Cold Love

Cold Love
Bab 21. Pernikahan Teman Masa Kecil


__ADS_3

Freya tampak menawan dalam balutan gaun pengantin berwarna putih dengan brokat bunga di sekitar dada. Rambut hitamnya diikat ke atas, bertumpuk di pusar kepala seperti gulungan benang rajut.


Di depan gedung, terdapat papan bunga bertuliskan "Selamat Atas Pernikahannya, Lucas Vermilion & Freya Adreena".


Hari ini adalah satu hari setelah kelulusan Freya dan Lucas. Sesuai keinginan Lucas, mereka menikah setelah lulus SMA. Tentunya dengan beberapa catatan yang diberikan oleh Bryan pada Lucas.


Para tamu undangan hanya berasal dari kerabat dekat saja. Tidak ada teman-teman Lucas atau Freya yang hadir. Hal ini dikarenakan Lucas tidak ingin mengundang mereka, sementara Freya tidak memiliki teman untuk diundang.


Acara pernikahan digelar dengan sederhana di sebuah gedung milik teman Bryan. Tidak terlalu mewah karena Freya yang memintanya. Lucas sendiri tidak masalah. Dia pun tidak suka acara pesta yang berlebihan. Membuang tenaganya saja.


Hampir dua jam mereka berdiri untuk menyapa para tamu undangan. Begitu acara selesai, Lucas dan Freya kembali ke rumah Bryan sebelum pindah ke rumah mereka sendiri di saat Freya dan Lucas lulus kuliah.


Keduanya langsung merebahkan diri di atas kasur tanpa mengatakan satu patah kata pun.


Freya melirik sedikit ke atas. Di dekat kepalanya, Freya melihat Lucas memejamkan kedua matanya. Mereka belum mengganti pakaian dan belum membersihkan diri.


Agar tidur lebih enak, Freya memilih untuk mandi terlebih dahulu sebelum membangunkan Lucas.


Sehari sebelum pernikahan, Bi Surni —yang dibantu oleh beberapa orang sewaan Bryan—telah memindahkan semua barang-barang Freya, termasuk lemari pakaiannya ke kamar Lucas.


Wanita itu ingin membuka gaunnya, tetapi dia baru menyadari keberadaan Lucas di belakangnya. Buru-buru dia menarik kembali kancing bajunya dan memutar tubuhnya untuk mengambil piyama.


Karena terburu-buru yang disebabkan oleh rasa gugup ... tanpa sengaja Freya menabrak pintu lemari yang belum dia tutup. Menimbulkan suara benturan besar yang membuat Lucas membuka matanya.


Freya menjerit kesakitan dalam batinnya. Mata dan bibirnya sama-sama tertutup. Kedua tangannya meremas erat piyama merah yang baru dia ambil. Freya membuka sedikit matanya dan menggeser pandangan ke arah di mana Lucas tertidur.


"Ah, Lucas. Aku ... bangunin kamu, ya?"


Freya tersentak melihat Lucas yang sudah duduk di pinggir tempat tidur. Lelaki itu tampak lelah. Dia menopang tubuhnya dengan kedua tangan yang terjulur ke belakang. Kepalanya sedikit miring. Kelopak matanya sayu, tapi tatapannya pada Freya begitu tajam.


"Ngapain?" tanya Lucas. Suaranya sedikit serak, terdengar benar-benar lelah.


Freya menjawab dengan kikuk. Dia menunjuk ke kamar mandi. "Aku ... mau ganti baju."


Kening Lucas berkerut. Lelaki itu melihat ke arah tunjuk Freya, lalu kembali pada wanita itu.


Netranya bergerak menelusuri Freya. Dari atas hingga ke bawah. Tak ada yang berubah dari ekspresi wajah Lucas, tapi hal itulah yang membuat jantung Freya berdebar. Bercampur perasaan takut, tidak nyaman, dan gugup.


Tanpa memberi beberapa huruf, Lucas langsung berdiri dan keluar dari kamar. Setelah suara pintu ditutup terdengar, akhirnya Freya bisa bernapas dengan benar. Tadi, sesaat Freya merasa oksigen mendadak hilang dari jangkauannya.

__ADS_1


Freya melirik sekilas ke arah pintu. Lucas tahu jika dirinya malu membuka pakaian saat lelaki itu ada di ruangan yang sama dengannya. Memikirkan kepekaan Lucas, sebuah senyuman kecil muncul di wajahnya.


Freya sangat berterima kasih pada Lucas dan segera membuka gaunnya. Membersihkan diri dengan cepat agar Lucas juga bisa membenahi dirinya.


Setengah jam terlewati. Freya telah selesai mandi. Berjaga-jaga jika Lucas telah masuk ke kamar, Freya membawa piyamanya ke kamar mandi dan menggantinya di dalam sana.


Freya menjulurkan kepalanya, melihat keluar untuk memastikan keberadaan Lucas.


Ternyata lelaki itu belum masuk ke kamar. Freya melangkah keluar dari kamar mandi dan mencari Lucas di luar.


Namun, ketika dia membuka pintu kamar, di saat yang bersamaan ... Lucas juga membuka pintu. Lelaki itu terlihat sudah bersih. Jasnya telah berubah menjadi piyama berwarna merah. Sama seperti yang Freya gunakan.


Mereka berpapasan di depan pintu. Keadaan ini membuat Freya menjadi canggung.


Mata Freya berkeliaran tidak tenang. "Em ... kamu baru selesai mandi?" tanya Freya acak.


"Iya."


Freya mengutuk dirinya sendiri. Pertanyaan basi! Sudah jelas dari penampilan Lucas jika dia baru selesai mandi. Untuk apa ditanyakan lagi?


"Ayo, tidur."


Freya menatap Lucas bingung. Ini semua masih baru baginya dan Freya tidak tahu harus bersikap seperti apa. Wanita itu buru-buru menutup pintu kamar dan mengikuti Lucas dari belakang.


Lucas mengambil bagian kiri, sementara Freya bagian kanan. Keduanya sama-sama tidur terlentang, menghadap ke langit kamar.


Freya dan Lucas sama-sama tidak bisa tidur jika ada cahaya. Oleh karena itu, mereka tidak memiliki lampu tidur di atas meja nakas. Hanya ada lampu tidur di dinding yang posisinya agak jauh dari kepala mereka.


Dalam remang-remang cahaya lampu, Freya melirik Lucas dengan ujung matanya. Lelaki itu telah lama memejamkan kedua matanya. Terlihat damai dalam tidurnya.


Freya memperhatikannya dalam diam. Sudah berapa lama teman masa kecilnya ini berubah? Freya belum menghitungnya lagi. Waktu berlalu begitu saja tanpa dia sadari.


Merasa Lucas telah terlelap dalam tidurnya, Freya memberanikan diri untuk membalikkan tubuhnya menghadap Lucas. Meskipun tidak memiliki banyak cahaya, pahatan wajah Lucas terlihat jelas.


Matanya yang tertutup sangat indah dan memesona. Freya baru menyadari bahwa Lucas memiliki bulu mata yang hitam dan tebal. Alis matanya juga tidak jauh beda. Pantas dia menjadi populer di kalangan wanita.


Batang hidung lelaki itu menukik tajam. Siapa pun yang melihatnya akan berkeinginan untuk menarik hidung tersebut.


Garis rahangnya tegas, menguarkan karisma yang kuat. Memperhatikan suaminya dari dekat seperti ini menimbulkan perasaan senang dalam hati Freya.

__ADS_1


Suami?


Saat Freya sadar, tangannya hampir menyentuh hidung Lucas. Wanita itu segera menarik tangannya dan tidur dengan punggung menghadap Lucas.


...***...


Keesokan harinya, Freya bangun terlebih dahulu daripada Lucas. Hari ini mereka bangun lebih lambat dari biasanya.


Freya melihat Lucas yang masih tertidur pulas. Posisinya tidak berubah sama sekali dari semalam.


Apa badannya gak kaku?


Freya tidak membangunkan Lucas dan membiarkan lelaki itu tidur lebih lama.


Setelah membersihkan diri dan mengganti piyama dengan pakaian biasa, Freya turun ke bawah menuju dapur untuk membuat sarapan.


"Freya. Kenapa udah bangun aja? Tidur aja lagi. Kasian kamu capek kemarin."


Di dapur, Freya bertemu dengan Bryan yang tengah meminum kopi sambil membaca koran.


"Gak papa, Om. Freya gak terlalu ngantuk lagi."


Freya menjawab sembari tersenyum kecil. Lalu dia berjalan menuju kulkas untuk mengambil telur dan daun bawang.


"Om apa? Kamu udah sah jadi anak Om. Panggil Papa, dong."


Freya terkekeh sambil menoleh pada Bryan. "Iya, Pa."


"Gitu, dong." Bryan tersenyum puas dan kembali membaca koran.


Tak berselang beberapa menit dari kedatangan Freya, Lucas datang setelah mencuci muka. Dia menarik kursi di samping Bryan dan duduk di sana.


Bryan mengintip anaknya dari balik koran. Dia berkata, "Tidur aja lagi. Muka kamu masih muka bantal."


Lucas tidak menjawab. Dia memang sudah mencuci muka, tapi nyawanya belum kembali semua.


Freya berbalik untuk melihat Lucas yang masih mengantuk. Wanita itu meraih satu gelas di rak piring wastafel dan mengisinya dengan air putih. Lalu dia memberikannya pada Lucas.


Dengan mata yang masih setengah terbuka, Lucas mengucapkan terima kasih pada Freya.

__ADS_1


Mendapat ucapan itu di pagi hari, terutama dari Lucas yang sudah berubah statusnya dari teman menjadi suami, menimbulkan sensasi yang berbeda. Freya mendadak semangat untuk membuat sarapan sekarang.


__ADS_2