Cold Love

Cold Love
Bab 68. Sifat Yang Berbeda


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan Freya yang berakhir tidak baik, Lucas segera berlari menemui Daniel yang baru selesai menelepon seseorang.


"Kita balik ke hotel sekarang."


Lucas berkata begitu dia melihat sosok Daniel. Pria itu mengerutkan keningnya, bertanya balik. "Gak jadi makan?"


"Di hotel aja. Ada yang mau gue omongin."


Lucas mengambil ponsel di sakunya. Menghubungi supir untuk menjemput mereka.


Daniel masih bingung dengan situasi yang terjadi. Sebelumnya, Lucas mengatakan ingin makan di luar. Dia, bahkan sudah menghubungi asistennya untuk memesan meja. Sekarang semua itu sia-sia.


"Lo mau bahas apa? Cepetan. Gue lapar."


Daniel mengeluh ketika mereka tiba di hotel. Pria itu belum mengatakan apa pun sejak 10 menit mereka memasuki kamar.


Lucas melonggarkan dasinya. Lehernya terasa pegal setelah seharian berada di luar. Dia belum sempat beristirahat sama sekali. Begitu sampai di Yogyakarta, dua jam kemudian dia harus menemui pemilik supermarket untuk membahas masalah jual-beli properti


"Gue ketemu Freya."


"Ha?"


Daniel yang baru saja merebahkan tubuhnya di atas kasur, langsung bangkit kembali setelah mendengar pernyataan Lucas.


"Lo ketemu Freya? Di mana?"


"Di mal."


"Mal mana?" Daniel memiringkan kepalanya. Dia tidak bisa memikirkan mal mana yang dimaksud oleh Lucas.


Lucas ingin memukul kepala Daniel, tapi dia berusaha keras menahan diri dan menjelaskan dengan tenang.


"Mal punya gue. Rencana konyol yang lo bilang itu berhasil. Gue ketemu dia. Freya ada di sana kayak yang gue harapin!"


Daniel masih belum bisa mencerna kalimat Lucas. "Bentar. Maksudnya, lo barusan ketemu dia di mal tadi?"


Lucas mengangguk. Daniel membuka mulutnya, tidak percaya jika rencana Lucas akan berhasil di kemudian hari.


"Terus, di mana dia?"


"Pergi."


"Pergi?" Alis Daniel terangkat sebelah, "kenapa gak lo cegat?"


"Gak bisa. Dia udah nyebrang duluan."


"Bego. Kalo gue jadi lo, udah gue kejar. Gue tarik tangannya. Kalo dia nolak, gue seret."


Lucas menyipitkan matanya. "Gue gak sekasar itu."


Daniel melihat Lucas dengan tatapan remeh. "Eum, kita liat aja nanti. Ini udah bertahun-tahun. Semua orang bisa berubah. Freya yang dulu lo kenal mungkin udah gak ada. Siap-siap aja ditolak."


Lucas mendengus, sudut bibirnya terangkat sebelah. "Gue gak peduli. Dari awal dia milik gue. Gimana pun dia berubah, gue bakal tetap bawa dia kembali."


...****************...


Di sinilah dia sekarang.


Berdiri di depan meja kasir sembari menatap wanita di depannya dengan tajam.


"Hah! Anda mau pesan sesuatu? Silakan duduk di meja yang Anda mau."


Freya memukul pelan meja di depannya. Sejak lima menit yang lalu, pria itu tidak mengalihkan pandangannya sama sekali. Mendekap kedua tangannya di depan dada dan berdiri seperti pengangguran di sana.


"Berhenti pura-pura gak kenal. Freya, kita belum cerai dan gak akan pernah. Jadi, ganti baju kamu sekarang. Kita pulang."


Freya mengernyitkan keningnya. Omong kosong apa yang pria itu katakan? Tiba-tiba datang dan menatapnya dengan tatapan intimidasi seperti itu. Membuat orang lain tidak nyaman.


"Maaf, Pak. Mungkin Anda salah orang. Kalo Anda tidak ingin memesan, silakan keluar. Saya harus bekerja."


Freya berbicara dengan wajah lurus. Kembali menyibukkan diri dengan apa saja yang bisa dia kerjakan. Mengotak-atik mesin kasir secara asal pun dia lakukan. Selama dia bisa menghindari Lucas.

__ADS_1


"Name tag kamu."


Freya melirik ke arah papan namanya. Di sana tertulis namanya dengan jelas. Akan tetapi, Freya mengelak lagi. "Nama ini bukan cuma satu."


"Muka kamu juga sama."


"Di beberapa tempat, seseorang bisa punya nama dan muka yang sama. Itu disebut kebetulan."


Diam-diam Lucas menghela napas melihat tingkah Freya yang seakan tidak mengenalnya. Kesalahpahaman yang terjadi selama ini harus segera diselesaikan, tetapi Freya tampak enggan melihat dirinya.


Lucas melirik ke arah tangan Freya. Di mana jari-jari itu bergerak leluasa di atas mesin kasir. Lucas tahu jika Freya tidak sesibuk itu. Dia ingin mengatakan sesuatu yang bisa membuat Freya berhenti berpura-pura, tetapi ketika dia memikirkannya lagi, hal itu tidak tepat untuk diucapkan.


Oleh sebab itu, Lucas menyerah dan ikut dalam drama yang dibuat oleh Freya.


"Oke. Anggap aja kita gak saling kenal. Jadi, bisa kamu rekomendasikan minuman apa yang paling enak di sini?"


Lirikan tajam dia dapatkan dari Freya. Namun, Lucas menyeringai. Dia akan membuat Freya berhenti berpura-pura hari ini juga.


"Biasanya Anda minum apa?" tanya Freya. Nada bicaranya terdengar normal. Lucas memujinya di dalam hati, Freya sudah berusaha menjadi orang asing dengannya.


Lucas berpikir sejenak. Di depannya, Freya menunggu jawaban Lucas dengan tidak sabar.


"Eum . . . saya jarang datang ke kafe. Jadi, gak tau apa yang biasa saya minum. Asisten saya yang selalu pesan." Dia menggeser pandangannya pada Freya, pria itu terlihat menarik sudut bibirnya. Tiba-tiba, dia mengurangi jarak antara dirinya dan Freya. Menaruh kedua lengannya di atas meja dan secara alami mata mereka saling bertatapan.


"Saya tanya sama kamu ... ." Dengan perlahan, mata monolid itu turun dari iris bulat milik Freya menuju bibirnya. Menatapnya sedetik, lalu kembali naik ke atas. Melihat ke arah mata Freya, diikuti dengan bisikan pertanyaan yang terdengar halus. "Minuman paling enak di sini . . . apa?"


Sejenak, Freya membeku dengan perilaku Lucas yang mendadak tersebut. Segera dia menyadarkan dirinya sendiri dan menarik dirinya mundur ke belakang.


"Anda minum tanpa tau apa yang dipesan. Kalo ada racun di dalamnya gimana?"


Lucas tertawa kecil, lalu dia juga menarik dirinya. Berdiri sambil mendekap kedua tangannya di depan dada.


"Khawatir?"


Kening Freya berkerut. "Siapa?"


"Kamu."


"Tadi kamu tanya. Jelas masih peduli."


Meladeni orang di depannya ini tidak akan pernah selesai. Freya menggertakkan giginya. Dia hendak membantah lagi, tetapi suara panggilan dari teman lamanya itu membuat Freya harus menahan diri lagi.


"Freya. Kapan aku bi—eh? Lucas? Maksud saya, Pak Lucas? Anda datang hari ini?"


Lucas dan Freya sama-sama menoleh pada Aya. Wanita itu terlihat terkejut dengan keberadaan Lucas.


"Anda siapa?" tanya Lucas.


Sebenarnya, dia mengenali wanita ini. Enam tahun lalu, saat Lucas mencari petunjuk tentang keberadaan Freya, dia menemukan fakta bahwa Freya hanya memiliki satu teman dekat. Itu adalah wanita yang sekarang tengah bersikap sopan di depannya.


"Saya Aya. Arsitek yang ditugaskan untuk mendesain ulang gedung ini."


Aya menjulurkan tangannya. Lucas melihat maksud Aya dan menyambut uluran tangannya.


"Saya Lucas."


Tautan tangan tersebut lepas setelah mereka berkenalan. Dua orang ini saling mengenal, tetapi karena mereka berada dalam bisnis, mereka harus bersikap profesional.


Lucas melihat Freya yang gelisah karena kedatangan Aya. Pria itu diam-diam tersenyum senang. Dia punya cara membuat Freya berhenti berpura-pura.


"Seingat saya, rapat untuk membahas tentang desain itu kemarin. Apa hari ini ada jadwal lain?"


Aya segera menggeleng. "Enggak, Pak. Saya cuma mau ketemu temen lama."


Mendengar Aya menyebutkan kata "Teman lama" membuat Freya ingin menutup mulut Aya dengan tangannya. Akan tetapi, jika dia melakukannya maka akan terlihat jelas bahwa dia berbohong pada Lucas.


"Teman lama?" Lucas melirik ke arah Freya, lalu dia kembali melihat Aya. "Kalian berdua?"


Aya melihat Freya sekilas sambil mengiyakan pertanyaan Lucas. "Iya, Pak. Kami satu kampus dulu."


Baik. Freya menyerah sekarang. Tidak ada gunanya bersandiwara lagi.

__ADS_1


Lucas mengangguk paham. "Oh, kalo gitu saya permisi dulu. Kalian lanjut aja."


"Iya, Pak."


Sebelum pergi, Lucas menyempatkan diri untuk melemparkan senyuman pada Freya.


Namun, Freya tahu bahwa itu bukanlah senyuman yang menandakan hal baik.


Sepeninggal Lucas, Freya langsung memberikan pertanyaan pada Aya. "Kenapa kamu panggil Lucas dengan sebutan Pak?"


"Karena dia yang punya gedung ini."


Freya membesarkan matanya. "Ha? Dia?"


Aya mengangguk. "Iya. Aku juga baru tau tadi malam. Gak nyangka, sih, dia pemilik yang baru."


Freya berhenti mengeluarkan kata. Dia . . . secara tidak langsung bekerja di bawah pimpinan Lucas?


...****************...


Freya baru saja keluar dari kafe setelah waktu kerjanya selesai. Tiba-tiba, tangannya ditarik oleh seseorang membuat Freya terlambat bereaksi.


"Lepas!"


Freya menarik kuat tangannya, tetapi orang itu tidak terganggu sama sekali dan tetap membawanya menuju sebuah ruangan kosong yang terletak di lantai dua.


Setibanya di ruangan itu, Freya mendorong Lucas menjauh darinya. "Gila! Ngapain kamu bawa aku ke sini?"


"Kamu? Hah, udah gak pura-pura lagi?" sarkas Lucas.


Freya membuang mukanya ke samping. Kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya.


Melihat Freya yang berdiam diri dan menghindari tatapannya, Lucas bertepuk tangan di dalam hatinya. Lihat? Bagaimanapun Freya berusaha keras, dia akan kalah ketika berhadapan dengan Lucas.


Perlahan, tapi pasti. Lucas berjalan mendekati Freya. Wanita itu mundur ke belakang untuk memberi jarak, tetapi Lucas tidak terlihat berhenti hingga dia menabrak tembok di belakangnya.


Freya terkurung di antara dua tangan Lucas.


"Apa?" tanya Freya datar. Jika dulu dia akan ketakutan berada dalam situasi seperti ini, maka sekarang adalah hal yang berbeda. Hidupnya selama kurang lebih enam tahun ini telah membawa perubahan dalam kepribadiannya. Dia tidak akan menyerah dengan mudah, terutama di depan Lucas.


Lucas memandang mata Freya lama. Kemudian, dia menyusuri setiap detail wajah Freya. Setelah enam tahun, tidak ada yang berubah sama sekali.


Wajahnya masih cantik seperti dulu.


"Kalo gak ada yang penting, bisa minggir?" tanya Freya lagi penuh penekanan. Kakek Pati pasti sudah mengantar Syakia. Dia harus segera pulang sekarang.


"Minggir." Freya mendorong pundak Lucas, tetapi pria itu bergeming.


"Lucas!"


Panggilan yang ditunggu oleh Lucas pun akhirnya terdengar. Dia tersenyum lebar di depan Freya. Mendapati ekspresi Lucas yang tidak pernah dia lihat sebelumnya, menimbulkan perasaan merinding yang tidak diketahui oleh Freya.


"Kita pulang."


Freya mendengus. "Pulang? Ke mana?"


Senyuman lebar yang terukir di wajah Lucas seketika menghilang. Raut wajahnya berubah menjadi dingin. Namun, sedetik kemudian dia menyeringai.


"Enam tahun ini . . . kamu banyak berubah, ya? Freya yang penurut udah gak ada lagi."


Freya membalas perkataan Lucas dengan tawa remeh. "Ya. Kamu gak berubah, ya? Lucas yang pemaksa ternyata masih ada."


Keduanya saling menatap dengan emosi yang berbeda. Satu melihat dengan ketakutan, tetapi ditutupi dengan kemarahan. Sementara yang satunya lagi sulit diartikan.


"Minggir!"


Kali ini, Freya menggunakan seluruh kekuatannya untuk mendorong Lucas. Kemudian, dia keluar dari ruangan tersebut sebelum Lucas mencegahnya.


Lucas membiarkan Freya pergi. Entah mengapa dia merasa bersemangat dengan penolakan ini. Dia menatap ke luar di mana Freya baru saja pergi.


"Keras kepala." Dia tersenyum kecil, "tapi gak masalah. Aku tetap suka."

__ADS_1


__ADS_2