
Freya adalah anak yang pintar. Hanya saja, dia kalah dengan anak-anak lain yang orangtuanya membayar untuk memasukkan mereka ke kelas unggul. Orangtua Freya mampu melakukan hal yang sama, tapi Freya tidak ingin seperti itu. Baginya, apapun yang terjadi itu karena kemampuan yang dia miliki. Apakah dia harus berada di kelas bawah atau kelas atas, Freya tidak masalah selama dia bisa menuntut ilmu.
"Ew, ada si jelek."
Freya mengangkat wajahnya, melihat salah satu teman sekelasnya yang sering menganggu dia di kelas.
"Friska, kayaknya dia udah selesai ngerjain PR." Anak perempuan lain datang dengan tangan yang terlipat di depan dada. "Mumpung belum masuk."
Friska melirik temannya, kemudian beralih pada Freya. Bocah itu hanya memandang mereka tanpa merespon.
Alis Friska terangkat sebelah. Mimik wajahnya membentuk senyum licik. Dia bergerak dan duduk di atas meja Freya. Tidak ada yang peduli dengan tingkah laku Friska yang terkesan menjadi "Bos" di kelas itu. Karena anak-anak yang lain tidak ingin ikut campur dan mereka hanya berharap tidak menjadi sasaran Friska.
"Bagi contekan." Friska meminta. Tidak memohon, tapi memaksa.
Freya melihat ke permukaan meja. Sering kali Friska meminta tugas rumahnya untuk ditiru dan Freya selalu memberikannya, tapi mulai hari ini Freya bertekad untuk tidak memberikan tugasnya lagi. Freya tidak ingin Friska terlalu bergantung padanya dan menjadi malas.
"Maaf, Friska. Aku gak bisa ngasih. Kamu kenapa gak ngerjain sendiri? Ini kan tugas biar kita bisa pintar."
Freya berusaha menjelaskan, tapi Friska memutar bola matanya. Dia datang untuk meminta contekan bukan meminta nasehat.
"Banyak omong lo, cacat!"
Freya tersentak dengan hinaan Friska. Dia segera menarik tangan kirinya, menyembunyikan kekurangan fisiknya yang menjadi bahan olokan teman-temannya.
"Friska, kamu berlebihan," kata Freya. Tidak bermaksud untuk melawan balik. Hanya saja, Freya mengingat ajaran orangtuanya. Bahwa bukan hal yang baik untuk menghina fisik orang lain, apalagi sampai memanggil mereka cacat secara terang-terangan.
Friska mendengus. "Kenapa? Sakit hati lo?"
Freya tidak menjawab. Dia menunduk dan berusaha untuk melupakan hinaan Friska. Ibunya selalu mengatakan untuk tidak perlu memasukkan perkataan yang jahat ke dalam hati. Jika tidak, hanya akan menjadi dendam dan hidup tidak akan menjadi damai lagi.
Melihat Freya yang diam, Friska menjadi semakin kesal. Bersama dengan temannya, Friska menarik paksa tas Freya, mengambil buku tugasnya dan melemparkan tas Freya sembarang.
"Friska, mau kamu apain buku aku?" Freya berusaha merebut kembali bukunya, tapi Friska mendorong anak itu, membuat pinggang Freya membentur ujung meja.
"Karena lo gak mau ngasih tugas lo. Gak usah kumpulin. Biar mampus kenak hukuman!"
Friska tertawa lebar bersama temannya. Kemudian dia pergi ke jendela, membuang jauh buku tugas milik Freya.
"Friska!" teriak Freya. Mengabaikan rasa sakit di pinggangnya akibat benturan tadi, Freya berlari ke jendela dan melihat bukunya yang tergeletak cukup jauh di jalan sekolah.
Freya ingin segera mengambilnya sebelum petugas kebersihan datang dan membuang bukunya. Akan tetapi bel masuk sudah berbunyi dan dia tidak bisa melihat bukunya sekarang.
...***...
"Freya! Ayo, ja—eh? Mana Freya?"
Bel istirahat baru saja berbunyi dan Lucas langsung berlari menuju kelas Freya, bahkan gurunya belum keluar dari kelas. Dia ingin mengajak Freya membeli jajanan di kantin, tetapi ketika dia tiba di kelas Freya, dia tidak mendapati temannya itu.
"Eh, liat Freya gak?" Lucas menarik tangan salah satu teman sekelas Freya. Anak laki-laki yang menggunakan kacamata di usia yang masih muda itu menunjuk ke arah jendela.
Lucas mengerutkan keningnya, tetapi dia tetap pergi ke arah yang ditunjuk oleh anak itu. Dia melihat dari jendela dan mendapati Freya yang tengah berjalan mondar-mandir di jalan masuk sekolah.
Lucas bergegas menyusul Freya. Mengabaikan sapaan Friska yang selalu menempel padanya setiap kali ada kesempatan.
"Freya!"
__ADS_1
Freya membalikkan tubuhnya ketika mendengar Lucas memanggil namanya. Lucas tergopoh-gopoh berlari ke tempat Freya berada. Dia menumpukan tangannya di lutut, mengatur napas karena lelah berlari-lari sejak tadi.
"Kamu baik-baik aja?" tanya Freya sedikit khawatir melihat Lucas yang susah payah mengambil napas.
"Gak papa. Cuma ... capek lari."
Freya mengangguk kecil. Kemudian berbalik kembali untuk mencari bukunya yang dilempar oleh Friska.
"Kamu cari apa?" tanya Lucas setelah berhasil menormalkan pernapasannya.
"Cari buku aku. Tadi jatuh di sini."
"Ha? Kok bisa jatuh?" Lucas juga ikut mencari buku yang dikatakan Freya.
"Tas aku kayaknya bolong," jawab Freya sembarangan. Mendapat jawaban yang agak aneh, Lucas berhenti mencari dan melihat Freya.
"Freya bohong, ya?" tanya Lucas. Mata Monolid-nya menajam, menilik gerak-gerik Freya.
"Gak, Lucas," jawab Freya, tapi dia tidak berani membalikkan tubuhnya. Karena Lucas akan benar-benar tahu jika dia sedang berbohong.
Bocah laki-laki itu tidak menyerah. Masih memaksa Freya untuk jujur dengan menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi.
"Ada yang ganggu kamu, ya? Anak kelas 6?"
Freya menggeleng. "Gak ada yang ganggu aku, Lucas."
"Bohong. Buku apa emang yang jatuh?" tanya Lucas.
"Buku matematika."
"Iya."
Seperti mendapatkan petunjuk, Lucas berseru kencang. "Nah! Pasti ulah Friska 'kan? Dia selalu minta tugas kamu."
Mendengar tebakan Lucas yang tepat sasaran, Freya segera berbalik untuk mencegah Lucas melakukan sesuatu pada Friska.
"Gak, Lucas. Bukan salah Friska. Tas aku bolong."
"Bolong apa? Itu tas baru aku beli bareng Mama, ya. Kamu tahu sendiri Mama kalo beli barang tuh gak mudah rusak. Ini udah pasti ulah Friska."
Bocah itu langsung berlari ke kelas Freya untuk mencari Friska, tidak peduli dengan Freya yang berteriak-teriak meminta dia untuk berhenti.
"Mana Friska?" teriak Lucas begitu dia tiba di kelas Freya.
Friska yang sedang tertawa bersama teman-temannya di sudut kelas pun terdiam mendengar teriakan Lucas.
"Eh, Lucas. Kenapa cari aku?" Friska tersenyum senang karena Lucas mencarinya. Dia langsung menempel di lengan Lucas dan bermanja dengannya.
"Lepas," ucap Lucas. Wajahnya berubah menjadi dingin dan tidak bersahabat.
Friska yang sudah tahu jika ini menyangkut Freya pun melepaskan tangannya. Lucas mencarinya pasti karena kelakuannya tadi pagi pada Freya.
"Lo apain buku Freya?" tanya Lucas.
Friska membuang napasnya. Bola matanya berputar, mendengus malas melihat Lucas melindungi Freya.
__ADS_1
"Dia ngadu sama lo?" tanya Friska setelah melepaskan tangannya dari lengan Lucas.
"Gak. Gue tau sendiri."
"Gak mungkin. Dia pasti ngadu. Udah cacat, tukang ngadu pula."
Lucas tidak dapat menahan kekesalannya lagi. Tangannya yang belum tumbuh besar itu menarik kerah seragam Friska. Tidak peduli dengan kenyataan jika Friska adalah seorang perempuan.
"Lucas!"
"Akh!" Friska langsung menutup wajahnya dengan kedua lengannya. Ini pertama kalinya Lucas hendak menghajarnya. Biasanya dia hanya akan memberikan ancaman yang Friska anggap sebagai angin lalu.
Jika Freya tidak datang dan menahan tangan Lucas, mungkin wajah Friska sudah membiru sekarang.
"Lepas, Freya. Ni orang harus dihajar dulu baru diam."
Lucas masih mencoba melepaskan tangannya yang ditahan oleh Freya. Matanya menatap tajam dan penuh amarah pada Friska. Dia tidak bisa hanya sekadar memberi ancaman pada Friska. Orang ini harus benar-benar mendapat pukulan baru berhenti mengganggu orang lain.
"Lucas. Kamu gak boleh mukul cewek."
"Bodo amat. Kalo ceweknya model kayak gini pantas untuk dipukul."
Friska semakin ketakutan, tidak ada yang berani menarik Lucas dan melapor pada guru. Semua masih diam di kelas dan memperhatikan mereka.
"Gak ada yang pantas dipukul. Berhenti Lucas. Kamu mau orangtua kamu dipanggil ke sekolah?"
Mendengar itu, Lucas pun menurunkan tangannya. Melepaskan cengkeramannya dari kerah seragam Friska.
"Awas kalo sekali lagi lo ganggu Freya."
Friska mengangguk takut dan langsung berlari menuju teman-temannya, sementara Freya menarik Lucas ke luar dari kelas.
Bocah itu membawa Lucas ke halaman belakang sekolah. Di sana terdapat bangku panjang yang berada di bawah pohon besar.
"Udah tenang?" tanya Freya.
Lucas membuang napasnya kasar dan mengangguk dengan terpaksa.
Freya tertawa kecil dan mengajak Lucas untuk duduk di bangku.
"Lucas. Lain kali jangan gitu lagi, ya. Kasian dia."
"Kasian apa? Dia aja gak ada kasian sama kamu."
Lucas kembali merajuk. Padahal dia sudah sedikit tenang tadi.
"Iya. Pokoknya jangan, ya. Aku gak mau kamu kena masalah."
Lucas menatap Freya tepat di matanya. Temannya ini sangat baik. Bagaimana dia tidak menyukai temannya ini? Sampai kapan pun, Lucas akan melindungi Freya sehingga Freya akan selalu menjadi Freya yang dia kenal dan tidak akan pernah berubah.
"Ya. Kamu juga sesekali lawan mereka."
"Iya, Lucas."
"Dah, ah. Ngapain duduk di sini. Ke kantin, yuk," ajak Lucas. Freya mengangguk dan pergi ke kantin bersama Lucas.
__ADS_1