Cold Love

Cold Love
Bab 31. Wanita Anggun dan Menawan


__ADS_3

Sekali dia bertemu dengan orang yang tidak dia suka, maka kedepannya dia pasti akan terus bertemu dengan orang itu. Tidak peduli seberapa banyak dia menolak kehadirannya, orang itu tidak menyerah dan tetap memaksakan diri untuk berbicara dengannya.


"Lucas, Mama bikin masakan kesukaan kamu."


Di depan pintu dapur, Lucas terdiam di tempat. Sementara itu, di belakangnya, Freya terkejut dengan kedatangan Mia pagi ini. Wanita yang sudah berumur 40-an itu datang tanpa pemberitahuan dan menggunakan dapur untuk memasak sarapan.


Di sebelahnya, Bi Surni mencuci piring sambil melihat tuan mudanya dengan tidak enak. Dia mengintip Mia di sela kegiatan mencucinya dan kembali pada tugasnya sendiri. Tidak ingin ikut campur dengan urusan pribadi pemilik rumah.


Mia seolah tidak merasakan tatapan padang pasir Lucas. Menata piring dan gelas di atas meja dengan senyum cerah di wajahnya. Layaknya dia masih menjadi ibu rumah tangga di keluarga itu.


"Siapa yang suruh Mama ke sini?" tanya Lucas dingin.


Mia mengangkat kepalanya dari menata peralatan makan. Masih dengan senyum di wajahnya, dia berkata, "Mama mau liat kamu. Bryan udah izinin, kok."


Lucas memiringkan kepalanya. Bertanya pada Bi Surni di mana keberadaan ayahnya. Wanita paruh baya itu mematikan keran air dan memutar badannya menghadap Lucas.


"Tuan Bryan baru aja pergi, Tuan Lucas."


Lucas menghembuskan napas kasar. Lalu, dia melihat makanan yang telah dibuat oleh Mia.


"Ayo, pergi." Lucas langsung berbalik. Bagian bawah jasnya sedikit melayang terhembus udara. Melihat anaknya pergi, Mia segera menahan lengannya.


"Lucas. Mama udah masak makanan kesukaan kamu. Lihat. Ada sosis goreng sama telur mata sapi."


Lucas menghempaskan tangan Mia. Dia berbicara tanpa melihat ibunya. "Mama kira aku masih anak kecil?" Kemudian, dia menatap Mia tepat di matanya, "jangan datang lagi. Berapa kali aku harus bilang?"


Mia menahan kekesalannya dan berusaha memberikan senyum lembut penuh ketulusan. "Lucas. Mama juga udah bilang, hubungan kita itu gak bisa diputuskan gitu aja. Mama berusaha untuk menebus kesalahan Mama sama kamu."


"Tapi aku gak butuh."


Mia terdiam, sementara Lucas melanjutkan kalimat menusuknya untuk Mia. "Mama datang pagi-pagi ke rumah mantan suami Mama. Gak takut suami baru Mama marah? Mending Mama pulang, urus suami dan anak baru Mama. Aku sama Papa udah terbiasa urus diri sendiri."


Setelah mengatakannya, dia berbalik pergi. Tidak peduli dengan teriakan Mia yang memanggilnya untuk kembali.


Sementara itu, Freya mengikuti Lucas. Hari ini, Lucas akan mengantarnya ke kampus karena dia memiliki urusan di perusahaan. Mereka berencana makan pagi bersama, tapi kemunculan Mia di rumah mereka membuat Lucas kehilangan minat untuk makan di rumah.


Lucas bersiap untuk membuka pintu. Freya datang dan menarik pelan lengannya. Lucas melirik Freya, tatapannya masih belum berubah sama sekali.


"Apa?" tanya Lucas. Mungkin karena masih kesal dengan kedatangan ibunya, Lucas tanpa sengaja menggunakan intonasi tinggi pada Freya.


Freya tersentak mendengar suara tinggi Lucas. Dia menarik kembali tangannya dan melihat ke bawah. Kalimat yang ingin dia katakan tertelan begitu saja karena ketakutannya menghadapi Lucas.


Melihat istrinya tertunduk, Lucas merasa bersalah karena membentaknya tanpa alasan. Dia membuang muka, tapi tidak meminta maaf atas kelakuannya.


"Cepat masuk. Masih ada waktu untuk sarapan di deket sini."


Lucas berkata dengan nada datar. Tidak tinggi dan juga tidak rendah.


Freya tidak membantah atau menahannya lagi. Dia mengangguk dan berjalan memutar, masuk ke dalam mobil melalui sisi lain pintu.


...***...


Selesai sarapan pagi di tempat makan yang tidak jauh dari rumahnya. Lucas bergegas mengantar Freya ke kampus sebelum mereka berdua sama-sama terlambat.


Begitu Freya turun dari mobil, Lucas langsung menginjak pedal gas dan pergi menuju perusahaannya. Bryan telah menelponnya sebanyak tiga kali selama dia masih berada di jalan untuk mengantar Freya.


Sepeninggal Lucas, Freya berdiri sebentar sebelum masuk ke wilayah fakultasnya. Dia memeriksa ponselnya dan mendapati pesan dari Aya, mengatakan jika dia sudah menunggu Freya di tangga gedung.

__ADS_1


"Maaf, lama." Freya berlari kecil menghampiri Aya. Merasa bersalah karena telah membuatnya menunggu lama.


Aya mengerutkan mukanya. Memasang ekspresi cemberut. "Lama banget. Aku berdiri di sini udah dua jam tau!"


Freya meraih lengan Aya dan menggoyangkannya. Wajahnya memelas ketika meminta ampunan pada Aya.


"Maaf, Aya. Ada sedikit masalah tadi."


Aya masih merajuk. Dia dengan sengaja membuang mukanya, membuat Freya semakin merasa bersalah.


"Aya."


Dia masih membuang muka.


"Aya ...." Freya masih terus memohon belas kasihnya.


Aya tidak mampu mempertahankan kebohongannya lagi. Dia berbalik dan tertawa kencang.


Freya melihat ke sekitar, merasa tidak enak karena suara tawa Aya mengganggu orang lain.


"Kenapa ketawa?"


Wanita yang selalu mengubah gaya rambutnya setiap hari itu menghapus setetes air asin di sudut matanya.


"Hahaha! Apa, sih, Freya? Mana mungkin aku nunggu di sini dua jam? Dua menit iya!"


Wanita itu kembali tertawa. Freya melihatnya dengan datar. Baru sadar bahwa Aya telah menipunya lagi. Lalu, Freya mencubit kulit tangan Aya yang menggunakan baju berlengan pendek.


"Aduh! Sakit, Freya."


Aya menggosok kuat bekas cubitan Freya. Temannya itu tidak main-main dalam hal menjepit kulit orang lain.


Freya baru memikirkannya. Ini bukan pertama kali dia dijahili oleh Aya, tapi tetap saja dia percaya dengan tipuan kecil dari temannya itu.


Aya masih mengelus kulitnya. Sekarang adalah gilirannya memelas, meminta belas kasih dari Freya yang mulai merajuk.


"Maaf, maaf. Lucu liat kamu ketakutan gitu. Hehe."


Setelah meminta maaf, dia masih mencoba membuat Freya kesal. Kebiasaan barunya ini tidak bisa tidak dia lakukan.


Freya meliriknya dan menggeleng. Dia hendak pergi menuju kelasnya, tapi Aya merangkulnya dari belakang.


"Mau ke mana, kawan?" tanya Aya dengan nada menyebalkan.


"Ke kelas. Udah jam berapa ini? Kita hampir telat."


Aya melepaskan rangkulannya dan berdiri di depan Freya. Rambut anyamannya terlihat berantakan hari ini. Dia mengangkat telunjuknya di depan mata Freya dan menggoyangkannya ke kiri dan ke kanan.


Mata Freya mengikuti pergerakan tangan Aya, membuatnya pusing seketika.


"Kamu ngapain, sih?" Freya segera menangkap telunjuk Aya sebelum kepalanya benar-benar pusing.


"Kita gak ada kelas hari ini. Dibatalin sama Bu Ondang."


"Ha? Kapan dibatalin?"


Aya melepaskan tangannya dari Freya dan mengambil ponsel dari dalam tas sampingnya.

__ADS_1


"Nih. Sebelum kamu datang, Bu Ondang ngirim pesan di grup kelas kalo kelas hari ini ditiadakan karena ada urusan mendadak."


Aya menunjukkan isi pesan dari Bu Ondang dari ponselnya. Freya menyipitkan matanya dan membaca pesan tersebut. Lalu, dia melihat ponselnya sendiri. Terdapat pesan dari grup kelasnya. Freya mengabaikan pesan tersebut karena berpikir jika Aya telah lama menunggunya.


"Karena kita udah di sini. Pergi ke acara ulang tahun himpunan, yuk." Aya merangkul Freya kembali.


"Acara ulang tahun?"


"Yap. Ada pameran seni, panggung juga ada. Gak tau apa aja isi acaranya. Aku mau liat stan makanan di sana. Ayo!"


Aya langsung menarik leher Freya menggunakan lengannya. Membawa wanita itu menuju acara ulang tahun himpunan jurusan mereka yang diadakan oleh para anggota himpunan.


Acara ini terbuka untuk umum. Jadi, yang datang ke acara itu tidak hanya dari jurusan mereka saja, tapi juga dari jurusan lain. Baik itu di fakultas yang sama atau berbeda.


"Freya. Ada burger. Pesen, yuk!"


Belum sempat Freya menjawab, dia sudah ditarik oleh Aya ke arah stan yang menjual burger.


"Kak. Dua burger, ya." Aya mulai memesan. Kakak senior yang berdiri di balik meja mengangguk dan bergerak untuk membuat pesanan Aya.


"Aya, aku baru selesai makan. Masih kenyang." Freya berbisik di sampingnya.


Aya menoleh ke arahnya. Senyum secerah matahari di pagi itu sudah tercetak di bibirnya. Dia balas berbisik, "Yaudah. Buat aku semua." Kemudian kembali melihat pada makanannya.


Freya menggeleng melihat tingkah Aya. Sambil menunggu pesanan Aya selesai, Freya berencana untuk memperhatikan stan yang lain. Namun, ketika dia berbalik, Freya tidak sengaja menabrak seseorang di belakangnya. Membuat air lemon tea digenggaman orang itu tumpah membasahi pakaiannya.


"Ah, maaf. Aku gak sengaja." Tangan Freya terkimbang-kimbang. Tidak tahu apakah harus mengelap bajunya atau membiarkannya saja.


Aya yang sedang melihat makanannya dimasak pun berbalik begitu mendengar keributan di sampingnya. Dia melihat Freya sedang meminta maaf pada orang yang tidak asing di matanya.


"Maaf, aku beneran gak sengaja."


Orang yang tidak sengaja dia tabrak adalah seorang wanita berpenampilan anggun, tapi santai. Rambutnya panjang dan sedikit bergelombang. Wanita itu tersenyum, menampakkan lesung pipi yang dalam.


Dia melihat Freya dan berkata dengan suara bersahabat. "Gak papa. Gue bisa ganti baju."


Freya masih merasa tidak enak. "Aku ganti baju kamu, ya?"


Wanita itu menggeleng. "Gak usah. Cuma tumpah air, kok. Gue bisa minta tolong temen buat beli baju lain."


"Jangan. Biar aku aja."


Wanita itu menolak lagi. "Gak usah. Salah gue juga berdiri di belakang lo."


Freya tidak bisa membantah lagi. Orang di depannya ini sangat ramah dan juga selalu tersenyum, padahal dia baru saja ditabrak dan pakaiannya menjadi kotor.


Salah satu temannya yang berdiri di stan lain memanggil dirinya. Dia langsung pergi ke sana setelah memberikan tepukan kecil di bahu Freya.


Freya masih termenung. Di sampingnya, Aya menyeletuk, "Pantes dia banyak disukai. Udah anak pejabat kota, pengusaha, kaya raya lagi. Mana orangnya anggun, elegan, cakep. Beda level dengan kita."


Freya tidak mengoreksi kalimat Aya dan mengangguk diam-diam. Dia menoleh ke arah Aya.


"Kamu kenal dia?"


Aya balik menoleh. "Kenal. Dia Aurora Putri Darmawangsa. Dari pertama kali injak kaki di kampus ini, dia udah terkenal. Kakaknya lulusan kedokteran di kampus ini dan aku denger, sih. Bakal lanjut S2 di luar negeri."


Freya membulatkan mulutnya dan melihat kembali pada Aurora yang sedang tertawa bersama teman-temannya. Dia dikelilingi oleh banyak orang. Apa yang dikatakan Aya sepertinya benar.

__ADS_1


Selesai mengagumi Aurora di seberang sana, dia pun pergi bersama Aya setelah pesanannya siap.


__ADS_2