Cold Love

Cold Love
Bab 91. Menjaga Mereka Selamanya [END]


__ADS_3

Sebulan telah berlalu sejak Freya dan Lucas berbaikan. Selama itu pula Lucas mulai menjadi dirinya yang lama, meski itu hanya untuk Freya dan Syakia.


Di depan orang lain, wajahnya masih terlihat serius. Jarang memberi senyum dan tidak ramah sama sekali, bahkan Daniel mengeluh dengan ketidakadilan yang dilakukan oleh Lucas.


Selain itu, perkembangan Syakia pun terus meningkat. Kini, dia tidak perlu menggunakan alat bantu dengar karena Syakia harus terbiasa mendengar suara-suara di sekitarnya.


"Udah lengkap semua?" tanya Bryan. Hari ini, pria itu memakai pakaian santai. Dia tidak ingin pergi bekerja setelah ditekan selama seminggu penuh oleh kerjaannya.


"Udah, Pa," sahut Freya.


Hari ini, Freya, Syakia, dan Lucas bersiap-siap untuk pergi ke Yogyakarta. Hal ini dikarenakan Freya ingin mengambil semua barang-barangnya di rumah lama dan juga bertemu dengan orang-orang yang sudah membantunya selama ini.


"Hati-hati di jalan."


"Iya, Pa."


Bryan melambaikan tangannya, melihat kepergian anak dan cucunya yang diantar oleh seorang supir baru.


...***...


Mereka baru saja tiba di hotel milik Lucas. Setelah beristirahat sebentar, Freya langsung pergi ke toko Mbah Pati untuk bertemu dengan teman-temannya. Namun, saat dia tiba hanya ada seorang wanita yang tengah memaki pelanggan di depan pintu toko.


"Mbak Leli?"


Mendengar seseorang memanggil namanya, wanita itu pun memutar tubuhnya dan terkejut melihat seseorang yang telah lama tidak dia temui.


"Loh? Freya? Udah lama ndak jumpa. Apa kabar kowe? Baik?" Mereka langsung berpelukan erat.


"Baik, Mbak. Semua orang baik?"


"Baik. Sekarang cuma Mbak aja di sini. Yang lain pada ambil barang."


Selesai mengatakannya, dari belakang mereka terlihat Kakek Pati baru saja tiba dengan becak bututnya. Meskipun sudah tua, pria itu masih bisa mengingat wajah Freya dan juga Syakia.


"Mbah Pati," panggil Freya. Dia segera datang untuk bersalaman dengan pria tua itu. Syakia pun melakukan hal yang sama. Sementara Lucas terlihat canggung ketika bersalaman.


"Maaf sebelumnya saya kasar, Mbah." Lucas berkata. Pria tua itu tersenyum sambil menepuk pelan punggung Lucas.


"Tidak apa-apa. Selama kamu memperlakukan Freya dan Syakia dengan baik."

__ADS_1


Kakek Pati meminta mereka untuk masuk ke dalam, tapi ketika dia melihat keadaan toko yang berantakan karena belum selesai diatur, mereka tidak jadi masuk ke dalam.


"Kami di sini aja, Mbah. Soalnya gak bisa lama juga," kata Freya.


"Mau ke mana kowe? Buru-buru sekali," tanya Leli.


"Mau ketemu sama pemilik rumah tempat aku tinggal dulu, Mbak."


Leli mengangguk. "Oh, iya. Kowe mau pindah, yo?"


Freya mengangguk. Lalu, dia meminta maaf lagi pada semua orang karena telah merepotkan mereka selama ini. Leli yang sebenarnya suka bergosip, tidak bertanya sama sekali mengenai pria yang dia bawa. Bukan karena menghormati Freya, tapi karena tatapan Kakek Pati yang sangat tajam padanya. Seolah meminta dia untuk menutup mulut.


"Ini ada sedikit dari kami, tolong diterima. Titip untuk yang lain juga." Freya menyerahkan beberapa kantung plastik yang dipegang oleh Lucas sejak tadi. Memberikannya pada Leli dan juga Kakek Pati.


"Terima kasih. Langsung pulang?" tanya Leli.


"Iya, Mbak. Mau ambil barang dulu."


Leli pun mengangguk sambil memeluk Freya. "Hati-hati. Lain kali main lagi, ya."


"Iya, Mbak. Kami permisi."


...***...


Selesai bertemu dengan pemilik rumah dan membicarakan masalah sewa, akhirnya mereka bisa mulai membereskan barang-barang.


Lucas telah menyewa beberapa orang untuk membantu mereka karena dia tidak ingin Freya kelelahan, meskipun di awal wanita itu menolak. Namun, karena dia memaksa, akhirnya wanita itu menyetujuinya.


Lucas berkeliling di kamar Freya. Ukurannya cukup kecil dibandingkan dengan kamar mereka yang sekarang. Tidak banyak furnitur di ruangan ini. Hanya ada satu ranjang, satu lemari, dan satu meja.


Lucas membuka laci-laci meja karena bosan, tetapi dia malah menemukan dua benda yang pernah membuat hatinya terluka.


"Ini ...."


"Oh, di sini rupanya. Aku kira hilang." Lucas menoleh ke samping, mendapati istrinya berdiri di sana sambil melihat cincin dan gelang yang baru saja dia ambil.


"Kamu gak buang?" tanya Lucas.


Freya melirik mata Lucas sekilas. Lalu menjawab, "Jujur aja waktu itu aku gak tega untuk buang. Makanya aku simpan."

__ADS_1


Sudut bibir Lucas tertarik ke atas. Kemudian, dia meraih lengan Freya. Memasangkan kembali dua benda penting bagi Lucas.


"Ingat, ya. Kamu punya aku."


Mereka berdua saling tersenyum sampai suara Syakia mengganggu momen mereka.


"Bunda!"


"Iya!"


Tiba-tiba mereka salah tingkah. Freya memalingkan wajahnya dan segera menghampiri Syakia untuk membantunya membereskan pakaian.


Sementara Lucas menggosok kuat wajahnya yang perlahan mulai memerah.


...***...


Angin lembut bersiul melewati telinga. Menggelitik tengkuk ketika terkena hembusannya. Di hadapan dua makam, kelopak bunga bertaburan di atasnya.


"Hai, Ma, Pa. Maaf aku baru datang lagi sekarang."


Dengan pakaian serba hitam, Freya mulai menyapa kedua orangtuanya. Dia berusaha keras untuk tidak menjatuhkan air matanya, tetapi jika di hadapan ibu dan ayahnya, Freya tidak mampu menahannya.


"Pa, Ma. Freya mau kenalin cucu Papa dan Mama. Maaf karena baru ngenalin sekarang. Namanya Syakia. Sayang, sapa Kakek sama Nenek."


Syakia hanya memandang kedua makam tersebut tanpa ekspresi, tapi dia tetap melakukan perintah ibunya.


"Hai. Kakek. Nenek."


Freya tersenyum. Lalu, dia kembali berbicara. "Banyak hal yang Freya lewati selama ini, tapi sekarang udah baik-baik aja, kok. Jadi, Papa sama Mama jangan khawatir, ya."


Lucas yang berdiri di samping Freya pun ikut berbicara. "Maaf, Lucas gak bisa jaga anak dan cucu Papa dengan baik, tapi mulai sekarang hal itu gak akan terulang lagi. Lucas bakal jaga mereka sebaik-baiknya."


Freya menatap Lucas dengan senyuman tulusnya. Dia memeluk lengan Lucas dan berkata pada kedua orangtuanya dengan bangga.


"Lucas udah nepatin janjinya. Dia bener-bener jaga kami berdua. Makasih, Lucas."


"Jangan berterima kasih sama aku. Kamu dan Syakia adalah tanggung jawabku."


Di bawah hangatnya sinar matahari, keluarga kecil yang akhirnya bisa berkumpul saling memeluk satu sama lain.

__ADS_1


...~SELESAI~...


__ADS_2