
Kelembutan terasa nyata. Darah berdesir di kala kecupan ringan mendarat di bibir.
Seluruh tubuh Freya mendadak beku. Selama hidupnya, dia tidak pernah dicium. Lucas pun tidak melakukan apapun padanya, bahkan ketika mereka telah berstatus sebagai suami istri.
Lucas menarik wajahnya perlahan. Mata Freya yang menutup pun terbuka. Bulu matanya bergetar, kelopak matanya berkedip-kedip. Ujung hidung mereka berjarak sehelai kertas. Keduanya saling menatap untuk waktu yang lama.
Cahaya lampu redup sesaat. Udara dingin bertiup dari mulut pendingin ruangan. Mengeluarkan suara mesin yang halus. Dua insan berbalut kehangatan sekaligus kekakuan itu saling berbisik pada diri mereka sendiri.
Apa yang mereka lakukan?
Lucas adalah pihak pertama yang memutuskan kontak mata. Dia membenarkan posisi duduknya. Meluruskan dadanya ke depan untuk menghindari tatapan Freya. Tenggorokannya menelan ludah dengan susah payah. Seolah yang dia telan adalah biji coklat.
Di sampingnya, Freya dalam keadaan yang sama. Menarik matanya dari Lucas dan duduk lurus ke depan. Kakinya dia rapatkan, mempertemukan lutut-lutut yang membeku. Telapak tangannya bergerak gelisah di atas paha. Freya tidak bisa menahan untuk tidak melipat bibirnya ke dalam. Lehernya terasa kering sekarang.
"Makan malam udah siap?" tanya Lucas sambil melirik Freya. Memecah keheningan di antara mereka.
Freya mengangkat kepalanya. Menoleh cepat ketika Lucas bersuara. Dia mengangguk kikuk. "Udah."
"Kamu duluan. Aku mau ganti baju."
"Oh, iya."
Wanita itu berdiri dari duduknya. Bergerak tidak nyaman dan segera melarikan diri dari sana.
Pintu tertutup. Di saat itulah, Lucas menjatuhkan kepala dan lehernya di sandaran sofa. Pandangannya tertuju pada langit kamar. Kelopak matanya terasa berat. Dia memejamkan matanya sejenak guna mengusir lelah.
Begitu menutup, gambaran pertama yang muncul adalah kilasan kejadian beberapa menit yang lalu.
Dia mencium Freya tanpa sadar. Sungguh, Lucas tidak bermaksud melakukannya. Namun, ketika dia melihat ke dalam mata bulat itu ... Lucas merasa ditarik olehnya. Perasaan yang dia sembunyikan, mulai memberontak. Memintanya untuk melepaskan semua hal yang menahan kesakitan di dalam hatinya. Membuang semua beban untuk sementara dan melakukan apa yang ingin dia lakukan. Saat itu, hatinya terasa di dorong kuat oleh gairah misterius.
Akan tetapi, ketika Lucas melihatnya lagi ... dia mengingat hal lain. Lucas tersadar oleh memori masa lalunya. Dia menarik diri dan bertingkah seolah tidak ada yang terjadi.
__ADS_1
...***...
Freya menutup pintu kamar rapat-rapat. Dia berdiri di luar pintu. Menjatuhkan dirinya di sana. Jantungnya berdegup kencang. Sensasinya terasa hingga ke leher, bahkan punggungnya pun berdebar. Seolah jantungnya pindah ke belakang.
Napasnya keluar masuk melalui rongga hidung. Tidak teratur sama sekali. Tangan Freya tergerak untuk menyentuh dadanya. Debaran itu masih terasa, bahkan semakin kuat.
Freya berjongkok di depan pintu. Kepalanya terkubur dalam lipatan tangan, membiarkan rambut panjangnya yang tidak terikat jatuh di sekitar lututnya.
Jika bisa, dia ingin berteriak sekencang mungkin. Menghabiskan tenaganya dan merusak pita suaranya.
Memalukan! Ini benar-benar memalukan. Dari leher hingga wajahnya semua memerah. Freya tidak bisa menguraikan apa yang dia rasakan. Hanya satu kata. Malu!
Setelah sekian lama, baru kali ini Lucas menyentuhnya. Meskipun hanya kecupan di bibir, tapi Freya merasa panas hingga ke ubun-ubun. Dia mengkhawatirkan Lucas. Pertanyaan konyol muncul di pikirannya. Bagaimana jika rasa bibirnya pahit? Dia tidak memakai pelembab bibir sejak selesai memasak. Bibirnya mudah kering. Bagaimana jika ternyata kulit di bibirnya sedang terkelupas?
Freya menjadi tidak masuk akal sekarang. Dia berteriak dalam hatinya. Mengguncang kepalanya sendiri, merasakan malu yang tak tertahankan.
"Hah! Malu banget." Freya mengangkat kepalanya. Mengusap pelan wajahnya yang telah berubah warna menjadi merah.
...***...
Tidak berbeda dengan hari kemarin, bahkan hari ini lebih parah dari sebelumnya.
Lucas bertemu kembali dengan ibunya setelah empat tahun berlalu sejak sidang perceraian. Ibunya tidak pernah datang menemuinya, tidak pernah menghubunginya sama sekali. Seakan-akan dia bukanlah anaknya.
Lucas tidak peduli dengan ibunya yang berubah. Tidak acuh dengan tingkah ibunya. Masa bodoh dengan semua itu. Lucas tidak ingin bertemu dengan ibu kandungnya lagi.
Namun, harapan hanyalah sebuah keinginan yang belum tentu terwujud.
Sore itu, setelah menyelesaikan kelasnya, Lucas harus pergi ke perusahaan karena Bryan memintanya. Mengatakan jika ada rapat penting lagi bersama klien yang kemarin.
Lucas sudah menduga jika dia akan bertemu lagi dengan suami ibunya. Dia ingin menolak, tapi keadaan memintanya untuk tidak egois. Dengan menahan muak di hatinya, dia menelan bulat-bulat keegoisannya.
__ADS_1
Dia tidak menyangka jika akan bertemu dengan wanita yang telah melahirkannya itu.
"Lucas. Gimana kabar kamu?"
Mia berjalan mendekatinya. Penampilannya sedikit berubah. Kulitnya halus dan muda. Bibirnya diberi gincu merah. Tubuhnya molek, tinggi semampai. Tidak terlihat seperti wanita berusia 40 tahunan. Mia berdiri di depan Lucas. Di belakangnya terdapat Danu, suami baru Mia.
Lucas menatapnya datar, seperti padang pasir. Tak ada keramahan di air mukanya. Dia juga tidak memiliki niat untuk menjawab pertanyaan Mia.
Wanita itu menghela napas. Dia menjelaskan dengan nada sedih mengenai dirinya yang tidak menghubungi atau menemui Lucas selama ini.
"Maaf Mama gak bisa temui kamu. Bukan disengaja. Waktu itu, Mama mengandung adik kamu. Jadi, Mama harus ngurus dia. Umurnya udah empat tahun. Sekarang Mama punya waktu untuk ketemu kamu. Lucas, Mama kangen kamu."
Mia berbicara seolah hal itu bukanlah masalah besar baginya. Seakan-akan inti dari kebencian Lucas bukanlah tentang perceraian antara dia dan Bryan.
"Empat tahun?" Lucas terkikih, "cepet, ya. Pantes waktu itu buru-buru banget minta cerai. Nyari masalah setiap harinya, padahal itu cuma masalah kecil. Udah duluan nabung?"
Lucas mengatakannya dengan santai, tapi Mia tahu dalam kalimatnya terdapat sindiran. Dia berusaha untuk bersikap lembut pada anaknya, tetapi lelaki kecilnya yang telah tumbuh dewasa itu mulai bersikap kurang ajar.
Mia menunjuk Lucas dengan matanya yang memerah karena marah dan malu. "Kamu!" Tangannya bergetar di samping tubuhnya. "Berani kamu bicara kayak gitu sama Mama? Apa Papa kamu gak ajarin sopan santun, ha? Udah bener dulu harusnya kamu ikut Mama!"
Lucas mendengus. "Yang gak punya sopan santun itu Mama! Bagus kalo Mama gak nemuin aku. Lebih baik kayak gitu. Kenapa malah datang sekarang? Kasihan sama Papa?"
Mendapatkan kemarahan dari anaknya, Mia mengendurkan otot wajahnya. Dia menggeleng sambil mencoba meraih tangan Lucas.
"Bukan. Mama peduli sama kamu. Kalo perusahaan Bryan jatuh kayak dulu, kamu bakal kesusahan. Mama gak mau masa depan kamu suram."
Lucas menarik tangannya dari genggaman Mia. "Itu urusan aku. Ini bukan pertama kalinya aku hadapin situasi kayak gini. Miskin atau kaya, selama Papa masih bersikap sama, aku bisa bertahan. Silakan Mama bilang sama orang di belakang Mama untuk batalin kerja sama. Aku capek debat dengan Papa. Kalian yang mutusin sendiri. Aku gak mau bekerja dengan orang yang udah merusak keluarga aku."
Ini adalah kalimat paling panjang yang pernah dia katakan sejak empat tahun yang lalu. Seakan kemarahannya telah terkumpul di dalam mulut dan ketika mendapatkan kesempatan untuk memuntahkan amarah, dia pun melakukannya.
Lucas berbalik untuk pergi. Mengabaikan teriakan Mia di dalam ruang rapat yang telah kosong.
__ADS_1