
Dua hari lagi pentas seni diadakan. Sekolah memberi kesempatan untuk para siswa mempersiapkan acara dengan matang. Biasanya, pelajaran akan selesai hingga pukul tiga sore. Untuk hari ini, pelajaran selesai jam 12 siang. Selebihnya, para siswa diminta untuk bergotong royong membersihkan sekolah dan membantu mempersiapkan ***** bengek terkait pentas seni.
Tahun ini, panggung pentas seni lebih besar daripada tahun-tahun sebelumnya. Mungkin dana tahun ini lebih banyak ketimbang yang lalu. Acaranya pun digelar dari jam 10 pagi hingga jam 9 malam.
Ini dikarenakan banyak siswa yang ingin menunjukkan bakatnya. Jadi, dibutuhkan lebih banyak waktu untuk menyelesaikannya. Ditambah, sekolah mengadakan sedikit perlombaan antar sekolah. Beberapa sekolah pun telah mendaftar dan menyiapkan diri untuk menunjukkan bakat siswa mereka. Seperti paduan suara, menyanyi solo, bermain musik tradisional, dan tarian kreasi.
"Apa pohon ini ditebang aja?"
Freya yang tengah menyapu di tempat biasa pun sedikit mencuri dengar pembicaraan antara kepala sekolah dan Pak Iki.
Dia tahu menguping pembicaraan orang bukanlah hal yang baik, tetapi karena pohon ini adalah tempat di mana biasanya dia menyapu, Freya merasa tidak rela jika pohon itu akan ditebang.
Pak Iki menjawab, "Sepertinya jangan, Pak. Pohon ini bisa bikin sekolah kita sejuk. Kalo dipotong, takutnya malah kepanasan kita."
Freya mengeratkan pegangannya pada sapu lidi. Dalam hati dia mengangguk senang karena Pak Iki mempertahankan pohon tersebut.
"Iya juga. Em, tapi Pak Iki. Kali ini kita bakal undang banyak tamu. Rencana saya, sih mau bikin di luar aja. Biar luas. Cuma karena ada pohon ini. Jadinya, susah buat ditaruh panggung."
"Aula kan luas, Pak. Besar juga. Gak dicoba dulu? Kita susun kursi-kursi dulu. Dirapatkan saja."
"Apa gak kepanasan orang-orang di dalam?"
Pak Iki terdiam sejenak. Freya yang tidak lagi fokus menyapu pun berteriak di dalam hati.
'Pak Iki, minta Pak Iwan pasang Ac aja!'
Seolah mendengar suara hati Freya di depan sana, Pak Iki menjentikkan jarinya.
"Bapak tambahkan saja Ac di aula. Kan tertutup ruangannya."
"Em. Apa gak bau? Pasti orang-orang itu banyak macam baunya."
"Iya juga, ya."
Pak Iki kembali berpikir. Butuh beberapa saat sebelum dia berkata kembali.
"Ditaruh pengharum ruangan Pak. Sesekali kita buka fentilasi udara. Setelah baunya hilang, baru tutup lagi. Kasihan Pak kalo sampe pohon ini ditebang."
Pak Iwan menyetujui saran Pak Iki. Kemudian, pria tua itu pergi dari sana sambil menghubungi seseorang.
Freya menatap kepergian Pak Iwan. Dia ingin menghampiri Pak Iki, tapi tiba-tiba Jeremy datang dan mengagetkannya.
"Freya!"
"Ha? Ya?"
__ADS_1
Freya menghembuskan napasnya. Menormalkan detak jantungnya yang melompat karena terkejut.
"Jeremy, udah berapa kali aku bilang jangan kagetin aku," kata Freya.
Jeremy tertawa ringan. "Ekspresi kamu lucu kalo kaget."
Freya termangu sejenak. Ini sudah yang kesekian kalinya Jeremy menyebutnya lucu. Terkadang juga dia memuji Freya dengan mengatakan jika dia memiliki mata yang cantik. Freya tidak ingin berasumsi jika Jeremy menyukainya seperti itu karena saat Lucas mengatakan untuk tidak terlalu dekat dengan Jeremy, dia menduga jika Jeremy suka merayu banyak perempuan seperti yang dia lakukan sekarang pada Freya.
Freya berusaha menjaga jarak, tetapi Jeremy akan selalu muncul secara tiba-tiba di depannya. Pada akhirnya, Freya membiarkan Jeremy berada di sekitarnya selama dia tidak melakukan hal buruk pada dirinya.
"Ada perlu apa?" tanya Freya mengalihkan pembicaraan.
Jeremy mengangkat tangannya yang membawa satu kantong plastik berisi makanan.
"Ayo, makan dulu. Kamu udah nyapu dari tadi. Belum makan 'kan?"
Freya melihat makanan yang dibawa Jeremy. Itu adalah bakpao dan juga donat.
"Sini duduk."
Jeremy mengajak Freya untuk duduk di akar pohon yang timbul ke permukaan tanah. Dia mengambil sapu lidi dari tangan Freya dan menaruhnya di sisi batang pohon.
"Nih." Jeremy memberikan satu bakpao rasa coklat keju. Freya hanya memandangnya dan mengatakan pada Jeremy. "Aku belum cuci tangan."
"Sekalian mau ke toilet bentar."
"Iya. Aku tunggu di sini."
Freya memberikan senyum tipis sebelum dia berdiri.
Jika Freya pergi ke toilet perempuan dari lapangan basket, maka dia harus melewati kelas Lucas.
Sejujurnya, Freya senang karena dia bisa melihat Lucas di sekolah. Selain itu, dia sengaja memilih halaman di samping lapangan basket untuk menyapu karena sesekali, Lucas akan bermain basket bersama dengan teman-temannya.
Dengan senyum kecil di wajahnya, Freya berjalan menuju toilet. Namun, harapannya untuk melihat Lucas sedikit tergores.
Freya melihat Lucas tengah berbicara dengan perempuan yang sama di beberapa hari yang lalu. Mereka terlihat akrab. Posisi mereka berdiri juga seperti tidak ada jarak jika dilihat dari tempat Freya berdiri.
Mereka berdua berbicara di depan pintu. Saat ada seorang laki-laki berjalan melewati mereka, tanpa sengaja dia menabrak punggung gadis itu dan membuatnya terdorong ke depan.
Lucas dengan sigap menangkap tubuh gadis itu. Kini mereka tampak seolah-olah tengah berpelukan.
Freya melihat gadis itu memandang Lucas dengan tatapan terkejut. Gadis itu tidak bergerak dari tempatnya sama sekali sampai Lucas sedikit mendorong tubuhnya.
Gadis itu tertawa kecil sambil menunduk. Menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Menyembunyikan raut wajah malunya.
__ADS_1
Freya tidak tahu apa yang Lucas katakan. Dia menjadi ragu, apakah harus berbalik atau tetap berjalan.
Jika hanya melihat Lucas berpelukan dengan perempuan lain dia sudah tidak tahan, bagaimana jika nanti Lucas menikah? Padahal dirinya sudah berjanji jika akan menjadi orang yang paling bahagia dengan pernikahan Lucas.
Lama dia berpikir. Pada akhirnya, Freya tetap melanjutkan jalannya.
...***...
"Maaf lama."
Jeremy hampir tertidur di bawah pohon karena angin sejuk yang menerpa wajahnya.
Dia berkedip berkali-kali dan melihat Freya yang sudah duduk di sampingnya.
Mata gadis itu terlihat memerah dan sedikit bengkak. Bibirnya juga tampak merah, seperti orang yang habis menangis.
"Freya. Kamu baik-baik aja?" tanya Jeremy.
Freya mengangguk dan tersenyum. "Boleh aku minta bakpao nya?"
Jeremy menjadi gelagapan. Buru-buru dia mengambil bakpao dan memberikannya pada Freya.
"Makasih, Jeremy."
Freya mengambil bakpao dari tangan Jeremy. Mengunyahnya berkali-kali dan setelah dirasa halus, dia pun menelannya.
Di samping Freya, Jeremy juga memakan satu bakpao. Dia dengan terang-terangan memperhatikan wajah Freya.
Bibir kecilnya bergerak-gerak mengunyah bakpao. Pipinya juga mengembung, membuat Freya menjadi imut.
"Freya. Pulang sekolah kita jalan, yuk?"
Freya menolehkan kepalanya ke samping. "Jalan ke mana?"
Jeremy menarik tubuhnya. Menyandarkan punggungnya ke batang pohon. Dia melihat Freya. "Ikut aja nanti."
Freya terlihat berpikir. Wajahnya menunduk, melihat rumput di bawah kakinya.
"Ayo, Freya. Kita butuh hiburan untuk lepasin stres. Capek banget gotong royong hari ini. Aku pengen makan es krim di kafe deket sekolah. Mau gak?"
Mendengar kata es krim, Freya menjadi tergiur. Sudah lama dia tidak membeli es krim. Dulu, dia bersama Lucas akan berlari menuju kulkas berisi es krim jika Mia atau Bryan membawa mereka ke supermarket.
"Freya. Mau gak?" tanya Jeremy sekali lagi.
Freya mengangguk cepat. Dia ingin memakan es krim untuk mengalihkan pikirannya. Supaya tidak lagi memikirkan Lucas dan segera bangkit dari patah hati.
__ADS_1