Cold Love

Cold Love
Bab 77. Segalanya Bisa Jika Itu Untuk Anak


__ADS_3

Sudah dua hari Freya dan Syakia berada di Jakarta. Tidak ada tanda-tanda Lucas mengizinkan mereka pulang. Pria itu, bahkan tidak pergi ke kantor dan memilih bekerja di rumah.


Selain Lucas, Bryan juga tidak membiarkan Freya dan Syakia kembali ke Yogyakarta. Pria tersebut tidak ingin sesuatu terjadi pada menantu dan juga cucunya. Bryan juga mengatakan hal yang sama pada Freya.


Dirinya tidak perlu kembali bekerja karena mal itu adalah miliknya.


Freya masih belum memahami maksud dari perkataan itu. Dia ingin bertanya lebih lanjut, tapi Bryan sudah buru-buru pergi. Melihat Lucas duduk di sofa pun dia malas datang untuk bertanya.


Oleh karena itu, Freya membiarkan semua seperti ini dahulu. Dia akan memikirkannya lagi nanti. Untuk saat ini, dia harus mengurus Syakia. Sudah waktunya makan siang.


Saat tengah menyuapi anaknya dengan tenang di meja makan, tiba-tiba Freya mendengar suara pertengkaran dari ruang tengah.


Walaupun sudah lama, tapi Freya masih mengingatnya. Suara yang suka merendahkannya di masa lalu itu kembali terdengar. Sepertinya Lucas sedang dimarahi. Yah, dia tidak terlalu peduli dan tetap fokus memberi makan putrinya.


Namun, ketenangannya sirna saat wanita itu mendatanginya. Volume suaranya menggelegar. Memenuhi ruangan.


"Oh! Jadi, karena kamu udah ketemu perempuan ini lagi makanya kamu seenaknya batalin pertunangan dengan Aurora?"


Mendengar kalimat itu, sesuatu di dalam hati Freya terasa tidak nyaman. Ini aneh. Bukankah seharusnya dia tidak merasakan apa pun lagi karena enam tahun sudah berlalu?


"Anda masih saya hormati sebagai ibu saya. Tolong jaga sikap Anda. Yang memaksa saya melakukan pertunangan itu Anda. Sekarang saya memutuskan pertunangan ini."


Mata Mia semakin membesar. "Apa? Kamu jangan gila, ya! Kamu mau ngerusakin hubungan dengan Pak Oga? Ingat, siapa yang selama ini bantu kamu untuk sampai ke titik ini!"


Emosi Lucas hampir terpancing, tapi dia tetap menormalkan nada bicaranya. "Itu urusan saya. Anda tidak perlu ikut campur. Sekarang keluar dari rumah saya selagi saya masih menganggap Anda ibu saya."


"Lucas! Kamu bersikap kayak gini karena dia?" Mia menunjuk Freya. Kemudian, matanya teralih pada anak kecil di sampingnya.


Dia mengernyit. "Ini anak kamu?"

__ADS_1


Pergerakan tangan Freya terhenti. Dia bergeming, tapi telinganya mulai mewaspadai kalimat apa lagi yang akan keluar dari mulut wanita tua tersebut.


Lucas menyahut, "Anda yang paling tahu gimana saya waktu kecil."


Mia menggeram. Bohong jika dia mengatakan bahwa anak itu tidak mirip dengan Lucas. Dia sangat ingat dengan wajah kecil putranya. Mereka berdua sama-sama memiliki mata monolid dan air muka datar seperti padang pasir.


"Lucas. Apa kamu beneran mutusin pertunangan kita?" Aurora yang sejak tadi diam, akhirnya membuka mulut. Dia bertanya dengan gugup.


Freya melihatnya. Wanita itu masih sama seperti dulu, tapi entah mengapa dia tidak suka melihatnya. Lemah lembut seperti itu . . . tampak dibuat-buat.


"Ya." Lucas menjawabnya hanya dengan satu kata.


Mia kembali naik pitam. Dia menoleh ke arah Freya yang kembali menyuapi anak kecil di sebelahnya. Namun, Mia menyipit ketika melihat alat bantu dengar terpasang di telinga Syakia. Rambut gadis itu diikat ke atas sehingga menampakkan bentuk benda tersebut dengan jelas.


"Apa ini?" Mia berjalan mendekati Syakia. Melihat lebih dekat ke telinganya. Freya meletakkan piring di atas meja. Menunggu apa yang akan Mia lakukan lagi.


"Alat bantu dengar? Dia tuli?" tanya Mia ketus. Dia mendengus sambil menunjuk Freya. "Udah Mama bilang! Kalo kamu sama dia, anak kamu bakalan cacat! Pasti dia gak jaga dengan baik! Coba kamu lihat lagi, mungkin ada bagian lain yang gak lengkap."


"Akh! Kurang ajar! Berani kamu tampar saya?" Mia menyentuh pipinya yang kebas karena tamparan kuat Freya. Matanya berkilat-kilat, ingin membalas Freya, tetapi tangannya ditahan oleh Lucas.


"Lucas!"


Orang yang diteriaki menatapnya dengan dingin. Suaranya mengeluarkan hawa yang sama seperti es yang membeku. "Keluar."


Hanya satu kata, tetapi akhirnya berhasil membuat Mia dan Aurora pergi meskipun wanita tua itu berteriak marah saat keluar.


Freya menatap kepergian mereka dengan berang. Dadanya naik turun dan sekarang tangannya terasa sakit.


Ah, dia terlalu kencang memukul wanita tadi. Namun, menurutnya itu masih kurang. Seharusnya, dia menarik telinga Mia sampai wanita itu kesulitan mendengar lagi.

__ADS_1


"Buat kacau aja," kesal Freya yang didengar oleh Lucas.


Lelaki itu tertawa membuat Freya menyatukan kedua alisnya.


"Kenapa kamu? Gak sehat?"


"Haha. Makasih udah ngewakilin."


Freya semakin mengerutkan keningnya. "Apanya?"


Lucas menghentikan tawanya. Dia menghadap Freya sepenuhnya sambil tersenyum. "Aku gak bisa ngelakuin hal kayak kamu tadi. Enam tahun ini udah ngerubah Freya yang penurut jadi Freya yang suka lawan balik. Bagus, tapi jangan ke aku juga, ya."


Terbawa suasana, Lucas dengan santai mengacak-acak rambut Freya. Wanita itu langsung menepisnya. Lucas tertawa terbahak-bahak, sementara Freya merapikan kembali rambutnya yang berantakan.


"Udah. Kamu lanjut makan lagi. Aku ada urusan sebentar."


Freya menjawab dengan ketus. "Bodo amat. Kenapa malah bilang ke aku."


Lucas tersenyum lagi. Kali ini dia mendekatkan wajahnya pada Freya membuat wanita itu spontan mundur ke belakang.


"Kamu istri aku. Jadi, harus tau."


Setelahnya, dia pergi dengan senyuman yang tidak menghilang dari wajahnya, sedangkan Freya meremas kuat tangannya karena dengan bodohnya jantung itu berdebar.


Udah lama. Kenapa masih kayak dulu? Ingat Freya! Dia udah sakitin kamu!


Setelah Lucas pergi, Freya berbalik. Dia melihat Syakia menatapnya polos.


"Makan lagi, ya. Yang tadi lupain aja, ya. Tadi orang gak jelas. Gak perlu diladenin. Udah Bunda beresin. Jadi, Syakia jangan dipikirin kejadian tadi, oke?"

__ADS_1


Syakia mengangguk. Anak itu sebenarnya tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi tadi. Dia tengah fokus pada makanannya dan tiba-tiba ibunya berdiri dan langsung menampar seseorang. Samar-samar dia memang mendengar wanita itu menghinanya, tapi Syakia sudah terbiasa.


Selama ibunya baik pada dirinya itu sudah cukup untuknya.


__ADS_2