Cold Love

Cold Love
Bab 52. "Apa Kamu Mencintaiku?"


__ADS_3

Lucas terpaksa meninggalkan Freya bersama dengan Mia. Dia harus bertemu dengan para klien yang lain.


Benar-benar merepotkan, tapi dia harus melakukannya demi kesopanan dan keramahan. Menjaga hubungan baik dengan mereka adalah yang utama baginya sekarang.


"Oh? Lucas! Baru datang?"


Lucas tersenyum tipis. Bersama dengan Aurora yang berjalan di belakangnya, mereka bergabung bersama kumpulan pria tua dan juga wanita paruh baya di sana. Beberapa dari mereka adalah klien Lucas, sementara yang lain adalah kolega Pak Oga.


Mereka saling bertukar kata sambil mempertemukan sisi gelas milik mereka. Memuji Lucas atas keberhasilan yang dia capai dan berbagai hal tentang bisnis yang lain. Pembicaraan lebih didominasi oleh para pria tua. Lucas dan Aurora hanya sesekali menyahut mereka. Selebihnya mengangguk atau tertawa kecil.


Salah satu dari wanita tua di sana menyeletuk. "Eh, kalian berdua pacaran, ya?"


Aurora melirik Lucas dengan malu-malu. Matanya menunduk ketika dia menjawab. "Enggak, Bu. Cuma temen aja."


"Iya? Padahal cocok, lo. Kenapa gak pacaran aja, sih? Pak Oga juga pasti bangga punya calon menantu kayak Lucas. Haha."


Wanita itu tertawa setelah dia selesai mengungkapkan isi dari dalam pikirannya. Aurora ikut tertawa dengan suara yang kecil, sedangkan Lucas sudah mengubah raut mukanya.


"Maaf, semuanya. Saya izin ke sana sebentar," kata Lucas dengan intonasi yang dia buat seramah mungkin.


"Oh, iya. Silakan, silakan. Sekali lagi selamat, ya."


Lucas mengangguk dan memberikan senyuman kecil pada kelompok itu. Kemudian, saat dia berbalik . . . keramahan yang dia bentuk hilang begitu saja. Dengan raut datar, pria itu berjalan ke arah lain.


Lucas butuh udara segar. Berada di dalam ruangan yang dipenuhi dengan wangi-wangian dan juga obrolan bising membuat kepalanya pusing.


Dia ingin pergi keluar, tapi tidak mungkin. Ada Pak Oga yang berdiri di pintu masuk. Pastinya dia akan menahan Lucas dengan berbagai macam pertanyaan. Menjengkelkan.


Jadi, dia memilih berjalan agak menjauh dan menemukan sebuah pintu. Lucas menggeser pintu kaca tersebut dan dia mendapati sebuah kolam renang di dalam gedung, tetapi berada di ruang terbuka.


Angin sejuk yang berhembus di malam itu sedikit menyegarkan pikirannya. Dia berjalan santai ke pinggir kolam. Kedua tangannya dia masukkan ke dalam saku celana, berdiri di sana sambil menikmati suasana di malam hari.


"Lucas."


Suara dari seorang wanita memanggil dirinya. Lucas berbalik dan melihat sosok Aurora yang ternyata telah mengikutinya sejak tadi.


Lucas bertanya melalui tatapan matanya. Aurora berjalan pelan, kedua tangannya tergenggam di balik punggungnya. Ketika dia telah menyusul Lucas, wanita itu berdiri tepat di sampingnya. Ikut menikmati atmosfer di malam itu.


"Di luar dingin. Lo gak masuk ke dalam aja?" Aurora bertanya dengan pandangan lurus ke depan.


Lucas dalam posisi yang sama seperti Aurora. Dia menjawab, "Gak. Gue butuh udara luar."


Aurora bergumam sambil mengangguk. Keadaan di dalam sana benar-benar sesak dan juga panas. Tamu undangan Pak Oga selalu ramai. Kemungkinan bulan depan, pria itu akan merenovasi gedung ini. Membuatnya menjadi lebih besar dan luas agar bisa menampung banyak orang.


Keduanya sama-sama diam. Angin yang datang melewati mereka pun tak mampu mengganggu kesunyian mereka. Aurora merasa dia jatuh ke dalam kecanggungan.


"Lucas. Gue boleh tanya?"


"Ya."


Aurora memutar tubuhnya menghadap Lucas. Malam ini dia telah berhasil mengumpulkan keberaniannya. Dia juga sudah minum sedikit alkohol agar keberaniannya bertambah, meskipun sekarang dia merasa sedikit pusing.


"Lucas. Tadi . . . lo gak suka, ya, dengan apa yang Bu Mira omongin?"


Lucas memiringkan kepalanya. Menoleh untuk melihat Aurora di sampingnya. "Yang mana?"


"Tentang lo dan gue yang pacaran."


Lucas menatap datar Aurora, lalu dia memutar kepalanya kembali lurus ke depan.

__ADS_1


Tidak mendapat jawaban dari Lucas, Aurora sudah paham jika dia memang tidak suka dengan pendapat Bu Mira. Dia menghela napas pelan. Kemudian, Aurora menarik udara lagi dan menghembuskannya dengan cepat.


Dia menatap Lucas, bola matanya bergetar dengan cahaya bulan yang terpantul di kornea matanya. Tangannya yang tergenggam di belakang tubuhnya sudah dia letakkan di kedua sisi badannya.


"Gue suka sama lo, Lucas." Dia berkata dengan berani, mengungkap perasaannya yang masih baru tersebut. Aurora sangat yakin dengan apa yang hatinya inginkan. Jadi, dengan tekad kuat, dia mempersiapkan diri untuk mengaku malam ini.


Lucas terkejut, tapi tidak terlalu menunjukkan reaksi tubuhnya. Dia memutar dirinya, menghadap Aurora.


Sebelum Lucas menjawab, Aurora buru-buru berbicara lagi. "Gue suka lo yang apa adanya. Lo pendiam, tapi sebenarnya perhatian dan juga peduli. Lo gak pernah kasar, walaupun sikap lo dingin pas nolak orang lain. Ekspresi lo juga . . . kayak gak pernah berubah. Selalu datar."


Dia tersenyum, melihat ke ujung sepatu haknya. Kemudian, dia mengangkat wajahnya. Matanya bertemu dengan tatapan sayu Lucas.


"Lo emang dingin dan keliatan cuek, tapi gue tau kalo lo itu orang baik. Gue suka semua tentang lo, Lucas."


Wanita itu telah selesai mengungkapkan perasaannya. Ada sedikit kelegaan di dalam hatinya, tetapi di saat yang sama . . . dia juga merasa gelisah.


Aurora melihat Lucas dengan kaki yang bergetar. Menunggu respons yang akan diberikan oleh lelaki itu.


Lucas memandang Aurora untuk waktu yang lama dalam keterdiaman. Lalu, akhirnya dia membuka mulutnya. Dengan penuh rasa menghargai, dia berkata, "Maaf, tapi gue gak punya rasa yang sama."


Aurora terdiam. Ini adalah hal yang membuat hatinya gelisah. Bohong jika Aurora tidak memiliki harapan pada Lucas. Dia tahu kemungkinan dirinya akan ditolak itu lebih besar, tetapi dia tidak bisa memungkiri jika hatinya merasa sakit.


Lalu, tanpa berpikir apa pun lagi, Aurora mengambil langkah cepat menuju Lucas. Wanita itu mengalungkan lengannya di leher Lucas. Memeluk lelaki itu dengan erat.


Lucas tersentak. Tangannya terangkat ke pinggang Aurora, bermaksud untuk mendorongnya, tetapi wanita itu menarik kepalanya dari bahu Lucas, kemudian bibirnya bergerak untuk mencium pria itu.


Mungkin karena tindakan mendadak Aurora sebelumnya, membuat reaksi Lucas menjadi lebih cepat. Dia memiringkan kepalanya, menghindari ciuman Aurora. Akan tetapi, karena jarak waktu yang sempit, bibir Aurora mengenai sudut bibirnya.


Aurora menekan kuat dirinya, tidak membiarkan Lucas mendorong dirinya. Dia ingin memaksakan diri. Dalam hidupnya, Aurora belum pernah menyukai seseorang sebanyak ini.


Dengan kekesalan yang membengkak di dadanya, Lucas menolak Aurora dengan kuat. Wanita itu hampir terjatuh karena sepatunya sendiri.


"Lucas," panggil Aurora lirih.


"Gue punya istri."


"Gue tau," katanya. Mata Aurora bergetar, "jadi yang kedua pun gak masalah."


Lucas mengerutkan keningnya. Bisa-bisanya wanita yang dikenal anggun dan menawan itu membuang harga dirinya hanya karena rasa suka? Lucas menggeleng tak percaya.


"Lucas—"


"Sejauh ini gue masih menghargai lo, tapi kalo lo maksa kayak gini . . . gue gak tau lagi harus gimana. Satu lagi, gue gak sebaik yang lo pikir."


Setelah menolaknya dengan tegas dan tanpa perasaan, Lucas pergi dari kolam renang. Mengabaikan Aurora yang sudah menangis sambil memanggil namanya.


...***...


Tidak ada hal baik yang terjadi di pesta itu. Setelah keluar dari kolam renang, dia mengajak Freya untuk segera pulang. Tidak peduli dengan Pak Oga yang menyuruhnya tinggal lebih lama. Lucas sudah cukup kesal malam ini.


Lucas membuka pintu kamar. Dia tidak menutupnya kembali karena Freya berada di belakangnya.


"Lucas."


Lelaki itu hendak berjalan ke arah lemari, tetapi panggilan Freya menghentikan langkahnya. Dia berbalik untuk melihat Freya yang baru saja menutup pintu.


"Apa?"


Lucas melihat raut muka Freya yang tidak enak. Dia sudah menyadarinya sejak mengajak Freya kembali. Entah apa yang ada di pikirannya sampai ekspresi itu terbentuk di wajahnya.

__ADS_1


"Kamu ... ." Freya tampak ragu-ragu, tetapi dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Kesalahpahaman ini harus segera diselesaikan.


Dia memejamkan matanya sejenak, lalu dia melihat Lucas dengan berani. "Kamu beneran gak punya hubungan apa pun dengan Aurora?"


Lucas membuang mukanya ke samping. Pembahasan ini lagi. Dia sudah cukup kesal dengan Mia, Bu Mira, dan juga Aurora. Sekarang, Freya pun ikut membuatnya kesal.


"Tentang itu lagi?" Lucas membuang kasar napasnya, "udah aku jelasin dua kali. Aku malas ulang lagi."


"Kenapa jawaban kamu kayak gitu? Kamu gak denger mama kamu nyuruh Aurora manggil dia Mama? Aku yang menantunya aja gak disuruh."


"Terus? Kamu marahnya ke aku? Bagus kalo kamu manggilnya Tante. Gak usah panggil Mama."


Freya menghela napasnya. Lalu, dia berkata lagi. "Akhir-akhir ini kamu jarang di rumah. Waktu untuk kita berdua juga gak ada. Beberapa hari yang lalu aku liat kamu jalan sama Aurora, terus tadi—"


"Kamu nuduh aku selingkuh 'kan?"


Belum selesai Freya mengatakan apa yang ingin dia tanyakan, Lucas telah memotong kalimatnya. Lelaki itu bertanya dengan berang. Dia memukul kuat pintu kamar mereka, membuat Freya tersentak.


"Aku muak kamu bahas itu. Terakhir kali aku udah bilang juga. Jangan bahas itu lagi, tapi kamu ngeyel. Udah aku bilang kami itu cuma sebatas rekan kerja. Pikiran kamu itu selalu negatif. Bisa gak jangan curigaan? Aku capek."


Dada Lucas naik turun. Berteriak dalam satu tarikan napas membuatnya lelah. Dia sudah malas berdebat lagi. Jadi, pria itu memilih untuk keluar dari kamar.


Namun, saat tangannya bersiap membuka knop pintu, Freya tiba-tiba bertanya dengan suara serak seperti menahan tangis.


"Apa kamu mencintai aku, Lucas?"


Mata Freya berkilat-kilat. Air mulai menggenangi pelupuk matanya. Dia dengan sabar menunggu jawaban Lucas yang sama sekali tidak berniat memutar tubuhnya untuk sekadar melihat Freya.


"Udah malam. Kamu tidur aja."


Bukan jawaban yang Freya butuhkan yang keluar dari mulutnya, melainkan kalimat tidak penting yang membuat air mata Freya jatuh ke pipinya.


Setelah menyuruh Freya tidur, lelaki itu membuka pintu dan pergi menuju ruang kerja milik Bryan.


...***...


Keesokan harinya, Lucas langsung pergi ke kantor di pagi buta tanpa mengganti pakaiannya. Dia masih mengenakan jas semalam. Lucas terlalu malas naik ke kamarnya untuk berganti pakaian. Dia, bahkan memilih untuk mandi di kamar mandi lantai bawah.


Pertengkarannya dengan Freya semalam membuat suasana hati Lucas kacau. Dia tidak kembali ke kamar dan memilih tidur di ruang kerja Bryan. Akhir-akhir ini, ayahnya itu sangat sibuk menormalkan perekonomian perusahaan mereka sehingga dia harus tidur di ruang kerjanya agar bisa menyelesaikan semua berkas yang harus segera dia periksa.


Keadaan hatinya memang kurang baik hari ini, tapi dia tetap harus profesional. Memisahkan masalah pribadi dengan pekerjaan harus bisa dia lakukan. Jika tidak, semua yang sedang dia tanam akan rusak begitu saja, bahkan sebelum dia berhasil memetik buah kerja kerasnya.


Lucas berada di perusahaan seharian penuh. Dia tidak mengabari Freya dan istrinya juga tidak menghubunginya.


Situasi ini pernah terjadi sekali. Jadi, Lucas tidak terlalu memikirkannya.


Akan tetapi, saat dia pulang ke rumah pukul lima sore. Lucas tidak menemukan keberadaan Freya. Di kamar, di ruang tengah, halaman depan, halaman belakang . . . sosok Freya tidak tampak sama sekali.


Lucas berjalan ke dapur dan berpapasan dengan Bi Surni yang bersiap pulang ke rumahnya. Dia bertanya pada wanita itu. "Bi. Liat Freya gak?"


Bi Surni menggeleng. "Enggak, Tuan. Dari pagi saya gak ketemu Nona Freya. Saya kira Nona ikut Tuan ke kantor karena gak ada siapa pun di rumah."


Lucas menerawang ke segala arah. Tiba-tiba perasaannya tidak enak. Dia langsung berlari ke kamarnya tanpa mengatakan sepatah kata pun pada Bi Surni yang melihatnya dengan kebingungan.


Lucas buru-buru membuka pintu. Kemudian, dia masuk ke kamar dan langsung membuka lemari pakaian Freya.


Betapa terkejutnya dia begitu mengetahui bahwa dugaannya benar.


Freya telah pergi dari rumah mereka.

__ADS_1


__ADS_2