Cold Love

Cold Love
Bab 15. "Resmi Atau Tidak, Kamu adalah Tunanganku!"


__ADS_3

Jeremy berlari keluar dari kelas dengan senyuman lebar di wajahnya. Tas hitam yang dia gantung di bahu kirinya pun dia lemparkan ke wajah temannya.


"Anj!" Wahyu, korban dari timpukan tas Jeremy berteriak sambil melemparkan kembali tasnya ke arah yang punya.


"Mau ke mana, woi? Gak latihan?" tanya Chiko.


Jeremy berlari melewati teman-teman basketnya. Dia berbalik sebentar untuk menjawab pertanyaan Chiko.


"Mau pacaran!"


Semua teman-temannya bersorak. Meneriaki Jeremy yang selalu pacaran setiap hari dan menghindari latihan sepulang sekolah.


"Skip dulu! Lebih penting ini!" teriak Jeremy. Dia sudah berlari jauh ke ujung koridor.


Wahyu menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan Jeremy. Dia bertanya pada teman-temannya, "Cewek mana lagi yang dia incar?"


Chiko menyahut dari belakang. "Entah. Gak jelas dia."


Lucas melihat kepergian Jeremy dengan datar. Lalu, dia berbalik pada teman-temannya.


"Gue pergi dulu."


Chiko segera menahan Lucas. "Mau ke mana? Latihan band? Tadi lo bilang, kalian istirahat buat persiapan lusa?"


Lucas tidak menjawab dan langsung pergi meninggalkan teman-temannya.


...***...


"Freya!"


Dari parkiran, Jeremy memanggil Freya. Gadis itu hampir pergi begitu saja jika Jeremy tidak memanggilnya.


"Kamu lupa kita mau pergi ke kafe deket sekolah?" tanya Jeremy begitu Freya tiba di depannya.


Gadis itu tertawa kaku. "Maaf, aku lupa."


Tidak sepenuhnya berbohong. Dia memang melupakan janjinya dengan Jeremy. Sudah menjadi kebiasaan setelah pulang sekolah, Freya akan langsung pergi menuju halte bus.


"Gak papa," kata Jeremy, "yuk! Naik sini."


Jeremy memberikan helm yang selalu dia gantung di samping motor. Freya menerimanya dan memakai helm tersebut. Kemudian, dia menginjak tempat pijakan dan naik ke atas motor setelah Jeremy naik.


"Udah siap?"


Di belakangnya, Freya mengangguk. Jeremy menancapkan motor besarnya dan keluar dari area sekolah.


Kafe yang dikatakan oleh Jeremy berbeda arah dengan rumah Lucas. Jarak dari sekolah pun hanya memakan waktu lima menit. Benar-benar dekat dengan sekolah, seperti yang dikatakan oleh Jeremy.


Keduanya duduk di meja paling sudut. Hari ini, kafe lebih ramai daripada biasanya. Freya berpikir ketika dia memasuki kafe ini. Mungkin rasanya sangat enak sampai-sampai hampir tidak ada meja yang tersisa.


Mereka beruntung karena kursi yang mereka duduki sekarang baru saja ditinggalkan oleh pelanggan sebelumnya.


"Kamu mau es krim rasa apa?" tanya Jeremy. Seorang pelayan berdiri di samping mereka, membawa dua menu.


Tanpa perlu berpikir panjang, Freya menjawab, "Stroberi."


"Oke, rasa stroberi dua."


Jeremy mengembalikan menu pada pelayan tersebut sambil memberikan senyum kecilnya. Pelayan sedikit menunduk, kemudian pergi untuk mengambil pesanan.


"Kamu suka rasa stroberi?" tanya Freya. Dia jarang melihat lelaki memesan es krim rasa stroberi.

__ADS_1


Jeremy menggeleng. "Enggak."


"Loh? Jadi, kenapa mesen rasa itu?"


Jeremy tersenyum. Melipat kedua tangannya di atas meja. Kakinya bergerak-gerak di bawah.


Dia berkata, "Penasaran aja sama rasa yang kamu suka."


"Ha?"


"Kamu jawab gak pake mikir panjang. Berarti kamu emang suka rasa itu 'kan?"


Freya terdiam. Apa Jeremy memang orang yang perhatian? Dia selalu memperhatikan hal-hal kecil yang menurut Freya sendiri adalah hal yang tidak penting.


Pesanan mereka datang setelah lima menit berlalu. Es krimnya benar-benar terlihat lezat. Pantas saja kafe ini banyak dikunjungi.


Jeremy membicarakan banyak hal dan semua itu berkaitan dengan dirinya.


Freya adalah pendengar yang baik. Daripada bercerita, dia lebih suka mendengarkan orang lain membagi kisah tentang mereka.


Selesai menghabiskan es krim, Jeremy mengantar Freya kembali ke rumahnya.


"Eh? Ini rumah Lucas 'kan?"


Freya memutarkan kepalanya. Melihat sekilas ke rumah Lucas.


Ah, dia lupa tentang ini.


Gadis itu tersenyum sambil mengatakan sedikit kebohongan.


"Iya. Aku sama dia tetanggaan."


Tanpa berpikir panjang lagi, Freya mengangguk.


"Iya."


"Oh, yaudah. Aku balik, ya?"


Freya mengangguk. "Makasih, Jeremy."


"Yap. Sama-sama."


Freya menunggu hingga Jeremy pergi sebelum membuka pagar.


Dia melihat sepeda motor milik Lucas sudah berada di halaman depan. Freya melirik jam tangannya. Sudah pukul enam. Pantas saja Lucas telah berada di rumah.


Freya masuk ke dalam seperti biasa. Dia mengira Lucas berada di dalam kamarnya. Namun, ternyata ... lelaki itu duduk di sofa ruang tengah, masih dengan seragam sekolahnya.


Freya melihat raut wajah Lucas yang datar. Sepertinya suasana hatinya tidak baik hari ini.


Tidak ingin mengganggu Lucas dengan sebuah sapaan, Freya langsung berjalan tanpa mengatakan apapun. Melewati keberadaan Lucas begitu saja.


"Dari mana?" tanya Lucas tiba-tiba. Suaranya dingin dan tidak bersahabat.


Freya berhenti. Dia memutar tubuhnya dan balik bertanya.


"Kamu tanya aku?"


Lucas berdiri dari duduknya dan menghampiri Freya.


Didatangi seperti itu, membuat Freya sedikit takut. Tanpa sadar, dia mundur satu langkah.

__ADS_1


"Dari mana?"


"Dari kafe dekat sekolah."


"Dengan siapa?"


Freya terlihat ragu-ragu untuk menjawab, tapi tatapan Lucas memaksanya untuk lekas memberitahu apa yang dia tanyakan.


"Dengan Jeremy. Akh!"


Untuk pertama kalinya dalam pertemanan mereka, Lucas bertindak kasar.


Mendengar nama Jeremy keluar dari mulut Freya, dengan kuat Lucas menarik tangan Freya. Membuatnya hampir menabrak tubuh Lucas.


"Akh! Lucas, sakit."


"Kamu gak dengar? Aku udah bilang jangan dekat-dekat sama Jeremy!" Lucas menaikkan intonasi suaranya. Dia marah karena Freya terang-terangan pergi bersama Jeremy setelah Lucas memperingatinya.


Freya berusaha menarik tangannya. "Emang kenapa? Aku juga mau pergi bareng temen! Gak cuma pulang pergi sekolah."


Lucas tidak membiarkan Freya melepaskan diri. Dia semakin menguatkan cengkeramannya.


"Kamu punya aku. Kenapa gak bilang ke aku kalo kamu mau jalan? Atau kamu bosan cuma pulang pergi sekolah. Walaupun belum resmi, kamu itu tunangan aku! Bisa-bisanya kamu pergi sama cowok lain."


Freya terdiam.


Lucas ... masih mengingat tentang perjodohan mereka.


"Kamu ... bukannya kamu punya pacar?" tanya Freya memastikan. Ah, dia tidak ingin salah paham dengan apa yang dikatakan Lucas. Jika Lucas sudah memiliki kekasih maka mereka harus benar-benar memutuskan perjodohan yang ditentukan oleh orangtua mereka. Kemudian menjalani hidup masing-masing dengan pasangan pilihan mereka.


Kening Lucas berkerut. "Pacar? Untuk apa aku punya pacar kalo aku udah punya tunangan?"


Lidah Freya seakan menghilang. Dia tidak mampu membalas perkataan Lucas.


Selama ini, lelaki itu menganggap dirinya sebagai tunangan? Tapi mengapa sifatnya acuh tak acuh?


"Lucas, bukannya cewek yang rambut bergelombang dan panjang itu ... pacar kamu?" tanya Freya lagi.


"Siapa?"


"Itu ... cewek yang ngobrol sama kamu tadi pas lagi gotong royong."


Lucas sedikit menunduk, terlihat sedang berpikir.


"Alana?" tanya Lucas tiba-tiba.


"Aku gak tau namanya."


Lucas yakin jika yang dimaksud oleh Freya adalah Alana karena perempuan yang selalu mengajak dia berbicara akhir-akhir ini adalah Alana.


"Aku sering lihat kamu pulang bareng dia. Kalian juga kelihatan akrab," tambah Freya. Mendadak dia menjadi sedih kembali.


Lucas membuang napas kasar. Dia melihat Freya tepat di matanya.


"Dengar. Aku dan Alana gak ada hubungan apa-apa. Kami gak akrab. Kalo bukan karena pensi, aku juga gak mau pulang bareng dia."


Terdengar agak kasar, tapi penjelasan Lucas membuat Freya merasa lega.


"Freya. Aku ingatin sekali lagi. Kamu tunangan aku. Resmi atau gak, kamu itu terikat dengan aku. Jangan berani kamu pergi dengan Jeremy lagi."


Setelah mengatakannya, Lucas melepaskan genggaman tangan Freya dan langsung pergi menaiki tangga.

__ADS_1


__ADS_2