
Tidak ada satu pun yang tertinggal. Freya membawa pergi semua barang miliknya.
Lucas berlari keluar untuk mencari Freya. Dia mengambil kunci mobil dari saku celananya sebelum masuk ke dalam mobil.
Dia mencoba menghubungi Freya, tapi yang terdengar hanyalah suara operator yang mengatakan bahwa nomor tersebut tidak dalam daftar dan menyuruhnya untuk mengecek ulang nomor yang sedang dia hubungi.
Lucas frustasi. Kemungkinan besar Freya telah mematahkan kartu sim-nya sehingga tidak bisa dihubungi lagi.
Namun, Lucas masih berusaha untuk berpikir positif. Dia memutar arah mobilnya menuju perusahaan Vermillion. Walaupun kemungkinannya kecil, Lucas berharap Freya berada di sana.
Sepanjang jalan menuju gedung kantornya, Lucas terus berpikir bahwa mungkin Freya ingin bertemu Bryan atau dia mencari Lucas untuk meminta izin menginap di rumah temannya.
Meskipun pada kenyataannya, barang-barang milik Freya tidak lagi ada . . . Lucas tetap berharap Freya hanya pergi ke rumah temannya.
Sesampainya di kantor, Lucas langsung pergi ke ruangan Bryan. Akan tetapi, saat dia ingin membuka pintu, dia mendengar suara Mia dan Bryan yang seperti tengah berdebat. Mereka berbicara dengan intonasi yang tinggi sampai Lucas bisa mendengarnya dari luar.
"Mereka masih berumah tangga dan kamu udah bilang ke Pak Oga bakal jodohin Lucas sama anaknya? Gila kamu, Mia!"
Itu suara Bryan. Sepertinya perdebatan mereka baru saja dimulai. Lucas membuka sedikit pintu ruangan Bryan agar dia bisa mendengar lebih jelas apa yang mereka debatkan.
"Pak Oga itu bisa membuat derajat Lucas terangkat. Kamu bodoh menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Kalo Lucas menikah dengan Aurora, otomatis kamu gak perlu capek-capek mempertahankan perusahaan yang bobrok ini."
"Apa pun itu, kamu harusnya tahu! Lucas dan Freya udah menikah. Menjodohkan dia dengan anak Pak Oga itu salah, Mia. Lucas pasti bisa berdiri dengan kakinya sendiri. Gak perlu pakai cara jodoh-jodoh begini. Dia udah punya istri, Mia. Kamu gak mikirin perasaan Freya? Kenapa kamu jadi gila kekuasaan kayak gini?"
"Aku? Hei, Bryan! Ini alasan aku gak mau nikah sama kamu dulu. Pikiran kolot dan bodoh kayak gitu yang buat kamu ketipu. Ekonomi naik turun . . . kalo bukan karena kamu datang melamar aku langsung ke bapakku, udah aku tolak kamu."
"Kenapa malah ngungkit masa lalu? Kita lagi bahas perjodohan konyol yang kamu buat."
"Konyol? Pikirin lagi, Bryan! Kamu juga jodohin Lucas dengan Freya cuma karena Zehan bantu kamu dulu. Apa bedanya dengan caraku? Pak Oga banyak membantu kamu dan Lucas. Aku juga sama. Jadi, kenapa aku gak boleh jodohin mereka?"
"Mia, situasi sekarang beda. Dulu, Lucas masih sendiri. Sekarang, dia udah punya istri. Jelas kamu gak bisa jodohin dia dengan anak gadis orang!"
"Tinggal cerai aja. Gampang. Lagian juga mereka belum punya anak. Selagi masih bisa pisah, cepat lakukan."
"Mia! Mudah sekali mulut kamu bilang kayak gitu!"
"Gak usah dibuat ribet, Bryan. Cerai, ya, tinggal cerai."
Lucas sudah muak mendengar ocehan mia dari depan pintu. Dia membuka lebar pintu tersebut dan masuk dengan muka berang.
Perdebatan antara Bryan dan Mia berhenti di tengah-tengah ketika mereka melihat Lucas masuk ke dalam. Air muka Mia berubah saat Lucas menghampirinya dengan wajah masam.
"Lucas? Sejak kapan kamu—"
"Jadi, Mama emang punya rencana jodohin aku sama Aurora? Pantesan deket banget sama dia sampai-sampai Mama nyuruh dia manggil Mama bukan Tante."
Lucas langsung memotong pertanyaan Mia. Dia sedang dalam keadaan marah, takut, gelisah, gundah, dan kesal. Semua emosi itu bercampur di kepalanya. Bersiap meledak di saat yang bersamaan.
Mia menghela napas sambil membuang muka ke samping. Lalu, dia melihat Lucas dan berkata dengan marah. "Kamu jangan bego! Perjanjian kamu sama Zehan dan Ghia itu gak penting. Kamu gak harus menepatinya. Mama tau kalo kamu gak nyaman sama Freya. Dia bukan istri yang pantas untuk kamu. Bukan cuma Mama, tapi semua orang merasa kalo kamu cocok berpasangan dengan Aurora."
"Huh! Kayak Mama 24 jam di samping aku. Tau dari mana kalo aku gak nyaman? Tau dari mana kalo Freya gak pantas? Asal Mama tau aja, aku nikah sama Freya bukan karena janji yang aku ucapkan di depan orang tua Freya. Itu adalah janji yang aku buat dengan diri aku sendiri."
__ADS_1
Mia mengerutkan keningnya. Tidak terima dengan alasan yang diberikan oleh Lucas. "Kamu masih terlalu muda. Jadi, belum tau kerasnya dunia. Banyak orang yang nyari relasi ke para penguasa biar mereka bisa naik level. Kamu udah ada pintu untuk naik ke atas, tapi malah dianggurkan."
"Aku gak butuh. Kalo Mama mau, nikah aja sama Pak Oga. Jadi istri kedua."
"Lucas!"
Sepasang ibu dan anak ini saling menatap satu sama lain. Watak mereka sama-sama keras, tidak ada satu pun dari mereka yang ingin mengalah.
Bryan tidak tahan melihatnya lagi. Dia mengulurkan kedua lengannya ke depan. Memisahkan ibu dan anak tersebut demi kebaikan mereka.
"Cukup. Mia, lebih baik kamu pulang. Rencana kamu itu, tolong dibuang. Jangan cuma mikirin ego kamu aja. Pikir juga perasaan orang lain."
Mia melirik tajam Bryan. "Aku mikirin ego aku? Hei! Di sini aku masih berbaik hati, ya! Mikirin nasib perusahaan bobrok ini."
"Gak butuh. Silakan keluar." Lucas berkata dengan dingin. Membiarkan Mia terus berbicara tidak akan membuat perdebatan ini selesai.
Diusir oleh dua orang tersebut, Mia menghentakkan kakinya dan keluar dari ruangan Bryan dengan marah yang menumpuk di wajahnya.
Setelah kepergian Mia, Lucas dan Bryan bisa bernapas lega. Mereka saling diam sejenak sebelum Bryan memberikan pertanyaan mengenai kedatangan Lucas.
"Kenapa kamu balik lagi? Ada yang belum beres?"
"Freya pergi."
"Ha?"
Bryan bertanya dengan wajah bingung. Lucas berkata lagi. "Freya gak ada di rumah."
"Aku juga lagi berusaha percaya dengan kalimat itu. Makanya aku datang ke sini, mau mastiin ada Freya atau gak."
Kening Bryan semakin berkerut. "Maksudnya?"
"Barang-barang Freya gak ada. Dia pergi dari rumah."
"Ha? Kok bisa? Kenapa tiba-tiba?"
Lucas menggeleng. "Gak tau. Semalam kami sempat berdebat juga, tapi aku gak nyangka kalo dia bakal keluar dari rumah. Aku, bahkan gak tau kapan dia pergi karena aku seharian di kantor."
"Ada masalah apa kalian sampai kayak gini kejadiannya?"
"Cuma, ya, masalah Aurora. Freya liat aku sering bareng sama dia. Padahal aku udah jelasin kalo kami cuma rekan kerja."
Bryan tampak berpikir. Dia tidak ingin buru-buru menyalahkan Lucas atas kepergian Freya. Situasi saat ini bukan waktu yang tepat untuk membahasnya.
"Sekarang, kamu pergi cari dia dulu. Nanti kita bahas itu. Papa bantu cari juga. Untung udah kelar ini semua. Ah, kalo bisa kamu tanya ke temen-temennya. Mungkin dia nginap di salah satu rumah temennya."
Lucas menggeleng. "Aku gak tau temennya."
"Loh? Aduh, Lucas. Yaudah kamu cari aja di jalan atau tempat-tempat yang biasa dia datangi."
Lucas mengangguk, tidak banyak tempat yang didatangi oleh Freya. Jadi, seharusnya dia ada di salah satu tempat tersebut.
__ADS_1
"Papa cari di hotel yang ada di Jakarta. Temen Papa kebetulan punya aksesnya. Semoga dia nginap di salah satu hotel itu."
"Iya, Pa."
Lucas pergi terlebih dahulu, sementara Bryan masih harus membereskan barang-barangnya.
Saat Lucas sudah berada di dalam mobil dan hendak menghidupkannya, ponsel Lucas berbunyi. Dia segera melihatnya dengan harapan nama Freya akan muncul di sana. Akan tetapi, harapan hanyalah harapan. Yang menghubunginya bukanlah Freya, melainkan Daniel. Pria itu sudah lama tidak mengganggu dirinya dan sekarang dia kembali untuk melakukan kebiasaannya itu.
"Apa?" Lucas menjawab telepon Daniel dan bertanya dengan kesal.
"Kenapa lo? Belom apa-apa udah kesel aja."
"Cepat bicara atau gue matiin."
"Santai, santai. Gue mau ajak lo ke bar buat nyegerin otak. Gue tau lo stres karena kerjaan dan ngejar target. Eh, tapi lo jangan minum. Gue malas ngurus lo."
Lucas membuang kasar napasnya. Daniel menghubunginya hanya untuk mengatakan hal yang tidak penting.
"Gak."
"Cepat banget nolak. Mikir dulu, kek. Ayolah, minggu depan kita udah masuk kuliah lagi. Bakal lebih sibuk lagi. Jadi, selagi ada waktu . . . ayo, duduk bareng gue. Malam ini gue tunggu pokoknya."
"Gak bisa."
"Kenapa? Karena kerjaan? Ah, bisa ditinggal sebentar. Beberapa jam, doang ini."
Lucas memejamkan matanya. Dia berbisik di ponselnya. "Istri gue pergi."
"Ha? Lo bicara yang jelas. Jangan bisik-bisik. Gue di bar ini."
Lucas menarik napasnya. Bersamaan dengan hembusan napasnya, dia berteriak, "Istri gue pergi, bangsat! Dia keluar dari rumah bawa semua barangnya! Gue harus nyari dia sekarang!"
Tak ada suara yang terdengar di seberang sana, bahkan Lucas sampai harus memeriksa apakah sambungan telepon masih terhubung atau tidak.
"Woi! Gue matiin—"
"Bentar. Istri lo kabur dari rumah maksudnya? Kok bisa? Lo ketauan selingkuh atau gimana?"
"Gak usah banyak nanya. Gue buru-buru."
"Oke, oke. Gue bantu cari juga. Bisa jadi istri lo masih nyeret koper di jalan."
Dalam keadaan seperti ini pun, Daniel masih berusaha membuat dia jengkel. Lucas harus menahan kekesalannya pada Daniel. Dia menjawab iya dan langsung mematikan ponselnya.
Lucas mencari di semua tempat yang sering dikunjungi Freya, tapi dia tidak menemukan sosok istrinya tersebut.
Bryan juga mengatakan jika Freya tidak berada di hotel. Daniel pun mengatakan hal yang sama. Dia tidak menemukan Freya di mana pun.
Lucas putus asa. Tidak tahu lagi ke mana dia harus mencari Freya. Dia pun memutuskan untuk pulang dan menunggu Freya di kamarnya. Berharap jika Freya akan pulang dan bukan pergi meninggalkannya.
Namun ... .
__ADS_1
Seminggu telah berlalu, tetapi Freya tidak kunjung kembali ke rumah.