
Di pagi hari, rumah Freya sudah sibuk dengan berbagai macam kegiatan. Dimulai dari membersihkan diri, lalu berlanjut dengan merapikan kamar hingga tiba akhirnya mereka duduk berdua menikmati sarapan.
"Syakia." Freya memanggil Syakia yang duduk di depannya. Suara Freya agar keras sehingga Syakia mengangkat kepalanya untuk melihat Freya.
"Hari ini pakai alat bantu dengar, ya?"
Freya bertanya sambil menggerakkan tangannya. Membentuk sebuah isyarat ringan.
Gadis kecil itu memandang bibir dan tangan ibunya dengan serius. Ketika pertanyaan itu selesai ditanyakan, Syakia terdiam sebentar sebelum dia menatap ibunya seolah memberitahu bahwa dia tidak menginginkannya.
Paham dengan arti dari pandangan itu, Freya membujuknya lagi. "Biar di sekolah bisa belajar lebih baik, pakai ini, ya?"
Syakia menatap datar benda yang disodorkan oleh ibunya. Bocah itu masih bergeming. Dia ingin menolaknya lagi, tetapi saat matanya menangkap ekspresi memohon dari ibunya, dengan terpaksa dia mengambil benda tersebut dan memakainya.
Wajah Freya seketika berubah menjadi cerah. Setelah beberapa minggu bersekolah, Syakia tidak pernah mau memakai alat tersebut. Gadis itu juga tidak mengatakan apa pun pada Freya. Ketika ditanya, Syakia hanya menggeleng dan tidak memberikan alasannya.
Setelah berbicara hal-hal ringan—yang didominasi oleh Freya—tanpa terasa waktu berlalu cepat dan makanan pun telah habis disantap.
Freya dan Syakia keluar sehabis membereskan peralatan makannya. Di depan, Kakek Pati sudah menunggu dua orang tersebut dengan becak yang terlihat tidak pernah kehilangan semangatnya.
"Udah lama, Mbah? Maaf, ya. Baru selesai sarapan." Freya berkata sambil mengunci pintu rumah. Kemudian, dia membawa Syakia menuju becak Kakek Pati dan membantu gadis kecil itu naik ke kursi penumpang.
"Fokus belajar, ya. Gambarnya di rumah aja. Oke?"
Freya menepuk pelan kepala Syakia. Memberinya sedikit nasehat sebelum membiarkan Kakek Pati mengantarkan Syakia ke sekolahnya.
Sejak Syakia masuk ke taman kanak-kanak, Kakek Pati selalu menunggu di depan rumah Freya untuk mengantarkan Syakia ke sekolahnya. Secara kebetulan, cucu pria tua itu juga sekolah di tempat yang sama dengan Syakia. Namun, ketika kedua anak tersebut lulus dari taman kanak-kanak, mereka melanjutkan sekolah di tempat yang berbeda.
__ADS_1
Cucu Kakek Pati pergi di antar oleh orangtuanya menggunakan sepeda motor, sementara Freya tidak memiliki kendaraan lain untuk mengantar Syakia ke sekolah. Oleh karena itu, sampai Syakia masuk ke sekolah dasar pun, Kakek Pati masih ingin mengantarnya.
Awalnya, Kakek Pati tidak menerima bayaran apa pun dari Freya. Setelah dipaksa berkali-kali, akhirnya pria tua itu menerima upahnya, meskipun dia tidak ingin dalam jumlah yang banyak. Freya pun tidak bisa memaksanya lagi karena pria tua itu akan tetap mengembalikan uangnya. Jadi, dia hanya berterima kasih dan akan membalasnya dengan hal yang lain.
...****************...
Jam istirahat di sekolah dasar selalu berada dalam keadaan ribut. Anak-anak berlari-lari di koridor, bermain dengan kertas, berteriak-teriak, dan bentuk keramaian lainnya.
Di meja paling depan, Syakia duduk sambil menggambar di sehelai kertas yang dia robek dari buku gambarnya di rumah. Dia adalah satu-satunya anak yang tidak ikut dalam keributan yang dilakukan oleh anak-anak lain.
Di saat dia tengah fokus menggambar, tiba-tiba Syakia mendengar suara percakapan di sebelahnya. Tangannya berhenti menarik garis untuk melihat ke samping.
Itu adalah teman sebangkunya yang baru. Seorang anak perempuan yang tidak bisa menutup mulutnya sama sekali. Dalam sehari, gadis itu bisa menceritakan pengalaman yang berbeda-beda seolah dia sudah hidup dalam waktu yang lama. Memamerkan pada teman-temannya bahwa dirinya memiliki banyak tempat yang dikunjungi.
"Aku pergi sama Mama, sama Papa juga. Kemarin ke Jakarta. Ada kebun bunga luas banget. Cantik lagi."
Seorang anak yang duduk di hadapannya pun bertanya dengan antusias. "Bunga apa?"
Syakia ingin mengabaikan percakapan tidak penting di sampingnya. Mereka telah mengganggu fokus Syakia dalam menggambar. Akan tetapi, karena dirinya sadar bahwa dia tidak berhak menyuruh mereka diam, Syakia pun memutar kembali kepalanya dan melanjutkan urusannya sendiri.
Sekelompok anak di samping Syakia mendadak diam setelah tertawa. Mereka menoleh ke arah Syakia yang sibuk menggambar. Mata mereka melihat ke benda yang terpasang di telinga Syakia. Freya mengikat rambut Syakia sehingga alat tersebut terpampang dengan jelas.
Anak perempuan yang menjadi teman sebangku Syakia pun mengerutkan keningnya karena teman-temannya tidak lagi menaruh perhatian padanya. Dia memutar tubuhnya dan mendapati benda aneh di telinga Syakia.
Dengan rasa penasaran, anak itu memegang benda tersebut membuat telinga Syakia berdenging. Dia pun berteriak tanpa sadar membuat semua orang melihat ke arahnya.
Pelaku yang telah menyentuh alat bantu dengar Syakia secara sembarangan pun terkejut dengan reaksi Syakia. Dia mendongak, melihat Syakia dengan bingung.
__ADS_1
Syakia memegang telinganya yang kesakitan. Dia menatap marah teman sebangkunya itu. Dengan kesal, dia melepaskan alat bantu dengar tersebut dan memasukkannya ke dalam tas dengan kasar.
Semua anak di kelas itu menatapnya dengan bingung, sementara Syakia tidak memedulikan pandangan tersebut dan kembali menggambar seolah-olah tidak ada terjadi apa pun.
...****************...
Freya pergi ke toko dengan menggunakan kendaraan umum. Setibanya di sana, dia melakukan tugasnya seperti biasa. Merapikan rak-rak, menyusun barang, dan lainnya.
Setelah setengah hari dia berada di toko, akhirnya Kakek Pati datang. Freya sudah lama menunggu pria tua tersebut karena dia ingin membicarakan tentang penawaran Viola sebelumnya.
Semua orang berkumpul di ruangan khusus karyawan setelah menutup setengah pintu toko. Freya pun menjelaskan apa yang dia bicarakan bersama dengan Viola di kafe kemarin.
"Gak papa, Freya. Dari awal juga aku udah bilang cari kerja lain aja. Di sini gak banyak juga gajinya. Kasian anak kamu kalo pulang malam terus."
Paijo, orang yang sering memberikan uluran tangan setiap kali Freya berada dalam masalah pun mengatakan pendapatnya. Semua orang mengangguk setuju atas perkataan Paijo.
"Iya, Freya. Gak masalah. Kalo kowe kangen sama kami, datang aja." Leli menyeletuk dari samping Freya.
Freya tersenyum kecil pada Leli. "Iya, Mbak. Pasti aku sering datang."
"Harus itu. Hahaha."
Kakek Pati ikut berujar. Perkataannya pun tidak jauh beda dengan Paijo.
"Mbah tau kamu merasa berutang budi dengan kami semua. Jangan pikirkan itu. Kamu bisa balas kami dengan cara lain. Pokoknya, pikirkan anak kamu sama diri kamu sendiri."
Kakek Pati berkata dengan bijak. Setiap kalimat yang dia keluarkan sering kali membuat Freya tersentuh. Dia sangat ingin membalas kebaikan semua orang yang sudah membantunya selama ini. Baginya, jika tidak ada mereka, mungkin dia akan kesulitan menjalani hidup.
__ADS_1
"Makasih semuanya. Sesekali aku pasti datang dan bantu-bantu kalian," kata Freya dengan tulus.
Semua orang mengangguk dan saling bertukar beberapa kata sebelum mereka pulang ke tempat masing-masing.