
Dua hari berlalu sejak pertemuannya dengan Mia. Sehari setelahnya, Lucas mendapatkan kabar dari ayahnya bahwa suami baru ibunya sudah membatalkan kontrak kerja sama. Lucas menghela napas. Merasa lega setelah mendengarnya.
Dia datang ke kampus sendirian pada siang itu. Kelas hari ini memiliki dosen yang kejam dan disiplin. Tidak memberi dispensasi atas keterlambatan. Akan tetapi, jika dia yang terlambat, mereka harus menunggu pria tua itu, bahkan jika dia terlambat satu jam.
Lucas sedang berjalan dengan sedikit terburu-buru. Minggu lalu, salah satu teman sekelasnya tidak diizinkan masuk karena terlambat semenit. Dalam waktu 10 menit, kelasnya akan dimulai dan Lucas tidak ingin datang terlambat ataupun tepat waktu.
Lift yang membawanya menuju lantai tiga dipenuhi oleh banyak mahasiswa. Dia harus menunggu dalam kumpulan itu untuk masuk ke dalam lift.
Ketika dia berdiri; menunggu lift terbuka, seorang kakak senior laki-laki bertubuh gempal dengan tingkah gemulai datang menghampirinya. Dia menyapa Lucas. "Dek Lucas. Mau ke kelas?"
Lucas melirik ke samping di mana senior itu berada. Dia mengangguk singkat dan kembali melihat ke depan.
Orang yang menyapa Lucas itu sadar jika dia tidak diacuhkan, tapi lelaki gemulai itu tidak terlihat akan mengundurkan diri. Dengan berani mendekatkan diri dan menempel di lengannya.
"Dek. Yakin gak mau foto kamu di upload? Instagram komunitas kami banyak pengikutnya, lo. Bukan dari kampus kita aja. Masa kamu gak mau populer? Dikenal banyak orang bagus, lo."
Dia mencoba merayunya lagi. Mencoba meminta izin pada Lucas untuk mengunggah fotonya di halaman sosial media komunitas mereka. Senior ini sudah berusaha untuk kesekian kalinya, tetapi sebanyak dia meminta sebanyak itulah Lucas menolaknya.
"Dek Lucas," panggilnya lagi karena Lucas masih mengabaikannya.
Pintu lift terbuka. Orang-orang yang berada di dalam lift mulai keluar satu per satu. Setelah ruang kecil itu kosong, para mahasiswa yang sudah menunggu selama kurang lebih tiga menit langsung memasukkan badan mereka ke dalam. Berdesak-desakkan satu sama lain karena dikejar waktu.
Lucas tidak hanya berdiri dan membiarkan lift penuh. Memanfaatkan kakiknya yang panjang, dia melangkahkan kakiknya dengan lebar dan cukup dengan satu langkah, dia sudah berada di dalam lift. Kakak senior yang berbicara dengannya hanya dapat membuka mulut. Kakinya dia hentakkan beberapa kali sebelum berbalik pergi.
Dia tiba di kelas lebih cepat dua menit. Begitu dia memilih meja dan duduk di sana, pria tua yang merupakan pengajar mata kuliah hari ini masuk dengan membawa buku di tangannya.
Banyak orang sudah menggunakan teknologi sebagai media belajar, seperti laptop dan proyektor. Namun, dosen di depannya ini tetap berpegang teguh pada buku-bukunya. Tidak menggunakan laptop dan proyektor untuk menunjukkan materi. Dia akan membuka buku dan membaca apa isi di dalamnya. Kemudian menyuruh para mahasiswa untuk mencatat apa yang dia katakan di buku catatan. Universitas sudah membuat peraturan bagi para pengajar untuk menggunakan laptop, bukan lagi membaca buku. Akan tetapi, orang tua ini tetap tidak mengindahkannya dan melakukan apa yang sudah biasa dia lakukan.
Lucas sedang fokus mendengar dan mencatat materi yang disampaikan hingga suara derit kursi yang ditarik terdengar di sebelahnya.
Lucas melirik tajam pelaku yang sudah menganggu konsentrasinya. Di sampingnya, Daniel tersenyum, menampakkan giginya yang rapi. Lelaki itu mendorong pelan kursi lipatnya ke sisi Lucas, tapi tetap saja gesekan antara telapak kaki kursi dan lantai keramik berdecit halus. Lucas berada di dekatnya, jelas dia mendengar derit kecil itu.
"Kurang jelas dengernya. Gue ketinggalan juga. Liat punya lo, ya." bisik Daniel. Kursinya sudah terletak di posisi yang sempurna. Dia mulai mengintip ke buku tulis Lucas.
__ADS_1
"Lucas. Besok penyambutan anggota basket yang baru. Selesai kelas, datang bareng. Oke?"
Lucas tidak menjawab, melainkan hanya diam sembari memberikan tatapan "Bicara lagi, gue pukul".
Lucas tidak melihatnya lagi. Meladeni Daniel sama dengan merusak pikirannya sendiri.
Mengetahui jika dirinya diabaikan lagi, Daniel memilih untuk mengambil bukunya dari dalam tas dan mulai mendengar pelajaran dengan serius.
...***...
"Lucas, Papa bilang malam ini ada undangan pesta pernikahan putri dari salah satu klien kamu, Pak Oga."
Lucas baru saja kembali dari kampus. Membutuhkan waktu yang lama untuk bisa terlepas dari Daniel. Orang itu terus mengikutinya seperti tidak memiliki hal lain untuk dilakukan. Terkadang Lucas berpikir jika Daniel memiliki kesalahan di otaknya. Seperti seorang psikopat yang mengintai mangsanya. Mungkin Daniel memang keluaran rumah sakit jiwa.
Dia membalas Freya sambil meletakkan tasnya di sofa kamar. Bertanya dengan lelah. "Kenapa baru bilang?"
Freya mengikuti Lucas, berdiri di sampingnya. "Papa lupa." Dia melihat raut wajah letih Lucas. Lelaki itu duduk di sofa dan menyandarkan kepalanya; memejamkan mata. Freya merasa tidak tega sekaligus khawatir jika dia menyuruh Lucas pergi.
"Jam tujuh."
Jari-jari Freya terpaut di depan perut. "Jangan pergi kalo kamu capek. Biar aku bilang ke Papa, ya?"
Lucas membuka matanya dan melirik Freya. Suaranya sedikit serak ketika menjawab.
"Gak perlu. Aku bisa pergi."
Ini adalah undangan dari kliennya, Oga Darmawangsa. Orang ini adalah salah satu klien yang paling penting. Jika dia tidak hadir di acara pernikahan putrinya, Lucas akan kehilangan muka jika bertemu dengannya lagi.
Dia bangkit dari duduknya. Mengambil handuk dari lemari dan berjalan ke kamar mandi. Sebelum menutup pintu kamar mandi, Lucas berkata pada Freya.
"Kamu juga ikut." Kemudian, dia menutup pintu.
Freya segera bersiap-siap. Dia sudah mandi dan hanya perlu mengganti baju. Kemudian, sedikit merias diri agar Lucas tidak malu membawanya.
__ADS_1
...***...
Pesta digelar dalam sebuah gedung mewah. Lampu hias besar berbentuk kristal tergantung di tengah-tengah ruang. Cahaya lembutnya bersinar redup karena didominasi oleh cahaya dari lampu lain.
Di dalamnya terdapat banyak meja bundar dengan empat kursi di tiap sisinya. Meja-meja tersebut disusun rapi. Para pelayan mulai membawa hidangan ke atas meja. Menatanya dengan teratur agar enak dipandang.
Tamu-tamu undangan mulai berdatangan. Membawa pasangan mereka ke pesta. Pak Oga, si pemilik acara berdiri di dekat pintu masuk untuk menyapa para tamu. Bersalaman dengan mereka dan bertukar sedikit kata.
"Oh? Lucas? Kamu datang sama ...?"
Lucas dan Freya baru saja tiba dan bertemu dengan Pak Oga setelah melewati pintu masuk.
Lucas tersenyum untuk sopan santun. Dia menjawab singkat. "Istri."
Di sampingnya, Freya tersenyum tipis. Pipinya menghangat saat Lucas menyebutnya sebagai istri.
Pak Oga membulatkan mulutnya, terkejut dengan jawaban Lucas. Dia melihat Freya dari atas ke bawah. Kemudian, kembali melihat Lucas. Pria tua itu tertawa, menepuk keras punggung Lucas.
"Bagus, bagus. Saya dulu juga nikah muda, tapi dua tahun lebih lama dari umurmu. Hehe, gak tahan saya kalo istri saya yang sekarang diambil orang. Makanya, sebelum beneran kejadian, saya tancap gas."
Orang tua itu tertawa mengingat sedikit masa lalunya. Menepuk-nepuk punggung Lucas seolah dia tengah bangga dengan prestasi putranya.
Sementara pria ini berbahagia untuknya, dia hanya tersenyum kecil sebagai tanggapan.
"Oh, Bryan mana?" tanya Pak Oga ketika dia selesai dengan Lucas.
"Papa gak bisa datang karena ada beberapa halangan. Cuma bisa nitip salam aja."
Pria itu mengangguk. "Sibuk kayaknya, ya. Yasudah, kalian duduk aja langsung. Nikmati makanannya."
Lucas dan Freya tersenyum kecil dan membungkukkan kepalanya sedikit. Kemudian berjalan lebih ke dalam.
Namun, belum lama mereka ditahan oleh Pak Oga, sekarang keduanya dihadapkan dengan orang yang paling tidak ingin Lucas temui lagi.
__ADS_1