
Freya tidak tahu mengapa Lucas tiba-tiba cuek padanya. Biasanya, Lucas akan bersemangat setiap kali mereka pergi sekolah bersama. Tidak pernah lagi mengajaknya ke taman di sore hari atau bermain bersama seperti biasanya.
Setelah orangtuanya resmi bercerai, Lucas menjadi orang yang berbeda dari dirinya yang biasa. Tidak ada lagi keceriaan di wajahnya. Tidak ada lagi keramahan dan kelembutan dalam diri Lucas.
Lucas telah berubah. Menjadi pribadi yang beku. Tak ada interaksi dengan orang lain. Freya memperhatikannya, Lucas diam-diam menjaga jarak dari semua orang tanpa terkecuali.
Akan tetapi, meskipun dia terlihat tidak memiliki semangat seperti sebelumnya ketika bersama Freya, Lucas tetap menunggu dirinya untuk berangkat bersama ke sekolah.
Tahun pun berlalu. Kini, Freya dan Lucas telah lulus SMP. Keduanya akan duduk di bangku pertama Sekolah menengah atas. Awalnya, Bryan ingin memasukkan Lucas ke sekolah internasional di Jakarta agar dirinya tidak jenuh bersekolah di sekolahan negeri. Namun, Lucas menolak dan tetap bertanya pada Freya seperti biasa.
"Mau di mana?" tanya Lucas sambil membaca buku Tutorial Bermain Gitar Bagi Pemula. Di ruang televisi, ada Bryan dan juga Freya tengah duduk untuk membahas kelanjutan pendidikan mereka.
Freya menjawab dengan canggung. Dia masih belum terbiasa dengan suara datar Lucas. Dulu, Lucas selalu bertanya padanya dengan wajah dan suara ceria. Matanya berbinar seperti cahaya matahari dan suaranya lucu layaknya anak kecil yang bersemangat akan sesuatu.
"Ke mana aja boleh."
Lucas bertanya lagi tanpa menoleh. "Iya, di mana?"
"Sekolah yang dekat dengan rumah?"
Lucas mengangguk dan melihat ke arah Bryan. "Di sana aja." Kemudian kembali pada bukunya.
Bryan membuang napasnya. Kalimat Lucas tidak pernah lagi panjang. Selama kata yang dia keluarkan membuat orang paham, Lucas akan menghentikannya sampai di sana.
Dua bulan kemudian, Lucas dan Freya mulai menjalani kehidupan mereka sebagai anak SMA. Keduanya tidak berada di kelas yang sama. Freya duduk di kelas IPA/B, sementara Lucas di kelas IPS/A. Lucas tidak suka berhitung, maka itu dia mengambil jurusan IPS.
__ADS_1
Tidak seperti ketika mereka berada di SD atau SMP. Lucas tidak merajuk atau marah karena tidak sekelas dengan Freya. Dia terlihat tidak peduli. Dia juga tidak menunggu Freya lagi untuk berangkat bersama.
Mereka seolah-olah berada di jalan masing-masing.
Lucas menjadi lelaki populer di sekolahnya karena wajah Lucas yang tampan. Kulitnya tidak terlalu putih, tapi juga tidak gelap. Bersih dan halus. Matanya terbuka indah tanpa lipatan kelopak mata. Terlihat tajam, seakan tidak ada satu orang pun yang boleh mendekatinya. Hidung yang dimiliki Lucas berasal dari ayahnya, Bryan. Tinggi dan pas di wajah tegasnya. Bibirnya tidak tebal dan juga tidak tipis. Garis rahangnya pun tegas dan indah. Tidak memiliki banyak lemak di bawah dagunya. Lucas disebut sebagai bibit unggul karena di usianya, dia sudah menjadi incaran banyak perempuan. Dia suka olahraga dan mendaftar di klub basket. Lucas juga memiliki beberapa teman di kelas. Masih sama seperti beberapa waktu terakhir, Lucas masih menjaga jarak dengan semua orang meski dia memiliki banyak teman.
Berbanding terbalik dengan Lucas yang populer dan disukai banyak orang. Freya tumbuh menjadi perempuan cantik. Matanya bulat dan indah seperti gunung. Kelopak matanya terlihat jelas. Alisnya sudah tebal, tidak perlu diukir lagi. Bulu matanya sedikit lentik, hidungnya tidak terlalu mancung. Pipinya sedikit berisi dan terdapat warna merah muda walau samar-samar. Bibirnya kecil nan penuh. Warnanya ranum, begitu memikat lelaki yang melihatnya. Saat pertama kali memperkenalkan diri, banyak orang yang suka dan ingin berteman dengannya. Banyak laki-laki yang mencoba mendekatinya, tetapi saat mereka mengetahui jika Freya tidak memiliki kelingking di tangan kirinya, diam-diam mereka menjauhkan diri. Tidak lagi mendekati Freya dan mengabaikan keberadaannya.
"Woi. Jalan pake mata. Kesel banget gue. Dari pada lo bengong di situ, mending beliin bakso gue."
Di tengah keramaian murid di kantin, Freya tidak sengaja menabrak seorang kakak kelas yang tidak menyukainya karena lelaki yang orang itu sukai mendekati Freya.
Walaupun lelaki itu berhenti merayu Freya karena kekurangan yang dia miliki, perempuan di depannya ini tetap membencinya.
Teman perempuan itu menyeletuk. Kalimatnya tidak lengkap, tapi Freya tahu arah tujuan yang dia maksud.
Wajah Keysha mengernyit. Dia baru ingat setelah temannya berbicara.
"Iya juga, ya. Dih, pantes aja Bio berhenti deket-deket sama dia. Emang, ya. Di dunia ini tuh gak ada yang sempurna. Eh, tapi gue sempurna. Gak kayak orang di depan gue."
Freya yang disindir secara terang-terangan, mengepalkan kedua tangannya. Ini bukan pertama kalinya Freya menghadapi situasi ini. Daripada telinganya semakin sakit mendengar hinaan kakak kelasnya, Freya memilih untuk segera pergi dari sana.
Akan tetapi, ketika dia berbalik dengan buru-buru ... Freya tidak sengaja menabrak Lucas yang berjalan dari arah belakangnya.
Kuah bakso tumpah mengenai seragam sekolah Lucas. Teman-teman Lucas yang berjalan di sampingnya sembari memegang mangkuk bakso terkejut dan melihat ke arah Freya.
__ADS_1
"Ma, maaf." Freya berdiri kaku. Tangannya berhenti di udara. Tidak berani melakukan apapun karena dia takut Lucas semakin tidak nyaman.
Di sekolah ini, tidak ada satu pun yang tahu jika Freya dan Lucas saling mengenal. Lucas tidak pernah berbicara atau mencarinya seperti saat mereka masih SD atau SMP. Tidak menegurnya sama sekali.
Jadi, ketika Lucas pergi begitu saja membuat mereka semakin bertanya-tanya.
...***...
Freya tidak berani menyusul Lucas dan dia juga tidak bisa menghampiri Lucas di parkiran. Sejak mereka masuk SMA, Bryan membelikan sepeda motor untuk Lucas karena dia ingin pergi ke sekolah sendirian. Tidak ingin di antar. Sementara Freya tidak ingin merepotkan Bryan. Jadi, dia pergi dengan bus karena sekolah mereka pun tidak terlalu jauh dari rumah. Hanya butuh waktu 10 menit menggunakan kendaraan umum.
Sesampainya di rumah, Freya langsung mencari keberadaan Lucas dan menemukannya sedang minum air di dapur. Masih dengan seragamnya yang kotor karena kuah bakso yang tumpah.
"Lucas," panggil Freya pelan.
Lucas berbalik setelah meletakkan gelasnya di wastafel. Menatap Freya dengan tanda tanya.
"Maaf untuk yang tadi. Aku gak sengaja nabrak kamu di kantin."
Lucas menatap Freya yang berdiri dengan canggung di pintu dapur. Dia bergumam sebagai jawaban. Kemudian berjalan ke luar dapur melewati Freya.
Freya berusaha menahan diri. Lucas pasti akan kembali menjadi Lucas yang dulu jika dia tetap bersabar. Mengikuti apa kemauan Lucas dan membuatnya nyaman tanpa harus bertanya macam-macam. Apalagi bertingkah yang bisa saja membuat Lucas semakin dingin padanya.
Karena Freya yakin, Lucas seperti ini karena perceraian orangtuanya. Bukan karena dirinya. Tidak ada alasan Lucas berubah karena dia. Freya merasa tidak melakukan kesalahan.
Lucas hanya butuh sedikit lagi waktu untuk menerima semua ini dan akan kembali ke dirinya yang lama. Freya yakin dan akan menunggu hal itu terjadi.
__ADS_1