
Minggu tersulit yang memberikan tekanan penuh pada mahasiswa, akhirnya telah berlalu. Kebanyakan dari mereka berkumpul di satu tempat untuk merencanakan liburan. Sementara yang lainnya memilih untuk berbaring di kasur selama masa pakansi atau menghabiskan waktu sendirian.
Siang itu, Lucas baru saja keluar dari ruang ujian. Dari arah belakangnya, Daniel melompat ke atas punggung Lucas. Berat tubuhnya tidak seringan kapas sehingga dengan tanpa perasaan, Lucas memukul kuat pelipisnya.
"Aw! Sakit! Lo gak ada perasaan banget, maen geplak kepala orang."
Daniel mengeluh kesakitan dan menyalahkan Lucas atas kesalahan yang dia perbuat sendiri. Pria itu turun dari punggung Lucas setelah terkena pukulan di pelipisnya. Dengan raut datar serta nada suaranya yang tidak jauh beda dengan roman mukanya, Lucas berujar pada Daniel yang masih menggerutu di belakangnya.
"Gak usah banyak tingkah."
Lucas memutar setengah badannya ke belakang untuk mengatakan kalimat menyebalkan itu pada Daniel. Orang yang mendapatkan penolakan itu berdecak kesal, melihat pihak lain melalui ujung mata. Akan tetapi, tidak sampai dua detik, orang itu telah kembali seperti semula. Tersenyum lebar dan kembali merangkul pundak Lucas.
Pihak yang selalu menjadi sasaran rangkulan Daniel pun tidak mendorongnya pergi. Terlalu malas melakukannya, karena bagaimanapun dia mengusir Daniel . . . pria itu akan datang lagi dan mengganggunya sampai dia mendapatkan kepuasannya.
Mereka berdua berdiri di tengah-tengah pintu, menghalangi orang lain untuk keluar. Daniel melihat ke belakang saat mendengar suara seseorang berdeham. Ketika dia berbalik, dia mendapati Pak Retno berdiri di belakang mereka. Wajahnya seolah menyuruh mereka segera menyingkir. Kertas-kertas di tangan pria tua itu terlihat seperti akan jatuh jika mereka tidak langsung pindah.
"Maaf, Pak."
Daniel menyengir dan menarik tengkuk Lucas untuk menjauh dari pintu kelas. Orang yang diseret pun tidak memberontak. Alasannya sama. Daniel tidak akan berhenti melakukannya, bahkan jika dia menampar atau menendang jauh lelaki itu.
Setelah mereka berada cukup jauh dari kelas, Daniel baru melepaskan lengannya dari leher Lucas. Tidak banyak mahasiswa yang berlalu-lalang lagi setelah ujian selesai. Mereka telah menghilang dari lingkungan kampus. Waktu liburan tidak akan mereka sia-siakan sama sekali.
Lucas meregangkan lehernya yang sakit akibat ditarik paksa oleh Daniel. Manusia satu ini tidak pernah bersikap sopan sama sekali terhadapnya, bahkan dari sejak pertama kali mereka bertemu.
"Malam ini ke bar, yuk! Gue traktir."
Lucas menggeleng, menolak ajakan Daniel. Dia belum pernah pergi ke tempat itu sama sekali dan dia juga tidak punya keinginan untuk pergi ke sana.
Mendapatkan penolakan lagi dari Lucas, Daniel tidak lekas mundur. Dia berkata lagi. "Lo jarang banget ikut latihan basket, padahal Kak Vilan udah bilang kalo lo bakal jadi pemain inti. Gue udah berusaha buat ngasih alasan ke Kak Vilan tentang kesibukan lo selama ini, makanya lo masih bisa jadi pemain inti. Ikut gue nanti malam sebagai rasa terima kasih."
"Sok tahu banget lo tentang kesibukan gue."
Daniel mendengus. "Lah? Bokap gue klien lo. Ya, wajar gue tahu. Yang ngatur jadwal pertemuan kalian kan gue. Jadi, gue tahu sedikit tentang apa aja yang lo lakuin."
"Bokap lo?" Kerutan kecil muncul di dahi Lucas.
Daniel mengangguk. "Iya. Abel Crimson dari perusahaan Crimson."
Lucas menurunkan pandangannya, mengingat kembali nama lengkap salah satu investor yang menanamkan saham di perusahaannya kedua terbesar setelah perusahaan Abadi Maju milik ayah Aurora, Pak Oga Darmawangsa.
Bisa-bisanya dia tidak menyadari nama belakang Pak Abel sama seperti Daniel. Pantas saja mereka bertemu di acara pernikahan putri dari Pak Oga. Kedua perusahaan itu juga melakukan kerja sama sejak beberapa tahun yang lalu.
"Jadi, lo ikut 'kan?"
Lucas membuang napasnya. "Gak. Gue gak suka ke bar."
"Gue gak peduli. Malam ini gue tunggu di sana. Alamatnya gue kirim nanti. Dah!"
__ADS_1
Lucas hendak berteriak menolak ajakan Daniel, tapi pria itu telah berlari dengan kencang seolah dia sedang mengikuti lomba lari. Tidak takut jatuh sama sekali saat menuruni tangga. Lucas menghela napas. Tak jauh dari tempat mereka berdiri terdapat lift dan Daniel malah berlari tidak jelas menuju tangga. Lucas rasa sampai kapan pun dia tidak akan pernah memahami tingkah laku Daniel.
...***...
Rencana awal ialah menolak keras ajakan Daniel setelah lelaki itu mengirimkannya alamat bar. Akan tetapi, Lucas tiba-tiba mengingat petuah dari Bryan bahwa untuk mempertahankan relasi dengan para klien atau investor . . . dia harus menjaga orang-orang yang berhubungan dengan mereka. Seperti anak, keponakan, dan hubungan kerabat lainnya. Lucas diwajibkan untuk merawat mereka jika ingin mendapatkan kesan yang baik oleh para klien atau investor. Sangat melelahkan bagi Lucas, tapi dalam industri bisnis . . . hal-hal seperti ini adalah sesuatu yang biasa. Suka atau tidak, selama dia belum berada di puncak . . . dia harus melakukannya.
Di sini lah dia sekarang. Terjebak di antara dua orang anak dari investor sekaligus kliennya. Akhir-akhir ini, dia harus berurusan dengan putri Pak Oga dan malam ini . . . dia mesti datang sebagai bentuk rasa terima kasihnya atas bantuan kecil dari Daniel. Sejujurnya, dia tidak terlalu memikirkan untuk menjadi pemain inti. Kegiatan yang dia lakukan sudah cukup membuatnya lelah. Namun, karena Daniel telah membantunya dia tetap harus berterima kasih.
Lucas memasuki bar yang memiliki nuansa elegan. Cahaya remang-remang yang ada pun sesuai dengan seleranya. Tidak terang dan juga tidak gelap. Bar ini terlihat seperti sebuah kafe, tapi tata letak meja dan juga suara musik yang dihidupkan berbeda. Suasananya jauh lebih tenang dari yang Lucas kira. Orang-orang yang datang duduk dengan tenang dan berbicara dengan suara yang tidak terlalu besar.
"Datang juga lo. Sini, sini. Duduk."
Daniel memanggil Lucas begitu dia melihat sosoknya yang berjalan masuk. Dia telah memesan meja di sudut ruangan. Sofa empuk itu diduduki oleh ketiga teman Daniel yang tidak Lucas kenali.
Daniel tidak mengatakan apa pun tentang kedatangan teman-temannya. Dia mengira hanya ada Daniel di sana. Oleh karena itu, dia masih mau datang.
Lucas menduga jika Daniel sengaja tidak mengatakannya karena dia tahu bahwa Lucas tidak akan datang jika ada orang lain yang bergabung dengan mereka.
Karena sudah terlanjur tiba, Lucas tidak memiliki pilihan lain selain duduk bersama mereka. Dia duduk di samping Daniel, menahan diri untuk tidak memukul wajah lelaki itu.
"Kenalin, ini temen-temen gue. Yang rambut merah namanya Oscar, yang lagi mainin cewek namanya Bima, yang duduk melamun gak jelas itu Adri."
Selesai mengenalkan teman-temannya, Daniel bergantian menyebutkan nama Lucas pada mereka.
Lucas melihat mereka satu per satu dan mengangguk kecil. Teman-teman Daniel terlihat jauh lebih tua dari mereka. Sekitar 30 tahun ke atas.
Pantas saja dia bisa masuk dengan mudah saat menyebut nama Daniel. Seharusnya, umur 20 tahun ke atas baru diperbolehkan untuk memasuki bar.
Pertemanan mereka sepertinya sangat erat sampai dia bisa memanggil nama orang yang lebih tua tanpa embel-embel kak, om, atau sebutan lainnya.
Entah mengapa Lucas merasa jika lingkaran pertemanan Daniel memiliki sifat yang sama seperti dia. Aneh, tidak jelas, dan suka menggoda wanita cantik. Terutama bagaimana mereka bisa saling mengenal dengan jarak umur yang sangat jauh?
"Lo mau minum apa?" tanya Daniel.
"Gak ada."
"Kita udah di sini. Masa lo gak minum?"
Lucas menggeleng. Dia tidak ingin meminum sesuatu yang bisa membuatnya mabuk. Lucas belum pernah minum alkohol dan dia tidak tahu batasannya. Terlebih dia tidak tahu bagaimana jadinya jika dia dalam keadaan mabuk. Akan sangat memalukan jika dia bertingkah bodoh selama kehilangan kesadaran.
Daniel tidak memaksa Lucas lagi, tapi dia diam-diam melirik ke arah bartender. Memberi kode untuk membuatkannya minuman.
"Santai aja, Lucas. Kayak gak pernah liat begituan aja. Biasanya lo juga gitu 'kan?"
Daniel berkata sambil mengambil kacang di atas meja. Kemudian dia menyandarkan punggungnya di sisi sofa sembari merentangkan tangannya.
Lucas melirik tajam ke arah Daniel. Lalu, dia ikut menyandarkan tubuhnya. Melepaskan penat sesaat di kursi empuk.
__ADS_1
Dia melihat teman-teman Daniel yang duduk ditemani oleh wanita-wanita muda berpakaian terbuka. Terkadang mereka melakukan hal-hal yang tidak pantas untuk dilihat. Lucas sama sekali tidak nyaman berada di sana.
Daniel mengambil gelas yang berisi wine. Dia meminumnya dengan perlahan sambil melirik Lucas.
Dia menjauhkan sisi mulut gelas dari bibirnya dan bertanya, "Kenapa lo heran gitu?"
Lucas menoleh ke arah Daniel. "Apanya?"
"Lo pasti bertanya-tanya kenapa mereka bisa main sama cewek kayak gitu 'kan?"
Daniel memasang wajah serius ketika dia menebak isi pikiran Lucas. Jujur saja, apa yang dia katakan adalah apa yang Lucas pikirkan saat ini. Mengapa teman-teman Daniel bisa bermain dengan lebih dari satu wanita? Padahal usia mereka sudah cukup tua untuk melakukan hal-hal seperti ini. Apa mereka tidak memiliki istri dan anak di rumah?
Lucas tidak menjawab, melainkan dia menatap Daniel seolah mengisyaratkan jika tebakan Daniel benar.
Daniel tersenyum sambil mendengus. "Mereka itu korban dari yang namanya cinta. Dulu, mereka bener-bener cinta sama satu cewek, tapi karena mereka gak punya mobil, gak punya banyak uang, jabatan . . . mereka ditinggal. Cuma modal cinta doang gak cukup. Makanya pas sukses, mereka gak mau nikah. Jadi perjaka tua, deh."
Orang ini menjelaskan dengan baik, tetapi diakhir dengan sebuah hinaan yang ditujukan pada orang yang lebih tua dari mereka. Lucas melihat ke arah teman-teman Daniel dan mereka tidak peduli dengan hinaan itu. Mereka malah membalas candaannya seolah itu bukanlah hal yang besar.
"Kalian masih muda. Belum tahu rasanya ditinggal sama cewek yang kalian suka. Di dunia ini, khususnya untuk cowok. Kita itu harus punya ini dulu." Bima menggosokkan dua jarinya di depan mukanya. "Kalo udah ada ini, baru cewek betah. Apalagi ditambah dengan kekuasaan. Dijamin langgeng."
Setelah memberi nasihat singkat, Bima kembali pada wanita-wanita di sampingnya.
Lucas tidak memberi respons yang menonjol. Makna dari kalimat yang disampaikan Bima tidak jauh beda dengan yang dikatakan Daniel. Jika ingin wanita bertahan maka harus memiliki uang dan kekuasaan, tidak cukup hanya dengan kata cinta dan perhatian. Lucas telah melihat ibunya yang meninggalkan ayahnya hanya karena ekonomi yang merosot tiba-tiba. Ditambah ayahnya tidak memiliki kekuasaan seperti suami barunya. Oleh karena itu, Lucas percaya apa yang dikatakan Daniel dan juga Bima.
"Ah, ini minum dulu."
Seorang pelayan datang dan memberikan minuman yang dipesan oleh Daniel tadi. Dia mendorong gelas itu pada Lucas.
"Gue gak minum alkohol."
"Ini air putih. Liat bentuknya."
"Gue gak bego."
Daniel berdecak. Menipu Lucas bukanlah hal yang tepat. Jadi, dia memilih untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Oke. Itu cuma alkohol biasa. Kadarnya juga rendah. Khusus untuk pemula."
Lucas mengernyitkan dahinya. Walaupun untuk pemula, dia juga tidak berminat.
"Coba aja. Untuk kurangin stres."
Lucas mengangkat matanya ke depan. Di seberangnya, seseorang yang bernama Adri menyuruhnya untuk minum. Orang-orang di sini benar-benar tahu apa yang sedang dialami oleh Lucas. Seolah-olah mereka berada di sisinya selama 24 jam.
"Coba aja. Ntar lo malah ketagihan."
Lucas menatap ke arah gelas berisi cairan berwarna bening seperti air mineral. Setelah didesak oleh Daniel dan juga teman-temannya yang lain, akhirnya Lucas meminum alkohol pertamanya.
__ADS_1
Tepat seperti yang dikatakan oleh Daniel. Dia menjadi ketagihan dan berakhir dengan hilangnya kesadaran.