Cold Love

Cold Love
Bab 26. Hubungan Yang Baik Adalah Saling Menunjukkan Perhatian dan Kasih Sayang


__ADS_3

Pagi itu, Freya membangunkan Lucas di jam yang langka untuk suaminya membuka mata. Semalam waktu sebelum tidur, Lucas mengatakan pada Freya untuk membangunkan dirinya jam tujuh pagi karena dia memiliki rapat dengan Bryan dan beberapa klien di kantor. Ini adalah rapat yang penting, Lucas tidak bisa datang terlambat.


Di jam yang sama pun, Freya memiliki mata kuliah. Dia sudah bangun satu jam lebih awal untuk mandi dan bersiap-siap membuat sarapan.


Sambil menunggu Lucas, wanita itu mengambil kotak makanan untuk menyiapkan bekal Lucas. Dia tahu lelaki itu tidak akan sempat makan pagi. Jadi, lebih baik Lucas membawa bekal dan memakannya setelah selesai rapat atau makan di dalam perjalanan.


Jarum jam sudah jatuh pada pukul tujuh lebih 35 menit. Lucas turun dengan terburu-buru. Harusnya dia meminta Freya membangunkannya lebih awal. Jadi, dia tidak perlu tergesa-gesa seperti ini.


"Lucas. Makan dulu?" Freya memanggil Lucas dari pintu dapur ketika lelaki itu lewat. Lucas menoleh pada Freya. Jemarinya sibuk mengancingkan kemeja hitamnya. Dia berjalan ke dapur untuk mengambil sepotong roti yang telah Freya panggang.


"Papa mana?" tanya Lucas setelah mengambil satu gigitan.


"Udah pergi. Lucas, duduk dulu biar enak makannya."


Lucas tidak melakukan apa yang Freya katakan. Dia menggigit lagi sisi roti dan meraih segelas air di atas meja. Meneguknya dalam sekali tuang.


Dia meletakkan gelas kosong itu di atas meja. Mengusap mulutnya sendiri dengan mengulum bibirnya.


"Udah siap?" tanya Lucas tiba-tiba.


Freya menunjuk dirinya sendiri. "Aku?" Lucas mengangkat dagunya sekilas. Mengangguk.


"Siap apa?"


"Kamu ada kelas 'kan?"


Mulut Freya terbuka sedikit, membentuk bulatan kecil. Dia menyadari kebodohannya dan buru-buru menjawab. "Udah. Kenapa?"


"Pergi sama aku."


"Eh? Tapi kamu udah telat."


Lucas melirik jam tangannya. "Masih ada waktu."


Freya ikut melakukan hal yang sama dengan Lucas. Dia melihat jam tangannya sendiri. Mendapati waktu hampir menunjukkan pukul delapan, Freya langsung menolak.


"Jarak dari kampus ke perusahaan itu 30 menit. Jam segini macet. Kamu bakal telat lagi. Kalo dari rumah, kamu bisa lewat jalan lain yang gak kena macet."


Lucas diam sejenak. Terlihat sedang berpikir. Freya buru-buru menimpali lagi sebelum Lucas bersikeras.


"Ini rapat penting 'kan? Kamu pergi aja duluan."


Lucas menatap Freya dalam. Sekilas tampak kilat putih muncul di netranya. Ingin membantah, tapi apa yang dikatakan Freya benar. Dia akan terlambat mengikuti rapat jika mengantar Freya terlebih dahulu.

__ADS_1


Pada akhirnya, dia pun menyerah. Lucas memutuskan kontak mata mereka dan berbalik untuk pergi.


Freya segera menahan lengan Lucas, membuat pria itu memutar tubuhnya. Melihat Freya dengan pertanyaan di matanya.


Freya melepaskan jari-jarinya dari lengan kemeja Lucas. Dia berbalik dan mengambil tas berisi kotak makanan. Lalu, dia memberikannya pada Lucas.


"Roti aja gak cukup. Makan ini selesai rapat nanti, ya?"


Pria itu melihat ke kotak makanan yang ada di tangan Freya, kemudian menatap wanita itu lagi. Secara perlahan, dia mengambil tas tersebut dan hendak berbalik lagi, tapi dia menundanya karena mendengar satu kata dari Freya.


"Semangat."


Wanita itu melemparkan senyuman hangat untuknya. Membuat dada Lucas berdebar lagi. Setiap kali Freya tersenyum, Lucas merasa energi di dalam tubuhnya membludak seperti tangki air yang telah penuh.


Akan tetapi, dia harus menahannya dan tidak memperlihatkannya pada Freya.


...***...


Setelah empat kali pertemuan, tugas kelompok pun diberikan. Mahasiswa yang presentasi hasil kerja kelompok mereka hari ini tengah sibuk mengatur meja dan perlengkapan lainnya.


Ada 10 kelompok dan tiap satu pertemuan akan dipresentasikan oleh satu kelompok. Dimulai dari kelompok satu hingga kelompok terakhir.


Freya berada di kelompok yang sama dengan Aya. Mereka berada di kelompok empat. Jatah untuk presentasi masih lama.


Dosen telah datang. Mahasiswa yang bersiap untuk presentasi telah menyelesaikan persiapannya. Laptop dihidupkan, pancaran cahaya dari proyektor menembak ke arah papan tulis putih.


Aya menjadi salah satu dari sebagian orang yang tidak ingin mendengarkan apa yang kelompok pertama bicarakan di depan kelas.


Rambutnya hari ini dibiarkan terurai di belakang punggungnya. Pakaiannya juga sederhana dengan kemeja putih dan kardigan coklat susu yang membaluti tubuh atasnya. Wanita itu tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mengajak Freya berbicara.


"Freya. Kamu denger nggak tentang cowok ganteng di jurusan kita. Kakak senior berhasil nemuin dia, tapi dianya nggak mau bicara dengan mereka. Kalo misalkan ini fakultas teknik, dia mungkin udah dihajar habis-habisan sama senior. Untung aja kita fakultas ekonomi dan bisnis."


Freya yang termasuk dalam sebagian yang lain merasa terganggu dengan omongan Aya. Dia ingin mengabaikan suara Aya, tapi ketika mendengar pembahasan Aya yang mirip dengan apa yang dia dengar beberapa minggu yang lalu di kantin ... Freya pun mau tidak mau membalas Aya.


"Siapa?"


Mendapati pertanyaan Freya, Aya mengira jika wanita itu tertarik dengan gosipnya. Jadi, dia mendekatkan bibirnya lebih dekat ke telinga Freya.


Dia berbisik, "Katanya, sih. Lucas Vermilion. Aku gak tau yang mana orangnya. Sebanyak ini kelas, tapi kayaknya aku gak pernah sekelas dengan dia."


Sama di sini.


Freya menyetujui dalam hati. Dia juga tidak pernah sekelas dengan Lucas walaupun ada dua kelas Freya di siang hari. Sama jadwal, tapi beda kelas.

__ADS_1


"Emang senior itu untuk apa nyari dia?" tanya Freya.


"Katanya, sih mau minta izin naro muka Lukas di Instagram mereka. Aku dengar di kampus ini, tuh ada komunitas yang ngumpulin cewek-cewek cantik dan cowok-cowok ganteng. Biasanya banyak dari mereka yang ngizinin, tapi ada juga yang nggak kasih karena malu. Ya, walaupun ditanya sekali lagi jawabannya mau. Kayaknya mereka udah stres gara-gara cowok itu gak mau bicara sama mereka."


Freya menundukkan kepalanya. Terlihat berpikir.


Sejak dulu, Lucas memang anak yang populer, bahkan saat mereka masih SD pun, banyak anak-anak di sekolah mereka yang menyukai Lucas. Ketika SMA, dia sudah menjadi incaran oleh kakak-kakak senior. Sekarang pun, pesona Lucas tidak bisa ditolak oleh orang-orang di kampus mereka. Melihat betapa gigihnya mereka mencari Lucas selama ini, cukup membuktikan ketampanan Lucas yang patut dikagumi.


"Kira-kira orang seganteng dia itu sikapnya gimana, ya? Dingin dan cuek?"


Tanpa sadar Freya menjawab, "Ya." Namun, dia langsung menyadarinya dan segera melihat Aya.


Perempuan itu tampak diam dan menatap lurus ke papan tulis, seakan-akan dia sedang serius mendengarkan materi di depannya.


Aya menoleh pada Freya dan menambahkan. "Bener 'kan? Yakin banget aku kalo Lucas Vermilion itu orangnya dingin, datar, gak asyik."


"Kenapa kamu mikir gitu?"


"Dari namanya aja udah kedengeran kayak gitu."


Freya sedikit membenarkan perkataan Aya jika masa kecil mereka tidak termasuk.


"Pacarnya tahan gak, ya?" Aya tiba-tiba berkata sambil menopang dagunya. Pertanyaan mendadak itu membuat Freya hampir tersedak ludahnya sendiri.


Dengan kaku dia melihat Aya. Perempuan itu juga menoleh ke arahnya dan tertawa tanpa suara. "Bagusnya, sih, kalo dia hangat sama pacarnya. Kalo gak, ya, mending putus aja."


Seolah Aya bisa melihat dan mengetahui situasi yang dialami Freya, perempuan itu berbicara dengan tepat. Namun, tidak mungkin jika dia mengetahui hubungan Lucas dan dirinya, sementara mereka baru saja saling mengenal.


"Kenapa harus putus?"


Aya menaruh pipinya di telapak tangan. Melihat Freya acuh tak acuh. "Pakai logika, dong. Ya kali tahan sama cowok dingin kayak gitu. Gak romantis, gak hangat. Uh, bikin males."


"Tapi dia perhatian diam-diam."


"Buat apa diam-diam? Yang jelas, dong. Biar kita tahu."


Freya termangu. Diam-diam mengolah perkataan Aya di kepalanya.


Perempuan itu memindahkan tangannya dari pipi. Mengubahnya dan meletakkan lengannya di atas bahu Freya.


"Hubungan itu bertahan lama kalo dua-duanya saling nunjukin perhatian dan kasih sayang. Kalo gak, ya, ngapain berhubungan? Iya gak?"


Freya masih diam di tempatnya. Lalu, dia tersadar jika obrolan mereka telah rancu. Freya mendorong sedikit lengan Aya dari bahunya.

__ADS_1


"Kenapa malah bahas itu, sih? Dengerin mereka presentasi."


Aya cengengesan dan menarik lengannya sebelum benar-benar serius pada kelompok pertama di depan kelas.


__ADS_2