dan tertidur. Tidak tahu berapa lama waktu yang dia butuhkan untuk tertidur dengan pulas ... Freya mengalami mimpi.
Dalam mimpinya, Lucas datang ke sisi lain tempat tidur. Berjongkok di depan wajahnya. Lalu, tanpa suara mendekatkan dirinya pada Freya. Menempatkan bibirnya di atas bibir Freya dengan lembut.
__ADS_1
Di dalam cahaya hangat lampu kamar ... sama seperti di dalam mimpinya, walau suasananya sedikit berbeda.
Untuk pertama kalinya setelah mereka kenal lama ... Lucas mencium Freya.