Cold Love

Cold Love
Bab 63. Kenangan Lama Yang Masih Tersimpan Rapi


__ADS_3

Sepulang dari sekolah Syakia, Freya terus melamun selama dia bekerja. Beruntung dia tidak merusak apa pun sehingga semua masih berjalan dengan baik.


"Freya. Kamu baik-baik aja?"


Viola datang dari arah dapur. Menepuk pelan pundak Freya yang tengah merenung sambil membersihkan meja.


Freya tidak begitu terkejut dengan tepukan Viola. Pikirannya memang penuh dengan perkataan dari wali kelas Syakia, tapi dia berusaha untuk tidak terlalu larut di dalamnya.


"Kenapa, Mbak?"


"Kamu melamun aja dari tadi. Ada masalah?"


Viola bertanya dengan khawatir. Sejak tadi sore, dia melihat Freya kurang fokus dalam melakukan tugasnya. Padahal biasanya, dia adalah orang yang paling bersemangat ketika mengerjakan semua pekerjaannya.


Namun, hari ini, Freya terlihat merenungkan sesuatu. Oleh sebab itu, Viola yang sejak awal telah memperhatikannya tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


Freya menjawab dengan tawa yang dia selipkan. "Gak ada, Mbak. Cuma mikir mau ajak Syakia ke mana besok."


"Oh, iya. Besok Minggu, ya? Di toko libur juga?"


"Enggak, Mbak. Jatah libur aku udah geser jadi hari Minggu biar ada waktu penuh untuk Syakia."


Viola tersenyum bangga dengan pemikiran Freya. Meskipun dia sibuk bekerja, tapi Freya tetap mencari waktu luang untuk bersama Syakia.


"Pergi ke ini aja, taman lalu lintas itu. Tau gak? Seingat aku di sana banyak hal yang bisa dimainin sama anak-anak."


Freya tampak berpikir. "Taman yang mana, Mbak?"


"Bentar." Viola merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. Kemudian, dia membuka benda tersebut. Mencari mesin pencarian, lalu mengetik beberapa kata di kolomnya. Setelah menunggu beberapa detik, muncul beberapa artikel yang dia butuhkan.


Viola menggeser ponselnya lebih dekat ke arah Freya agar wanita itu bisa melihatnya. Freya mengintip dari samping Viola.


"Oh, tamannya bagus. Oke, besok aku ke sana sama Syakia." Dia menoleh pada Viola, "makasih, Mbak."


Viola balas melihatnya. Dia menjawab sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.


"Sama-sama. Oh, ya. Freya, ada yang mau aku bahas sama kamu."


"Apa, Mbak?"


"Kamu tau swalayan yang paling besar di kota gak?"


"Tau. Kenapa emangnya, Mbak?"


"Swalayan itu kan mau diubah jadi mal. Nah, aku udah dapet tempat untuk buka kafe di sana. Dari dulu aku pengen bikin kafe di mal. Karena ada kesempatan, langsung aku ambil. Cuma . . . jaraknya jauh dari rumah kamu. Apalagi kalo shift malam. Kasian kamu sama Syakia. Jadi, aku mau tanya. Kamu mau lanjut kerja di kafe gak? Tapi dari pagi sampek sore."


Freya diam sejenak sembari memproses pernyataan Viola. Tak berapa lama, dia balik bertanya. "Kalo aku masuk pagi, berarti bentrok sama toko?"


Viola mengangguk pelan. Pandangannya jatuh ke bawah karena dia merasa tidak enak. Bertanya seperti itu pada Freya sama saja menyuruhnya untuk memilih. Namun, Viola tidak punya pilihan lain selain menanyakannya.


"Kamu diskusi aja dulu sama orang di toko. Sekadar informasi aja, hehe. Kalo kita buka di mal, gajinya lebih gede." Viola tertawa cengengesan sebelum menepuk pundak Freya dan kemudian melarikan diri ke dapur.

__ADS_1


Freya tersenyum kecil melihat tingkah Viola. Yah, wanita itu memiliki niat yang baik. Akan tetapi, Freya masih bekerja di toko Kakek Pati karena orang-orang di sana sangat baik padanya. Dia juga merasa berhutang budi.


Namun, dirinya juga harus memikirkan masa depan Syakia. Mengumpulkan uang lebih banyak adalah prioritas Freya sekarang.


Wanita itu menghela napas sambil kembali mengelap meja. "Lama-lama aku benci sama uang. Hah! Tapi masalahnya butuh!"


Dia mulai menggerutu sendiri. Setelah memikirkan beberapa kali, Freya memilih untuk membahas hal ini dengan semua orang di toko di hari Senin nanti.


...****************...


Di Minggu pagi, Freya dan Syakia telah selesai berpakaian rapi. Tidak formal dan juga tidak terlalu santai. Keduanya berpakaian dengan nyaman, cocok untuk tempat tujuan mereka hari ini.


Freya merapikan bajunya sedikit di depan cermin. Dia mengambil topi putih di atas meja dan memakaikannya di kepala. Setelah dirasa bagus, Freya mengambil topi lain untuk dipakaikan pada Syakia.


"Syakia, pakai topi dulu. Biar gak kepanasan nanti."


Freya menyesuaikan tingginya dengan Syakia. Gadis kecil itu sibuk menggambar di buku tulisnya.


"Eh, Syakia. Kenapa buku ini dicoret-coret? Kan ada buku gambar."


Syakia berhenti menggambar saat Freya menutup buku tulisnya.


"Sini, pakai dulu."


Gadis itu diam dengan patuh. Membiarkan Freya memasangkan topi untuknya.


"Nah, udah cantik."


Diam-diam, Freya berpikir jika Syakia sangat mirip dengan Lucas. Wajah tanpa ekspresi itu . . . benar-benar persis sepertinya.


Aku mikir apa, sih?


Freya menepis pemikiran itu. Kemudian, dia berdiri dan pergi mengambil sesuatu dari dalam laci. Lalu, dia kembali pada Syakia yang tengah memperhatikan dirinya.


"Pakai ini, ya?"


Syakia menatap datar benda yang dipegang oleh ibunya itu. Mata monolid itu bergeser ke samping. Tidak mengiyakan, tapi juga tidak menolak.


Freya menghela napas ringan. "Syakia. Kamu gak mau dengar dengan jelas? Kita mau pergi main, lo."


Syakia masih tidak memberi jawaban. Gadis kecil itu membuang mukanya ke samping.


"Syakia."


Dia masih diam.


"Sayang." Freya menarik dagu Syakia agar melihat ke arahnya. Gadis kecil itu menatap Freya seolah dia tidak peduli.


Ada debaran aneh di jantung Freya ketika dia menatap tepat di mata Syakia.


Anak ini . . . memiliki tatapan yang sama dengan Lucas.

__ADS_1


Ah, Freya kesal. Dia yang mengandung, tapi mengapa Syakia lebih mirip ayahnya?


"Pakai, ya? Bunda mau Syakia belajar dengan suara-suara yang lain. Oke?"


Melihat ibunya yang memohon seperti itu membuat hati gadis kecil itu luluh. Meskipun dia tidak suka menggunakan alat bantu dengar tersebut, untuk kali ini dia akan memakainya.


Pergi bermain bersama ibunya adalah hal yang membahagiakan untuk Syakia. Jadi, dia sama sekali tidak ingin membuat ibunya sedih.


Pada akhirnya, bujukan Freya berhasil. Syakia mau memakai alat tersebut dan mereka pergi sambil bergandengan tangan.


...****************...


"Syakia, naik ini mau?"


Hampir seluruh taman tersebut habis mereka telusuri. Freya melihat ayunan yang terpasang di bawah pohon berukuran cukup besar. Dia menarik Syakia menuju ayunan tersebut sebelum diduduki oleh orang lain.


"Hup! Anak Bunda udah berat, ya."


Karena ayunan tersebut lebih tinggi dari pada Syakia, Freya harus mengangkat gadis tersebut agar dia bisa duduk di atasnya.


"Pegangan yang erat, ya. Bunda dorong, nih."


Freya menarik pelan tali ayunan, lalu dia mendorongnya dengan tempo yang sama. Ayunan ini cukup tinggi, berbahaya jika dia mendorongnya terlalu kuat.


Samar-samar Freya mendengar suara yang berasal dari Syakia. Wanita itu mengintip sedikit untuk memastikan pendengarannya. Kemudian, dia mendapati senyuman lebar tercetak di wajah Syakia.


Ketika dia melihatnya, mendadak kenangan masa lalu yang tidak pernah dia ingat lagi mulai muncul seperti kaset tua.


Bermain ayunan setiap pulang sekolah.


Didorong oleh seseorang yang berharga di masa lalu. Tersenyum malu-malu, tapi di saat yang sama juga merasa bahagia.


Kenangan indah yang ingin dia lupakan, tapi jauh di dalam lubuk hatinya . . . kenangan itu masih tersimpan dengan rapi.


"Bunda!"


"Ya!"


Freya tersentak mendengar suara keras Syakia yang memanggilnya. Gadis itu berpaling ke belakang untuk melihat ibunya karena ayunan yang sedang dia naiki tiba-tiba berhenti.


Melihat tatapan bingung yang diberikan oleh Syakia membuat Freya menepuk keningnya sendiri.


"Maaf, ya. Bunda agak pusing tadi. Di sana ada es krim. Syakia mau?"


Syakia terlihat berpikir sejenak sebelum dia mengangguk.


"Oke. Ayo, beli."


Freya langsung menggendong Syakia di lengannya. Mengabaikan fakta bahwa berat badan Syakia telah bertambah.


Selama dia bisa menjauhkan diri dari sesuatu hal yang bisa mengingatkannya tentang Lucas, apa pun itu tidak masalah.

__ADS_1


__ADS_2