Cold Love

Cold Love
Bab 32. "Aku Ingin Memelukmu!"


__ADS_3

Pagi itu, Lucas memiliki jadwal pertemuan dengan Oga Darmawangsa. Bersama dengan Bryan dan timnya, mereka melakukan rapat untuk membahas kelanjutan dari proyek yang sedang mereka kerjakan.


Pada saat rapat selesai dan Pak Oga telah kembali ke tempatnya sendiri, Lucas meminta Bryan untuk tidak meninggalkan ruang rapat. Sepasang ayah dan anak itu terlibat percakapan serius.


Lucas berdiri di hadapan sang ayah dengan wajah datar. "Kenapa Papa biarin Mama datang ke rumah?"


Bryan melihat anaknya sebentar, lalu menghela napas. Dia berpikir jika Lucas ingin membicarakan sesuatu tentang pekerjaan. Ekspresi putranya ini selalu serius dalam keadaan apapun.


Bryan menjawab dengan santai dan biasa. "Dia mau liat kamu. Papa gak bisa larang 'kan? Kalo Papa larang nanti mamamu bilang yang enggak-enggak untuk Papa."


"Peduli banget dengan apa yang Mama bilang. Aku gak mau ketemu Mama lagi."


"Kenapa gak? Dia Mama kamu."


Kening Lucas tampak berkerut. Kenapa ayahnya terdengar seperti berpihak pada mantan istrinya sekarang?


"Papa sama Mama udah baikan?" tanya Lucas ke intinya. Dia tidak suka menyimpan pertanyaan bodoh itu di otaknya dalam waktu yang lama.


Bryan mengernyit. Dia tertawa, merasa lucu dengan pertanyaan Lucas. Pria itu menggeleng, "Kalo baikan yang ada dalam pikiran kamu, ya, gak mungkin. Di sini kan urusan kamu sama mamamu. Dia kan mau ketemu kamu, bukan Papa."


Orang tua di depannya ini tidak mengerti perasaannya sama sekali. Memilih untuk mengabaikan apa yang terjadi, Lucas tidak lagi mengatakan apapun pada Bryan dan pergi ke kampus karena sebentar lagi matahari akan naik ke tengah bumi.


...***...


Hari ini adalah ulang tahun Lucas.


Kebetulan sekali, kelas Freya hari ini dipegang oleh dosen yang sama sehingga dua mata kuliah hari ini ditiadakan.


Saat Freya dan Aya mengunjungi acara ulang tahun himpunan jurusan mereka, tanpa sengaja keduanya melihat Bu Ondang, dosen mereka yang seharusnya masuk hari ini. Freya dan Aya saling melihat dan menggeleng saat mengetahui urusan yang dimaksud oleh wanita tua itu adalah menghadiri acara ulang tahun himpunan.


Bus yang dinaiki oleh Freya tidak membawanya ke arah yang biasa dia lalui untuk pulang ke rumah. Dia turun di halte dekat toko kue. Jauh-jauh hari, dia telah memesan kue ulang tahun untuk Lucas.


Memikirkan tentang kedatangan Mia yang tiba-tiba itu, Freya menduga jika Mia ingin merayakan ulang tahun Lucas juga, tapi lelaki itu menolak kehadirannya dan kemungkinan rencananya untuk merayakan ulang tahun Lucas gagal total.


Sambil menunggu pesanannnya diambil, Freya melihat ke sekitar. Melirik ke mana pun matanya mampu mencapai. Lalu, pandangannya jatuh pada gelang emas putih pemberian Lucas di hari ulang tahunnya setahun yang lalu.


Dia memutar-mutar gelang yang melingkar di pergelangan tangannya. Ujung jarinya mengelus lembut permukaan gelang tersebut. Senyuman tipis muncul di bibirnya. Mengingat perkataan Bryan tentang Lucas yang diam-diam membelikannya kue ulang tahun, membuat Freya berpikir jika perhatian yang dulu ada pada diri Lucas masih ada sampai sekarang. Hanya saja dia tidak menunjukkannnya. Freya tidak tahu mengapa Lucas seperti itu, dia menebak jika itu adalah pengaruh dari perubahan sifat Lucas yang semakin dewasa.

__ADS_1


Tidak mungkin juga dia bertingkah seperti anak kecil terus-menerus.


Pesanannya telah tiba, membuat Freya mengalihkan perhatiannya dari benda putih itu. Dia membayar kue secara tunai dan mengucapkan terima kasih sebelum keluar dari toko.


Lucas memiliki kelas dari siang hingga sore hari. Jadi, Freya memiliki banyak waktu untuk membuat makanan yang disukai oleh Lucas.


Dibantu oleh Bi Surni, Freya membuat berbagai macam makanan. Seperti ayam kecap, udang saus tiram, dimsum, dan sup.


Malam ini Bryan lembur. Lucas juga bukan orang yang memiliki nafsu makan besar. Jadi, dia menyisakan porsi yang cukup untuk dirinya dan Lucas. Selebihnya, dia memberikannya pada Bi Surni untuk dibawa pulang.


...***...


Lucas baru pulang ke rumah pada pukul tujuh malam.


Akhir-akhir ini, dalam beberapa hari berturut-turut. Dia terus terjebak dengan orang-orang yang tidak dia sukai. Pagi tadi dia bertemu dengan ibunya yang sudah berani datang ke rumah. Kemudian, di kampus dia berpapasan dengan Daniel, padahal kelas mereka berbeda hari ini. Lelaki itu menyeretnya menuju UKM basket fakultas yang sudah dia daftar sebelumnya. Jika bukan karena Daniel, mungkin dia tidak akan pernah ingat jika sudah mendaftar.


Maka itu, kegiatan klub basket baru saja selesai. Lucas pulang dalam keadaan lelah dan lapar. Dia tidak sempat makan siang karena kesibukannya membuat dia lupa waktu. Biasanya, Freya akan membuatkan bekal untuknya. Namun, karena ibunya, Freya tidak sempat melakukannya.


Begitu dia akan menaiki tangga, Lucas mencium bau harum makanan dari arah dapur. Penasaran dengan masakan yang dibuat oleh Freya, Lucas pun berbalik dan berjalan menuju dapur.


Dari pintu dapur, Lucas menenteng jasnya dan melihat punggung Freya yang sibuk mengaduk makanan di dalam panci.


Freya tersentak dan segera berbalik. Dia sedang memanaskan makanan sendirian di dapur dan terkejut ketika mendengar suara orang lain. Dia tidak tahu jika Lucas sudah kembali.


Freya mematikan kompor dan menghampiri Lucas. Mengambil jas dan tasnya, lalu meminta Lucas untuk segera mandi dan turun lagi untuk makan malam.


Lucas mengintip makanan yang dibuat oleh Freya. Tanpa dia sadari, sudut bibirnya tertarik sedikit ke atas.


"Lucas," panggil Freya.


Lucas menjawab dengan gumaman dan naik ke atas untuk mandi.


Selesai membersihkan diri, dia turun dan melihat Freya sedang menata makanan di atas meja. Freya melayaninya dengan baik. Mengambil piring untuknya dan meletakkan makanan di atas piring miliknya.


Mereka makan dalam keadaan diam. Lucas fokus pada makanannya, sedangkan Freya tidak berani bersuara. Dia tidak memiliki topik untuk dibicarakan saat ini. Yang dia pikirkan adalah reaksi Lucas saat dia memberikan kejutan nanti.


Sampai makanan di piring habis pun, mereka berdua tidak mengeluarkan satu patah kata pun. Lucas mencuci tangannya di wastafel dan kembali ke kamarnya untuk menggosok gigi.

__ADS_1


Sementara itu, Freya membersihkan meja dan mulai mencuci piring dengan terburu-buru. Air berterbangan ke mana-mana. Membasahi bajunya. Freya gugup dan takut jika Lucas sudah tidur, rencananya akan gagal.


Piring telah selesai dia cuci. Wanita itu cepat-cepat mengelap tangannya menggunakan kain kering dan membuka kulkas. Mengambil kue ulang tahun berukuran kecil dan membawanya ke atas.


Freya membuka pintu dan lampu kamar masih menyala. Itu berarti Lucas belum tidur.


Dia masuk ke dalam dan mendapati Lucas tengah mengetik sesuatu di laptopnya. Freya menjadi semakin gugup. Dia menarik napasnya dalam-dalam, memejamkan matanya. Seiring dengan napas yang dia hembuskan, Freya membuka pelan matanya.


Dia memasukkan seluruh tubuhnya ke dalam kamar dan mendekati Lucas sambil memegang kue ulang tahun.


"Lucas," panggilnya. Lucas mengangkat matanya dari laptop dan menangkap sosok Freya dengan kue di tangannya.


Freya tersenyum kikuk sambil duduk di tepi ranjang. Dia menutupi api lilin dengan telapak tangannya agar tidak padam. Menyodorkan kue itu ke depan Lucas.


Suaranya sedikit bergetar karena gugup. "Selamat ulang tahun, Lucas."


Lucas melihat ke kue yang disodorkan oleh Freya. Menatapnya lama membuat jantung Freya semakin berdebar. Menunggu reaksi Lucas seperti menunggu bus di pagi hari.


"Lucas?" panggil Freya lagi.


Lucas akhirnya bergerak. Dia meniup api lilin dengan sekali hembusan. Freya tersenyum senang. Kemudian mengucapkan berbagai macam harapan baik untuk Lucas. Di sisi lain, Lucas memandang Freya yang tengah mendoakan yang terbaik untuknya.


"Semoga rencana kamu berjalan lancar. Oh, ya. Maaf Lucas. Aku gak tau mau kasih hadiah apa. Takutnya kamu gak suka."


Freya sudah lama tidak membelikan Lucas hadiah berupa benda. Yang dia lakukan setiap Lucas ulang tahun adalah meminta bantuan pada Bi Surni untuk membantunya memasak makanan yang disukai Lucas.


Lelaki itu tidak menjawab dan hanya melihat Freya. Namun, mata itu tidak menatapnya datar. Terasa lembut dan dalam.


Freya tidak menyadari tatapan yang diberikan oleh Lucas. Dia terlalu bahagia karena Lucas tidak mengusirnya keluar.


"Jadi, aku cuma masak makanan kesukaan kamu. Lucas, kamu mau hadiah apa dari aku?"


Mata bulat itu berbinar ketika bertanya. Lucas tidak bisa menahan keinginan hatinya saat menatap mata indah itu.


"Peluk."


"Hm?" Freya mengangkat kedua alisnya.

__ADS_1


"Aku mau tidur sambil meluk kamu."


Freya terdiam. Mulutnya membeku, tapi kepalanya mengangguk dengan bebas.


__ADS_2