
Jam menunjukkan pukul 11 malam.
Freya menunggu Lucas di ruang tengah sambil menonton televisi. Sesekali dia mengintip ke arah di mana pintu rumah berada untuk mengecek kepulangan Lucas.
Dia gelisah. Sudah tiga jam sejak Lucas pergi menemui temannya. Lucas berkata padanya jika dia akan pergi selama satu jam, tapi sekarang sudah lewat dari waktu yang dia katakan. Freya takut terjadi sesuatu pada lelaki itu. Kaki dan bibirnya tidak bisa berhenti bergerak. Matanya pun tidak fokus menonton televisi. Semua yang ditayangkan oleh benda persegi itu, Freya sama sekali tidak menangkapnya.
"Kenapa belum tidur?"
Freya menoleh ke belakang dan mendapati Bryan dengan kacamata frame rimless baru saja keluar dari ruang kerjanya. Pria itu menggunakan kaus putih dan celana pendek selutut berwarna abu-abu. Di tangannya terdapat beberapa map serta satu pulpen yang dijepit antara ibu jari dan sisi map.
Bryan berjalan mendekati Freya dan kemudian duduk di samping wanita itu. Freya menjawab sambil melihat ke arah Bryan.
"Freya nunggu Lucas, Pa."
"Ke mana emang dia?"
"Pergi ketemu temen katanya."
Bryan melirik ke arah jam dinding yang terpasang tepat di atas televisi. "Dari jam berapa dia pergi?"
Freya ikut melihat ke arah jam. "Sekitar jam delapan."
Bryan menatap jam untuk beberapa saat, seperti dia tengah menghitung berapa lama Lucas telah pergi. Kemudian, dia menarik pandangannya dan beralih ke map-map yang sudah dia letakkan di atas meja.
Baru saja mereka membahas tentang Lucas, terdengar bunyi bel beserta suara pintu yang diketuk kuat, seolah orang yang mengetuk pintu tengah berada dalam zona bahaya dan harus mencari tempat untuk berlindung.
Freya dan Bryan saling melihat. Lalu mereka sama-sama berjalan menuju pintu. Memastikan siapa yang membuat keributan di depan pintu rumah.
Freya tiba terlebih dahulu daripada Bryan. Dia membuka pintu dan mendapati Lucas tengah memberontak di lengan Daniel.
Daniel tertawa kaku saat melihat Freya membuka pintu. "Maaf, Freya. Lucas gak sengaja minum tadi. Jadinya, dia mabuk sekarang."
Freya masih menatap keduanya dengan bingung. Sementara itu, Daniel berusaha keras memegang baju Lucas agar lelaki itu tidak melarikan diri.
"Lepasin gue, Zi. Lo bilang mau beliin gue es krim. Mana?" Dengan mata yang redup, Lucas menagih janji yang secara asal diiyakan oleh Daniel.
"Lho? Kenapa, Lucas?" Bryan menyelip di sebelah Freya. Wanita itu mendongak untuk melihat Bryan sebentar, lalu menggeser dirinya lebih ke samping agar Bryan bisa mendekati Lucas.
Bryan hendak mengambil Lucas yang masih memberontak. Lalu, saat dia melihat wajah Daniel, Bryan merasa tidak asing.
"Eh? Kamu Daniel, ya? Anak Pak Abel 'kan?"
Daniel tersenyum. "Iya, Om. Saya Daniel. Kebetulan satu jurusan sama Lucas."
"Oh, iya, iya. Jadi, ini kenapa dia?"
"Kami ngerayain selesai ujian, Om. Lucas gak sengaja minum banyak."
Bryan berkacak pinggang melihat tingkah Lucas yang dalam keadaan mabuk. Lelaki itu mendorong Daniel, terkadang menampar wajahnya, dan berteriak meminta es krim.
"Hah . . . dia ini gak pernah minum. Makasih, ya, udah ngurus Lucas. Sini, biar saya bawa masuk."
Daniel mengangguk dan segera menyerahkan Lucas pada Bryan. Dia tidak ingin berlama-lama lagi. Seluruh tubuhnya malam ini sakit karena pukulan yang diberikan oleh Lucas. Tenaga orang itu bertambah saat dia sedang mabuk.
Adri menyusul Daniel setelah memarkirkan mobil Lucas di halaman depan. Lalu, dia memberikannya pada Daniel yang kemudian dikembalikan ke Bryan.
"Kami pulang dulu, Om, Freya." Daniel meminta izin untuk pamit bersama dengan Adri. Setelah mendapatkan anggukan dari Bryan dan juga Freya, keduanya pergi ke mobil milik Daniel dan kembali ke bar Oscar.
"Hah! Lucas, kamu bener-bener, ya. Gak bisa minum sok-sokan minum. Repotin orang aja."
Bryan melirik Lucas yang mengerjap-ngerjap kan matanya. Kemudian, dia memapah Lucas masuk ke dalam rumah, sementara Freya menutup pintu.
Bryan membantu Freya membawa Lucas menuju kamar mereka. Untuk menaiki satu anak tangga saja butuh banyak perjuangan karena Lucas sibuk meminta Bryan membelikannya es krim.
__ADS_1
"Aizi bohong! Katanya mau beli es krim. Mana? Ah!"
Bryan mendecakkan lidahnya. "Aizi siapa? Itu Daniel yang bawa kamu ke sini."
Lucas tidak peduli dengan koreksi Bryan. Dia terus menyebut Daniel sebagai teman sekolahnya dulu.
Di belakang mereka, Freya berkata pada Bryan. "Kayaknya ingatan Lucas balik pas jaman SD, Pa. Soalnya, Aizi itu temen Lucas di sekolah dasar dulu."
Bryan membalas tanpa menoleh. Dia masih kesusahan membopong Lucas ke atas. "Oh, Aizi temen deket Lucas yang udah pindah ke Singapura?"
Freya mengangguk. "Iya, Pa."
Pada akhirnya, setelah bersusah payah, Bryan berhasil membawa Lucas ke kamar. Menjatuhkan putranya itu ke atas kasur dan menyerahkannya pada Freya untuk diurus.
"Tolong gantiin baju Lucas, ya? Papa ada kerjaan, harus selesai malam ini."
"Iya, Pa." Freya mengangguk dan berterima kasih pada Bryan yang sudah membantunya membawa Lucas ke kamar mereka.
Setelah Bryan menutup pintu, Freya mulai membantu Lucas membuka kemejanya. Akan tetapi, itu tidak semudah yang dia kira.
"Es krim ... ." Lucas menggeliat di atas kasur. Merengek meminta es krim seperti anak kecil.
"Lucas. Ganti baju dulu, ya."
Freya melepaskan kemeja Lucas dan menariknya secara perlahan. Lucas yang memejamkan matanya pun merasa terganggu dengan tindakan Freya. Lelaki itu membuka setengah pelupuk matanya, berusaha membangunkan dirinya untuk duduk di tepi kasur.
Freya ikut bangun dan berdiri tegak di depan Lucas. Suaminya ini menatapnya dengan mata yang menyipit.
"Kenapa?" tanya Freya pelan.
Lucas memandangnya untuk waktu yang lama sebelum dia bertanya. "Kamu Freya?" Tiba-tiba dia tertawa, "kok makin cantik?"
Mendengar pujian mendadak itu dari mulut Lucas membuat pipi Freya memanas. Malu pun menghampiri dirinya, menarik kencang kulit wajahnya.
Freya segera menggelengkan kepalanya. Mengusir rasa malu yang tiba-tiba datang setelah Lucas menyebutnya cantik.
"Main apa?" tanya Freya. Mengikuti tingkah kekanakan Lucas. Sudah lama dia tidak melihat Lucas yang ceria seperti ini. Ternyata tidak buruk juga jika Lucas sedang dalam keadaan mabuk.
Lucas tampak berpikir. "Eum . . . gambar, yuk!"
Freya mendengus sambil tertawa. "Kamu mabuk, Lucas. Ganti baju dulu, ya? Terus cuci muka."
Lucas mengangguk. Membiarkan Freya membantunya mengganti baju. Namun, saat dia melihat gelang putih di pergelangan tangan Freya, Lucas mendadak marah.
Dia menahan tangan Freya yang akan menurunkan kemejanya dari bahu. Freya menatap Lucas dengan kebingungan.
"Sejak kapan kamu pake gelang ini? Siapa yang kasih?"
Freya ikut melihat ke arah gelang yang dikatakan oleh Lucas. Keningnya berkerut, dia menjawab Lucas dengan pertanyaan tersirat dalam nadanya.
"Kamu yang ngasih 'kan?"
Freya bertambah bingung sekarang. Yang memberikan gelang ini adalah Lucas saat dia berulang tahun beberapa tahun yang lalu. Akan tetapi, pria itu bertanya mengenai gelang ini. Apakah bukan dia yang memberikannya atau ini efek dari ingatannya yang mundur ke masa kanak-kanak?
"Aku?" tanyanya pada diri sendiri.
Freya mengangguk. "Iya, kamu yang— Lucas!"
Lucas merasa mual dan dia langsung berlari menuju kamar mandi. Membuka penutup toilet dan mengeluarkan cairan putih yang terlalu banyak dia minum malam itu.
Freya menyusul Lucas, membantunya menggosok punggung lelaki itu. Bau alkohol begitu kuat, membuat Freya ikut merasa pusing.
"Sebanyak apa kamu minum?" tanya Freya yang tidak mendapat jawaban dari Lucas
__ADS_1
Lucas selesai memuntahkan semua cairan tersebut. Area mulutnya berantakan dan bajunya benar-benar sudah tidak layak dipakai lagi. Freya harus mencucinya besok.
"Cuci muka dulu." Freya membantu Lucas berdiri. Laki-laki itu telah kehilangan kesadarannya lagi. Freya tidak yakin apakah dia pingsan atau tertidur.
Freya mengusap wajah dan leher Lucas menggunakan handuk kecil yang dia dapat dari dalam lemari pakaian.
Setelah membersihkan wajah Lucas, dengan susah payah dia membopong Lucas menuju tempat tidur. Tanpa sengaja dia menjatuhkan Lucas di depan pintu kamar mandi. Tingginya berbeda jauh dengan Lucas ditambah berat badan mereka juga sangat berbeda. Freya harus mengeluarkan seluruh tenaganya untuk membawa Lucas ke tempat tidur.
"Hah!"
Freya, akhirnya berhasil meletakkan Lucas di atas kasur. Kemeja hijau milik Lucas dia taruh di dalam keranjang. Lalu, dia mengambil baju tidur milik Lucas yang berwarna coklat muda. Setelah mendapatkannya, Freya mencoba membuka kaus hitam yang masih melekat di badan Lucas.
"Gimana bukanya ini?" tanya Freya. Lucas tidur terlentang membuat Freya kesulitan menarik kausnya.
"Susah banget."
Ketika Freya menunduk untuk membuka baju Lucas, jarak keduanya sangat dekat. Freya bisa mencium bau alkohol yang masih menempel di tubuh Lucas.
Perlahan, mata monolid itu terbuka. Lucas memutar kepalanya, mengarah pada Freya yang tengah menarik kausnya ke atas.
"Kamu ngapain?"
Suara dingin itu menusuk pendengaran Freya. Wanita itu mendongak dan mendapati Lucas tengah menatapnya.
Freya menelan ludahnya. Dia berpikir Lucas marah padanya karena telah lancang membuka pakaiannya. Freya hendak berdiri, tetapi Lucas menariknya kuat membuat Freya jatuh ke atas tubuhnya.
Mata Freya tepat di depan bibir Lucas. Dia mengangkat netranya dan tanpa sengaja bertemu pandang dengan mata Lucas.
"Cantik," puji Lucas dengan suaranya yang menjadi serak akibat terlalu banyak minum.
Disebut cantik untuk yang kedua kalinya, membuat Freya semakin malu. Dia menurunkan pandangannya, menyembunyikan kulit wajahnya yang memerah di leher Lucas.
Lucas meraba tangan Freya dan menyentuh gelang yang sempat dia tanyakan tadi. Freya ikut melihat arah tangan Lucas. Bulunya merinding seiring dengan elusan lembut yang Lucas berikan pada pergelangan tangannya
"Gelang ini aku yang kasih."
Lucas berkata, sementara Freya hanya diam. Lalu, pria itu melepaskan gelang tersebut. Kemudian menunjukkan ukiran yang berada di bagian dalam gelang.
"Kamu tahu arti huruf ini?"
Freya memicingkan matanya untuk membaca huruf yang dikatakan oleh Lucas. Di sana terukir huruf L yang indah. Freya berpikir sejenak lalu menebaknya asal.
"Lucas?" tanya Freya, mengartikan ukiran di gelang tersebut.
Lucas diam sejenak, lalu dia berujar, "Ada huruf L di gelang ini. Siapa pun yang pake gelang ini berarti milik Lucas." Dia melirik Freya di bawahnya, "itu artinya . . . kamu milik aku."
Freya mendongak. Sepertinya ingatan Lucas telah normal kembali. Akan tetapi, kelihatannya dia tidak sadar dengan apa yang dia bicarakan.
Lama mereka saling menatap sampai tiba-tiba Lucas membalikkan tubuh Freya. Menekan wanita itu di bawah kuasanya.
"Kamu . . . mau ngapain?" tanya Freya.
Lucas tidak menjawab, melainkan dia berkata, "Kamu tahu? Malam setelah kita menikah, aku sangat ingin sentuh kamu." Semakin dia berbicara, suaranya semakin dalam dan enak didengar. Freya meneguk ludahnya. Suhu dingin dari AC sudah tidak mempan lagi karena tubuh keduanya sama-sama menjadi panas.
Lucas menggerakkan dirinya lebih dekat ke Freya. Dia berbisik tepat di bibirnya. "Tapi aku gak mau bikin kamu gak nyaman. Jadi, aku nahan diri."
Mata Freya mengerjap. Jarak yang begitu sempit ini membuat Freya tidak berani membuka mulutnya.
"Tapi sekarang . . . aku gak bisa tahan. Kita . . . suami istri 'kan?"
Freya mendorong dada Lucas, tetapi tidak menimbulkan perubahan apa pun.
"Lucas, kamu bau alkohol."
__ADS_1
Lucas menyeringai. Dia berbisik lagi, mengatakan hal yang membuat Freya tidak bisa menolaknya lagi.
"Kamu harus bisa tahan. Karena kamu istri aku."