
"Lucas, fokus."
Daniel menghela napas lagi. Baru 20 menit mereka bertemu untuk membahas masalah Pak Oga, sudah tiga kali Lucas minta mereka berhenti sebentar karena dia ingin menghubungi Freya.
"Iya." Lucas memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
Hari ini adalah jadwal Syakia pergi ke rumah sakit. Seharusnya dia membawa putrinya ke sana. Akan tetapi, Daniel tiba-tiba menghubunginya dan menyuruh dia segera pergi ke kantor. Awalnya, dia menolak keras, tapi Daniel memaksanya untuk datang sampai akhirnya pria itu terpaksa pergi dan membiarkan Freya membawa Syakia sendirian.
"Jadi, apa?" tanya Lucas. Padahal mereka sudah mulai membahas masalah tentang Pak Oga, tapi pria ini sama sekali tidak mendengar.
Membiarkan Freya pergi berdua saja dengan putrinya membuat Lucas resah. Dia khawatir sesuatu terjadi pada mereka.
"Tenang, Lucas. Mereka ke rumah sakit bukan ke negara lain." Sebagai temannya, Daniel berusaha menenangkan Lucas, tetapi tentu saja diselipkan candaan.
Lucas mengangguk pelan. Agar perhatiannya tidak teralihkan lagi, Lucas memberikan ponselnya pada Daniel dan menyuruh pria itu untuk menghalanginya jika dia meminta berhenti lagi.
"Danu, apa semua bukti udah terkumpul?" tanya Lucas. Orang yang ditanyai pun mengangguk. Sebuah flashdisk dia berikan pada Lucas.
"Semuanya ada di dalam sini. Untuk copy-an nya pun sudah saya amankan."
Lucas mengambil flashdisk tersebut. Menatapnya sebentar, lalu mengembalikannya pada Danu. "Kapan kamu pergi?"
"Sore ini, Pak," jawab pria itu sembari memasukkan benda tersebut ke dalam tasnya.
Lucas mengangguk. "Bagus. Makin cepat makin baik." Danu menyetujui perkataan atasannya.
Di sampingnya, Daniel bertanya, "Lucas. Gue denger dari bokap lo, katanya Pak Oga udah mutusin hubungan kerjasama. Jadi, sekarang kalian rival?"
Lucas mendengus. "Bukan sekarang, tapi dari dulu."
Daniel tertawa, mengejek orang yang mereka bicarakan. "Udah waktunya pensiun, malah lanjut nyalon."
"Orang serakah susah buat berhenti."
Daniel menggelengkan kepalanya. Di dunia bisnis, orang-orang seperti Pak Oga banyak dia temui. Namun, mereka tidak menyenggolnya. Akan tetapi, karena teman baiknya yang bermasalah, maka dengan senang hati dia akan ikut membantu.
...***...
Syakia baru selesai menjalani pemeriksaan terkait kesehatan pendengarannya. Dokter yang menangani Syakia mengatakan bahwa anak itu sudah mulai mengalami perkembangan. Jika dia sering melakukan terapi, maka dalam beberapa minggu ke depan, anak perempuan itu sudah bisa mendengar suaranya sendiri dengan baik.
"Terima kasih, Dok." Freya menunduk sedikit, lalu mengajak Syakia keluar.
Rumah sakit yang mereka datangi cukup besar, bahkan beberapa dokter dan perawat di sini mengenali Bryan. Freya sempat mendengar dari Bi Surni bahwa rumah sakit ini adalah langganan Bryan. Wanita tua itu juga mengatakan bahwa di saat dia sakit dulu, Bryan selalu membawanya ke sini.
Freya tidak terlalu mengingatnya atau mungkin karena rumah sakit ini yang terlalu besar sehingga dia tidak menyadarinya.
__ADS_1
"Freya?"
Saat tengah berjalan di koridor, seorang pria memanggil Freya dari arah depan. Wanita itu menyipitkan matanya untuk mengingat wajah pria tersebut.
Namun, sekeras apa pun keningnya berkerut, Freya tetap tidak mengenalnya.
Dia sudah lama tidak keluar. Jadi, mengapa orang-orang bisa mengenalnya? Freya berpikir mungkin pria itu salah satu kenalan Lucas yang tanpa sengaja juga mengenalnya.
Untuk sopan santun, Freya melemparkan senyuman tipis pada orang itu. Lalu, dia bertanya dengan suara pelan.
"Maaf. Siapa, ya?"
Pria itu tersenyum. "Aku Aizi. Teman Lucas pas SD. Kita pernah beberapa kali bicara dulu."
Bola mata Freya berlari ke samping. Berusaha mengingat nama tersebut. Aizi?
"Oh, temen deket Lucas yang pindah ke luar negeri 'kan?" tanya Freya memastikan. Dia ingat ada seorang anak laki-laki di sekolahnya yang pindah sekolah ke luar negeri, tapi dia tidak ingat ke mana pria itu pindah.
Aizi tertawa kecil. Dia berjalan mendekati Freya. "Iya. Itu aku. Gimana kabar kamu?" Pandangannya berpindah, tertuju pada anak perempuan yang menatapnya datar. Terlihat seperti seseorang yang dia kenal.
Pria itu merendahkan tubuhnya, menyejajarkan dirinya dengan bocah tersebut.
Dengan lembut dia bertanya, "Kamu Syakia?"
Anak perempuan itu tidak terlalu mendengar suara Aizi karena alat bantu dengarnya tertinggal di rumah. Namun, karena pergerakan bibir Aizi adalah gerakan yang paling dia hafal, Syakia mengangguk pelan. Tangannya yang digenggam oleh Freya semakin dia eratkan. Takut pria di depannya ini melakukan hal buruk padanya.
"Gimana kabar kamu?"
"Baik. Kalo ... kamu?"
"Baik juga. Kalian ngapain di sini? Ada yang sakit?"
Freya menggeleng. Ingin menjelaskan, tapi akan menjadi panjang. Jadi, dia hanya berkata, "Ada keperluan."
Aizi pun tidak bertanya lebih lanjut karena sebenarnya dia sudah mengetahui tentang keadaan Syakia dari Lucas. Karena Freya tidak ingin mengatakannya, sebagai orang luar Aizi hanya bisa mengiyakan saja.
"Kamu juga ngapain di sini?" tanya Freya.
"Baru selesai jenguk salah satu rekan bisnis. Btw, udah lama gak ketemu. Mau ngobrol bentar?"
Freya melirik Syakia sekilas. Sejujurnya, dia ingin menolak, tapi dia juga merasa bahwa Aizi ingin membicarakan sesuatu padanya. Terlihat dari cara pria itu mengajaknya berbicara.
"Ngobrol di mana?" tanya Freya.
"Kantin aja atau ke kafe deket sini."
__ADS_1
Karena jarak kantin lebih dekat daripada kafe, Freya memilih tanpa berpikir lama. "Di kantin aja."
"Oke. Sekalian beli minuman untuk Syakia."
Setibanya di kantin, mereka membeli minuman dan juga roti untuk dimakan. Di sana, Aizi mengatakan semua hal pada Freya mengenai kembalinya dia ke Indonesia, lalu tanpa sengaja dia bertemu dengan Lucas yang berakhir dengan mengantar pulang pria mabuk itu.
"Aku gak yakin waktu itu dia mabuk. Karena minuman yang dia pesan gak ada alkoholnya. Eh, tapu mungkin ada sedikit."
Freya mengangguk setuju di dalam hatinya, tapi dia tidak menunjukkan respons apa pun di depan Aizi.
"Dulu, Lucas jelas banget kalo mau lindungi kamu. Mungkin kamu agak susah percaya, tapi dia kayak gitu karena suka sama kamu. Dari kecil, dia selalu cerita tentang kamu ke aku sampe telinga aku sakit dengernya." Pria itu tertawa kecil, menggelengkan kepalanya ketika mengingat kembali tingkah Lucas di masa lalu.
Tiba-tiba, tawa di bibir Aizi memudar. Terganti dengan ekspresi serius disertai kalimat tak mengenakan.
"Gara-gara orangtuanya cerai, apalagi dia lihat sendiri nyokapnya selingkuh ... Lucas mulai berubah." Dia melihat Freya yang duduk di depannya, "tapi untuk kamu ... dia gak pernah berubah."
Freya mengerutkan keningnya. Apa yang tidak berubah? Jelas-jelas sikapnya berubah drastis setelah kejadian tersebut.
Melihat raut muka Freya yang tidak setuju dengan pernyataannya, Aizi berkata lagi. "Hati dia gak berubah. Dari dulu sampe sekarang, yang dia pedulikan itu cuma kamu." Dia melirik ke arah Syakia.
"Dan mungkin bukan kamu aja yang dia pedulikan sekarang."
Freya mengikuti arah pandangan Aizi. Pria itu mengatakan hal tersebut sambil melihat Syakia yang sedang fokus mengunyah roti.
Dia tidak bodoh untuk tidak mengetahui arti dari kalimat Aizi. Samar-samar pipinya terasa hangat.
"Dia kayak gitu karena janji," celetuk Freya. Dia tidak ingin tersipu hanya karena hal kecil.
"Janji dengan orangtua kamu?" Freya mengangguk.
Aizi menghela napasnya. "Freya. Kamu harus tanya sekali lagi. Bicarakan dengan Lucas baik-baik. Masalah kalian ini masih bisa diselesaikan. Aku tau, kalian berdua sama-sama terluka 'kan?"
Freya memang terluka, tapi dia tidak tahu dengan Lucas. Apakah pria itu juga terluka karenanya?
Dering ponsel menggema di kantin, Aizi buru-buru mematikannya sebelum mengganggu orang di sekitar mereka.
"Lupa aku silent. Aku harus pergi sekarang."
Freya mengangguk. "Iya."
Aizi berdiri dari duduknya sambil berkata pada Freya lagi. "Freya, walaupun Lucas kelihatan dingin, tapi hatinya hangat. Terutama kalo itu berhubungan dengan kamu. Aku harap kalian bisa selesaikan semua masalah rumah tangga kalian, ya."
Freya tersenyum tipis. "Iya. Makasih, Aizi."
Pria itu membalas senyumannya sebelum pergi dari kantin.
__ADS_1
"Ya. Sama-sama."