
Freya terbangun dengan suhu panas di tubuhnya. Dia terduduk di pinggir kasur. Menyentuh dahinya sendiri. Helaan napas keluar dari bibir ranumnya.
Gadis itu mencoba berdiri, memastikan jika tubuhnya masih sanggup untuk berjalan. Merasa kepalanya hanya sedikit pusing, Freya bergegas pergi ke kamar mandi untuk bersiap-siap.
Seharusnya, Freya tiba di sekolah satu jam sebelum kelas dimulai. Namun, karena dirinya masuk angin akibat tumpahan air kemarin ketika pulang sekolah, tubuhnya merasa lemas semalaman sehingga tanpa disadari, dia tertidur untuk waktu yang lama.
"Freya? Tumben kamu bangun jam segini? Eh, muka kamu pucet gini. Kenapa gak bilang sama Om kalo kamu sakit?"
Bryan bertanya ketika melihat Freya berjalan ke ruang makan. Penampilannya sudah rapi, tapi kulitnya yang putih tidak bisa menutupi panas tubuhnya.
"Gak papa, Om. Masuk angin dikit." Freya tidak berbohong. Tubuhnya memang tidak terlalu panas lagi seperti semalam. Tidur banyak sudah cukup mengurangi rasa sakitnya.
Bryan ingin membantah lagi, tapi melihat Freya yang seolah tidak ingin dikasihani, Bryan pun menelan kembali kalimat yang ingin dia ucapkan.
"Lucas. Kamu pergi bareng Freya hari ini, ya?" pinta Bryan.
Lucas yang sejak tadi diam memakan makanannya, sesekali melihat ke arah Freya. Dia mengangguk begitu saja, mengikuti keinginan Bryan.
Freya melirik ke arah Lucas. Sejujurnya, dia merasa tidak enak. Freya khawatir dengan orang di sekolah, terutama teman-teman Lucas. Dia takut, Lucas akan terkena gosip yang tidak-tidak karena dirinya.
"Gak papa, Om. Freya pergi sendiri aja dengan bus." Gadis itu menolak pelan. Namun, Bryan meletakkan sendok makannya. Pria berumur 40 tahun lebih itu melihat Freya dengan tatapan tak suka.
Freya menjadi lebih segan dan tidak enak karena telah menolak. Buru-buru dia memperbaiki tingkahnya.
"Maaf, Om. Freya berangkat bareng Lucas."
Mendapatkan jawaban yang ingin dia dengar, senyum di wajah Bryan muncul. Lalu, dia kembali mengambil sendok dan melanjutkan sarapan.
Seperti yang diminta oleh Bryan. Lucas dan Freya berangkat ke sekolah bersama.
Ini pertama kalinya Freya diboncengi oleh Lucas. Rasanya baru dan sangat elusif. Motor besar Lucas membuat dirinya susah untuk duduk. Freya merasa tidak nyaman.
Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi motor Lucas tiba di area sekolah. Awalnya, Freya ingin mengatakan pada Lucas untuk menurunkannya di depan gerbang atau di tempat yang agak jauh dari area sekolah. Akan tetapi, dirinya tidak berani mengeluarkan kalimat tersebut karena Lucas sama sekali tidak bersuara. Selama di atas motor, keadaan begitu canggung, bahkan untuk bergerak terasa sulit.
Layaknya apa yang dipikirkan oleh Freya. Orang-orang yang mengenal Lucas segera menaruh perhatian mereka ketika motor Lucas masuk ke area sekolah. Mereka bertanya dalam kepala mereka tentang siapa gadis yang duduk di belakang Lucas.
Freya memejamkan matanya dan menyembunyikan wajahnya di samping tubuh besar Lucas. Dia segera turun dari motor Lucas setelah lelaki itu memarkirkan motornya.
"Makasih, Lucas." Freya mengembalikan helm pada Lucas. Lelaki itu menerimanya dan menggantungnya di sisi sepeda motor.
"Aku masuk ke kelas duluan, ya?" Tanpa menunggu jawaban Lucas, gadis itu langsung melarikan diri sebelum lebih banyak orang melihat ke arah mereka.
...***...
Freya sudah menduga ini.
Salah satu penggemar Lucas melihat dirinya pagi ini yang berangkat bersama dengan lelaki yang dia sukai.
Freya bahkan tidak mengenalinya. Di kantin, di depan semua orang, Freya ditampar oleh perempuan dari kelas yang berbeda dengan dirinya, tapi masih seangkatan.
__ADS_1
"Lo ada hubungan apa sama Lucas?" tanya gadis di depannya.
Wajah Freya jatuh ke samping. Perlahan, dia menggerakkan kepalanya untuk melihat orang yang telah menamparnya. Kepalanya pusing, Freya tidak yakin apakah gadis itu mengikat kain di pergelangan tangannya atau itu adalah gelang dengan motif seperti kain baju.
"Chika, kemarin lo liat Alana pulang bareng Lucas lo biasa aja. Kenapa malah giliran dia lo marah?" seseorang yang lain datang menghampiri keduanya. Lelaki itu menarik tangan gadis itu, menjauhkannya dari Freya.
Freya tidak yakin apa yang mereka debatkan. Dia tidak mengenal keduanya. Ditambah kepalanya yang pusing membuat dia tidak bisa melihat dan mendengar dengan jelas.
"Freya!"
Seakan langit tiba-tiba berputar, Freya kehilangan pandangannya sejenak. Lelaki yang sedang berdebat dengan Chika segera menangkap tubuhnya. Jika tidak, kepala Freya akan membentur sisi meja.
Semua orang yang sibuk dengan kegiatan mereka di kantin pun berhenti. Fokus mereka teralihkan dengan kegaduhan yang terjadi. Mereka melihat Freya dibawa oleh seseorang dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Minggir!"
Lelaki itu berseru. Orang-orang yang sadar jika mereka menghalangi jalan pun menyingkir. Saat itu, Lucas bersama dengan Chiko baru tiba di kantin dan berpapasan dengan Freya yang digendong oleh seorang lelaki.
"Eh? Itu Jeremy 'kan? Siapa tuh yang pingsan?"
Lucas dan Chiko sama-sama melihat ke belakang untuk memastikan, apakah itu teman satu tim mereka di basket atau bukan.
"Iya, itu Jeremy." Alana muncul di depan mereka. Ikut melihat ke arah perginya Jeremy.
"Alana?" tegur Chiko. Sedikit senang karena Alana mengajak mereka berbicara.
Alana mendekap tangannya di depan dada. Berbicara dengan pandangan lurus ke depan. "Tadi ada sedikit masalah di kantin. Chika tiba-tiba nampar cewek itu."
Gadis itu mengangguk, menurunkan tangannya dan melihat Lucas.
"Iya. Terus Jeremy datang dan mereka debat gitu. Mungkin karena Chika namparnya terlalu kuat ... jadinya cewek itu pingsan."
Roman muka Lucas mulai berubah. Arah pandangnya berganti. Diam-diam melihat ke arah perempuan yang dikatakan oleh Alana.
...***...
Freya tidak tahu berapa lama sudah dia berada di ruang UKS. Tak ada siapa pun di sana. Kain pembatas dia tarik dan tidak mendapati penjaga UKS di kursinya. Dia sendirian di ruangan itu.
Jam di dinding ruang UKS menunjukkan pukul tiga kurang lima menit. Artinya, dia sudah tertidur selama kurang lebih empat jam. Sebentar lagi, bel pulang akan berbunyi. Freya berusaha untuk duduk. Mencoba membenarkan pandangannya yang masih berputar.
Matanya berkedip-kedip, mencari cahaya tetap yang bisa membuat penglihatannya kembali normal.
"Freya. Syukur, deh. Lo udah bangun. Awalnya, lo mau disuruh pulang, tapi karena lo tidur abis disuntik obat ... yaudah, Bu Arimi biarin lo tidur."
Kain yang sempat ditarik sedikit oleh Freya tadi, terbuka kembali. Laki-laki yang tidak dikenal mendekatinya.
Mata Freya menyipit, dia belum bisa melihat dengan jelas karena pusing yang melanda kepalanya.
"Siapa?" tanya Freya.
__ADS_1
Lelaki itu tersentak. Dia baru sadar jika belum memperkenalkan dirinya.
"Oh, sorry. Gue lupa. Nama gue Jeremy Danuarta. Panggil aja Jeremy. Gue di kelas IPA/A. Kita pernah barengan jam olahraga pas kelas dua. Lo inget?"
Freya mengerutkan keningnya. Berusaha mengingat, tetapi dia tidak menemukan apapun dalam memorinya.
"Aku ... gak ingat. Maaf."
"Haha, yah. Gak masalah."
Freya menyentuh kepalanya sambil menyebut namanya sendiri. "Aku Freya Adreena."
Jeremy menyela cepat. "Gue tahu, Frey."
Frey?
Panggilan yang tak asing bagi Freya. Mendengar orang lain memanggilnya seperti itu ... rasanya berbeda.
"Kamu yang bawa aku ke sini?" Freya menebak. Karena tidak mungkin lelaki ini mau mendatanginya jika bukan Jeremy yang menolong dirinya.
Jeremy mengangguk. Dia berbalik sebentar dan mengambil tas Freya yang dia letakkan di atas meja penjaga UKS.
"Ini tas lo. Gue anter pulang, ya? Muka lo masih pucet. Kalo bisa pulang ini lo minta bokap atau nyokap lo bawa ke rumah sakit."
Freya menerima tasnya yang diberikan oleh Jeremy sambil mengucapkan terima kasih.
"Makasih, Jeremy. Aku bisa pulang sendiri."
"Jangan. Kalo lo pingsan di jalan, orangtua lo bakal lebih khawatir."
Freya kembali berpikir setelah mendapatkan nasihat dari Jeremy. Orangtuanya sudah meninggal, tapi di rumah ... ada Bryan yang mengkhawatirkan dirinya. Freya tidak ingin merepotkan teman ayahnya lebih jauh.
"Oke. Makasih, ya."
Jeremy tertawa sambil membantu Freya turun dari tempat tidur. "Makasih mulu. Sekali juga cukup."
Freya melirik Jeremy sekilas dan mengangguk pelan.
Mereka berdua keluar dari UKS dan bertemu dengan Lucas di pintu masuk.
"Lucas?" tanya Jeremy, "Lo ngapain ke UKS? Sakit?"
Tatapan mata Lucas begitu datar seperti padang pasir. Auranya dingin seakan dirinya berasal dari kutub utara. Arah matanya jatuh pada tangan Jeremy yang terletak di pinggang Freya.
"Dia pulang bareng gue," kata Lucas tanpa melihat sedikit pun ke arah Jeremy.
"Ha? Gue nolongin dia tadi dan gue harus tanggung jawab juga anter dia pulang. Kenapa dia harus pulang bareng lo?"
Lucas melontarkan pandangannya pada Jeremy. Suaranya berat dan terselip emosi marah di dalam nadanya.
__ADS_1
"Dia pergi bareng gue dan pulang juga harus bareng gue."
Jeremy tak dapat membantah. Dia baru ingat jika keduanya pergi bersama pagi tadi. Tidak lagi banyak bertanya, Jeremy menyerahkan tanggung jawabnya pada Lucas.