
Enam tahun kemudian ... .
Di awal tahun, cuaca sore itu terasa sejuk. Orang-orang datang dan pergi dari suatu tempat. Berkumpul bersama sambil membicarakan hal-hal ringan ataupun berat. Selama mereka menikmatinya, apa pun itu tidak jadi masalah.
"Eh, tahu gak swalayan tempat kita kerja itu mau dibikin jadi mal."
"Ya, bagus. Kenapa emangnya?"
"Bagus, sih, tapi CEO-nya itu, lo. Permintaannya aneh-aneh."
"Aneh gimana?"
"Masa dia minta satu tempat khusus untuk naruh es krim merk Asa."
"Emang merk itu masih ada?"
"Ada, tapi udah gak banyak yang jual. Pabriknya aja sampek mau tutup, tapi gak jadi."
"Kenapa?"
"Gak tau."
Freya datang sambil membawa pesanan dua wanita yang tengah asyik berbincang tersebut.
"Ini minumannya, silakan."
"Makasih, Mbak."
"Sama-sama."
Lalu, dia membungkuk sedikit dan memberikan senyum tipis sebelum kembali ke kasir.
"Freya, bawa ini ke meja nomor tujuh."
"Oke, Kak."
Freya mengambil pesanan dan segera mengantarkannya ke meja pelanggan.
Enam tahun lalu, setelah dia melahirkan. Sekitar enam bulan kemudian, dia pindah ke kota. Mencari rumah kontrakan dengan harga sewa yang murah, tetapi nyaman untuk ditinggali.
Freya masih bekerja di toko milik Kakek Pati, tapi waktu kerjanya selesai lebih cepat satu jam sebelum toko ditutup karena dia menerima pekerjaan paruh waktu di kafe milik teman Leli.
Menurutnya, Kakek Pati sangat baik. Dia, bahkan tetap menerima gaji penuh meskipun pulang lebih awal. Alasan Kakek Pati melakukan itu ketika ditanya adalah karena pria tua itu menyayangi Syakia seperti cucunya sendiri. Kakek itu tidak ingin kebutuhan sehari-hari Syakia tersendat karena masalah uang. Oleh karena itu, Freya sangat berterima kasih pada Kakek Pati.
Kafe ditutup pukul 10 malam. Sudah waktunya untuk para pekerja membereskan meja dan lainnya. Kafe ini memiliki banyak pengunjung, tetapi entah mengapa Viola tidak membukanya lebih lama.
"Freya. Kamu pulang duluan aja. Syakia udah ngantuk, tuh."
Viola, teman Leli yang memiliki paras cantik dengan tahi lalat di dagunya itu datang menghampiri Freya. Dia juga orang baik lainnya yang pernah Freya jumpai. Sering kali, Viola menyuruh Freya untuk pulang lebih awal karena merasa iba melihat Syakia lelah menunggu di ruang khusus karyawan.
Lama-kelamaan, Freya tidak enak dengan situasi ini. Dia selalu merepotkan Viola dengan membawa putrinya ikut bekerja dan membiarkan bosnya itu merawat anaknya.
"Gak Papa, Mbak Vio. Sebentar lagi udah selesai."
"Udah, pulang aja. Kasian dia udah ngantuk."
"Jangan, Mbak. Aku udah ngerepotin. Mana Syakia selalu Mbak jaga kalo aku lagi kerepotan di sini."
"Haha. Anak kamu baik, lo. Gak rewel kayak kebanyakan anak-anak. Pulang cepet. Besok dia sekolah 'kan?"
Freya mengangguk canggung. Lalu, dia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 22.30.
"Hari ini terakhir, ya, Mbak. Gak enak aku sama yang lain."
Viola melambaikan tangannya, terlihat santai. "Ah, mereka juga malah sering minta pulang cepet. Kamu aja yang gak pernah minta, selalu aku suruh baru pulang cepet."
__ADS_1
Freya tertawa kaku. Dia baru tahu tentang hal itu. Padahal sudah hampir lima tahun bekerja di sana. Memang dia yang tidak tahu atau Viola hanya mengarang saja untuk menenangkannya?
"Jangan banyak bicara lagi. Sana bawa pulang anakmu."
Viola tidak tahan lagi melihat Freya yang terus menunda waktu. Dia mendorong Freya agar bergerak lebih cepat.
Freya tertawa kecil setibanya di ruang khusus karyawan. Seperti yang dikatakan oleh Viola. Putrinya itu sudah mengantuk, terlihat dari matanya yang tetap ingin terbuka, tetapi tidak bisa menahan diri untuk tidak menguap.
"Syakia. Yuk, pulang?"
Bocah perempuan itu tidak mendengar panggilan Freya. Dia masih sibuk dengan buku gambar dan cat di tangannya.
"Syakia."
Freya berjalan mendekat. Memanggil putrinya sekaligus menepuk pundaknya agar Syakia menyadari keberadaannya.
Mendapatkan tepukan ringan di pundaknya, Syakia menoleh. Mata gadis kecil itu tampak merah karena menahan kantuk.
"Pulang, yuk."
Freya bersuara lebih keras agar Syakia dapat menangkap apa yang dia katakan.
Gadis kecil itu diam sejenak, kemudian dia mengangguk setelah memahami perkataan Freya.
Syakia merapikan barang-barangnya dengan pelan, sementara Freya juga membereskan miliknya sendiri.
Setelah keduanya selesai, mereka pamit pada semua orang yang ada di kafe. Sejujurnya, Freya masih merasa tidak enak. Namun, dia tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti apa yang Viola katakan.
Jarak antara kafe dan rumah mereka memakan waktu 10 menit dengan berjalan kaki. Sebuah kebetulan Freya menyewa rumah tidak terlalu jauh dari kafe sehingga dia bisa pulang dengan berjalan kaki.
Setiap harinya pula, Freya akan menggendong Syakia di punggungnya. Sesekali, gadis kecil itu akan meminta Freya untuk menurunkannya dan mereka akan berjalan bersama sambil bergandengan tangan. Langit di malam hari begitu indah jika mereka melihatnya bersama-sama.
"Syakia, besok mau Bunda siapin apa?"
Tak ada jawaban yang dia dapatkan. Freya bertanya sekali lagi.
Syakia masih tidak memberikan respons. Freya melihat ke belakang untuk melihat Syakia dan dia mendapati bahwa putrinya itu telah tertidur lelap di bahunya.
...****************...
Toko milik Kakek Pati terlihat sibuk seperti biasa.
Selama dua tahun terakhir, Kakek Pati mendapatkan tiga pekerja lagi. Mereka semua adalah para pemuda yang baru lulus sekolah. Mereka juga memiliki stamina yang kuat sehingga pekerjaan Ari bisa dibagikan dengan mereka.
"Freya, kayaknya hp kowe bunyi."
Leli memanggil dari ruangan khusus karyawan. Freya yang baru selesai melayani pembeli pun bergegas masuk untuk memeriksa ponselnya.
Ketika dia mengambilnya, Freya melihat nomor yang tidak dikenal menghubunginya. Dia pun segera mengangkat sebelum nada deringnya mati.
"Halo?"
"Halo. Selamat pagi. Apa ini dengan Bu Freya?"
Di seberang sana terdengar suara seorang wanita. Freya mengangguk. "Ya, benar. Ini siapa, ya?"
"Saya Asih. Wali kelasnya Syakia."
"Oh, iya, Bu. Ada apa, ya?"
"Begini, Bu. Tiga hari yang lalu, saya sudah memberikan surat pada Syakia agar walinya datang ke sekolah, tapi sampai hari ini saya belum bertemu dengan walinya Syakia. Jadi, saya memutuskan untuk menghubungi Anda secara langsung."
Freya berpikir sejenak. Seingatnya, Syakia tidak memberikan surat apa pun padanya.
"Apa Anda punya waktu hari ini? Jika ada, boleh menemui saya di sekolah saat jam istirahat anak-anak."
__ADS_1
Freya melirik jamnya, kemudian melihat Leli. "Sebentar, ya, Bu."
"Iya, Bu."
Freya menjauhkan ponselnya sembari menutup bagian bawah ponsel menggunakan telapak tangannya.
Dia memanggil, "Mbak Leli."
"Yo?" Leli menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya dari kertas.
"Aku izin sebentar, boleh? Mau ke sekolahnya Syakia. Ada panggilan."
"Yo, boleh-boleh. Pergilah."
"Makasih, Mbak."
"Sama-sama."
Setelah menentukan jam temu, Freya pergi sehabis membereskan beberapa pekerjaannya.
...****************...
"Jadi, intinya menurut Anda anak saya gak bisa beradaptasi di sekolah umum?"
Freya bertanya dengan suara datar dan ekspresinya tidak menunjukkan keramahan sedikit pun.
Wanita paruh baya di depannya ini sudah memiliki banyak pengalaman dalam mengurus siswa. Ini juga bukan pertama kalinya dia menerima murid berkebutuhan khusus. Namun, satu atau dua bulan setelah semester dimulai, mereka akan disarankan untuk dipindahkan ke sekolah khusus yang lebih bisa menghadapi para siswa tersebut.
"Sudah sebulan sejak Syakia masuk ke sekolah ini. Dia selalu bermain sendiri dan tidak ingin bergabung dengan yang lain. Ketika dipanggil pun, Syakia tidak merespons, bahkan melihat saja tidak. Teman-teman yang lain kesulitan dalam berkomunikasi dengannya. Saya sebagai guru juga khawatir dengan Syakia, apakah dia bisa memahami apa yang saya sampaikan di depan kelas. Setiap dia berbicara pun, suaranya terlalu keras. Anak-anak lain terkadang takut dan terkejut mendengarnya."
Freya semakin memasang wajah tidak enak untuk dilihat. Dia sama sekali tidak peduli dengan apa yang akan wanita tersebut pikirkan tentangnya. Jika dia tidak suka, dia akan menunjukkannya dengan jelas tanpa menyembunyikannya sedikit pun.
"Berdasarkan biodata Syakia, saya mengetahui bahwa ... ." Guru tersebut menggantungkan kalimatnya. Merasa tidak enak menyebutkannya secara terang-terangan.
Freya langsung menanggapinya dengan nada rendah. "Anak saya memang memiliki gangguan pendengaran, tapi dia masih bisa dengar suara orang lain dan suara itu harus keras. Apa Anda mengajar dengan suara yang lantang? Di mana anak saya Anda pindahkan kursinya? Pagi-pagi, saya bawa anak saya ke sekolah ini untuk dapatin kursi paling depan, tapi karena ada orangtua yang lebih dari saya, makanya Anda memindahkan anak saya ke kursi paling belakang. Menurut Anda, salah siapa sekarang? Anak saya bukan tidak memahami . . . Anda saja yang tidak membiarkan dia belajar dengan baik."
Disudutkan seperti itu, membuat wanita tersebut merasa malu. Dia berdeham sejenak sebelum berbicara lagi.
"Ah, maaf jika saya memindahkan anak Anda ke kursi belakang. Itu karena kebetulan anak tersebut memiliki masalah pada matanya sehingga dia harus duduk di depan."
"Kursi depan bukan cuma satu. Kenapa harus anak saya yang dipindahkan? Anak lain bisa 'kan? Apa mereka semua rabun?"
"Bukan begitu—"
"Pindahkan kembali anak saya ke kursinya semula. Saya tau maksud Anda membahas ini dengan saya karena Anda ingin saya memindahkan anak saya ke sekolah lain. Dengar! Anak saya sama seperti anak-anak di sini. Bukan cuma anak saya. Semua anak-anak itu sama, tapi mereka punya kelebihan masing-masing. Tinggal gurunya saja bagaimana menyikapi anak-anak tersebut. Anda guru atau bukan? Itu saja tidak paham."
Freya tiba-tiba menjadi marah dan tidak sabaran. Jika ini berkaitan dengan putrinya, dia tidak akan diam. Hidup sendirian selama beberapa tahun di dunia yang keras ini, membuat Freya berubah. Dia memahami apa yang sering Leli katakan padanya setiap kali mereka menghitung uang di kasir.
"Dunia itu keras. Kita juga harus keras dan kuat."
Karena kalimat itulah, Freya bisa bertahan hingga sejauh ini.
Wanita tersebut berusaha mengendalikan emosi Freya dengan memberikan segelas air putih untuknya. "Tenang, Bu. Saya tidak bermaksud seperti itu."
Freya melirik sekilas minuman yang disodorkan padanya dengan tidak minat.
"Jadi? Apa yang Anda ingin saya lakukan sekarang?"
Wanita itu melipat bibirnya ke dalam. Kedua tangannya tergenggam di atas meja. Matanya menatap ke bawah seolah dia telah kehabisan kata.
Freya menunggu dengan setia sambil menatap tajam guru tersebut.
"Saya hanya ingin Anda mengetahui bagaimana Syakia di sekolah ini saja. Saya harap ketika di rumah, Anda bisa meminta Syakia untuk bermain dengan teman-temannya. Melatihnya untuk merespons orang lain dan juga membantunya dalam mengendalikan intonasi suaranya."
"Terima kasih untuk kebaikan Anda, tapi memang itu yang saya lakukan setiap hari. Jadi, di sekolah juga saya mohon bantuan Anda untuk mendidik anak saya dengan baik. Sekarang, saya harus pergi bekerja. Permisi."
__ADS_1
Wanita tersebut terdiam. Kali ini, dia benar-benar kehabisan kata-kata untuk membalas Freya.